
Tiara dan Dimas menikmati makan malam bersama. Saat ini Tiara hanya mengenakan kemeja Dimas yang kebesaran. Karena tidak mungkin ia mengenakan baju kantornya.
Di dalam lemari banyak terdapat baju ganti Dimas, karena ruangan ini memang di bangun khusus untuk Dimas. Sewaktu belum bersama dengan Tiara, Dimas banyak menghabiskan waktunya disini.
"Mas apakah kita akan menginap disini?" tanya Tiara setelah menyelesaikan makan malamnya.
"Hemm" jawab Dimas.
"Mas, apa kau yakin menjadikan Amanda asistenmu?" tanya Tiara ragu.
"Kenapa sayang?"
"Aku tidak menyukainya."
"Kenapa? Dia tidak pernah menyakitimu kan, kenapa kau tidak suka dengannya."
"Dia itu mantan Mas, bagaimana jika ia menginginkan Mas kembali padanya?"
"Jangan khawatir, yang pentingkan hati Mas cuma buatmu sayang."
"Gombal. Tiara percaya sama Mas, tapi Tiara nggak percaya sama dia. Katanya sakit parah cepet banget sembuhnya" Tiara mulai curiga dengan Manda.
"Kalau memang kamu percaya sama Mas, maka tetaplah seperti itu. Apapun yang Mas lakukan semua untuk kebaikanmu sayang. Jadi jika suatu saat Mas menyakitimu, tolong jangan tinggalkan Mas. Bertahanlah sebentar saja, semua pasti baik-baik saja. Kamu ngerti kan sayang."
"Nggak" jawab Tiara acuh.
"Sayang..."
"Tiara nggak mau tau, pokoknya mas pindahkan ulet keket itu ke kantor cabang. Mas bisa kasih jabatan yang bagus dan juga fasilitas tempat tinggal, Tiara nggak masalah, asal dia jauh-jauh dari Mas."
"Maaf Tiara, mas nggak bisa."
Maafkan aku Tiara, Aku juga curiga dengan tingkah Manda. Tapi hanya dengan membiarkan ia disisiku maka ia tidak akan menyakitimu, dan aku bisa mengetahui apa maksud dan tujuannya yang sebenarnya, batin Dimas.
"Masku lebih memilih dia di bandingkan perasaan Tiara. Sebenarnya yang jadi istri Mas itu siapa" Tiara mulai kesal dengan sikap Dimas.
"Tiara mau pulang sekarang" Tiara mengambil Tasnya dan ingin keluar pintu. Tapi dengan segera Dimas menarik tangan Tiara hingga Tiara terjatuh ke dalam pelukan Dimas.
"Lepasin, Tiara mau pulang."
"Kamu mau pulang dalam kondisi seperti ini" Dimas menyadarkan Tiara yang hanya mengenakan kemeja atasan Dimas.
Bugh, Tiara memukulkan tasnya di lengan Dimas karena kesal. Kemudian Ia kembali ke tempat tidur dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut hingga tak terlihat. Sementara Dimas terlihat meringis menahan sakit.
__ADS_1
"Astaga sayang tega bener sih" Dimas mengusap lengannya yang memerah akibat pukulan tas istrinya.
"Sayang" panggil Dimas lagi menghampiri Tiara, Ia berusaha menyingkap selimut yang dikenakan Tiara. Tapi Tiara memegangi selimut itu dengan kuat.
Akhirnya Dimas memeluk tubuh Tiara yang terbungkus selimut.
"Sayang, percaya padaku aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Yang kau dengar ataupun kau lihat belum tentu benar. Cukup percaya padaku saja" ucap Dimas sambil memeluk tubuh istrinya yang terbungkus selimut. Sementara Tiara yang mendengarkan ucapan Dimas hanya bisa menahan tangisnya.
**************
"Darimana kau Mona" tanya Andre.
"Dari kampus Kak, Mona mau lanjut kuliah lagi. Tapi sepertinya Mona akan ambil kelas sore setelah Mona pulang Kerja."
"Apa kau tidak lelah, buat apa kamu bekerja. Kakak bisa berikan uang saku 3x lipat dari gajimu."
"Ini bukan masalah gaji Kak, Mona hanya tak tega saja membiarkan Tiara berjuang sendirian di perusahaan itu."
"Sudah ada Kakak yang membantunya, kau sebaiknya mengurus kuliahmu saja."
"Tidak, Mona akan tetap menemani Tiara. Andai saja Tiara belum menikah, pasti Mona akan meminta Kakak untuk menikahinya."
"Memang kau pikir aku Mau?"
"Dia memang cantik bahkan sangat cantik. Tapi dia bukan tipe Kakak."
"Iya tipe Kakak gadis Bar-bar" celetuk Mona.
"sembarangan kalau bicara kamu. Sudah kembali ke kamarmu dan mandi sana" usir Andre.
"Sebaiknya Kakak segera cari istri, sebelum jadi bujang lapuk" ejek Mona, lalu berlari memasuki kamarnya.
**************
Sementara itu di lain tempat tampak Manda sedang bercengkrama dengan Ibunya.
"Bagaimana, apa berhasil" tanya Ibu Wanda.
"Mama jangan khawatir Manda di terima di perusahaan itu. Tapi ada hal menjengkelkan yang terjadi disana."
"Memangnya apa yang terjadi?"
"Mama tau, siapa Presdir di perusahaan itu sekarang?"
__ADS_1
"Bukannya dari dulu Dimas yang selalu menduduki posisi itu."
"Sekarang Dimas sudah tidak menduduki posisi itu Ma."
"Apaa!!! tidak, ini tidak boleh. Kalau memang Dimas tidak di posisi itu maka jauhi dia. Mama akan carikan orang yang lebih kaya dari Dimas."
"Tenang Ma, sekalipun ia bukan pimpinan perusahaan, tapi kekayaannya tidak akan habis selama tujuh turunan."
"Huh, kau menakuti Mama, Mama sudah bosan hidup susah. Jadi kau harus mencari suami yang kaya raya."
"Coba kalau mama tidak membuat ulah. Pasti sekarang Manda sudah jadi istri Dimas dan menduduki jabatan sebagai Presdir di perusahaan Dimas."
"Jangan mimpi kamu, apa kamu pikir pria tua itu akan membiarkanmu menduduki posisi itu."
"Tapi Ma, saat ini yang menduduki kursi Presdir adalah istri Dimas."
"Apaaa!!! Kau tidak sedang bercanda kan?"
"Manda serius Ma, bahkan wanita sialan itu tadinya menolakku untuk bekerja di kantor pusat. Ia ingin mengirimku ke kantor cabang. Untung Dimas membelaku dan menjadikanku asistennya. Ughhh senangnya, akhirnya Dimas menunjukkan kepeduliannya padaku.
"Benarkah, wah ini baru kabar baik. Walaupun mama sebal karena istrinya mendapatkan kursi Presdir. Tapi yang terpenting adalah Dimas masih peduli padamu. Kau harus gunakan kesempatan itu dengan baik."
"Mama tenang saja, perlahan tapi pasti Manda akan mengambil Dimas dari Tiara lalu menyingkirkan wanita itu. Hanya Manda yang boleh menjadi istri Dimas dan menjabat sebagai Presdir Adi Nugraha Company."
"Kau memang putriku yang hebat, tapi sebaiknya kau jangan senang dulu. Pikirkan baik-baik sebelum kau melangkah kali ini. Mama tidak ingin mendengarkan kegagalan lagi."
"Tenang Mam, Manda pastikan kali ini rencana Manda pasti berhasil. Dan Dimas tidak akan bisa lagi lepas dari genggaman Manda."
"Bagus, ini baru anak Mama. Sekarang Mama perlu uang, cepat mama sedang ditunggu kawan mama" ucap Mama Manda. Manda yang tadinya senang karena pujian Ibunya tiba-tiba tersenyum kecut ketika Ibunya meminta sejumlah uang.
"Manda belum gajian Ma, darimana Manda punya uang. Lagipula Mama pasti mau berjudi lagi kan. Manda mohon Ma hentikan kebiasaan Mama berjudi. Kelakuan Mama ini, akan menghancurkan kita cepat ataupun lambat nantinya Ma."
"Diam kau, anak tak tau Budi. Kamu pikir mama tidak tau kalau Dimas sudah mentransfer sejumlah uang yang cukup besar untuk kau berobat. Tapi kenyataannya kau kan tidak sakit. Jadi kasih Mama sebagian uang itu."
"Ini terakhir kalinya Manda kasih Mama buat berjudi, Manda tidak akan mau lagi membantu Mama kalau sampai Mama terlibat hutang karena berjudi."
"Iya-iya bawel sekali kau. Jangan khawatir peruntungan Mama akhir-akhir ini bagus. Jadi Mama tidak akan berhutang tapi justru sebaliknya, ini adalah saatnya Mama menghasilkan pundi-pundi rupiah."
"Terserah Mama mau apa, yang jelas Manda tidak akan mau menjadi tumbal hutang judi Mama lagi."
"Cih, dasar anak durhaku tidak tau kesenangan orang tua." Wanita paruh baya itupun pergi meninggalkan ruangan itu setelah Manda mentransfer sejumlah uang dari handphone miliknya.
TBC
__ADS_1