
"Bukan itu masalahnya Tuan, tapi...."
"Tapi apa Dokter, Keluarga saya adalah pemilik Rumah Sakit ini. Sebanyak apapun uang yang harus saya keluarkan, saya tidak peduli. Atau kalau anda memang tidak becus, saya bisa mendatangkan Dokter dari luar negeri yang lebih kompeten dari pada anda."
"Bukan itu masalahnya Tuan, masalahnya sekarang adalah jenis golongan darah Nona"
"Memangnya kenapa dengan golongan darahnya, kita memiliki Bank darah. Semua jenis golongan darah ada disana. Bilang saja kau memang tidak becus. Seharusnya Leo memecatmu saja. Mana Leo?"
"Dim, Diamlah biarkan Dokter menjelaskan sampai selesai. Kalau tidak kita tidak akan tau permasalahan medis yang di hadapi Tiara saat ini."
"Kita memang memiliki Bank darah tuan. Tapi kita tidak memiliki stok jenis darah Nona Tiara, Selain darahnya langka. Darah jenis ini hanya bertahan selama 28-35 hari saja. Jadi tidak ada Bank darah yang memilikinya."
"Memangnya apa jenis darahnya Dok?" tanya Reno
"Nona Tiara memiliki golongan darah parabombay, Sekilas terlihat seperti golongan darah O tetapi mereka berbeda. Golongan darah O memiliki Heteorixigot (Hh) homozigot (hh) bisa terlihat di permukaan eritrosit."
"Parabombay memiliki antigen Homozigot (hh) yang tidak bisa terlihat di permukaan. jadi kita hanya bisa menggunakan uji khusus antigen untuk mengetahuinya. Itu sebabnya tadi kami sempat salah melakukan transfusi. Untuk hal ini saya benar-bener meminta maaf. Untung kita cepat mengetahuinya jika tidak nyawa nona..."
Bugh, Dimas menghajar dokter itu hingga bibir nya mengeluarkan darah.
"Dimas hentikan, dan diamlah.
Lalu dimana kita bisa mencari pemilik golongan darah parabombay Dok?" tanya Reno sambil mengunci pergerakan Dimas agar tak menyakiti Dokter itu lagi.
"Saya pernah bekerja di rumah sakit Graha Adwijaya Husada. Anak mereka yang bernama Farih memiliki golongan darah ini. Saya tadi sempat menghubungi rumah sakit itu dan mereka mengatakan Tuan Farih ada di desa C dan telponnya tidak dapat di hubungi Tuan. Sinyal di desa itu sangat buruk. Tapi kita masih punya waktu 2x24 jam. kalau tuan mau menyusulnya dan membawanya kemari."
"Mungkin Tuan juga bisa meminta keluarga Nona Tiara untuk di periksa golongan darahnya. Siapa tau ada yang memiliki golongan darah langka ini." ucap Dokter itu lagi.
"Tiara anak yatim piatu ia tidak milik keluarga" ucap Dimas kesal. Ia benar-benar kesal dengan dokter yang ada di depannya. Ia berpikir akan memecat Dokter itu jika tidak ada perubahan pada Tiara.
"Kalau tuan Farih memiliki golongan ini. Berarti kita bisa menanyakannya pada orangtuanya siapa tau salah satu dari mereka juga memiliki golongan darah langka ini." ujar Reno.
"Tidak tuan, tuan Farih bisa memiliki golongan darah ini karena kedua orangtuanya bergolongan darah O berantigen Hh hingga kemungkinan 25% melahirkan anak bergolongan darah parabombay."
"Lagipula kata pihak rumah sakitnya, saat ini keluarganya liburan di Luar Negeri. Saat ini harapan kita hanya terletak pada tuan Farih saja. Dan saya yakin Tuan Farih pasti juga mengetahui orang lain yang bergolongan darah sepertinya. Nona Tiara setidaknya membutuhkan 2 sampai 3 kantong darah. Jadi tidak cukup jika tuan Farih sendiri." Ucap dokter itu.
"Sebaiknya anda cepat Tuan, kita hanya punya waktu 2x24 jam dan Sekarang sudah berkurang satu jam. Perjalanan pesawat komersil kurang lebih 45 menit ke kota B dan 1 jam perjalanan darat, untuk mencapai lokasi Tuan Farih di desa C" Jelas Dokter itu lagi sesuai penjelasan dari pihak rumah sakit sebelumnya."
Setelah penjelasan Dokter. Reno dan Dimas keluar dari ruangan itu. Dimas menelpon Erick, untuk menyiapkan perjalanannya. Ia juga menghubungi Andini untuk menjaga Tiara selama kepergiannya. Ia tidak mau mempercayakan Tiara pada Reno. Ia tidak ingin membuat pria itu memiliki kesempatan dekat dengan Tiara.
"Kau ganti bajumu dulu Dim, saya memiliki baju ganti di rumah sakit ini. Ayo ikuti saya"
Dimas mengikuti Reno menuju kamar Rendra. sesampainya di kamar Rendra, Reno hanya melihat keberadaan Mona. Sedangkan Rendra berada di ruang Rontgen di temani oleh Oma Rina.
__ADS_1
" Tuan Reno, Siapa dia" tanya Mona terkejut melihat Reno bersama pria tampan dengan baju penuh dengan noda darah.
"Dia Dimas calon suami Tiara, nanti saya jelaskan. Dim sebaiknya kamu mandi sekalian, Ini baju ganti untukmu" Reno mengambil.satu setel baju miliknya dan memberikan pada Dimas. Dimas dengan segera masuk ke kamar mandi.
"Tuan, apa benar dia calon suami Tiara? Terus Tiara dimana Tuan dan kenapa baju orang itu penuh dengan darah seperti itu?"
"Mon, Tiara kecelakaan. Tolong jangan beritahu Rendra ya. Aku ta..."
"Daddy...., Kenapa dengan Kak Tiara dan kenapa Rendra nggak boleh tau. Jawab Daddy, jawab...!!! Teriak Rendra yang kini berada di depan pintu. Rendra duduk di kursi roda yang di dampingi suster dan Oma Rina.
"Rendra.." ucap Mona dan Reno bersamaan.
"Sayang kamu salah denger, Daddy nggak ada bilang seperti itu. Iya kan Kak Mona."
"I-iya Rendra salah dengar kali, Daddy nggak ngomong gitu kok."
"Daddy bohong, Kak Mona bohong. Rendra benci kalian." Rendra berdiri dari kursi rodanya dan berusaha lari keluar tapi karena kondisinya yang belum begitu baik, ia terjatuh setelah berhasil lari beberapa meter. Bahkan infus di tangannya ikut terlepas.
"Rendra..." teriak mereka bersamaan, mengejar Rendra. Suster yang paling dekat dengan Rendra membantunya bangun. Ia menggendong Rendra, tapi ia memberontak. Reno lalu mengambil alih Rendra dan menaruhnya di tempat tidur.
"Hiks... hiks..., Daddy lepasin Rendra, Rendra mau cari kak Tiara. Huaaa..." tangis Rendra pecah. Suster dan Reno memegangi tangan Rendra yang berdarah akibat lepasnya jarum infus. Lalu suster memperban luka itu.
"Saakiittt Suster...," Rendra kembali menangis ketika jarum infus menembus kulit tangannya yang satunya lagi."
Dimas keluar dari kamar Mandi, ia sudah mendengar keributan dari kamar mandi tadi. Oma Rina terkejut melihat Dimas yang keluar dari kamar mandi. Ia mengenal Dimas sebagai sepupu dari mantan istri anaknya.
"Tante.., hai boy. Doain Kak Tiara cepat sembuh ya, Ren aku duluan" Dimas bersalaman dengan Oma Rina. Mengusap kepala Rendra, lalu berpamitan pada Reno.
"Pergilah, Aku akan menjaga Tiara. Kau tidak perlu khawatir."
"Tidak perlu, saya sudah meminta seseorang menjaganya. Jaga jarak dengan calon istriku, aku malah khawatir kalau kau dekat-dekat dengannya" Dimas berlalu pergi meninggalkan kebingungan orang yang berada di ruangan itu terkecuali Reno. Yang mengetahui situasi Dimas dan juga hubungan Dimas dan Tiara.
"Kok Dimas ada disini Ren, apa hubungannya dengan Tiara."
"Tiara kecelakaan ma, Ia dirawat di rumah sakit ini juga dan Dimas calon suami Tiara."
"Yah, gagal lagi dong mama punya mantu. terus kondisi Tiara bagaimana Ren dia nggak kenapa-napa kan Ren?"
"Kondisinya tidak begitu baik Ma, Tiara masih kritis."
"Ya Allah mudah-mudahan Tiara cepat sembuh. Kasihan dia anak baik" Oma cukup terkejut dengan kondisi Tiara, bahkan air matanya sampai menetes.
"Daddy..., bawa Rendra ketemu sama Kak Tiara. Huaaaa..., cepat Daddy Rendra pingin ketemu. Daddy...." Rendra terus menangis memohon untuk di pertemukan dengan Tiara.
__ADS_1
"Tu-tuan Saya juga ikut ya saya juga ingin melihat Tiara. hiks hiks...," Mona ikut menangis mengetahui kondisi Tiara.
"Kok jadi nangis semua sih, sudah-sudah jangan nangis kita doakan yang terbaik buat Tiara. Tiara masih kritis, Dokter melarang pasien untuk ditemui. Kalian makan aja dulu, setelah itu kita temui Tiara. Kalian bisa melihatnya dari luar."
"Mana selera makan Tuan, kalau begini."
"Iya Daddy, Rendra juga nggak selera."
"Kalian semua harus makan, kalau nggak. Daddy nggak mau ajak ke tempat Tiara dirawat.
Sementara itu, di bandara Dimas bersama dengan Erick. Erick tadi menjemput Dimas di rumah sakit. Ia bahkan sudah melihat kondisi Tiara dan menemui Andini.
Dimas menyuruh Andini menjaga Tiara. Ia juga menelpon Leo untuk segera ke rumah sakit menjaga Tiara dan memantau terus kesehatan Tiara. Leo tidak berada di rumah sakit karena ia mengambil cuti. Tapi tiba-tiba Dimas menelponnya, hingga membuatnya pergi ke rumah sakit segera. Dimas juga menempatkan 4 orang bodyguard menjaga Tiara. Ia tidak ingin kecolongan lagi.
"Kamu sudah siapkan pesawat untuk kita" tanya Dimas.
"Pesawat jet kembali ke Jepang atas perintah Kakek. Jadi kita akan menggunakan pesawat komersil Tuan."
"Tidak masalah, yang terpenting kita harus segera sampai."
Dimas dan Erick menuju ke ruang check in bandara.
Sementara itu di Rumah sakit, Reno beserta keluarganya menuju ke ruang rawat Tiara. Tiara kini di tempatkan di ruang ICU khusus. Hingga tidak semua orang bisa masuk, tapi mereka bisa mengintipnya dari kaca.
"Maaf tuan anak kecil, dilarang berada di area ini" Suster mencegah Reno dan rombongannya yang ingin menuju ke ruang ICU.
"Sebentar saja suster, kami ingin melihat saudara kami yang kecelakaan" pinta Mona.
"Maaf ini demi kebaikan adik kecil ini. Ini adalah area khusus banyak penyakit disini. Kasihan nanti adiknya yang udah sakit jadi tambah sakit." Suster memperhatikan Rendra yang berada di kursi roda.
Dengan terpaksa Reno, kembali ke ruangan Rendra dengan menggendong bocah itu. bocah itu meronta-ronta tak terima karena di larang menemui Tiara.
Sesampainya, di kamar Rendra masih saja menangis. walaupun ia sudah tidak memberontak lagi. Ia menangis terduduk di atas kasur.
"Daddy, Oma, Kak Mona..., maaffin Rendra..., maaf..." Tangis Rendra pecah.
"Kenapa sayang?" Tanya mereka bersamaan.
"Ma-maaf karena Rendra sudah bohong dan mengakibatkan kak Tiara celaka. Huaaa...."
"Apa maksudmu Rendra..."
TBC
__ADS_1