UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Kepergian Farih dan Lia.


__ADS_3

Kondisi Dimas sudah mulai membaik. Tapi ia terlihat cemas dan mondar-mandir di balkon kamarnya, tepatnya masih dirumah orang tua Tiara. Ia yang sudah lama tidak pernah menghisap rokok kembali melakukannya. Ia terlihat cemas menunggu kabar seseorang.


"Bagaimana sudah kalian temukan" tanya Dimas berbicara melalui telepon genggamnya.


"Maaf Bos, kami bahkan tidak bisa menemukan jejak tempat yang wanita itu tuju."


"Cari terus sampai ketemu, blokir jalan keluar menuju kota dan kirim beberapa pengawal untuk mengawasi jalan keluar dari pulau itu."


Dimas menutup pembicaraannya dengan wajah khawatir. Ia tak menyangka jika Manda akan sanggup melakukan hal licik. Wanita itu ternyata sangat berbahaya, ia bahkan memasukkan obat tidur ke semua makanan untuk penjaga pabrik itu, hingga ia bisa kabur dengan mudah.


Dimas kembali menghubungi seseorang, Kali ini ia meminta orang itu untuk mengawal istrinya diam-diam. Ia tidak ingin jika Manda sampai menemui Tiara dan mengatakan hal yang bukan-bukan.


"Mas" sapa Tiara.


"Mau kemana sayang, kok rapi banget."


"Mau nganter Mas Farih ke bandara, habisnya Kak Lia minta pulang terus."


"Mas ngak bisa ikut ya sayang, Mas ada urusan lain, ngak apa kan?"


"Iya ngak apa, tapi Mas sebaiknya temuin mereka gih, sebelum mereka pergi. Mas kok bau rokok sih, mas ngerokok ya" Tiara mendekati suaminya dan mencium aroma rokok dari tubuh suaminya.


"Cuma satu batang aja kok Yang, mas lagi suntuk nih" memeluk Tiara yang tepat berada di hadapannya.


"Hemm wanginya istri Mas, baru mandi ya. Kok ngak ngajak sih, padahal kan mas pingin dimandiin Yang" Dimas mengeratkan pelukannya dan menciumi rambut Istrinya.


"Mas lepasin, Tiara sesak." Menggerakkan tubuhnya berusaha untuk terlepas, tapi Dimas tidak melepaskan pelukannya. Ia mencium ceruk leher istrinya.


"Satu ronde aja Yang, baru kita temui Kakakmu" Tanpa mendengar jawaban Tiara, Dimas langsung menggendong istrinya ke tempat tidur.


"Mas, Tiara ditunggu Mama dibawah" protes Tiara, tapi sama sekali tidak di pedulikan Dimas. Ia mengunci tubuh istrinya dengan kedua kakinya, lalu melepaskan semua pakaian mereka.

__ADS_1


Tiara tak kuasa menolak permintaan suaminya, Ia sudah berada di bawah kendali suaminya. Perlakuan Dimas yang begitu lembut padanya, membuatnya ikut terbuai oleh permainan suaminya itu. Setelah setengah jam permainan akhirnya Dimas melepaskannya.


"Mandi bareng ya Yang, abis itu baru kita turun nemui Mama dan Kakakmu."


"Boleh deh, tapi Tiara siapkan air hangatnya ya Mas, Mas tunggu dini dulu." Tiara ingin mengecoh suaminya, ia tau jika suaminya saat ini dalam mode tidak bisa di tolak.


Tiara yang membalut tubuhnya dengan selimut, berusaha untuk turun dari tempat tidur. Belum sempat kakinya menyentuh lantai, tiba-tiba tubuhnya sudah melayang dan berada dalam pelukan suaminya. Dimas mengangkat tubuh Tiara ke kamar mandi ala bridal style.


"Mas, turunin Tiara" protes Tiara.


"Ngak, Kamu ingin mengelabui mas ya? Kita sudah lama ngak pernah mandi bareng lho Yang" meletakkan istrinya dalam bathtub dan mengisi dengan air hangat dan aroma terapi kesukaannya.


"Mandi aja lho mas ya, jangan macam-macam. Tiara ngak punya waktu lagi. Kasihan Mama sama Kak Farih sudah nunggu dibawah."


"Iya sayang, Mandi aja. Tapi nanti malam lanjut lagi ya."


Tiara mengiyakan permintaan suaminya, karena percuma saja berdebat dengan suaminya hanya akan semakin membuang waktu saja.


Setelah Mandi dan berpakaian rapi, Dimas dan Tiara menuruni anak tangga, dengan bergandengan tangan.


Farih dan Lia yang sudah berada di bawah dengan barang-barangnya menatap kedua orang itu. Terlihat jelas senyuman diwajah mereka berdua, Farih menatap kesal keduanya.


"Kita yang pengantin baru, tapi mereka terus yang ***-***. Giliran kita kapan Yang." Farih menatap melas ke wajah istrinya, Lia memalingkan wajahnya yang merah karena malu.


Ya, sampai saat ini Farih belum merasakan malam pertamanya. Karena Ia sudah terlanjur janji pada istrinya tidak akan melakukannya sampai Istrinya tamat sekolah. Janji yang benar-benar ia sesali sekarang, Karena tiap malam ia harus bisa menahan hasratnya. Ia hanya bisa memeluk dan mencium istrinya, tidak lebih dari itu.


"Aku pingin lihat kamu pakai baju dari kado Tiara itu lho Yang. Kapan kira-kira Yang" ucap Farih berbisik dan lagi-lagi berhasil membuat istrinya malu.


"Kak Farih bicara apa, sampai muka Kak Lia merah gitu" tanya Tiara ketika sudah berada dekat dengan mereka.


"Anak kecil mau tau aja" celetuk Farih.

__ADS_1


"Yeee..., Tiara udah besar Kali Kak. Umur Tiara aja lebih tua dari Kak Lia" protes Tiara.


"Iya-iya anak kecil sok Tua, sudah sana cepat panggil Mama, Kakak mau berangkat ini" Perintah Farih pada Tiara.


Tiara pun segera berlalu menuju kamar Ibunya.


"Kak, maaf ya ngak bisa ikut ngantar, saya ada meeting di luar soalnya" ujar Dimas.


"Santai aja Dim, selesaikan urusanmu. Yang terpenting bagiku adalah kebahagiaan Adikku. Tolong terus jaga senyumannya jangan sesekali kau menyakitinya. Kalau tidak aku bakal bawa dia jauh dari kamu" ancam Farih.


"Insyaallah, senyumannya adalah duniaku. Aku tidak mungkin menghancurkan dunia milikku sendiri, Jadi jangan khawatir. Saya duluan ya" Dimas bersalaman dengan Farih dan juga Istrinya. Istri Farih terlihat canggung di depan Dimas hingga tak mengeluarkan satu suara pun.


Di bandara Farih dan Lia berpamitan kepada Kedua orangtuanya dan juga Tiara. Farih berjanji setelah sampai di tempatnya ia akan mengurus kepindahannya dan juga Istrinya agar mereka bisa tinggal di kota yang sama.


"Cepat kembali ya Kak" ujar Tiara.


"Sabar dek, paling lama kakak 3 bulan juga udah balik kok. Kakak titip Mama dan Papa ya, jaga baik-baik juga dirimu. Kakak harap pada saat Kakak kembali sudah ada ponakan lucu di perutmu" ujar Farih membuat Tiara tersenyum.


"Aamiin" sahut Tiara.


"Hati-hati ya nak, jaga istrimu baik-baik sayangi dia jangan pernah sesekali menyakitinya. Mama tidak akan menerimamu jika sampai kau menyakiti menantu mama."


"Jangan khawatir Ma, Farih akan menjaganya dan memperlakukannya seperti ratu" ucap Farih disambut senyuman istrinya.


"Lia duluan ya Ma, terimakasih sudah mau menerima Lia di keluarga kalian."


"Sama-sama sayang, kehadiranmu adalah hal terindah di keluarga kami. Kalian hati-hati ya."


Sementara itu masih di bandara yang sama, hanya saja tempatnya yang berbeda. Jika Tiara dan keluarganya berada di terminal keberangkatan, wanita ini berada di terminal kedatangan. Ia berjalan keluar dari bandara dengan senyuman kemenangan. Ia menyamarkan dirinya menjadi seorang pria. Ia berhasil membeli identitas seorang pria agar ia bisa masuk kota ini.


Senyuman devil lagi-lagi ia pancarkan membuat wanita yang ada di bandara terpesona oleh ketampanannya.

__ADS_1


"Saya datang Dimas, lihat bagaimana aku akan membalasmu."


__ADS_2