UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Penolakan Dewi


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Anton melaju menuju kediamannya, Dewi terlihat duduk dengan gelisah di sebelah Anton.


"Apa masih lama?" tanya Dewi terlihat tak sabar.


"Sabarlah, sebentar lagi juga sampai" ucap Anton sembari menatap Dewi yang terlihat resah.


"Bagaimana jika Angga terbangun dan menangis nanti. Harusnya aku tidak meninggalkannya di rumah" Dewi mengomel menyesal telah meninggalkan Angga.


"Angga baik-baik saja, ada pengasuh yang menemaninya tenanglah" ucap Anton terlihat santai.


"Tapi,..."


"Kau bisa mengecek CCTV di handphone milikmu" ucap Anton memotong pembicaraan Dewi.


Dewi segera mengeluarkan handphone miliknya dan menghidupkan aplikasi yang terhubung dengan CCTV di kamar Angga.


"Tuh kan dia terbangun dan menangis, pantas aku tidak tenang dari tadi" ucap Dewi sembari memperhatikan handphone miliknya. Ia melihat Angga menangis dalam gendongan bibik pelayan yang mencoba menenangkannya.


"Iya-iya sebentar lagi juga sampai" Anton melirik Dewi yang terlihat makin kesal.


"Cepatlah! lihat, Angga menangis semakin kencang. Harusnya aku tidak meninggalkannya tadi" Mata Dewi memerah, ia berusaha menahan tangisannya. Ia sangat sensitif jika berhubungan dengan Angga.


"Maaf, lain kali kita akan membawanya bersama kita" ucap Anton akhirnya menyadari kesedihan Dewi. Ia cukup kagum dengan sikap Dewi yang begitu menyayangi putranya.


Anton meningkatkan kecepatan mobilnya, beruntung jalan sepi hingga tak banyak kendaraan berlalu lalang.


"Berhenti-berhenti!!" ucap Dewi tak sabar ketika sampai di dekat pintu. Dewi langsung berlari masuk menuju kamar Angga. Ia terlihat panik ketika mendengar Angga masih saja menangis.


"Kemarikan Bik" pinta Dewi. Angga yang melihat kehadiran Dewi mengacungkan kedua tangannya ingin ikut dengannya.


"Cup-cup sayang, maaf ya bunda lama" ucap Dewi tanpa sadar. Panggilan Bunda adalah panggilan yang Anton ajarkan pada Angga ketika menggoda Dewi.


"Maaf" ucap Dewi sembari memeluk bocah kecil itu yang masih menangis sesenggukan sembari mengalungkan kedua tangannya ke leher Dewi. Dewi mengelus-elus lembut punggung Angga. Anton yang baru saja sampai di depan kamar Angga menatapnya tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


********


Sementara itu di rumah sakit, kondisi Nara berangsur pulih. Mike yang tertidur di kursi di sebelah ranjang pasien bisa merasakan pergerakan jari jemari Nara yang berada dalam genggamannya.


"Nara" ucap Mike terbangun ketika merasakan pergerakan Nara. Terlihat Nara yang melakukan pergerakan kecil dan berusaha menggerakkan kelopak matanya yang terasa berat untuk ia buka. Sepertinya efek obat tidur yang dokter berikan masih mempengaruhinya.

__ADS_1


"Kak Mike" ucap Nara lirih ketika berhasil membuka kelopak matanya. Mike terlihat senang mengecup kening Nara.


"Kenapa?" tanya Mike khawatir ketika melihat Nara merintih sembari memijat keningnya.


"Sakit" ucap Nara lirih sembari meringis menahan rasa sakit di kepalanya. Mike kembali memanggil Dokter untuk memeriksa Nara.


Terlihat Dokter dan suster memasuki ruangan dan segera menghampiri Nara dan memeriksanya.


"Apa ada bagian yang masih terasa sakit?" tanya Dokter pada Nara.


"Pusing Dok, tapi sudah agak mendingan" ucap Nara pelan ketika merasakan kepalanya tak sesakit sebelumnya.


"Tidak apa-apa, mungkin itu hanya efek karena anda tidur terlalu lama, Insyaallah sebentar lagi juga baikkan" ucap Dokter itu tersenyum ramah. Nara menganggukkan kepalanya tanda mengerti, ia mulai terlihat tenang karena tak merasakan lagi sakit di kepalanya. Ya mungkin benar itu adalah efek karena ia tertidur terlalu lama.


Dokter memberikan sebuah resep dan diserahkan pada Suster setelah memeriksa dan mengamati kondisi Nara. Ia juga menyuntikkan vitamin pada selang infus untuk menambah kesehatan Nara.


"Kondisi pasien baik-baik saja, jika tidak ada keluhan, beberapa hari setelah pemulihan pasien sudah bisa pulang kerumah" ucap Dokter membuat Mike tersenyum lega. Dokter dan suster berpamitan keluar ruangan meninggalkan Mike dan Nara berdua.


"Kak, haus" ucap Nara. Mike mengambilkan air mineral untuk Nara yang ia berikan sedotan diatasnya untuk memudahkan Nara meminumnya.


"Kak Dewi mana ya? bukannya pas Nara tersadar sebelumnya Dewi ada disini!" ucap Nara membuat Mike terdiam.


"Ya!" jawab Mike menatap Nara bengong.


"Dewi mana? Telpon Dewi suruh sini dong, biar aku ada temannya ngobrol" pinta Nara sedikit memaksa sembari menggoyangkan tangan Mike yang berdiri tepat di sebelahnya.


"Ini sudah malam sayang, Dewi pasti sudah tidur. Besok dia juga harus sekolah" ucap Mike beralasan mengelus lembut kepala Nara.


"Besok setelah Dewi pulang sekolah, Kak Mike jemput ya dan bawa Dewi kemari" pinta Nara di angguki Mike.


*********


Di rumah Kakek, Dimas sedang di sidang oleh pria tua yang merupakan Kakeknya sendiri. Ini terkait dengan Anton dan Dewi.


"Sejak kapan mereka tinggal bersama?" tanya Kakek dingin.


"Sejak Nara kecelakaan" ucap Dimas singkat.


"Kalian itu keturunan keluarga baik-baik, tapi sifat kalian yang suka tinggal bersama wanita sebelum menikah membuatku kesal" Kakek terlihat menghela nafasnya kesal.

__ADS_1


"Besok pagi kau ikut aku ke rumah Anton" ucap Kakek sembari berdiri meninggalkan Dimas.


"Tapi Kek..." protes Dimas diabaikan oleh Kakek. Dimas hanya bisa mendengus kesal. Padahal besok pagi ia ada janji temu dengan investor.


Hari menjelang pagi selesai sarapan Kakek langsung mengajak Dimas tancap gas menuju rumah Anton. Dimas yang awalnya ingin menolak ajakan Kakek mendapat pelototan dari Tiara.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu, Wanita paruh baya yang membukakan pintu segera mempersilahkan Kakek dan Dimas untuk duduk di ruang tamu. Sementara wanita itu naik ke lantai dua untuk memanggil Anton sang pemilik rumah.


"Tumben Kek pagi-pagi sudah kemari" ucap Anton sembari mencium punggung tangan Kakek.


"Iya nih Kakek, padahal pagi ini aku ada janji temu sama investor" protes Dimas.


"Ini semua bukan salahku, tapi salah kalian yang nggak bisa menempatkan diri" protes Kakek sembari duduk di sofa.


"Ada apa sih?" tanya Anton lirih pada Dimas yang tepat berada disampingnya.


"Bagaimana urusan perceraianmu dengan Manda?" tanya Kakek tiba-tiba.


"Sudah beres Kek, surat cerai sudah aku terima beberapa hari yang lalu" ucap Anton sedikit bingung. Tumben kakeknya bertanya masalah pribadi padanya hingga harus repot pagi-pagi berkunjung ke rumahnya.


"Kalau urusanmu sudah selesai dengan Manda, segera nikahi Dewi. Jangan sampai kalian terus-terusan tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan" ucap Kakek membuat Anton terkejut. Ia menoleh pada Dimas yang juga mengangkat bahunya tanda tak mengerti.


"Sialan, kau mengadu pada Kakek ya" bisik Anton pada Dimas.


"Dimas tidak perlu mengadu padaku, aku bisa mencari tahu sendiri" sahut Kakek mendengar ucapan Anton. Anton tersenyum kaku.


"Iya Kek, aku pasti nikahin Dewi kok. Tapi apa Dewi mau nikah sama duda sepertiku?" tanyanya sedikit ragu.


"Apa ketampanan dan kekayaanmu belum juga bisa menaklukkannya, dasar payah" ucap Kakek terdengar meremehkan.


"Bukan begitu Kek, tapi kondisi Dewi saat ini masih labil, dia juga sebentar lagi menghadapi ujian kelulusan sekolah. Aku tidak ingin mengganggu konsentrasi belajarnya. Selesai ujian sekolah Dewi, aku janji akan melamarnya. Kakek jangan khawatir" ucap Anton Akhirnya, ia tidak ingin jika Kakek bertindak lebih yang bisa membahayakan emosi Dewi.


"Tidak perlu menunggu Dewi lulus ujian. Kakek ingin kau menikahinya paling lama akhir bulan ini atau selambat-lambatnya dua Minggu lagi. Jika kau tidak memiliki keberanian, biar Kakek yang melamarnya untukmu" ucap Kakek terlihat tak sabar.


"Aku tidak ingin menikah dengan Kak Anton" terdengar suara Dewi dari belakang mereka, membuat ketiganya terkejut menoleh ke belakang.


TBC

__ADS_1


Mohon maaf sebelumnya karena selama sebulan tidak bisa up. Insyaallah mulai hari ini saya usahakan up setiap hari. Terimakasih banyak buat yang masih setia membaca. Jangan lupa dukungannya biar saya makin semangat nulisnya, terimakasih. 🙏


__ADS_2