UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Kedatangan Manda.


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam, Dimas belum juga kembali ke rumah. Kakek yang melihat Tiara mondar-mandir di ruangan depanpun menghampiri Tiara.


"Sudahlah, jangan kau cemaskan suamimu. Dia sudah Dewasa, dia pasti akan baik-baik saja."


"Dia pergi dalam keadaan marah Kek, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya. Ia bahkan tidak mengangkat telponku" ucap Tiara sedih.


"Kembalilah ke kamarmu dan tidurlah. Biar Kakek yang menunggunya dan bicara padanya. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Besok adalah hari pertamamu kerja, kau harus menjaga kondisi kesehatanmu."


"Tapi Kek, bagai..."


"Tiaraa!"


"Baiklah" dengan langkah gontai Tiara kembali ke kamarnya.


Jam menunjukkan pukul 01.00 terdengar langkah kaki memasuki ruang depan.


"Dimas" panggil Kakek. Dimas pun menghentikan langkah kakinya, menoleh pada sosok yang memanggilnya.


"Kakek belum tidur."


"Kau pikir aku bisa tidur melihat Istrimu cemas menunggumu daritadi." Dimas mengedarkan pandangannya mencari seseorang.


"Kakek sudah menyuruhnya kembali ke kamarnya."


"Oh" Dimas kembali melangkah.


"Ikuti Kakek, kita harus bicara" ucap Kakek menghentikan langkah Dimas.


Sesampainya di ruang kerja Kakek, mereka duduk di sofa dalam posisi berhadapan.


"Apa maksudmu bersikap seperti itu pada istrimu."


"Maksud Kakek?" tanya Dimas.


"Mengapa kau mengacuhkannya. Aku yang membawanya Sampai ke posisi itu. Jadi jika kau ingin marah, marahlah padaku. Kau tidak tau betapa sedihnya ia, karena kau terus mengabaikannya."


"Dimas tidak tau sebenarnya apa motif Kakek, menaruh Tiara ke bagian terpenting dari perusahaan. Kakek tau kan bagaimana polos dan lugu nya Tiara. Apa Kakek sudah memikirkan akibatnya nanti buat Tiara? Aku susah payah menyembunyikan identitasnya sebagai istriku selama ini untuk menghindarkannya dari marabahaya Dan Kakek begitu mudahnya mengekspos nya dan menaruhnya ke tempat yang penuh ranjau. Apa Kakek ingin melihat istriku celaka."


"Kau terlalu melindungi istrimu, istrimu tidak selemah itu hingga kau harus terus mengurungnya. Justru dengan menampilkan istrimu di muka publik, maka musuh-musuhmu yang bersembunyi dalam kegelapan itu akan muncul satu persatu."


"Kakek ingin menjadikan istriku sebuah umpan? Tadinya aku berpikir Kakek menaruh istriku di posisi tertinggi karena Kakek menghargainya. Ternyata Kakek menjadikannya sebuah Pion dalam permainan catur Kakek. Apa Kakek belum puas selama ini menjadikanku sebuah Pion, hingga Kakek juga menargetkan istriku?" Dimas terlihat mulai kesal.

__ADS_1


"Kau berpikir terlalu berlebihan. Anggap saja ini adalah ujian kelayakan untuk istrimu. Dia harus jadi wanita yang kuat jika ingin bertahan menjadi cucu menantuku. Dan kau jangan khawatir, Kakek sudah menempatkan pengawal secara diam-diam untuk melindungi istrimu. Dengan menjadikan istrimu pimpinan ini akan melonggarkan kewaspadaan lawan kita yang selama ini selalu berusaha menjatuhkan perusahaan. Dan pada saat itu adalah kesempatan kita untuk menghancurkan mereka."


"Dimas tidak perduli dengan rencana Kakek, buat Dimas keselamatan dan kebahagiaan Tiara yang terpenting. Jika sampai rencana Kakek menyakiti istriku, maka aku sendiri yang akan menghancurkan perusahaan Kakek. Jadi sebaiknya Kakek pikirkan lagi rencana Kakek itu" Dimas meninggalkan Kakek begitu saja.


"Dasar cucu kurang ajar. Kau pikir aku hanya menjadikan Tiara Pion ku saja. Kau akan berterima kasih padaku nanti, jika kau tau tujuanku sebenarnya" teriak Kakek ke arah Dimas. Dimas mengabaikan ucapan Kakek. Ia berjalan menuju kamarnya.


"Dia selalu membuatku marah setiap kali bicara dengannya" ucap Kekek lirih.


Sementara Dimas saat ini sudah berada di kamarnya. Ia menatap istrinya yang tertidur, Dimas bisa melihat sisa jejak air mata di wajah Tiara. Ia merapikan rambut istrinya yang terlihat berantakan, lalu mengecup keningnya lembut.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu" Dimas masuk ke dalam selimut Lalu membawa istrinya ke dalam pelukannya, ia memejamkan matanya sambil terus menciumi wajah Tiara. Tiara sama sekali tidak terganggu dengan kegiatan suaminya itu, hingga akhirnya Dimas ikut menyusul Tiara ke dunia mimpi.


Pagi hari Tiara terbangun, ia menatap sebelah tempat tidurnya yang kosong.


"Apa dia tidak pulang semalam. Dia benar-benar marah ternyata." gumam Tiara sedih. Ia lalu masuk ke kamar mandi dan bersiap-siap ke kantor.


Tiara menuju meja makan, dan disana sudah terdapat Kakek yang menikmati kopinya dengan di temani beberapa iris sandwich.


"Dimana suamimu, apa dia tidak sarapan?" tanya Kakek ketika melihat Tiara sendirian.


"Dia, sepertinya tidak pulang semalam Kek" ucap Tiara sedih.


"Tidak, semalam dia pulang dan berbicara pada Kakek. Walaupun dia masih marah sama Kakek, tapi jangan khawatir kalau marah dia tidak akan berlarut-larut, dia pasti akan menempel padamu lagi" ucap Kakek menenangkan Tiara.


"Tuan muda sudah berangkat pagi-pagi sekali Tuan. Dia terlihat terburu-buru sekali" ucap ART itu. Sementara Tiara menghela nafasnya mendengar penjelasan wanita paruh baya itu.


*************


Tiara saat ini sudah berada di kantornya di temani oleh Andre asistennya. Kakek meminta Andre untuk menjemput Tiara di hari pertamanya bekerja karena ia tidak ingin Cucu menantunya itu merasakan kecanggungan saat memasuki kantor.


Tiara disambut hangat oleh pegawai kantor dari berbagai instansi. Terdapat juga banyak karangan bunga yang membanjiri ruangannya. Andre memanggil sekretaris Tiara untuk membersihkan ruangan Tiara dari karangan bunga.


"Mona" Tiara terkejut, karena yang menjadi sekretaris nya adalah Mona sahabatnya. Ia menghampiri Mona dan ingin memeluknya tapi Andre mencegahnya.


"Tiara, ini adalah kantor tidak ada hubungan apapun selain karyawan dan pimpinan. Kau harus menjaga imej mu sebagai seorang pemimpin. Kau juga Mona jaga batasanmu."


"Kakak, kau atasan yang menyebalkan" ucap Mona.


"Kakak sudah peringatkan kamu bukan, jika ingin bekerja di sini maka kau harus bersikap profesional."


Ya Andre adalah Kakak kandung Mona. Ia saat ini setuju menjadi asisten sekaligus pembimbing Tiara karena permohonan Adiknya. Kakek menjanjikan Mona jabatan sebagai sekretaris Tiara jika berhasil membawa Kakaknya ke perusahaan.

__ADS_1


"Baiklah Kakak ku yang tampan dan berwajah dingin."


"Untuk menghindari pemikiran negatif dari pegawai lainnya. Sebaiknya hubungan kakak beradik kita rahasiakan saja" pinta Andre.


"Oke Bos."


"Pergilah kembali ke ruanganmu dan jangan lupa panggil OB untuk membersihkan ruangan ini."


Baru saja Mona kembali ke ruangannya tiba-tiba ia masuk lagi ke ruangan Tiara.


"Maaf Bu, ada yang ingin bertemu dengan anda, Namanya Manda" ucap Mona sopan pada Tiara.


"Biarkan dia masuk" ucap Tiara ketika menyadari jika Manda mencarinya. Sepertinya ia tau maksud kedatangan Manda kali ini.


"Saya kembali ke ruanganku dulu Tiara, jika kau butuh sesuatu kau bisa menghubungiku" ucap Andre lalu berlalu pergi menyusul adiknya yang terlebih dahulu ke luar. Manda melirik Andre karena terpesona akan ketampanan pria itu. Tapi Andre mengacuhkan tatapan Manda.


Sialan, Tiara benar-benar beruntung karena di kelilingi pria tampan, umpat Mona dalam hati.


"Selamat pagi Tiara" sapa Manda.


"Pagi Manda, silahkan duduk. Ada yang bisa saya bantu" tanya Tiara.


"Wah aku tidak menyangka kau bisa ada di posisi ini, tadinya aku mengira Dimas masih bertahan di posisi ini kau hebat Tiara. Selamat ya" puji Manda menampilkan ekspresi senang. Padahal di dalam hatinya penuh rasa iri dan sumpah serapah untuk Tiara.


"Terimakasih, tapi kau tidak mungkin kemari hanya untuk ucapan selamat saja kan? tanya Tiara.


"Kau benar, aku ingin bekerja di perusahaan ini. Seperti yang pernah dijanjikan Dimas dulu."


"Baiklah, aku akan mengatur posisimu di kantor cabang. Kau tinggalkan saja CV mu disini. Biar asistenku nanti yang akan menempatkanmu di posisi yang sesuai keahlianmu." Tiara tidak ingin memberi kesempatan Manda untuk dekat lagi dengan Dimas. Apalagi hubungannya saat ini tidak begitu baik dengan suaminya.


Cih, wanita ini ngin menjauhkanku dari Dimas. Jangan harap, ucap Manda dalam hati.


"Tapi Tiara, bisakah aku bekerja di kantor ini saja. Jika harus di kantor cabang itu akan jauh dari tempat tinggalku saat ini" pinta Manda.


"Kau jangan khawatir perusahaan akan memberi fasilitas tempat tinggal untukmu"


Wanita sialan, dia benar-benar ingin membuangku. Seharusnya posisi ini untukku, bukan wanita lemah sepertimu, batin Manda lagi.


"Dia akan. bekerja di kantor ini sebagai asistenku" ucap Dimas tiba-tiba menyerobot masuk ke ruangan Tiara yang sebelumnya adalah ruangannya.


Tiara terpaku mendengar ucapan suaminya, sementara Manda tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2