UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Sakit.


__ADS_3

Reno sudah sampai di tempat tinggalnya yang sebelumnya di temani oleh Mona. Rendra pun sudah di antar pulang ke rumahnya oleh Dimas dan Tiara.


"Kalian tidak masuk dulu?" tanya Reno pada Dimas dan Tiara.


"Lain kali Ren, kami harus mengantarkan Kak Farih dan Istrinya ke bandara.


"Kak Farih, siapa dia?"


"Kakaknya Tiara."


"Ooo"


"Kami duluan ya Ren."


Mobil Dimas pun melaju ke rumah orang tua Tiara. Sesampainya di dalam rumah Tiara menemui Ibunya.


"Kak Farih, dimana ma?"


"Kakakmu lagi keluar sama istrinya, cari oleh-oleh buat temannya di kampung."


"Kak Farih kenapa nggak pindah disini aja sih ma, kan enak bisa sering-sering ketemu."


"Katanya sih lagi 3 bulan insyaallah bakalan netep disini."


"Syukur deh kalau begitu."


"Mana suamimu?"


"Tadi Tiara suruh langsung ke atas ma, dia kelihatannya capek banget."


"Sebaiknya kau temani suamimu sana?"


Tiara menemui suaminya di lantai atas. Ia melihat suaminya yang tertidur di atas ranjang dan terlihat tak tenang.


"Mas,"Tiara mendekat ke arah suaminya, ia menyentuk tangannya.


""Mas, kamu sakit?" tanya Tiara terkejut ketika menyentuh telapak tangannya yang terasa panas.


"Kita kerumah sakit, ya." bujuk Tiara khawatir. Dimas menolak dengan menggelengkan kepalanya.


Akhirnya Tiara menghubungi Kakaknya Farih, karena Dimas tak mau diajak ke rumah Sakit.


"Yang sini," ucap Dimas manja. Sedari dulu Dimas memang selalu kumat manjanya jika sakit sedikit saja.


Tiara mendekat ke arah Dimas. Dan duduk bersandar di kepala ranjang. Dimas memindahkan kepalanya di pangkuan Tiara.


"Taruh tanganmu disini Yang" Dimas membawa telapak tangan Tiara ke keningnya.


"Panas banget lho Mas, biar aku kompres dulu ya." Dimas tak menyahut, ia terlihat kembali tertidur di pangkuan Tiara.

__ADS_1


Tak lama setelahnya terlihat Farih datang dan memasuki kamar Tiara dengan peralatan Dokternya.


"Dia sepertinya kelelahan dan terlalu banyak beban pikiran." ujar Farih.


"Ia, akhir-akhir ini, ia sering menghendel pekerjaanku. Belum lagi perusahaan akan ada pembukaan lahan baru. Biasanya dulu ada asistennya Aryo yang menghendel pekerjaan lapangan. Jadi ia bisa fokus dengan urusan kantor."


"Bukannya dia masih punya Erick, asistennya."


"Erick saat ini ada di Jepang, peresmian hotel yang baru saja selesai. Seharusnya Mas Dimas yang kesana, tapi karena Mas Dimas tidak ingin meninggalkanku, jadi Erick menggantikannya."


"Ini Obat untuk suamimu, Segera minumkan padanya. Jangan lupa sehari 3× setelah makan. Kakak tinggal dulu ya."


"Istri Kakak mana?" tanya Tiara.


"Dia ada di kamar, sama seperti suamimu dia juga kecapean dan ngak enak badan"


"Anak orang masih kecil jangan di gempur terus Kak, kan kasihan" ejek Tiara.


"Sialan lho. Ya sudah, Kakak tinggal dulu. Kakak mau melihat kondisi istri kakak."


Farih meninggalkan Tiara dan menuju kamarnya. Sementara Tiara membangunkan suaminya.


"Mas bangun dulu. Ayo diminum obatnya" Tiara menepuk pipi Dimas untuk segera bangun."


"Kepala mas rasanya pusing Yang."


"Makannya ayo diminum obatnya biar cepat sembuh" Tiara membantu Dimas untuk bangun dari tidurnya. Dengan bantuan Tiara akhirnya Dimas mau juga meminum obatnya.


"Enak yang badanmu nggak panas" Dimas menempelkan kulit tubuhnya pada Tiara.


"Ya, tapi Tiara geli mas dekap gini, nih jenggotnya mas yang baru tumbuh nusuk- nusuk jadi geli banget."


"Yang katanya, untuk orang yang sakit panas, pengobatan skin to skin ampuh lho Yang. Kita coba yuk." ujar Dimas.


"Mas ini sudah sakit mesumnya juga nggak ilang-ilang ya."


"Nempel doang kok Yang, boleh ya, masa nggak kasihan. Lagipula juga khasiatnya bagus yang, bisa ngeredakan panasnya Mas."


"Sebentar lagi panasnya juga turun, mas tadikan sudah minum obat."


"Yang, hmmm" Dimas menatap manja Tiara. Akhirnya Tiara menyerah ia melepaskan bajunya hingga tersisa pakaian dalamnya saja. Dimas juga meminta Tiara untuk melepaskan pakaiannya, kemudian mereka masuk kedalam satu selimut. Tak lama setelahnya Dimas tertidur karena efek dari obat yang ia minum, disusul Tiara.


Sementara itu di kamar Farih juga terjadi hal yang sama. Farih merawat istri kecilnya itu.


"Yang, obatnya diminum ya."


"Nggak mau mas, Lia nggak suka obat, pahiitt!"


"Nggak pahit kok Yang obatnya ini. Lihat nih Kakak pilihkan yang sirup ada rasa jeruk ada stroberi, kamu mau yang mana?"

__ADS_1


"Nggak mau pokoknya, Lia nggak suka obat. Mau itu sirup kek, tablet kek pokoknya Lia nggak mau, nggak suka."


"Terus Istrinyanya Kakak kalau sakit biasanya minum apa?"


"Biasa sama nenek di parutin kunyit kasih madu."


"Ya sudah kalau gitu kakak akan nyuruh pelayan ya buat bikinkan ramuannya" ujar Dimas, dan Lia menganggukkan kepalanya.


Farih dengan telaten merawat Lia, ia mengompres istri kecilnya itu dan juga sesekali mengelap tubuh Lia dengan handuk hangat.


"Mas sudah membatalkan penerbangan kita untuk besok pagi. Mas pingin kamu benar-benar sembuh baru kita kembali ke desamu."


"Tapi Mas, ijin sekolah Lia terakhir besok."


"Mas sudah menghubungi Pak RT untuk memperpanjang ijinmu."


"Jangan dong Kak, Lia nanti ketinggalan pelajaran. Apalagi Lia seminggu lagi ulangan."


"Sudah jangan pikirkan sekolahmu, Cepatlah sembuh jika kau ingin kita cepat kembali. Sekarang tidurlah biar tenagamu pulih kembali."


"Mas mau kemana?" tanya Lia yang melihat Farih beranjak dari duduknya.


"Mas cuma mau ngecek Dimas sebentar, suhu badannya juga panas sepertimu. Mas kesana cuma sebentar, Kamu tidur aja dulu, nanti mas juga balik lagi kok."


Farih menuju ke kamar Dimas. Berkali-kali ia mengetuk pintu tapi tak juga ada jawaban. Akhirnya Farih yang merasa cemas mencoba membuka kamar itu. Dan ternyata kamar itu tidak terkunci.


"Astaghfirullah" ucap Farih lirih ketika melihat dua makhluk yang sedang berpelukan tertidur dalam satu selimut dan terlihat punggung Tiara yang terbuka. Dengan perlahan Farih menutup kembali pintu kamar itu.


********"


Sementara itu Amanda yang berada di pedalaman pulau Sumatra saat ini sedang berada di dapur. Hari ini ia meminta di tempatkan di dapur dengan alasan badannya yang gatal-gatal akibat tidak cocok dengan tempat kerjanya.


Pengawal yang malas berdebat dengan Manda akhirnya menyetujuinya. Manda tampak tersenyum lebar membantu tukang masak di dapur.


"Bik, makanan yang untuk para penjaga, biar saya saja yang masukkan ke dalam kotak. Bibik urusi saja makanan yang untuk buruh pabrik."


"Terimakasih ya Neng, ternyata selain cantik neng juga baik hati, mau membantu Bibi di dapur."


"Biasa aja kali Bi. Saya menyiapkan makan buat pejaga dulu ya Bi."


"Ya Neng, terimakasih ya."


Manda mengeluarkan serbuk putih dari kantongnya. Ia sudah membayar mahal untuk mendapatkan serbuk itu. Manda yang tidak memiliki banyak uang kas terpaksa memberikan cincin emasnya untuk mendapatkan bubuk itu dari buruh pabrik.


Ia menumpahkan serbuk itu kesetiap makanan lalu kembali mengaduknya, setelah itu ia baru memasukkannya ke wadah kotak makan.


"Rencanaku kali ini pasti berhasil. Tiara, Dimas tunggu kejutan dariku" Senyum menyeringai tampak dari wajah cantik itu.


TBC.

__ADS_1


Mohon maaf baru up, karena kondisi yang kurang sehat. Terimakasih banyak yang setia menanti.🙏😘


__ADS_2