UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Menyusul Tiara.


__ADS_3

"Kita pulang ke apartemenku baru kota bicarakan masalah ini" ucap Anton. Ia tidak ingin memperkeruh masalah lagi. Sudah banyak masalah yang ia buat untuk Dimas tapi selalu saja berakhir merugikan dirinya sendiri. Ia tidak ingin terjebak dengan permainan Manda.


Sesampainya di apartemen Manda selalu berusaha memprovokasi Anton untuk menghancurkan Dimas. Ia tidak rela jika Dimas berakhir bahagia dengan Tiara, sementara nasibnya dan anaknya ia tidak tau akan seperti apa. Manda belum begitu mengetahui sifat Anton. Apakah Anton hanya menginginkan anaknya dan membuangnya nanti ia sama sekali tidak tahu.


Tapi satu hal yang pasti, Manda akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghancurkan rumah tangga Dimas.


"Dengar, hentikan kegilaanmu yang terobsesi ingin menghancurkan kehidupannya. Aku ingin kita memulai hidup baru bersama anak kita. Tapi jika kau tak ingin hidup bersamaku, aku tidak masalah. Yang terpenting serahkan hak asuh anak itu padaku. Tapi jika kau ingin hidup tenang bersamaku lupakan mereka. Aku akan menikahimu dan memperlakukanmu dengan baik." ujar Anton tegas.


Manda terdiam mendengar kata-kata Anton. Sepertinya untuk saat ini ia harus menuruti pria itu. Apalagi Manda tidak memiliki pendukung, tempat tinggal maupun uang yang cukup buat dia melakukan sesuatu. Ia akan diam sementara, sambil pelan-pelan mengumpulkan Dana maupun kekuatan untuk menghancurkan musuhnya.


*************


Sementara itu Dimas saat ini sedang dalam perjalanan darat. Setelah menempuh waktu setengah jam penerbangan. Ia harus menempuh waktu satu jam perjalanan darat. Berkali-kali ia mencoba menghubungi handphone Tiara dan Farih tapi tak ada satupun dari mereka yang mengangkat panggilannya.


"Maaf Pak dimana alamat Dokter Farih ya?" tanya supir pada salah satu warga yang sedang beristirahat di pinggir jalan.


"Ooh Dokter Farih, tinggalnya di sebelah barat sana Pak, dekat dengan rumah sakit yang baru saja di bangun kira-kira 50 meter setelah rumah sakit. Yang rumah berpagar hitam pak dan rumah yang paling besar di desa ini" jelas orang itu.


"Terimakasih."


Dimas telah sampai di depan pagar rumah Farih. Berkali-kali ia memencet Bel yang tersedia disana.


"Astaghfirullah nggak sabaran banget sih, Siapa ya?" tanya tukang kebun yang membuka pintu pagar.


"Dokter Farih ada Pak" tanya Dimas.


"Maaf Dokter Farih nya lagi praktek Tuan. Istrinya Dokter juga masih disekolah, kira-kira lagi 1 jam Neng Lia baru pulang. Ada apa ya Tuan?" tanyanya penasaran.


"Saya Dimas, suami dari Tiara adik Dokter Farih. Saya kemari menyusul istri saya Tiara. Apa Tiara ada di dalam Pak?"


"Neng Tiara ada di dalam dia lagi istirahat. Soalnya baru beberapa jam yang lalu ia sampai."


"Kalau begitu saya boleh masuk Pak?" tanya Dimas. Pasalnya pria tua itu hanya membuka pintu gerbang sedikit dan ia tutupi dengan tubuhnya.


"Maaf, saya telpon dokter Farih dulu saya ingin bertanya padanya, Apa Tuan boleh masuk atau tidak?"


Pria itu segera merogoh kantongnya dan mengeluarkan handphone jadul miliknya.

__ADS_1


"Assalamualaikum Tuan, ada tamu katanya suami Neng Tiara. Gimana ini tuan boleh masuk tidak?"


"Biar saya bicara dengannya" pinta Dimas mengambil handphone pria tua itu.


"Farih, ini Gue Dimas. Gue mau temuin Tiara, bisakan?"


"Masalahmu sama Sono gimana sudah selesai belum? Soalnya adikku pesan dia nggak mau ketemu sama Lu kalau Lu belum selesaikan masalah Lu."


"Sudah selesai, anak itu bukan anak gue, makannya gue kesini mau jelasin ke Tiara" jelas Dimas.


"Ya udah Lu masuk deh tapi jangan bikin keributan. Kalau adik gue nggak mau ketemu Lu jangan dipaksa. Lu bisa minta Pak Totok buat nyiapin kamar tamu buat Lu. Mana orang yang telpon Gue tadi. Gue mau bicara sama dia."


Dimas memberikan telponnya pada pemiliknya, setelah itu ia masuk rumah itu dengan di temani pria tua itu. Pria tua itu memberitahukan letak kamar Tiara pada Dimas.


"Tuan, itu lantai dua paling pojok adalah kamar Non Tiara. Dan jika Tuan mau istirahat dulu ini juga ada kamar tamu lantai satu dekat ruang keluarga." jelas pria tua itu.


"Terimakasih Pak, saya mau ke kamar istri saya saja" tolak Dimas langsung menuju kamar istrinya.


Didepan kamar Tiara, Dimas membuka pintunya hati-hati. Ia menatap istrinya yang tertidur dengan mata yang terlihat bengkak. Sepertinya istrinya habis menangis hingga tertidur pulas.


"Sayang" panggil Dimas berbisik di telinga istrinya.


"Sayang, kau tak merindukanku. Mengapa kau pergi tanpa menungguku, hemmm." Dimas mencium punggung istrinya.


"Sayang" Panggil Dimas lagi, Dimas tahu jika Istrinya telah terbangun karena ulahnya yang mengganggu tidur nyeyak istrinya.


"Sayang," Dimas mengelus perut istrinya. Ia bangun dari tidurnya dan mengecup perut istrinya.


"Hallo anak Ayah, gimana kabarnya. Lihat mami masih marah sama Ayah. Padahal Ayah kesini mau ngasih tahu, kalau anak yang ada di kandungan wanita itu bukan anak Ayah tapi anak Anton sepupu Ayah. Ya sudahlah, ayah pergi aja. sepertinya Mami nggak mau maafkan Ayah" ucap Dimas memelas.


"Beneran Mas kamu nggak bohong kan?" tanya Tiara tiba-tiba membuka matanya.


"Bener, buat apa mas bohong. Kalau nggak percaya kamu bisa telpon Anton sekarang juga. ini Mas punya nomor teleponnya" Dimas menyodorkan handphone miliknya pada Tiara.


"Nggak perlu, Tiara percaya kok sama Mas."


"Kalau percaya kenapa pakai acara kabur-kabur segala hemmm" Dimas memeluk Tiara dan Tiara membalas pelukannya."

__ADS_1


"Mas nyebelin," ucap Tiara cemberut.


"Tapi cintakan. Nih bibir jangan di manyunin kenapa" Dimas tertawa melihat tingkah istrinya yang terlihat imut dimatanya. Ia menarik bibir manyun istrinya.


"Mas!!!" kesal Tiara.


"Iya-iya maaf. Gimana ini ngambeknya masih mau di lanjutin nggak?" tanya Dimas.


"Tau ah mas nyebelin. Mas...." panggil Tiara tiba-tiba bertingkah sok imut.


"Natapnya jangan gitu ah Yang, Mas geli ngelihatnya."


"Mas, tadi Tiara pas datang kesini lihat ada pohon mangga lagi berbuah dilapangan bola. Buahnya banyak banget lho Mas, Tiara jadi pingin. Kita kesana yuk Mas ambil mangganya."


"Hah, emang mangganya siapa yang punya Yang."


"Nggak tahu Mas, tapi Tiara pingin banget, Sana yuk sekarang."


Tiara bangun dari tidurnya dan menarik tubuh suaminya untuk segera bangun dan mengikutinya.


Astaga Yang, Mas baru datang dan capek banget. Baru aja pingin sayang-sayangan sama istri masa harus keluar lagi sih Yang."


"Tiara pingin banget Mas, Mas nggak mau kan bayi kita nanti ileran" ancam Tiara.


"Iya deh, ayuk."


Dimas dan Tiara berjalan keluar rumah, ketika melewati pagar Dimas melihat dihalaman rumah Fahri juga ada mangga yang berbuah lebat.


"Yang ini ada mangga juga di halaman rumah, kenapa harus jauh-jauh ke lapangan bola. Kita suruh tukang kebun aja ya, buat ngambil mangga ini" tawar Dimas.


"Nggak mau Mas, Tiara pinginnya mangga muda yang ada di lapangan bola bukan yang ini. Tiara juga maunya mas yang ngambil bukannya tukang kebun" tolak Tiara.


"Astaga Yang, emang bedanya apa sih. Bukannya sama-sama mangga muda ya."


"Ya bedalah Mas. Punya orang itu lebih menarik Mas dari pada punya sendiri, bosen ngelihatnya" jawab Tiara asal.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2