
Tiara tersenyum menatap pria yang saat ini sedang memanjat pohon untuk mengambilkan buah yang ia inginkan.
"Bawa kemari kayu itu" ujar pria itu setelah berhasil memanjat, tapi masih diposisi yang tak terlalu tinggi.
Pria itu dengan lihainya menjatuhkan buah yang sudah terlihat bewarna kuning dengan kayu yang ada di tangannya.
"Pintar juga dia" Tiara mendengus kesal.
"Tak apalah, setidaknya aku berhasil mengerjai dia."
"Ini buah yang kau inginkan" ujar pria itu setelah berhasil mendapatkan buah yang Tiara inginkan.
Tiara mengambil satu dan berusaha membukanya seperti ia membuka manggis. Tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk bisa membukanya.
"Bukan seperti itu caranya, tapi seperti ini" Pria itu menjepitkan buah itu di pinggiran pintu.
"Jangan kau telan bijinya, biji buah ini lebih besar dari buah manggis. Kau lihat bahkan ukuran buahnya juga lebih besar" ucapnya lagi.
"Iya-iya aku tau." Tiara mencoba buah yang berhasil di buka.
"Wah enak sekali, rasanya unik. Manis dan agak kecut dikit."
"Yang kau ambil itu belum matang sempurna cobain yang ini. Lihat warna kuningnya terlihat terang seperti kuning telur, yang ini di jamin manis." Pria itu menyerahkan buah itu setelah ia menjepitkannya di pintu.
Sementara itu tanpa mereka sadari Bosnya melihat interaksi mereka berdua. Pria itu menggelengkan kepalanya dan berlalu pergi dari situ.
"Syukurlah, aku pikir ia akan menindas wanita itu" ujarnya, ia lalu kembali masuk ke ruang kerjanya yang ada di lantai dua.
*****"********
Saat ini Dimas sedang memeriksa peta kota. Ia menandai lokasi hilangnya Tiara dimana mobil pria itu ditemukan di pinggir jalan. Sayang lokasi itu sama sekali tidak terpantau CCTV hingga mereka kesulitan untuk mencari jejak Tiara.
"Aku ingin kalian sebarkan foto pria yang menculik Tiara dan juga foto Tiara. Beri hadiah yang besar jika mereka bisa memberikan informasi tentang Tiara maupun pria itu" ujar Dimas. Ia kembali mengamati kondisi wilayah kota melalui peta.
"Lokasi ini, apa kalian sudah mencarinya kemari" Dimas menunjuk sebuah wilayah dipinggiran kota. Sebuah wilayah yang merupakan sebuah hutan tak berpenghuni.
"Belum Tuan, wilayah itu terkenal angker dan tak ada satupun rumah disana. Kondisi hutan yang terlalu rapat sering menyesatkan orang yang masuk ke wilayah itu. Banyak orang yang mencoba masuk ke wilayah itu tapi pada akhirnya mereka menghilang tanpa jejak."
__ADS_1
"Entah mereka mati dimakan binatang buas atau tersesat ke dalam hutan, karena orang yang ikut mencari keberadaan mereka juga ikut menghilang. Jadi tidak ada lagi orang yang berani memasuki wilayah hutan itu." ujar anak buahnya menjelaskan.
"Ya sudah kita telusuri tempat yang lain."
"Wajahmu terlihat pucat Dim, sebaiknya kita kembali ke penginapan dulu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Tiara pasti akan marah padaku jika melihat kondisimu seperti ini" ujar Farih.
"Tidak aku tidak apa-apa, yang terpenting saat ini adalah segera menemukan keberadaannya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Istri dan calon anakku. Kau saja kembalilah ke penginapanmu untuk istirahat. Kau terlihat kurang tidur, lihat bahkan lingkaran matamu terlihat jelas."
"Kalau begitu, ayo kita kembali ke penginapan bersama. Kau juga membutuhkan istirahat saat ini. Biarkan mereka mencari Tiara terlebih dahulu, jangan khawatir orang yang kita kerahkan cukup banyak. Cepat atau lambat ia pasti akan di temukan."
Farih menarik tangan Dimas dan memintanya untuk bangun. Ia ingin mengajak Dimas untuk kembali ke penginapan. Apalagi istrinya Lia selalu menghubunginya dan memintanya untuk istirahat dan kembali sebentar.
"Kau saja yang pergi," tolak Dimas setelah Farih berhasil menarik tubuhnya dan berdiri. Tapi Tiba-tiba tubuh Dimas terhuyung ke belakang. Dengan cepat Farih menahan pinggang Dimas agar tak terjatuh.
"Lihat, kau benar-benar butuh istirahat sekarang. Tidak ada penawaran lagi, ayo ikut aku kembali."
Akhirnya Dimas tidak protes lagi. Ia mengikuti kemauan Farih karena yang diucapkan Farih benar. Ia memang butuh istirahat saat ini.
Dimas dan Farih sudah sampai penginapan, disambut oleh Lia.
"Tidak perlu, aku tidak apa-apa hanya kelelahan saja." Dimas tidak ingin Farih sampai mengetahui kondisinya yang sebenarnya.
"Tapi kondisi tubuhmu berbeda, kau tidak sekedar seperti orang yang kelelahan tapi sepertinya ada hal lain yang terjadi pada tubuhmu. Biar aku memeriksamu" ucap Farih sedikit memaksa, ia sedari tadi sudah curiga dengan kondisi Dimas. Ia ingin membuktikan kecurigaannya saat ini.
"Aku benar-benar tidak apa-apa, kalau kau memaksaku aku akan pergi dari sini. Keluarlah, aku lelah dan ingin istirahat."
"Baiklah, aku akan meminta seseorang membelikan vitamin untukmu. Tapi ingat jika kau merasa sakit atau ada yang aneh pada tubuhmu kau harus memberitahukan padaku" ujar Farih lalu berlalu pergi dari sana.
************
"Bagaimana perkembangannya."
"Anak buah kita belum berhasil memasuki gudang itu Bos, karena dijaga ketat. Tapi kita berhasil memasukkan anak buah kita untuk bekerja di bagian akunting perusahaan itu. Dan ada beberapa transaksi aneh dalam jumlah yang besar terjadi selama lima bulan terakhir ini."
"Minta ia menyelidiki perputaran uang di perusahaan itu secara hati-hati, kita pasti bisa menemukan sesuatu dari situ nanti."
"Baik Bos."
__ADS_1
"Oh ya apakah Adnan masih berada di kamar gadis itu?" tanyanya.
"Tidak Bos, Bos Adnan sudah keluar sejak tadi. Ia sedang berada di ruang latihan tembak dengan beberapa pengawal lainnya."
Di markas yang mereka tempati saat ini terdapat banyak ruang yang bisa mereka gunakan untuk melatih fisik mereka.
Mulai dari ring tinju, ruang latihan tembak yang kedap suara, ruang latihan anggar yang juga mereka gunakan untuk latihan fisik lainnya seperti Taekwondo, dan pencak silat. Mereka benar-benar melatih fisik anak buahnya dengan ketat.
Sementara itu Tiara yang dilarang keluar dari kamar itu hanya bisa berguling-guling diatas kasur. Ia merasa bosan karena terus berada di kamar. Bahkan untuk makannya pun diantar ke kamar.
"Ya Tuhan sampai kapan aku harus berdiam diri disini. Kapan mereka membebaskanku. Mas aku kangen, kamu kapan datang kemari" Keluh Tiara sembari menatap langit-langit kamarnya.
"Sayang kamu kangen Papa juga ya" Tiara mengelus perutnya yang mulai terlihat menonjol.
"Sama mami juga kangen. Aku harus memikirkan cara untuk keluar dari sini" ujar Tiara bangun dari tidurnya.
Ia menuju ke lemari pakaian untuk menemukan apa yang ia cari. Ia tersenyum setelah mendapatkan barang itu.
"Kamu pasti bisa Tiara, semangat."
Tiara mengikat seprei dan selimut yang ia temukan menjadi sebuah kain yang panjang. Setelah itu ia menyembunyikan kain itu dalam lemari. Mencoba mengintip kearah balkon, tapi masih ada orang-orang yang berjaga dibawah. Belum lagi beberapa ekor anjing yang berkeliaran bebas disana.
"Ya Tuhan ini tinggi sekali, belum lagi banyak bodyguard yang berjaga. Sepertinya aku harus mencari watu yang tepat" keluh Tiara.
Hari sudah menjelang magrib, Tiara melihat para bodyguard meninggalkan pos jaganya. Entah apa yang terjadi, tapi sepertinya Pria yang sebelumnya mengambilkan Tiara buah itu meminta mereka untuk berkumpul di sebuah ruangan.
"Yes kesempatan, aku akan kabur sekarang" mengambil kain panjang yang telah ia satukan dan mengikatnya di balkon. Setelah memastikan kain itu kuat dengan menarik-nariknya akhirnya Tiara menjatuhkan kain itu kebawah.
"Ya Allah tinggi banget" memperhatikan ke bawah, saat ini ruang yang ditempati Tiara adalah lantai 3.
"Kamu harus kuat ya sayang, kita harus berani melakukan ini. Mami nggak tahu apakah mereka akan membiarkan kita hidup jika kita tetap tinggal disini."
"Bismillahirrahmanirrahim, Kamu pasti bisa Tiara" mencoba turun perlahan, tapi baru saja ia berhasil menuruni setengah lantai keringat dingin sudah membasahi tubuhnya. Ia benar-benar takut ketika memperhatikan ketinggian dari tempatnya bergelantungan.
"Mama tolong Tiara, Mas Dimas tolong..." Tiara menangis bergelantungan saat ini posisinya hampir sampai di lantai dua. Tubuhnya bergemetar setiap ia menatap kebawah. Akhirnya ia hanya bisa bergelantungan sambil memejamkan matanya. Ia menangis dan menyesali kondisinya saat ini.
TBC.
__ADS_1