UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Liburan.


__ADS_3

Liburan selama dua hari yang di gagas Dimas, dengan alasan Kakek yang memintanya ternyata Kakek tidak bisa mengikuti liburan itu.


Kakek harus tetap stay di kota itu karena sahabat baik beserta cucunya yang dari luar negeri ingin mengunjungi Kakek.


"Kakek beneran nggak bisa ikut?" tanya Nara.


"Kapan-kapan kita liburan lagi, Kakek pasti ikut. Sebaiknya kalian berangkat sekarang agar tidak terlalu malam kalian sampai disana." ucap pria tua itu.


Mereka akhirnya menggunakan tiga mobil. Tiara, Dimas dan putrinya. Nara, bersama Mike, dan Dewi terpaksa harus bersama Anton karena Angga tidak mau pisah dengan Dewi.


Sedangkan menghilangnya Baby sister Anton adalah karena ulah Dimas, dengan alasan ada hal darurat di kampung ia ijin pulang kampung. Padahal itu semua adalah atas perintah Dimas, Baby sister yang mendapatkan sejumlah uang dari Dimas malah merasa sangat senang anggap saja ia liburan selama beberapa hari.


Di mobil Tiara terlihat senang bercanda dengan putrinya, sesekali Dimas juga ikut mencandai putrinya. Begitu juga Mike dan Nara yang banyak bercerita tentang hal-hal lucu yang membuat mereka tertawa.


Sedangkan suasana canggung terasa di dalam mobil Anton. Bahkan Angga sampai tertidur sangkin g sepi dan heningnya suasana di dalam mobil Anton.


Dewi yang biasanya cerewet dan suka memerintah lama-lama tak tahan dengan suasana canggung itu.


"Maaf Pak, bisakah anda hidupkan musiknya." ucap Dewi sedikit canggung. Sesungguhnya bibirnya gatal ingin memaki pria di sebelahnya yang seperti manusia es datar tanpa ekspresi.


"Jangan memanggilku Pak, aku bukan Pak supir ataupun Ayahmu" ucap Anton datar.


"Eh, maaf terus saya harus memanggil anda apa" tanya Dewi terlihat bingung dan canggung.


"Terserah" ucap Anton semakin membuat Dewi bingung.


Si*lan kenapa aku harus satu mobil dengan pria datar ini, batin Dewi meronta-ronta.


Jika bukan karena Angga ia pasti memilih satu mobil dengan Tiara atau mungkin juga Mike.


"Om, cerita apa ngobrol apa kek gitu, Saya kan bosan om kalau terus diam begini" Dewi yang tak suka dengan keheningan akhirnya membuka suara.


"Om" gumam Anton lirih masih terdengar Dewi.


"Kalau tidak boleh memanggil Om, masa iya saya harus memanggil Kakek" ucap Dewi terdengar sedikit ketus.

__ADS_1


"Terserah kamu sajalah" ucap Anton pasrah, ia memilih tidak meributkan panggilan itu.


"Cerita dong om, kok diem lagi" ucap Dewi yang sudah mulai bawel.


"Ya apa gitu kek, kerjaan om mungkin atau istri om, eh maaf bukan maksud saya mengungkit masalah istri" ucap Dewi memukul bibirnya pelan. Ia tidak menyangka ternyata bibirnya hari ini sulit untuk di kontrol, mungkin ini akibat dia yang beberapa hari terakhir ini terus mengomel pada Mike maupun Nara.


"Memangnya apa yang kau tahu tentang istriku?" tanya Anton akhirnya.


"Saya hanya tahu dari Kak Dimas kalau om lagi dalam proses bercerai" ucap Dewi sedikit hati-hati.


"Ya begitulah, sepertinya aku kurang beruntung dalam hal berumahtangga ini adalah perceraian ku yang kedua kali" ucap Anton terdengar lesu.


"Sabar ya om, mungkin belum jodoh. Mudah-mudahan om ditemukan dengan jodoh om yang sebenarnya dan bisa bahagia seperti Kak Dimas" ujar Dewi.


"Kenapa kau memanggil Dimas kak, dan memanggilku Om. Usiaku dengan Dimas hanya berjarak 2,5 tahun" protes Anton melirik Dewi yang sedari tadi asyik memangku Angga yang masih saja tertidur.


"2,5 tahun lebih tua atau lebih muda" tanya Dewi.


"Lebih tua" jawab Anton.


"Astaga bicara denganmu lama-lama bikin orang emosi. Bagaimana saudara Dimas itu tahan bersamamu" ucap Anton asal.


Entah mengapa Dewi merasa sakit hati dengan ucapan Anton. Mungkin karena situasi hatinya yang akhir-akhir ini terlalu sensitif.


"Memangnya kenapa kalau nggak ada yang menginginkanku, toh aku masih bisa hidup tanpa mereka" suara Dewi terdengar kesal, bahkan matanya mulai berkaca-kaca.


Ia memalingkan wajahnya ketika akhirnya air matanya jatuh membasahi pipinya.


Anton terkejut melihat reaksi Dewi, ia sama sekali tidak bermaksud melukai perasaan Dewi. Akhirnya Anton memilih untuk meminggirkan kendaraannya.


"Maaf aku tidak bermaksud menyakitimu, apa kau sedang ada masalah? Maaf kalau terlalu banyak bertanya, tapi kau bisa bercerita padaku apa saja kalau kau mau. Berbagi masalah akan meringankan beban mu" ucap Anton lagi meyakinkan Dewi.


"Tidak ada, mataku hanya kemasukan debu. Kau salah paham" ucap Dewi dengan nada dingin sembari menghapus air matanya.


"Kemarikan Angga, kau pasti lelah. Kita akan beristirahat selama beberapa menit" ucap Anton ingin mengambil Angga dari tangan Dewi.

__ADS_1


"Tidak perlu om, biar Angga tetap bersamaku" tolak Dewi membuat Anton kembali menurunkan kedua tangannya.


"Baiklah kita istirahat sebentar disini, itu ada swalayan. Apa ada yang ingin kaubeli?" tanya Anton.


"Bisa belikan aku coklat, aku akan menunggu disini saja" ucap Dewi, sebenarnya Dewi mengnginkan es krim coklat untuk mengembalikan mood nya. Tapi mengingat Angga yang ada di pangkuannya akhirnya ia meminta Anton membelikannya coklat batangan saja.


"Baiklah kau tunggu disini sebentar" ujar Anton lalu turun dari mobil dan membeli coklat dan beberapa snack lainnya. Ia kembali ke mobil dengan membawa satu tas kantong besar berisi jajan, makanan ringan, minuman dan coklat pesanan Dewi.


"Terimakasih" ucap Dewi berusaha mengambil coklat dengan satu tangan sedangkan tangan yang lainnya ia gunakan untuk memeluk Angga.


"Biar aku ambilkan untuknu" ucap Anton yang melihat Dewi kesulitan.


Anton mengambil satu bungkus coklat, ia bahkan membantu Dewi membukakan bungkus coklat itu dan menyerahkannya ke telak tangan Dewi.


"Terimakasih" ucap Dewi segera mengambil coklat itu dari tangan Anton.


Setelah memperhatikan suasana hati Dewi yang mulai membaik. Akhirnya Anton melanjutkan perjalanan dengan suasana di dalam mobil yang begitu sunyi, sepi dan hening. Sepertinya mereka memilih diam dari pada salah bicara.


Setelah tiga jam perjalanan akhirnya mereka sampai, Angga bahkan sudah terbangun dari setengah jam yang lalu.


"Kenapa kalian lama sekali sampai, kami sudah setengah jam menunggu kalian" ucap Dimas penuh selidik. Kebetulan memang mobil Anton berada diurutan terakhir pada saat berangkat.


"Jalanan macet" jawab Anton asal.


"Macet, dimana? Mike apa mobilmu juga terjebak macet?" tanya Dimas pada Mike.


"Tidak, perjalananku lancar 2,5 jam sampai" sahut Mike.


"Kau sama denganku perjalanan kita lancar dengan kurun waktu 2,5 jam. Sepertinya hanya Anton yang terjebak macet disini" ucap Dimas masih penasaran.


"Udah ah, ayo masuk kasihan Angga, lihat langit sebentar lagi gelap" ucap Tiara membawa Dewi yang menggendong Angga masuk ke dalam Villa.


Tiara yang melihat Dewi lelah akhirnya memberikan Aqilla pada Nara, lalu ia mengambil Angga yang ada di tangan Dewi. Awalnya Angga menolak tapi setelah di bujuk dengan mainan akhirnya ia mau ikut dengan Tiara.


"Anak pintar" ucap Tiara sembari mengusap lembut pucuk kepala Angga.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2