
Dimas memasuki hutan itu, ia berjalan lebih dalam masuk ke hutan. Dimas menggores setiap pohon yang ia lewati sebagai penanda jika ia tersesat nanti.
Hutan ini terlihat sangat rimbun hingga terasa lembab karena sedikit cahaya matahari yang bisa menyorot kedalam.
Semakin kedalam, suasana hutan terasa mencekam apalagi hari sudah mulai malam. Dimas menggunakan helm dikepalanya yang terdapat senter menerangi jalannya.
Ia berjalan hati-hati, bermaksud mencari gua untuk bisa beristirahat. Tapi ia tidak juga menemukan sebuah gua. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur diatas pohon menghindari hewan liar yang suka mencari mangsa di malam hari.
Dimas menaiki sebuah pohon yang menjadi pilihan tidurnya. Ia menyoroti setiap ranting, memeriksa jika ada ular atau hewan berbahaya lainnya. Setelah memastikan hanya ada burung yang bertengger di dahan pohon itu akhirnya ia memutuskan untuk tidur di pohon itu. Menempatkan posisi tubuhnya dengan aman, untuk menghindari jatuh tiba-tiba. Ia juga menggunakan lotion nyamuk untuk menghindari banyaknya gigitan nyamuk.
Rasa lelah Dimas membuatnya cepat tertidur. Ia tidak memperdulikan lagi berbagai suara hewan liar yang saling bersahutan satu sama lainnya.
Tak terasa pagi hari menjelang. Sedikit sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah-celah daun dan pepohonan sedikit mengusik tidurnya. Dimas mencoba naik lebih tinggi lagi, menatap hutan dari tempatnya berada sekarang. Sesungguhnya ia ingin mencari sumber air bersih agar ia bisa membersihkan tubuhnya.
Setelah berhasil menemukan sumber air bersih, ia segera menuju kesana. Sebuah rawa besar yang Dimas sendiri juga tidak tahu berapa kedalamannya. Dimas melemparkan batu besar ke permukaan air sebelum memasukinya. Ia curiga karena permukaan air itu terlihat tenang seolah tak ada kehidupan di dalamnya.
Benar saja, begitu Dimas melemparkan batu tiba-tiba sekumpulan buaya muncul dari permukaan air tenang itu.
"Selamat, untung saja aku tidak langsung turun tadi." gumam Dimas.
Mengetahui ada sekumpulan buaya disana Dimas segera meninggalkan tempat itu. Ia menyusuri hutan kembali. Sesekali ia menempelkan telinganya ke tanah siapa tahu ia bisa mendengar suara gemericik air.
Berjalan jauh tapi belum menemukan sumber air, akhirnya Dimas memutuskan untuk beristirahat. Ia mengeluarkan roti besar dari ranselnya dan tak lupa botol minumnya. Ia beristirahat sambil menikmati makanannya.
Baru saja ia menghabiskan separuh rotinya, tiba-tiba ia merasakan kakinya seperti di lilit sesuatu. Dimas berusaha tenang sambil melirik hewan apa yang melilit kakinya.
__ADS_1
Ternyata ular jenis Piton tanah. Ular yang suka hidup di semak belukar. Ukurannya lebih panjang di bandingkan piton pohon. Ular jenis ini bewarna lebih gelap dan tidak berbisa. Tapi walaupun begitu ia memiliki taring tajam yang bisa mengoyak mangsanya. Belum lagi lilitannya yang mematikan.
Perlahan tapi pasti Dimas meraih kepalanya. Berusaha melepaskan lilitan yang mulai membelit erat salah satu kakinya. Untung saja ular ini tidak begitu besar hingga Dimas berhasil melepaskan lilitan ular tersebut.
"Untung saja bekal makanku masih banyak, kalau tidak aku pasti sudah memotong dan memanggangmu" ujar Dimas berbicara pada ular itu. Ia lalu melepaskan ular itu jauh dari tempatnya beristirahat saat ini.
"Aku sudah masuk jauh kedalam, tapi kenapa sepertinya tidak ada jejak manusia yang pernah menjelajah ke dalam sini" gumam Dimas terlihat mulai ragu.
Karena semakin kedalam semak belukar semakin tinggi. Dimas menebas setiap semak yang menghalangi jalannya dengan celurit yang ia bawa.
"Sepertinya aku mendengar suara air terjun samar-samar dari sini" ujar Dimas mencoba mempertajam pendengarannya.
Ia meletakkan telinganya ketanah untuk mastikan asal suara. Setelah yakin darimana arah asal suara, ia berlari kecil menuju kesana. Dan benar saja, ternyata memang ada air terjun disekitar situ.
Hanya dengan menggunakan celana kolor Dimas menceburkan dirinya. Menggosok tubuh dan rambutnya yang terasa lengket karena sejak kemarin ia tak mandi.
Puas dengan mandinya Dimas memotong sebuah ranting kayu dan membuatnya runcing pada bagian ujungnya.
"Tombak yang sempurna, saatnya berburu" ujarnya sambil mengayunkan kakinya menuju tempat ikan berkumpul.
Dimas memperhatikan setiap pergerakan ikan yang mengitarinya. Menancapkan tombak ke ikan-ikan itu. Walaupun berkali-kali gagal tapi ia tak menyerah. Ia kembali menancapkan tombaknya.
Ia tersenyum senang ketika seekor ikan berhasil ia tombak. Ia langsung menuju ke tepian.
Dimas sudah tiga hari berada di dalam hutan, tapi ia belum juga menemui ada tanda-tanda kehidupan manusia. Berbagai jenis binatang liar sudah banyak yang ia hadapi hingga ada berbagai luka goresan maupun cakaran menempel pada tubuhnya.
__ADS_1
Dimas yang ingin menyerah, dan kembali melalui jalan yang tadi ia tempuh tiba-tiba mendengar suara mobil.
"Aneh, bagaimana ada sebuah mobil di hutan yang lebat dan penuh semak belukar yang tinggi menjulang. Setelah memastikan pendengarannya Dimas merasa suara mobil itu ada di balik semak tinggi tak jauh dari tempatnya. Untuk memastikannya ia menaiki sebuah pohon dan terus memanjat ke atas.
Benar saja sebuah mobil berjalan dengan sisi kanan kirinya seperti tebing yang ditutupi semak belukar. Ternyata orang yang membuat rute itu sangat pintar. Sebab jika dilihat dari luar semak belukar itu seperti hidup di sebuah tebing tinggi. Siapa yang menyangka ternyata di balik tebing itu ada sebuah jalan rahasia.
Dimas memperhatikan mobil itu yang masuk kedalam semak belukar dan berhenti disana.
Terlihat dua orang keluar dari mobil itu dengan membawa dua karung besar. Sepertinya mereka membawa bahan makanan, dilihat dari ujung karung selembar sayuran menyembul keluar.
Dimas memperhatikan seorang diantara mereka menutup jalan yang tadinya mereka lewati dengan semak-semak tinggi. Mereka juga menyembunyikan mobilnya dengan menutupinya menggunakan semak belukar yang merambat di sekitarnya.
Kemudian mereka beralih ke semak-semak yang ada di seberangnya, ternyata mereka menyembunyikan sepeda motor disana. Tidak hanya ada satu, tapi ada empat. Sepeda motor yang tidak murah harganya karena di khususkan untuk medan sulit. Sepeda motor yang biasa di gunakan oleh seorang pembalap tapi sepertinya sudah mereka rakit ulang agar lebih mudah melewati Medan sulit.
Dimas memperhatikan dengan seksama ke arah mana sepeda montor itu. Setelah sepeda montor itu menjauh Dimas segera turun dari pohon. Ia menuju ke arah sepeda montor itu di sembunyikan. Ia mengambil salah satu sepeda motor itu lalu kembali menutupi yang lainnya.
Ternyata baik sepeda motor maupun mobil yang ada disana dibiarkan dengan kunci menancap di tempat kunci. Hingga memudahkan Dimas mengambil alih sepeda montor itu.
Dimas menuju kearah dimana sepeda montor itu pergi. Dimas mengikuti jejak ban sepeda motor yang mengarah ke atas bukit.
Dimas terus mengikuti jejak itu hingga tiba-tiba jejak itu menghilang. Dimas menghentikan sepeda motor heran. Ia menatap ke sekelilingnya hingga tiba-tiba, Bruukkk!!! sebatang kayu besar mendarat di punggung belakangnya.
Dimas terjatuh bersamaan dengan sepeda motor yang ia kemudikan sebelumnya. Darah mengalir dari kepala belakangnya yang ikut terkena hantaman batang kayu itu.
TBC.
__ADS_1