
"Apa ini, kenapa baju ini penuh dengan noda darah" gumam Aryo lirih.
Karena rasa penasaran Aryo mengecek barang yang tercecer satu persatu. Ia membuka kotak perhiasan yang berisi kalung Tiara. Ia kemudian beralih lagi pada sebuah amplop yang terjatuh tak jauh dari tempatnya. Ia meraih amplop itu dan mulai membukanya.
Aryo membaca apa yang ada di surat itu dengan mengerutkan keningnya, ia tampak sedang berfikir serius sekarang. Ia mengambil handphone miliknya yang ada di saku celananya. Ia kemudian memfoto surat, kalung dan juga baju penuh noda darah itu.
"Ternyata ada rahasia besar di balik identitasmu, Aku akan mencari tahu tentang semua ini" gumam Aryo lirih. Ia kembali memasukkan barang yang tercecer di lantai ke dalam kotak. Setelah itu ia segera berlalu pergi dari sana.
Sesampainya di mobil, Aryo menelpon anak buahnya. Ia mengutus anak buahnya untuk pergi ke kampung halaman Tiara, untuk mengetahui tentang Tiara lebih dalam.
Aryo juga menghubungi sahabatnya di kepolisian untuk mengecek apakah 12 atau 13 tahun yang lalu ada keluarga yang pernah kehilangan putrinya.
Untuk masalah identitas keluarga Wijaya ia akan selesaikan sendiri. Adalah hal yang mudah baginya untuk mencari identitas seorang Wijaya.
***********
Hari sudah menjelang pagi Tiara mengerjapkan matanya. Ia melihat kesamping tempat tidurnya yang kosong. Ternyata Dimas menepati janjinya, ia tidak tidur di kamar Tiara.
Dengan langkah yang sedikit tertatih Tiara memasuki kamar mandi, ia ingin membersihkan tubuhnya yang terasa gerah.
Di dalam kamar mandi Tiara yang lupa membawa baju ganti terpaksa menggunakan bathrobe yang tersedia di kamar mandi.
Ketika melangkahkan kakinya keluar, ia terkejut mendapati Dimas sudah berada di kamarnya, bersama dengan dua orang pelayan wanita yang masih muda. Kedua pelayan itu berdiri dengan wajah pucat menundukkan kepalanya. Sepertinya Dimas habis memarahi mereka.
Dimas menatap Tiara kesal. Ia menghampiri Tiara dan langsung menggendongnya dan mendudukkannya di pinggiran tempat tidur. Tiara yang terkejut dengan perlakuan Dimas hanya bisa pasrah, Apalagi ia sedikit takut melihat tatapan Dimas yang terlihat sangat marah padanya.
"Apa yang kau lakukan, siapa yang menyuruhmu ke kamar mandi sendiri? Bukankah sudah kukatakan padamu kau bisa menghubungiku atau pelayan jika menginginkan sesuatu. Mereka akan dengan senang hati melayanimu selama 24 jam. Dan kau lihat kedua pelayan itu, mereka yang akan mengurusmu saat ini
"Maaf, aku hanya ingin pergi mandi, lagipula aku bisa melakukannya sendiri. Dan tidak terjadi apa-apa padaku bukan. Kau terlalu berlebih-lebihan, aku tidak membutuhkan pelayan" Tiara menundukkan kepalanya karena mendapat pelototan dari Dimas.
"Kau tau aku menambah jumlah pelayan sebelum kau datang kemari agar mereka dapat melayanimu dengan benar. Tapi sepertinya apa yang aku lakukan sama sekali tidak berarti di matamu. Baiklah aku akan memecat semua pelayan, karena sepertinya kau tidak membutuhkan pelayanan."
__ADS_1
"Tuan, saya mohon jangan pecat kami. Bagaimana nasib keluarga kami nanti dikampung. Nona tolong kami" ucap kedua pelayan itu mengiba dengan wajah pias.
"Lancang, siapa yang mengijinkan kalian bicara. Mulai saat ini kalian berdua di pecat. Keluar kalian dari sini" Dimas menunjuk pintu keluar mempersilahkan mereka untuk segera angkat kaki dari rumahnya.
Kedua pelayan itu menjatuhkan diri mereka. Dalam posisi bersujud ia memohon pada Tiara dan juga Dimas untuk membiarkan mereka tetap bekerja.
Tiara sedikit terkejut, ia tak menyangka akibat perbuatannya Dimas akan berlaku sampai sejauh ini. Ia menatap iba kedua wanita itu yang memohon sambil menangis.
"Masku maafkan aku, aku membutuhkan mereka. Jadi tolong jangan pecat mereka" Tiara memeluk pinggang Dimas, dan menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Ia berharap cara itu bisa membuat Dimas luluh.
Astaga, apa yang aku lakukan, memeluknya di depan pelayan. Dimana harga diriku, bahkan aku masih dalam kondisi yang hanya mengenakan jubah mandi. Ya Tuhan sepertinya aku mulai gila, batin Tiara
Dimas menikmati pelukan Tiara, Ia mencium wangi sabun dari tubuh Tiara dan juga aroma sampo yang terasa menyegarkan. Ia ikut melingkarkan tangannya di pinggang Tiara.
"Masku, tolong jangan pecat mereka ya" Tiara merengek sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dimas yang masih ia peluk.
"Baiklah aku tidak akan memecat mereka. Kalian berdua keluar dan tutup pintunya. Aku masih ada perlu dengan calon istriku. Kembali lagi kemari setelah satu jam."
"Sayang, apa hadiahku karena kali ini aku sudah menuruti permintaanmu."
"A-apa maksudmu Masku" Tiara melepaskan pelukannya, ia mencoba menjauh dari Dimas.
"Puaskan aku sayang, aku sangat merindukanmu."
"Mas, ummm..." Dimas melu*at bibir Tiara lembut. menghentikan protes yang ingin di keluarkan Tiara. Ia menggigit bibir Tiara pelan agar wanita itu mau membuka mulutnya.
Setelah puas dengan c*umannya, ia melepaskan pagutan bibirnya dari Tiara. Dengan sedikit terengah-engah Tiara menghirup udara.
"Kau sudah mulai pintar sayang, apa aku boleh meminta lebih" tawar Dimas.
"Nggak boleh, mas harus nikahin Tiara dulu. Baru boleh lakuin apa aja sama Tiara" Tiara menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kalau gitu aku bikin tanda disini boleh ya sayang" Tanpa menunggu jawaban Tiara, Dimas sudah menggigit bukit kembar Tiara, ia meninggalkan beberapa jejak kepemilikan disana.
Tiara meronta-ronta, ia memukuli punggung Dimas. Tapi Dimas belum juga melepaskannya. Ia kali ini tidak hanya menggigitnya, ia juga menyesapnya. Tiara merasakan tangan Dimas yang sudah mulai menjelajah kemana-mana. Apalagi Tiara tak mengenakan pakaian dalam membuat Dimas semakin seenaknya saja. Tiara menginjak kaki Dimas kuat. Hal ini sukses membuat Dimas menghentikan aktivitasnya.
"Jangan kurang ajar ya Mas, kalau nggak Tiara nggak segan-segan ninggalin Mas" Dengan nada keras ia memperingati Dimas, Ia juga memperbaiki jubah mandinya yang terlihat berantakan.
"Maaf sayang, mas lepas kontrol. Ya sudah mas keluar dulu ya. Mas akan meminta dua pelayan tadi membantumu bersiap. Mas akan menunggumu di ruang makan" Dimas keluar ruangan sambil merutuki dirinya. Ia benar-benar lost control, mencium aroma tubuh Tiara yang begitu menyegarkan.
Tak lama dibantu dengan kedua pelayan Tiara sudah bersiap. Ia menuju meja makan dengan Tertatih-tatih di bantu kedua pelayan. Tiara menolak untuk memakai kursi roda.
"Kenapa tidak kau gunakan kursi rodanya" Dimas menghampiri Tiara dan langsung menggendongnya, ia mendudukkan Tiara di meja makan.
"Nggak Mas, Tiara mau belajar jalan pelan-pelan biar otot kaki Tiara nggak kaku."
"Bisa aja jawab kamu ini ya, kalau di kasih tau" Dimas mengambil alih piring Tiara. Kalau biasanya Tiara yang melayaninya. Kali ini Dimas yang melayani Tiara.
"Biar aku ambil sendiri Mas."
"Sudah duduk diam situ." Dimas mengambilkan nasi dan lauk ke piring Tiara.
"Makan yang banyak."
Akhirnya mereka makan dengan lahap. Baru saja mereka selesai dengan makannya tiba-tiba bel pintu berbunyi.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi gini" Dimas beranjak dari kursinya. Sedangkan seorang pelayan membukakan pintu untuk tamunya.
"Siapa?" tanya Dimas begitu pelayan itu menghampirinya. Dan tiba-tiba sesosok anak kecil berlari ke arahnya sambil menyapanya.
"Hallo om..."
"Astaga anak jin"
__ADS_1
TBC