
"Cepat masukkan ke dalam mobil."
Setelah berhasil dengan targetnya, mereka segera meninggalkan tempat itu. Mereka juga membawa mobil Aryo yang ringsek bagian depannya bersama mereka.
Sampai di depan sebuah rumah mewah. Dua orang turun menggotong Aryo ke dalam. Lantai kedua rumah itu menjadi tujuan langkah kaki mereka. Sedangkan sisa orang lainnya langsung pergi dari rumah itu, dengan mengendarai mobilnya. Sepertinya mereka masih memiliki misi lanjutan.
Meletakkan Aryo dengan hati-hati di sebuah ruangan mewah. Sudah ada seorang pria duduk di dalam ruangan itu di temani seorang pelayan kepercayaannya. Kedua orang pria yang membawa Aryo menunduk hormat pada pria itu. Dan mereka pun segera keluar dari ruangan itu begitu melihat lambaian tangan.
Pria itu bangun dari duduknya. Melangkahkan kakinya mendekat. Mengamati tubuh Roy yang tak berdaya. Dan ada luka di bagian pelipis. Pria itu memiringkan kepala Aryo, dan kembali melihat luka di bagian belakang kepala. Dengan darah yang hampir mengering
"Ceek, mereka sungguh ganas. Sampai membuatnya pingsan seperti ini. Cepat kau panggil Dokter!!" Pria itu berdecak kesal. Lalu memberi perintah kepada pelayannya.
Dengan segera pelayan itu menghubungi seorang Dokter melalui handphone yang ia simpan di saku baju seragam pelayannya. Ia adalah pelayan yang cukup gesit dan tanggap dengan segala kemauan Tuannya.
*********
Di rumah Dimas, Tiara sedang bersiap-siap.
Sudah tiba waktunya kepergian Tiara bersama dengan Reno. Dimas ingin mengantar Tiara sampai bandara. Tadinya Reno ingin menjemput Tiara, tapi Dimas menolaknya karena ingin mengantarkan Tiara sendiri.
"Apa semua sudah siap?" tanya Dimas. Tiara mengangguki pertanyaan Dimas.
"Apa kau tidak ikut dengan kami."
"Tidak sayang..., pekerjaanku banyak. Maaf ya. Jangan cemberut gitu dong" Dimas melihat Tiara yang mengerucutkan bibirnya.
"Aku akan sangat merindukanmu" Dimas memeluk Tiara. Ia lalu mencium bibir Tiara lembut. Tiara membalas ciuman Dimas.
"Jangan coba-coba selingkuh sama si duda jelek itu ya"
"Iiih apaan sih Mas, jangan ngaco deh."
"Ini gunakanlah untuk bersenang-senang selama kau disana" Dimas memberikan kartu kredit dan seamplop uang kas"
"Mas..."
"Sudah jangan protes. Nomor PIN nya, tahun kelahiranmu."
"Terimakasih Masku" Tiara memeluk Dimas.
"Ya sudah, ayo kita berangkat" Dimas menggandeng tangan Tiara. Dan seorang pelayan pria mengikuti di belakang mereka, dengan menyeret koper milik Tiara.
Langkah Dimas terasa berat saat ini, sebenarnya ia tidak rela berpisah dari Tiara. Tapi apalah daya ia tidak memiliki pilihan lain. Dimas mengeratkan genggaman tangannya. Tiara tersenyum menatap ke arahnya.
Sampai di bandara sudah tampak Reno beserta rombongannya. Menunggu Tiara di depan pintu masuk bandara.
"Kak Tiara...." Teriak Rendra antusias begitu melihat Tiara datang bersama Dimas. Ia berlari menghampiri Tiara.
"Rendra hati-hati" Teriak Reno. Mona pun ikut berlari menghampiri Rendra. Ia meraih tangan mungil itu untuk menghentikan larinya.
"Jangan lari, nanti kalau jatuh gimana?" ucap Mona lembut. Rendra pun memelankan langkah kakinya.
"Kak Tiara, kangen" Rendra memeluk Tiara. tapi badannya yang kecil hanya mampu memeluk Tiara hingga batas perut Tiara saja.
"Hai anak jin, siapa yang ngijinin peluk-peluk calon istri om." Mendengar perkataan Dimas, Rendra memanyunkan bibirnya menatap Tiara dengan puppy eyes nya.
"Mas..."
__ADS_1
"Iya-iya kamu boleh memeluknya" ucap Dimas kesal menatap ke arah Rendra.
"Tiara, kita masuk sekarang ya" ucap Reno.
"Tunggu sebentar."
Dimas menarik Tiara agak menjauh, Rendra yang ingin mengikuti Tiara di halangi oleh Reno.
"Jaga dirimu baik-baik, sesampainya disana jangan lupa menghubungiku. Dan seandainya kamu mendengar berita tentangku apapun itu. Tolong jangan pernah membenciku, satu hal yang perlu kamu yakini Aku mencintaimu. Aku berjanji akan menikahimu nanti. Kau percaya padaku bukan."
Tiara tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Mas juga jaga diri baik-baik. Jangan begadang, kerjaan juga jangan terlalu diforsir. Tiara nggak mau, kalau mas sampai sakit nanti" ujar Tiara. Dimas memeluk Tiara erat lalu mengecup bibir Tiara singkat.
"Mas..." protes Tiara malu, karena Dimas melakukannya di tempat umum. Sedangkan Reno cepat- cepat menutupi mata Rendra pada saat Dimas mencium Tiara.
"Selamat tinggal mas. Rindukan aku ya" canda Tiara.
"Bukan selat tinggal sayang, tapi sampai jumpa lagi. Aku pasti akan sangat merindukanmu. Tunggu aku menjemputmu, ingat jangan selingkuh."
Tiara berlalu pergi meninggalkan Dimas. Tangan Tiara di gandeng oleh Rendra dan juga Andini. Sementara Reno berjalan di belakang bersama Mona.
"Aku titip Tiara Ren, jaga dia baik-baik" teriak Dimas. Reno menolehkan kepalanya ke arah Dimas. Ia mengacungkan jempolnya.
"Aku pasti merindukanmu, maafkan aku" Dimas menghapus air matanya. Ia menatap punggung Tiara sampai tak terlihat lagi. Ia kemudian pergi dari sana dengan langkah kaki yang terasa berat.
Selama perjalanan di pesawat, Tiara tidak begitu banyak bicara. Entah mengapa ia merasakan sesak di dadanya. Seolah-olah ada hal penting yang akan hilang darinya.
Sesekali Tiara menanggapi candaan Rendra. Setelah itu ia pasti akan kembali melamun lagi. Reno yang memperhatikan Tiara hanya bisa menghela nafasnya.
***************
Hari ini adalah hari dimana akad nikah diadakan. Rumah megah Tuan Aziz sudah di sulap sebagai panggung pernikahan anaknya.
Sekalipun pernikahan hanya dihadiri oleh keluarga dan teman terdekat. Tapi tetap saja mereka ingin memberikan yang terbaik untuk putri mereka.
Awalnya orang tua Farih menolak pernikahan Anita yang terkesan mendadak. Tapi karena Farih berhasil meyakinkan mereka. Akhirnya mereka mengalah dan menerima keputusan Anita. Apalagi tabiat Anita benar-benar berubah karena rencana pernikahan ini. Buat keluarga mereka, ini adalah awal yang baik untuk Anita, menempuh hidup baru.
Terlihat wanita paruh baya, yang masih terlihat cantik sedang menaiki anak tangga. Ia mengetuk pintu di depannya tapi tak ada sahutan sama sekali. Ia lalu mencoba membuka pintu itu. Ternyata pintu itu tidak di kunci oleh si empu kamar.
"Nita..., Nita" Panggil mama Ica istri dari Tuan Aziz.
"Apalagi sih Ma... Nita masih ngantuk. Jangan ganggu dong" Nita membuka matanya sekilas, lalu kembali melanjutkan tidurnya.
"Nita..., Ayo bangun sayang. Ayo cepat bangun." Mama Ica menggoyangkan tubuh Anita, memanggil-manggil nama Anita. Tapi Anita tak bergeming sedikitpun.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau bangun pernikahannya Mama batalkan saja. Dan MUA nya mama suruh pulang aja deh."
"Jangan Ma!!"
Anita langsung terbangun begitu mendengar kata pernikahannya.
"Cepetan 4 jam lagi akad nikah dimulai, penata rias juga sudah ada di bawah. Kamu bersihkan diri dulu. Setengah jam lagi Mama kesini bawa penata riasnya."
"Oke Ma, terimakasih" Anita mengecup pipi Mama Ica. ia kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
*********
__ADS_1
Dimas duduk di dalam mobil dengan di supiri Erick. Terdapat juga dua orang bodyguard di dalam mobil mereka. Dimas juga membawa serta beberapa anak buahnya dengan menggunakan dua mobil lainnnya sebagai mobil pengiring pengantin.
Pernikahan Dimas kali ini, ia rahasiakan dari keluarganya. Jadi ia hanya bisa mengajak beberapa anak buahnya. Sebagai saksi di hari pernikahan yang tak di inginkannya.
"Dimana Aryo Rick, kenapa handphone miliknya tidak aktif. Saya sudah berkali-kali menghubunginya tapi handphone terus saja tidak aktif. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya" tanya Dimas.
"Saya juga tidak tau Tuan. Sebelum menjemput Tuan saya juga menghubunginya tapi tidak bisa. Saya lalu ke apartemen miliknya, tapi juga kosong. Entah kemana pria itu."
"Perintahkan beberapa pengawal untuk menyelidiki keberadaan Aryo sekarang. Tidak biasanya ia seperti ini. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya" Dimas memerintah pengawal yang duduk di sebelahnya.
"Baik Tuan."
Dimas keluar dari mobilnya, ia disebut oleh keluarga calon pengantin wanita. Ia lalu dituntun masuk ke dalam ruangan itu. Dimas menghentikan langkah kakinya, begitu manik matanya menatap wajah pria yang sangat familiar untuknya.
"Papa..." Dimas terkejut karena ternyata terdapat ayahnya diantara tamu undangan yang duduk di dalam.
"Anak nakal, nikah nggak bilang-bilang" Papa Dimas dan seorang pria paruh baya yang seumuran Ayahnya menghampiri Dimas.
"Maaf Pa, Dimas pikir Papa masih di luar negeri. Hallo om" Dimas menyapa pria yang ada di sebelah Ayahnya.
"Om..., Kamu tau siapa dia?" Dimas menggelengkan kepalanya.
"Dasar kau ini mau nikah dengan anaknya, tapi tak mengenal siapa orang tuanya."
"Sudah biarkan saja. Nanti lama-lama kami juga bisa dekat. Ayo..., penghulu sudah menunggu kita."
Mereka berdua mendampingi Dimas duduk di depan penghulu. Perasaan Dimas saat ini sedang berkecamuk luar biasa. Ingin rasanya ia lari dari pernikahan ini.
"Tenanglah, kau tidak akan kecewa dengan pengantin wanitanya. Ia cantik dan juga baik hati" Ayah Dimas berbisik di telinga Dimas.
"Baiklah, kita mulai saja akad nikahnya sekarang. Bisa tolong panggilkan calon mempelai wanita kemari."
Tak lama calon mempelai wanita memasuki ruangan itu. Dengan di dampingi oleh Mama Ica dan juga seorang wanita muda yang seumuran dengan calon pengantin wanitanya.
Dimas sama sekali tidak perduli. Ia bahkan tidak menatap calon pengantinnya. Sampai terdengar suara riuh tamu undangan yang sebagian besar dari keluarga mempelai wanita mengganggu pendengarannya.
"Siapa dia?"
"Cantiknya."
"Apa dia Anita?
"Kenapa terlihat sangat berbeda?"
"Oh Tidak..., itu Sepertinya bukan Anita?"
"Bisa jadi itu Anita, bukankah penata rias pintar mengubah wajah orang."
"Apa yang terjadi, Apa benar ini mempelai wanitanya?"
Berbagai macam pertanyaan muncul dari tamu undangan. Dimas mengangkat kepalanya menatap calon wanita yang berjalan kearahnya.
"Cantik bukan" bisik Papa Dimas.
"Sangat cantik" Dimas tersenyum menatap calon pengantinnya. Mata mereka sempat bersitatap, tapi kemudian mempelai wanita menunduk malu.
TBC
__ADS_1