UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Nikahi Adikku.


__ADS_3

"Anda tidak lupa bukan Tuan Dimas akan menyetujui apapun permintaan saya."


"Iya, saya berjanji akan menyetujui nya."


"Nikahi adikku Anita."


"A-apa maksudmu?" Dimas mengepalkan tangannya erat. Ia berusaha menajamkan pendengarannya. Berharap apa yang ia dengar salah.


"Maaf Tuan Dimas mungkin permintaan saya ini lancang. Tapi saya ingin anda menikah dengan adikku Anita. Selambat-lambatnya dalam satu Minggu ini."


"Apa kau bercanda?"


"Tidak saya serius."


"Apa otakmu terbalik sekarang, kau tau bukan aku sudah memiliki calon istri. Dan aku berniat menikahinya segera setelah ia sembuh total. Dan sekarang kau malah memintaku untuk menikahi adikmu. Apa maksud anda?"


"Maaf Tuan Dimas saya tidak bercanda dan otak saya baik-baik saja. Dan bukankah Anda sudah berjanji padaku, apapun permintaan saya anda akan kabulkan."


"Saya memang berjanji padamu, tapi bukan untuk yang satu ini. Kau bisa meminta saham perusahaanku, atau mungkin tender-tender proyek yang ada di tanganku saat ini. Rumah Sakit, Rumah mewah, mobil apapun itu. Asal tidak sebuah pernikahan" ucap Dimas menggebu-gebu.


"Saya tidak memerlukan semua yang anda sebutkan itu. Anda tentunya paham, saya sudah memiliki semua yang anda sebutkan tadi. Dan seharusnya ketika anda berjanji pada saya untuk mengabulkan apapun itu. Anda harusnya memikirkan hal yang terburuk."


"Aku berpikir Anda adalah orang yang memiliki hati nurani yang baik karena mau menolong calon istriku. Tapi ternyata anda memiliki pikiran yang picik. Memanfaatkan kelemahanku demi keuntunganmu. Tidak pernah terpikirkan sedikitpun di otakku kalau anda orang yang seperti itu."


"Saya tidak perduli bagaimana penilaian anda terhadapku dan bagaimana cara berpikir Anda. Saya hanya menginginkan kebahagiaan adik saya. Kalau memang anda pria sejati Anda pasti akan menepati janji anda."


"Kau bahkan tidak memikirkan bagaimana perasaanku dan calon istriku. Kau dengan seenaknya memisahkan kami berdua."


"Maaf kalau perbuatanku ini menyakiti kalian berdua. Tapi prioritasku saat ini adalah kebahagiaan Adikku."


"Apa kau yakin adikmu akan bahagia bersamaku? Aku bahkan tidak mencintainya sama sekali. Dan jangan katakan aku tidak memperingati anda sebelumnya. Saya bisa bersikap lembut pada Tiara karena saya mencintainya. Tapi tidak dengan adik anda. Jika anda tetap memaksaku untuk menikahinya, maka aku akan menikahinya. Dan katakan pada adikmu selamat datang di nerakaku satu Minggu lagi."

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari Farih, Dimas melangkahkan kakinya keluar ruangan itu dengan wajah masam. Bahkan sekretaris Farih yang ingin menyapanya mengurungkan niatnya karena melihat wajah mendung Dimas.


Dengan langkah cepat Dimas melangkahkan kakinya keluar kantor itu. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa jijik berada di kantor itu. Sesampainya di mobil Dimas melampiaskan amarahnya. Ia berteriak-teriak sambil memukul setir mobilnya. Perbuatan Dimas ini sedikit menyita perhatian orang sekitarnya. Tapi ia sama sekali tidak perduli.


Sedangkan Farih yang berada di ruangannya terlihat frustasi dengan keputusannya sendiri. Ia benar-benar bingung saat ini, Adiknya Anita tiap hari menerornya dan merengek-rengek padanya.


Flashback on


"Kak kumohon bantu aku mendapatkan dia."


"Tidak, Anita. Dimas sudah memiliki calon istri."


"Kak kumohon aku berjanji jika Kakak bisa menjadikannya suamiku, maka aku akan berubah. Aku akan jadi istri dan adik yang baik kumohon Kak."


"Tapi Dimas tidak mencintaimu, kau tidak akan bahagia dengannya."


"Pelan-pelan aku akan buat dia mencintaiku Kak. Kakak tidak perlu khawatir tentang itu."


"Kak percayalah padaku. Kakak lihat, Ayah dan Ibu dulunya bahkan juga tidak saling mencintai pada saat mereka menikah. Tapi sekarang mereka bahagia dan saling mencintai."


"Begitu pula adikmu ini Kak. Nita akan berjuang untuk cintanya Dimas. Dan Nita yakin bisa menaklukkannya jadi tolong beri Nita kesempatan itu."


"Terus kalau kau menikah dengannya bagaimana nasib calon istrinya?"


"Kakak jangan khawatir. Calon istri Tuan Dimas itu cantik banget Kak, jadi Nita yakin dia pasti akan mudah mendapatkan gantinya. Sedangkan Nita berbeda Nita merasa tidak bisa hidup tanpanya. Jadi Nita mohon kak bantu Nita. Nita bisa gila tanpanya."


"*Kamu yakin."


"Seratus persen Kak. Dan jika Tuan Dimas menyetujui menikahi Nita. Tolong jangan beri dia ruang berpikir terlalu lama. Nita nggak mau kalau sampai Tuan Dimas berubah pikiran*."


flashback off

__ADS_1


"Astaghfirullah apa yang aku lakukan ini" Farih membentur-benturkan kepalanya di meja kerjanya. Dia benar-benar dilema saat ini.


*************


Dimas melangkahkan kakinya masuk ke rumahnya, ia mengabaikan sapaan para pelayan. Ia membuang tas kerjanya begitu saja di sofa ruang tamu. Lalu ia berjalan menuju kamar Tiara.


Kamar Tiara tidak tertutup rapat, hingga memudahkan Dimas memasuki kamar itu tanpa Tiara sadari.


Dimas menatap Tiara yang sedang duduk di tempat tidur, Ia terlihat asyik dengan buku bacaannya. Entah buku apa yang di bacanya Dimas juga tidak mengetahuinya.


Dimas naik ke atas tempat tidur, menimbulkan pergerakan. Yang membuat Tiara sadar bahwa ada orang lain di kamarnya. Di atas tempat tidur, Dimas tiba-tiba merengkuh Tiara dalam pelukannya.


"Mas..." Tiara yang terkejut berusaha melepas pelukan Dimas.


"Jangan dilepas sayang, tolong biarkan seperti ini dulu" Dimas dengan suara yang terdengar gemetar mengeratkan pelukannya.


Tiara yang bingung dengan sikap Dimas berpikir, mungkin Dimas ada masalah di tempat kerjanya. Tiara membalas pelukan Dimas, ia mengusap-usap punggung pria itu. Pria yang telah mengisi hari-harinya belakangan ini.


Dimas melepaskan pelukannya, ia menatap Tiara dari jarak dekat. Wajah mereka berdua hanya berjarak beberapa inci saja. Dimas kemudian menc*um bibir Tiara lembut. Tiara merasakan ciuman Dimas sedikit berbeda. Ini benar-benar ciuman yang lembut, tidak ada nafsu di dalamnya.


Dimas melepaskan ciumannya, menyatukan kening dan hidung mereka berdua.


"Maafkan Aku" tanpa disadari air mata Dimas mengalir di pipinya. Tiara yang terkejut melihat Dimas yang menangis menyentuh kedua pipi pria itu.


"Ada apa Masku," tanya Tiara khawatir.


"Maaf kalau selama ini aku menyakitimu dan maafkan aku juga karena telah merenggut milikmu yang paling berharga. Mulai saat ini aku Dimas Adi Nugroho membebaskanmu dari semua hutang-hutangmu. Dan jika kamu ingin pergi meninggalkanku aku mengijinkanmu. Aku juga sudah memindah namakan apartemen yang kita tempati dulu padamu, sebuah rumah yang mewah, Dua buah ruko berlantai tiga, Deposito dan Tabungan untukmu" Dimas berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya yang akan kembali menetes tapi kelihatannya sia-sia."


"Mas ada apa sebenarnya ini, kenapa kau berkata begitu. Aku tidak pernah berpikir ataupun berharap mendapatkan harta darimu. Dan mengapa kau berkata begitu, ada apa sebenarnya ini. Apa kau tidak mencintaiku lagi? Dan apakah kau tidak ingin menikah denganku?"


TBC.

__ADS_1


__ADS_2