
Dimas berlalu pergi sebelum Tiara menyelesaikan ucapannya.
"Tu-tunggu" Tiara berlari mengikuti langkah kaki Dimas. Ia lalu berdiri di hadapan Dimas, merentangkan kedua tangannya.
"Apa yang kau lakukan, minggir" usir Dimas
"Aku ingin bicara denganmu Mas, sebentar saja. Bolehkan?" tanya Tiara."
"Untuk apa bicara, lakukan apapun sesukamu. Kenapa harus membicarakannya denganku" ucap Dimas cuek. Dimas terlihat kecewa dengan sikap Tiara yang tidak terbuka dengannya.
"Maaf, apa kau marah denganku karena masalah aku ikut Pemilihan Pimpinan Perusahaan."
"Tidak, bahkan kalau perlu aku akan memindahkan semua sahamku atas namamu. Apa jawabanku sudah membuatmu puas, sekarang minggirlah banyak hal yang harus aku urus. Dan kau Bu Presdir, selamat atas kedudukanmu yang baru" Dimas menatap tajam Tiara.
"Maafkan aku karena sebelumnya aku tidak membicarakan ini padamu. Kakek memintaku untuk merahasiakannya dan..."
"Sudah aku katakan, kau tak perlu mengatakannya padaku. Lakukan apapun yang kau inginkan, aku tidak akan melarang atau ikut campur dengan urusanmu. Tapi aku juga minta hal yang sebaliknya darimu, mulai saat ini tolong jangan campuri urusanku." Dimas pergi melewati Tiara.
"Mas tolong jangan seperti ini, tolong maafkan Tiara. Tiara janji, nggak akan merahasiakan apapun dari Mas" Tiara mengejar langkah Dimas dan memeluknya dari belakang dan menangis lirih. Dimas diam mendengarkan permintaan maaf Tiara, tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya. Ia bisa merasakan punggungnya yang basah karena air mata Tiara. Ia melepaskan pelukan Tiara dan pergi dengan langkah cepat.
"Masku.., Mas..." teriak Tiara sambil menangis dan berusaha mengejar Dimas.
"Biarkan dia menenangkan pikirannya dulu. Nanti Kakek yang akan menjelaskan padanya" Kakek mencegah Tiara mengejar suaminya.
"Ta-tapi Kek, dia sangat marah padaku. Sebelumnya Ia tidak pernah mengabaikan Tiara seperti sekarang ini" Tiara tak sanggup lagi menahan kesedihannya, lagi-lagi air matanya jatuh membasahi pipi mulusnya.
"Iya Kakek mengerti, berikan dia waktu. Kakek yakin dia tidak marah padamu mungkin dia hanya kecewa karena kita merahasiakan darinya. Kakek janji akan bicara dengannya nanti. Sekarang kembalilah ke kamarmu dan bersihkan dirimu."
"Baik Kek" Dengan langkah ragu Tiara kembali ke kamarnya.
Dimas melajukan mobilnya ke apartemen Leo sahabatnya. Leo selalu menjadi tempat keluh kesah Dimas saat ini. Pembawaan Leo yang apa adanya mbuat Dimas nyaman menceritakan masalahnya pada Leo.
__ADS_1
"Tumben kemari, ada perlu apa?" Tanya Leo melihat Dimas masuk ke apartemennya begitu saja. Dimas mengetahui password apartemen itu. Jadi dia tidak pernah mengetuk pintu.
"Pesankan makanan untukku, aku lapar" pinta Dimas tanpa menghiraukan pertanyaan Alex. Ia lalu mendudukkan tubuhnya di sofa panjang.
"Kalau Lapar pergi ke restoran sana kenapa harus kemari, merepotkan saja."
"Apa kau bilang? Bisa ulangi sekali lagi perkataanmu itu."
"Tidak-tidak aku hanya bercanda, begitu saja marah" Leo menunjukkan dua jari perdamaian kepada Dimas dan menampilkan ekspresi imutnya.
"Menjijikan, jangan melihatku dengan tatapan seperti itu" Dimas menatap jijik ekspresi Lei.
"Astaga..., aku berpikir dengan menikah kau akan berubah lebih lembut. Ternyata sama saja. Katakan apa yang terjadi, wajahmu sampai kusut seperti itu. Apa kau habis diusir istrimu?"
"Bicara sembarangan, sebaiknya kau cepat pesankan aku makan. Kalau tidak akan aku ledakkan dapurmu itu."
"Aku sudah memesannya Bos, lihat" Leo menunjukkan handphone nya.
"Ya, dua jam lagi aku akan berangkat."
"Telpon rumah sakit katakan kau libur hari ini. Biar mereka mencari dokter ganti untukmu."
"Benarkah Bos aku boleh libur hari ini, Anda memang yang terbaik. Terimakasih bos, akhirnya bisa juga berkencan dengan Nina."
"Enak saja mau pergi berkencan, kau libur temani aku disini. Siapa yang mengijinkanmu berkencan."
"Astaga Bos, kalau istri ngambek itu di rayu bukannya kabur kemari."
"Diam, sok tahu. Kau pikir dia berani mengabaikanku apa."
"Hah terserah lah. Bos memang selalu benar" Leo mendudukkan tubuhnya di sebelah Dimas.
__ADS_1
"Tiara terpilih sebagi Pimpinan Perusahaan Adi Nugraha."
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Kakek mendukungnya dan juga beberapa pemilik saham lainnya."
"Wah istrimu benar-benar hebat bos. Jadi bos marah karena istri Bos terpilih dan mengalahkan Bos?"
"Bicara sembarangan, kau pikir aku tipe suami yang menghalangi masa depan istrinya apa?"
"Lalu masalahnya dimana?"
"Aku kecewa padanya, karena ia menyembunyikan hal sebesar ini dariku. Aku merasa dia sudah tidak membutuhkanku lagi. Aku kehilangan sosoknya yang manja. Lagipula posisi itu tidak cocok dengannya. Dia terlalu polos dan lugu bagaimana jika ada orang yang memanfaatkannya. Begitu banyak musuh dalam selimut yang ingin melihat jatuhnya perusahaan. Mereka pasti akan menargetkan Tiara kali ini."
"Jangan berpikir terlalu berlebihan. Aku rasa dia tak selemah itu, Kau kan juga bisa melindunginya."
"Aku tidak berlebihan, profesimu yang seorang dokter hanya berinteraksi dengan pasien dan rekan kerja seprofesimu dalam bekerja. Tapi dunia kerjaku berbeda, untuk melancarkan hambatan aku tidak akan segan menggunakan tangan orang lain untuk memuluskan jalan sekalipun dengan kekerasan. Bahkan tak jarang aku juga menerima ancaman dan tindakan kekerasan tapi aku selalu berhasil melewatinya. Tak terhitung berapa banyak orang yang ingin mencelakaiku selama aku menjabat. Dalam dunia yang penuh ambisi ini yang ada hanya kau makan atau dimakan."
"Jika kau takut Tiara akan celaka, maka lindungilah dia."
"Kau tau kenapa selama ini Aku merahasiakan pernikahanku ke publik. Itu semua aku lakukan karena aku tidak ingin ia menjadi target dari lawan-lawanku yang bersembunyi dalam kegelapan. Aku bahkan belum pernah sekalipun mengajaknya jalan-jalan pergi ke mall, nonton bioskop layaknya pasangan lainnya. Aku ingin menyingkirkan lawan-lawanku satu persatu dan membangun kekuatan yang besar yang cukup untuk melindunginya. Pada saat itu jangankan jalan-jalan ke mall, jika ia menginginkan perusahaan aku akan berikan padanya."
"Aku mengerti ke khawatiranmu, tapi jika Kakek mendukung Tiara untuk sampai ke posisi itu, pasti ia punya pertimbangan sendiri. Kau tau bukan, Kakekmu adalah ahli strategi yang cukup handal. Dia tidak mungkin mencelakai cucu menantunya sendiri. Hilangkan ke khawatiranmu, sebaiknya kau pulang temui istrimu dia lebih membutuhkan dukunganmu saat ini."
"Entahlah, aku ingin disini dulu. Jika dia ingin bertahan di posisi itu, maka ia harus menjadi orang yang kuat. Aku akan bertahan untuk tidak memanjakannya mulai saat ini."
"Memangnya kau bisa tidak bermanja-manja dengan istrimu. Melihat bagaimana mesumnya kau dengan istrimu, aku meragukanmu" ujar Leo mengejek.
"Diam kau" Dimas melempar bantal sofa ke arah Leo.
TBC
__ADS_1