
Hari ini adalah hari untuk Dimas kembali ke kota nya. Tiara membantu Dimas mengemasi barang-barangnya.
"Ingat jaga dirimu baik-baik, ada anak kita disini. Begitu pekerjaanku selesai aku akan datang nenjemputmu" ujar Dimas.
"Iya Mas, jangan lupa telpon Tiara ya, begitu Mas sampai."
"Tentu sayang."
"Farih, Lia aku titip Tiara ya."
"Tenang Dim, istrimu aman" ucap Farih.
"Mas berangkat dulu ya sayang" Dimas mengecup kening dan seluruh wajah Tiara.
"Mas, malu diliatin orang" protes Tiara.
"Istri sendiri juga ngapain malu, Farih kalau pingin kan ada Lia, ya nggak Rih?" tanya Dimas
"Tenang aja Dim, aku ngerti kok" saut Farih.
Dimas menaiki taksi pesanannya yang menjemputnya setelah pamit dengan mereka. Berhubung bandara perjalanannya cukup jauh, jadi Dimas menolak istrinya yang ingin ikut mengantar sampai bandara. Karena ia tidak ingin istrinya yang saat ini sedang mengandung anaknya kelelahan.
Sampai di bandara Dimas langsung menuju ke pesawat pribadi milik keluarganya. Begitu sampai di kotanya ia langsung di jemput Erick, dan mereka segera menuju ke perusahaannya. Ada urusan mendesak yang harus ia segera selesaikan disana.
"Ada apa sebenarnya Rick? Kenapa Kakek memaksaku untuk segera kembali?" tanya Dimas.
"Saya tidak bisa menjelaskan perkaranya secara rinci tuan, tapi perusahaan kita mengalami pergolakan. Nanti Kakek akan menjelaskan pada anda. Kakek saat ini sudah ada di perusahaan menunggu anda" ucap Erick, tidak ingin berbicara lebih. Ia takut salah bicara di situasi perusahaan yang tidak baik saat ini.
Sampai di kantornya Dimas sudah di tunggu oleh Kakeknya dan juga beberapa petinggi perusahaan. Rupanya kasus yang dialami perusahaan saat ini cukup fatal, sehingga menyebabkan beberapa petinggi perusahaan ikut turun tangan.
"Ada apa Kek sebenarnya, kelihatannya penting sekali?" tanya Dimas berbisik, karena saat ini ada banyak orang penting di perusahaannya yang sedang berada di ruangan Kakek. Kakek mengedipkan matanya memberi kode kepada Dimas.
__ADS_1
"Maaf, saya ingin berbicara empat mata dengan cucu saya terlebih dahulu. Kalian bisa me no uji ruangan rapat. Lima belas menit lagi kita mulai rapatnya" ujar Kakek.
"Ini mengenai rumah sakit kita yang berada di Jepang. Rumah sakit mengalami krisis karena adanya tuntutan mall praktek dari pasien karena salah satu keluarganya meninggal dunia di rumah sakit kita" ucap Kakek setelah kepergian orang-orang dari ruangannya. Saat ini hanya ada Dimas dan Kakeknya di ruangan itu.
"Bagaimana bisa? bukankah dokter yang kita miliki adalah Dokter-dokter yang terbaik di negara itu" tanya Dimas bingung.
"Ini akibat kebobrokan manajemen. Mereka gagal menyelamatkan pasien krisis karena pasien tidak segera di tangani sebab keluarga pasien tida sanggup membayar biaya di muka. Hingga pasien di abaikan dan mengakibatkan kematian. Keluarga pasien saat ini menuntut, berita ini menjadi top trending di Jepang yang mengakibatkan jatuhnya saham rumah sakit kita. Dan itu juga berdampak pada semua saham kepemilikan keluarga kita disini."
"Kenapa bisa seperti itu? bukankah tujuan kita mendirikan rumah sakit disana bukan sekedar keuntungan semata. Dan bukankah rumah sakit menyediakan keringanan bahkan menggratiskan sebagian pasien tidak mampu?"
"Itu benar, tapi sepertinya ada orang dalam yang menggunakan dana yang kita siapkan untuk pasien tidak mampu untuk kepentingan pribadi. Dalam laporan mereka memasukkan nama-nama pasien tidak mampu sebagai penerima subsidi rumah sakit tapi kenyataannya semua pasien itu dikenakan biaya" jelas Kakek.
"Orang-orang brengs*k seperti itu harus segera kita singkirkankan Kek. Dan segera lakukan pendekatan pada keluarga korban, minta orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu meminta maaf pada keluarga pasien dan berikan kompensasi pada keluarga mereka" ujar Dimas.
"Kita sudah melakukan itu tapi keluarga korban menolak uang ganti rugi yang kita berikan. Mereka nekat melanjutkan tuntutan. Bahkan mereka menyewa beberapa pengacara mahal dan top di Jepang" ucap Kakek.
"Bukankah mereka dari keluarga tidak mampu? lalu darimana mereka mendapatkan uang untuk menyewa pengacara itu?"
"Brengsek, rupanya mereka belum jera juga. Seharusnya kita hancurkan perusahannya dari dulu agar ia tidak macam-macam seperti sekarang ini."
"Sekarang posisi mereka sudah cukup kuat di dunia bisnis, itu sebabnya mereka berani mengganggu usaha kita."
"Tapi bagaimana mungkin hanya dalam waktu beberapa bulan saja mereka sudah memiliki posisi yang kuat dan mampu menyaingi kita?" tanya Dimas heran
"Tidak perlu heran, Aiko menikahi pria tua terkaya disana. Suami Aiko merupakan orang penting dan pemilik perusahaan raksasa di Jepang. Sudalah, saatnya kita rapat sekarang. Memperbaiki krisis saham perusahaan kita lebih penting."
Dimas dan Kakek segera menuju ke ruang rapat. Rasa lelah di badan Dimas karena menempuh perjalanan jauh ia abaikan. Ia bahkan lupa menelpon Tiara dan mengaktifkan handphone miliknya setelah turun dari pesawat. Membuat Tiara mondar-mandir khawatir karena tidak bisa menghubungi suaminya.
"Kau hubungi asistennya saja jika nomor suamimu tidak bisa di hubungi" saran Farih pada Adiknya. Ia pusing melihat adiknya yang cemas mondar-mandir sambil ngomel-ngomel sedari tadi.
"Tidak biasanya ia seperti ini, menyebalkan sekali" protes Tiara sembari mencoba menghubungi nomer Erick. Nomor Erick sudah terhubung tapi tak ada jawaban, begitupula dengan nomer Mona. Membuat Tiara berteriak frustasi.
__ADS_1
Saat ini baik Mona maupun Erick sedang mengikuti jalannya rapat perusahaan membuat mereka harus men silent handphone miliknya.
"Kenapa kau tidak langsung menelpon ke perusahaan saja kalau begitu!" usul Farih sedikit kesal. Ia Kesal karena adiknya mengabaikan ia dari tadi. Tiara baru bereaksi jika Farih membahas perkara Dimas.
"Oh iya aku lupa!!" sambil menepok keningnya Tiara menghubungi nomor kantor.
Tiara terlihat cemberut setelah berhasil menghubungi kantor dan mendapatkan informasi mengapa sampai saat ini suaminya tidak bisa dihubunginya.
"Ada apa lagi?" tanya Farih sembari menatap wajah Tiara yang terlihat cemberut.
"Dia langsung rapat begitu sampai kantornya, apa ia lupa istrinya? Mengapa ia tak menghubungiku?" kesal Tiara sambil menahan tangisnya. Ibu hamil satu ini akhir-akhir ini memang bertambah sensitif saja. Moodnya mudah berubah-ubah tergantung suasana hatinya.
"Jangan berprasangka buruk, mungkin ada hal penting yang harus ia selesaikan. Nanti ia pasti menghubungimu, sekarang ayo kita jalan keluar, kakak pingin makan masakan Padang di rumah makan dekat pinggiran pantai. Tempatnya asyik makanannya juga enak. Kakak panggil Lia dulu, kamu bersiaplah dulu" bujuk Farih. Ia ingin mengalihkan fokus Tiara yang selalu memikirkan tentang suaminya.
Sementara itu rapat telah selesai. Dimas dan Kakek masih bertahan di ruangan itu bersama Erick.
"Kau harus segera berangkat ke Jepang besok. Kita tidak bisa menunda masalah ini karena akan semakin berdampak buruk untuk reputasi dan perkembangan perusahaan" ucap Kakek.
"Tapi bagaimana dengan Tiara Kek?" Dimas kelihatan keberatan meninggalkan istrinya ke luar negeri. Karena ia pasti akan lama berada disana. Sebab kasus ini tidak sederhana dan bisa diselesaikan dalam tempo singkat.
"Biarkan Tiara di tempat Farih terlebih dahulu karena ia pasti lebih aman berada disana. Kakek tidak ingin dia ikut terdempak jika mengetahui krisis perusahaan kita. Kirim beberapa anak buah kita untuk menjaga keselamatan Tiara, Kakek hanya takut jika Tiara kembali di celakai Aiko. Jelaskan situasi kita pada Farih, agar ia bisa lebih memperketat penjagaan Tiara." jelas Kakek. Akhirnya dengan berat hati Dimas menyetujui usul Kakek.
"Tuan, ada panggilan tak terjawab di handphone saya dari nyonya" lapor Erick begitu melihat layar handphone miliknya.
"Astaghfirullah aku lupa menghubunginya."
Dimas segera mengambil handphone miliknya dari tas kerjanya. Ia mengaktifkan kembali handphone miliknya. Dan muncullah beberapa panggilan tak terjawab dan juga pesan singkat istrinya.
Dimas menghubungi Tiara beberapa kali, ia juga mengirim pesan. Tapi tak ada jawaban dari Tiara membuatnya bertambah semakin gelisah.
TBC
__ADS_1