
Dimas hanya menampilkan senyumannya melihat kebingungan Nara, sementara Mike pura-pura tak mendengar perkataan Dimas.
"Besok aku harus kembali, jadi aku tak bisa menjagamu" ucap Dimas.
"Apa terjadi sesuatu Kak?" tanya Mike.
"Tidak, aku hanya merindukan istriku saja. Aku akan menjemputnya karena tugasku sudah selesai" ucap Dimas menutupi apa yang terjadi. Ia tak ingin Mike bertambah khawatir.
"Nara, kau tolong jaga adikku ya, karena aku harus kembali besok. Dan kau Mike, baik-baiklah dengan Nara. Kalian bisa saling menjaga selama aku tak ada. Dan aku juga meninggalkan beberapa pengawal bersamamu jika kau butuh sesuatu" ucap Dimas."
"Oh ya aku dapat pesan dari Kakek, jika kau sembuh Kakek ingin kau kembali dan tinggal bersamanya. Kasihan dia mulai merasa kesepian sepertinya."
"Lalu bagaimana denganku" Ucap Nara tiba-tiba menyela pembicaraan Dimas dan Mike.
"Kau bisa ikut bersama Mike, aku sudah menceritakan tentangmu dengan kakek. itu sebabnya Kakek ingin kalian tinggal bersamanya. Tidak mungkinkan kalian berdua tinggal bersama sedangkan kalian belum menikah. Jika kalian ingin tinggal bersama maka kalian harus menikah terlebih dahulu, itu pesan Kakek" ucap Dimas sok menguliahi, rupanya ia sendiri lupa dengan tingkahnya dulu yang tinggal seatap dengan Tiara sebelum menikah.
"Kakak jangan khawatir, aku tidak akan mungkin macam-macam dengan gadis kecil ini. Lagipula dia bukan seleraku" ucap Mike sembari melirik kearah Nara. Ia ingin tahu seperti apa reaksi gadis itu.
"Siapa juga yang akan menyukaimu, aku hanya sebatas kagum saja tidak lebih" sahut Nara menatap Mike lalu membuang muka. Mike tersenyum kecil melihat tingkah Nara.
"Aku akan menemui dokter untuk bertanya lebih lanjut tentang kondisi kalian. Ingat jangan macam-macam jika hanya berduaan karena yang ketiga adalah setan" ucap Dimas berlalu dari sana. Sementara Mike dan Nara hanya bisa mendengus kesal. Sungguh menasehati itu lebih gampang daripada menjalani dan memberi contoh nyata.
************
Saat ini Dimas sudah berada di pesawat ia menuju pulau dimana Tiara di sembunyikan sebelumnya.
Dimas menelpon Farih untuk mengabarkan kedatangannya. Farih mengirimkan anak buahnya untuk menjepit Dimas, karena ia masih berada di reruntuhan Villa bersama dengan polisi.
Farih dan polisi memang berhasil menemukan keberadaan Villa atas petunjuk Dimas. Padahal sebelumnya polisi kehutanan telah mencoba untuk menemukan lokasi ledakan namun nyatanya gagal karena letak Villa yang tertutupi oleh tebing tinggi. Bahkan jika menggunakan helikopter pun tak terlihat dari atas karena rimbunnya hutan di sekitarnya.
Bau bangkai menyengat karena mayat-mayat yang terkena ledakan membusuk di tempat ini. Polisi menyiapkan beberapa kantung mayat untuk mengangkut jenazah tak terbentuk. Semua evakuasi di lakukan secara manual karena jalan rahasia yang dilalui kendaraan anak buah Tedi sebelumnya hancur tertimbun reruntuhan.
Proses evakuasi memakan waktu lama, karena banyaknya jenazah yang sudah tak utuh. Sesungguhnya jenazah yang ada semua adalah dari pihak penyerang. jebakan yang di buat David berhasil membunuh semua musuhnya dengan sekali ledakkan. Anak buah Tedi hanya mengalami luka-luka dan berhasil di evakuasi cepat, mereka yang tak ingin mengikuti Tedi ke negaranya berbaur dengan warga sekitar dan menyamar menjadi petani. Pesangon yang di berikan Tedi cukup untuk menghidupi masa depan mereka.
__ADS_1
Dimas sampai dipulau dan langsung bergegas ke tempat tujuan. Ia langsung berbaur dengan Farih dan juga polisi yang dibantu beberapa warga melakukan pencarian korban.
"Bagaimana Kak?" tanya Dimas pada Farih Kakak iparnya.
"Sudah ada banyak jenazah yang ditemukan, rata-rata mereka dalam keadaan hancur dan kondisi tubuh terpotong. Apa kamu yakin Tiara tidak ada di antara reruntuhan ini?" tanya Farih sedikit takut.
"Aku yakin Kak, jika ia terluka sedikit saja aku bisa merasakannya. Apalagi terjadi hal besar seperti ini" ucap Dimas yakin. Dimas mengamati orang-orang yang menelusuri reruntuhan. Ada satu orang yang menarik perhatiannya, orang itu adalah yang mengeluarkan Dimas dari penjara dan menemui Tedi sebelumnya. Ya, tak salah lagi itu memang orangnya.
Dengan hati yang bertanya-tanya Dimas mendekati orang itu. Begitu pandangan mereka bertemu dengan segera orang itu menaikkan masker wajahnya yang semula hanya tergantung di lehernya. Kecurigaan Dimas semakin besar ketika orang itu terlihat cemas dan gugup ketika Dimas mendekat padanya.
"Ikut denganku" ucap Dimas tanpa basa-basi.
"Ada apa Tuan? Maaf saya masih harus membantu bapak polisi mencari korban di puing reruntuhan?" ucap orang itu beralasan berusaha untuk menghindar.
"Sebaiknya kau ikut denganku, atau aku akan membongkar penyamaranmu di depan polisi" titah Dimas. Pria itu tak punya pilihan lain, ia terpaksa mengikuti Dimas.
"Kak, aku pergi dulu ada yang mesti aku urus. Tolong laporkan padaku perkembangannya nanti" ucap Dimas pada Farih dan berlalu pergi dari sana.
"Kau tenang saja, aku akan melaporkan hal sekecil apapun yang terjadi di sini" ucap Farih, ia juga ingin adiknya segera ditemukan dan dalam kondisi baik-baik saja. Hatinya semakin miris melihat kondisi korban yang ditemukan dalam kondisi tubuh terpotong. Ia berusaha percaya pad Dimas, kalau Tiara saat ini selamat dan sedang baik-baik saja.
"Ada apa kak?"
"Cepat temukan istrimu karena orangtuaku selalu menanyakan keberadaannya, aku tidak bisa membohongi mereka lama-lama."
"Jangan khawatir Kak, aku pastikan akan membawanya pulang dengan selamat" ucap Dimas dengan yakin.
Dimas membawa pria itu ke hotel tempat ia menginap, itu adalah tempat yang paling cocok untuk berbicara dengan leluasa.
"Katakan dimana Bosmu dan istriku berada?" tanya Dimas mengintrogasi, ia tak ingin buang-buang waktu lagi.
"Sa-saya tidak tahu tuan, mu-mungkin saja mereka ada di reruntuhan itu" ucap pria itu gugup bahkan keringat sudah membanjiri wajah lelahnya.
"Aku akan mbebaskanmu jika kau mengatakan sebenarnya. Tapi jika kau berani berbohong padaku, maka aku akan menghabisimu dan mungkin juga keluargamu. Kekuasaan yang aku miliki akan memudahkanku untuk menelusuri asal-usulmu" ancam Dimas mencoba memperingati pria itu.
__ADS_1
"Ja-jangan Tuan jangan usik keluargaku, aku akan mengatakan yang sebenarnya." akhirnya pria itu menyerah dan mau mengatakan kebenarannya.
"Bos membawa istri anda ke negaranya Tuan, itu saja yang aku tahu. Saya sudah boleh pergi kan Tuan" pria itu ingin bergegas pergi dari sana sebelum Dimas berubah pikiran dan menyakitinya.
"Pergilah!" usir Dimas.
"Syukurlah kau selamat sayang, tunggu aku, aku akan menjemputmu secepatnya" gumam Dimas merasa lega, ketika mengetahui istrinya lolos dari puing reruntuhan itu.
Tanpa menunda waktu Dimas menuju bandara untuk menuju ke negara dimana istrinya di sembunyikan. Ia mengabari Farih terlebih dahulu tentang informasi yang ia dapatkan. Farih ingin ikut Dimas menjemput Tiara tapi ia menolaknya. Dimas hanya ingin masalahnya tidak melibatkan banyak orang, ia ingin menyelesaikannya sendiri dengan caranya.
Pesawat pribadi milik Dimas meluncur ke negara itu, tapi sayang ijin mendaratkan pesawatnya disana di tolak hingga pilot akhirnya harus mendarat ke negara tetangga yang berbatasan dengan wilayah tersebut.
Dimas keluar dari pesawatnya dengan wajah di tekuk, ia terlihat kesal. Ia langsung menemui otoritas bandara menanyakan kenapa ia ditolak mendarat di negara Z, negara berbasis kerajaan monarki mutlak dimana kekuasaan pemerintahan bersifat mutlak dan tak terbatas.
Hal ini memungkinkan kepala negara itu menerapkan peraturan pemerintah semaunya.
"Maaf Pak, kenapa saya ditolak untuk masuk dan mendarat ke negara Z" tanya Dimas pada petugas bandara.
"Maaf pak, untuk menuju ke negara itu, Bapak di haruskan menggunakan paspor khusus bukan paspor yang biasanya. Dan tidak semua pesawat pribadi di ijinkan mendarat disana. Hanya pesawat lingkungan kerajaan dan pesawat yang memang membawa tamu khusus yang diundang oleh kerajaan yang bisa memasuki wilayah itu." jelas petugas bandara.
"Lalu apa yang harus saya lakukan untuk bisa sampai ke negara itu?" tanya Dimas dengan sedikit kesal, harapannya untuk bertemu dan mencari Tiara segera terpaksa harus tertunda akibat peraturan yang memang diterapkan di negara itu.
"Kami akan bantu Bapak untuk mengurus paspor khusus, setidaknya selama dua hari paspor itu baru bisa anda gunakan nanti."
"Pa tidak bisa sehari selesai ?" tanya Dimas.
"Maaf Tuan, itu adalah waktu yang tercepat yang bisa kami lakukan" ucapnya menjelaskan.
"Baiklah, katakan apa yang harus saya lakukan agar segera anda bisa memprosesnya."
"Ikut saya Tuan, saya akan membawa anda ke teman saya. Beliau nanti yang akan mendampingi Anda selama proses pembuatannya" ucapnya lagi sembari membawa Dimas keluar dari ruangan itu.
Dimas menghela nafasnya, sesungguhnya ia merasa sangat lelah. Ia bahkan belum beristirahat untuk bisa segera sampai. Ia hanya bisa berdoa mudah-mudahan tubuhnya kuat dan penyakitnya tak kambuh lagi.
__ADS_1
Tunggu aku sayang, sepertinya kita masih harus bersabar, batin Dimas.
TBC