
"Daddy, Oma, Kak Mona..., maaffin Rendra..., maaf..." Tangis Rendra pecah.
"Kenapa sayang?" Tanya mereka bersamaan.
"Ma-maaf karena Rendra sudah bohong dan mengakibatkan kak Tiara celaka. Huaaa...."
"Apa maksudmu Rendra..."
"Maaf karena Rendra sudah berbohong pada kalian semua. Maaf...." tangis Rendra.
"Memang cucu Oma sudah bohong apa?" tanya Oma lembut.
"Rendra bohong kalau Rendra hilang ingatan, supaya Kak Tiara nggak ninggalin Rendra. Pasti sekarang Tuhan marah karena Rendra bohong. Jadi Kak Tiara celaka. Maaf Daddy, maaf Oma, maaf kak Mona, Maaf....."
"Sayang, Son jadi kamu nggak hilang ingatan?" tanya mereka bertiga bersamaan.
"Nggak maaf..."
"Jangan di ulangi lagi Daddy nggak suka punya anak tukang bohong. Dan Kak Tiara sakit sekarang ini juga bukan salah Rendra. Jadi jangan salahkan dirimu. Tapi Doakan Kak Tiara ya, mudah-mudahan Kak Tiara bisa ngelewatin ini semua." ucap Reno, Rendra pun menganggukkan kepalanya dan memeluk Reno.
"Boleh Oma tau sayang, kenapa Rendra sampai berani berbohong. Setau Oma, cucu Oma nggak pernah bohong kan."
"Rendra takut Kak Tiara pergi ninggalin Rendra Oma, maaf. Ta-tapi sekarang Rendra nggak papa kalau kak Tiara nggak bisa jagain Rendra lagi yang penting Kak Tiara bisa sembuh Oma."
Rendra kembali menangis tapi kini bukan lagi di pelukan Reno. Tapi ia menangis di pelukan Oma Rina.
"Sudah-sudah, Kita doain sama-sama ya mudah-mudahan Kak Tiara diberi kesembuhan" Oma mengelus punggung Rendra.
*************
Dimas dan Erick sudah sampai di bandara kota B, sekarang mereka tinggal melakukan perjalanan darat selama satu jam untuk sampai di Desa C.
Dimas dan Erick di jemput oleh mobil travel, yang sudah di pesan Erick sebelumnya secara online.
"Tolong antarkan kami segera ke Desa C Pak" Pinta Erick.
"Bai Tuan."
Rute Perjalanan yang dilalui Dimas dan Eric tidaklah mudah. Mereka melewati naik turun perbukitan dengan kondisi jalan yang rusak parah. Goncangan yang terjadi berkali-kali karena banyaknya jeglongan (lubang) lumayan membuat perut mereka mual.
"Apa tidak ada jalan lain yang lebih bagus untuk dilewati pak" Tanya Erick menahan mual di perutnya.
"Maaf Tuan, jalannya memang seperti ini, maklum di desa tuan. Apalagi ini termasuk desa tertinggal tuan, belum terjangkau fasilitas seperti di kota. Dan tuan jangan kaget nanti, sesampainya di sana mungkin handphone Tuan yang canggih itu tidak akan ada gunanya."
"Kenapa bisa begitu Pak?" tanya Erick.
"Di sana sinyal sulit Tuan. Bahkan saya harus manjat pohon dan diam diatas pohon, agar bisa menelpon istri saya."
"Memang nggak ada cara lain pak"
"Ada tuan disana ada tempat khusus, jika kita ingin berkirim pesan namanya pohon penantian."
"Pohon penantian, apa maksudnya itu Pak?"
__ADS_1
"Pohon itu dipasangin tali kerek dan kotak Tuan. Jadi kalau kita mau kirim pesan, setelah kita ketik pesannya kita taruh handphone kita di dalam kotak yang sudah terikat tali. Terus kita tarik talinya ke atas sampai bagian tertinggi. Kita biarkan sampai beberapa menit, seperti orang nimba air di sumur Tuan."
"Emang cara itu berhasil Pak?"
"Banyak berhasilnya Tuan, kalau belum berhasil ya tinggal kita tunggu aja sampai pesannya berhasil terkirim. Inilah alasannya warga Desa menyebut pohon itu dengan nama Pohon Penantian. Tapi itu hanya berlaku untuk kirim pesan saja Tuan. Kalau Tuan ingin telpon ya harus manjat pohon Tuan" jelas supir travel itu.
"Apa masih jauh Pak, perut saya mual sekali."
" Masih jauh Tuan, ini baru separuh perjalanan. Ini saya punya obat anti mual. Dijamin tokcer Tuan" Supir itu mengeluarkan 2 sachet obat dari laci mobilnya.
"Terimakasih Pak."
Erick dan supir itu terus mengobrol sepanjang perjalanan. Sementara Dimas berusaha memejamkan matanya dan mengistirahatkan tubuhnya. Karena ia pasti akan butuh energi yang lebih nantinya.
"Oh ya kalau boleh tau, Tuan berdua ini ada perlu apa ya sampai harus repot-repot datang ke desa."
"Kami mencari seorang temen Pak."
"Maaf kalau boleh tau siapa Tuan? Maaf bukannya lancang Tuan, tapi saya mengenal hampir semua warga disana."
"Tuan Farih, Bapak kenal."
"Kalau Tuan Farih, satu kampung juga kenal Pak."
"Benarkah? Kenapa bisa begitu?"
"Tuan Farih itu konglomerat dermawan pak, sekarang beliau lagi membangun rumah sakit dan sekolah gratis di desa itu. Jadi siapa yang tak mengenal beliau. Tapi kalau Tuan Temennya tuan Farih kenapa harus repot-repot naik travel Tuan."
"Semua temen Tuan Farih yang datang ke desa itu biasanya mereka naik helicopter Tuan. Tuan Farih sudah membeli lahan khusus landing Helikopter untuk perjalanan dari kota B ke Desa C. Anda tinggal pergi kesana maka akan ada helikopter yang mengantar secara gratis. Sekalipun helicopter tidak berada di tempat mereka bersedia untuk menjemput. Hanya saja anda harus datang sebelum jam 4 sore Karena setelah jam 4 sore tidak ada Helikopter yang beroperasi kesana."
"Erick....!!!"
"Maaf Bos, saya juga tidak tau tentang informasi ini.
"Chek chek chek, Kau memang tidak bisa di andalkan." Dimas berdecak kesal.
Setelah 45 menit perjalanan tiba-tiba mobil yang dikendarai Dimas berhenti, karena mobil yang berada di depannya juga ikut berhenti. terlihat jejeran kendaraan menepi bahkan ada yang beberapa yang putar balik.
"Ada apa Pak?"
"Saya juga tidak tau Tuan, biar saya tanya ke pengemudi yang lain" Supir itu pun turun lalu bertanya pada pengemudi di depannya. Setelah berbicara selama beberapa saat akhirnya supir itu kembali ke kemudinya.
"Maaf Tuan sepertinya saya hanya bisa mengantar anda sampai disini saja."
"ada apa memangnya Pak?"
"Jembatan penghubung antar desa putus pak, karena adanya longsor."
"Ya Tuhan cobaan apa lagi ini" Dimas mengusap kedua wajahnya frustasi.
"Terus bagaimana caranya agar saya bisa segera sampai sana Pak"
"Saya bisa mengantar Tuan kembali ke kota C, tepatnya tempat pendaratan Helikopter milk Tuan Farih. Anda bisa berangkat dari sana di antar oleh helikopter Tuan. Hanya saja 15 menit lagi jam 4 sore Tuan. Jadi besok pagi baru ada helikopter yang akan mengantar anda ke Desa itu."
__ADS_1
"Saya tidak bisa menunggu sampai besok pagi Pak, ini benar-benar Darurat. Saya harus sampai sana segera."
"Aduh bagaimana ya Tuan, jembatan terputus dan juga arus sungai juga terlalu deras. Tidak ada rakit yang berani lewat."
"Rakit maksud bapak?"
"Sebelum ada jembatan, warga desa biasanya menyebrang menggunakan rakit Tuan. Ada jalan lain sih sebenarnya menuju Desa itu tapi kita harus memutar melewati beberapa desa tetangga dan itu memakan waktu yang lama tuan kira-kira 3 jam 40 menit perjalanan."
"Apa disekitar sini ada yang punya perahu karet?"
"Ada Tuan, sekitar 5 menit dari sini ada Villa yang menyewakan perahu karet. Biasanya di sewakan ke pelancong untuk Arum jeram."
"Antar saya kesana Pak."
"Tuan, an..."
"Diamlah. Bisa antar saya ke Villa itu Pak?" Dimas menghentikan Erick yang protes dan meminta supir mengantarkan ke Villa.
Sesampainya di Villa, Dimas menemui penjaga Villa. Setelah mereka bernegosiasi harga, akhirnya mereka akan di antar ke sebrang di temani dua orang pelatih Arum jeram.
Dimas, Erick dan Dua orang pelatih bersiap melakukan perjalanan.
"Bos, apa bisa saya menunggu saja disini saja. Saya takut Bos, saya tidak bisa berenang."
"Tidak kau harus ikut, lagipula apa yang kau takutkan kita sudah mengenakan baju pelampung dan ditemani dua orang profesional."
"Tapi arusnya deras sekali, sa..."
"Diamlah Erick atau aku akan melemparmu ke sungai. Lagipula ini adalah salahmu. Andai saja kau mencari tau dengan benar. Mungkin kita sudah sampai di sana menggunakan Helikopter."
Erick terdiam mendengar ancaman Dimas, akhirnya ia pun mengalah. Sebelum mereka melakukan Arum jeram. Mereka di beri pengetahuan bahaya apa yang mungkin mereka hadapi dan bagaimana mengatasinya. Dan yang terpenting adalah kekompakan dalam tim demi terciptanya keselamatan bersama.
Mereka kini sudah memasuki perahu karet. bersiap melawan derasnya arus sungai. Dilengkapi dengan helm pelindung, baju pelampung dan masing-masing satu buah dayung mereka mengarungi sungai di komandoi oleh seorang pelatih.
Arus sungai yang awalnya bersahabat tiba-tiba mulai tidak bersahabat. Mereka menabrak dinding bebatuan yang mengakibatkan perahu mereka terbalik.
Tapi yang menjadi masalah saat ini beberapa meter di depan mereka terdapat Undercut.
Undercut adalah arus sungai yang tampak tidak deras di permukaan atas. Tetapi dibawah sungai pusaran sangat deras mengarah ke bawah. Sehingga jika terseret kesana bisa tertarik ke bawah dan mengakibatkan kematian.
Perahu mereka terbalik bahkan kaki Erick sempat tergores bebatuan. Seorang pelatih menarik tubuh Erick yang hampir terbawa arus dan mengarah ke Undercut. Mereka berenang melawan arus untuk menghindari Undercut.
Pelatih yang satunya lagi ingin menyelamatkan Dimas tapi situasi tidak memungkinkan. Selain jarak yang jauh, juga ada Undercut yang menghadang mereka. Dan siap menyeret dan menelan mereka ke dalam arus. Akhirnya pelatih itu memutuskan membantu Erick dan sahabatnya yang terlihat kelelahan melawan arus.
Sementara itu Dimas harus berjuang sendiri untuk menghindari Undercut. Oh tidak arus ini begitu Deras dengan suhu airnya juga terasa sangat dingin menusuk hingga ke tulang. Dimas merasakan hampir semua tenaganya terkuras. Beberapa meter lagi di belakangnya Undercut siap menelannya.
Sial Dimas mulai kehabisan tenaga, gerakannya mulai melemah kini. Sementara arus deras siap menelannya.
Erick dan dua orang yang berhasil menepi meneriaki Dimas yang sepertinya hampir kehilangan tenaganya.
"Tuan berjuanglah ingat Nona Tiara menunggu Tuan. Tuan..."
TBC.
__ADS_1