
"Hallo om..."
"Astaga anak jin"
"Kok Anak jin sih om, ini kan Rendra yang paling ganteng om. Kak Tiara...." teriak Rendra sambil berlari menghampiri Tiara yang tengah berjalan. Posisi Tiara tepat berada di belakang Dimas.
"Stop" Dimas menghentikan Rendra yang berlari menuju ke Tiara. Ia menyentuh kening Rendra menggunakan jari telunjuknya. Menjaga jarak antara dirinya dan Rendra.
"Minggir dong om, Rendra mau ketemu kak Tiara."
"Siapa yang ngijinin kamu dekat-dekat Kak Tiara. Tamu itu tempatnya di sono noh, di ruang tamu. Bukannya lari-lari kemana-mana."
"Daddy...., om jelek nggak bolehin Rendra ketemu kak Tiara"
"Dim, jangan bertengkar dengan anak kecil apa kamu tidak malu badan sebesar itu ribut dengan anak kecil." protes Reno di abaikan Dimas. Reno dan Mona baru saja masuk menyusul Rendra yang berlari masuk duluan
"Hai anak jin, siapa yang kamu bilang jelek. Cakepan juga om di bandingin kamu sama Daddy mu itu."
"Ya ampun mas, udah dong becandanya. Masa ribut sama anak kecil sih, inget umur mas" Tiara menengahi keributan antara Rendra dan Dimas.
"Dengerin tuh om udah tua jangan ribut sama anak kecil, malu om" ejek Rendra.
"Yang kok tega banget sih bilang aku tua. Tuh lihat anak jin makin gede kepalanya."
"Anak aku Dim bukannya anak Jin" protes Reno.
"Hallo Rendra yang makin ganteng, juga Tuan Reno, Mona apa kabar? ayo kita duduk dulu" Tiara mengajak tamunya untuk duduk bersama.
"Kabar baik kak Tiara cantik" Rendra menjawab pertanyaan Tiara. Sementara Mona sedari tadi hanya diam saja mengamati mereka.
Akhirnya mereka berlima duduk di sofa ruang tamu, dua pelayan yang memapah Tiara tadi undur diri ke belakang.
Rendra yang tadinya duduk diantara Mona dan Reno berpindah tempat. Ia ingin duduk di sebelah Tiara.
"Om geser dikit dong, Rendra mau duduk sama Kak Tiara."
"Nggak, ini tempat om. kamu duduk aja di tempatmu tadi, sono noh" usir Dimas kepada Rendra.
"Kak Tiara..." Rendra menampilkan puppy eyes nya memohon pada Tiara.
"Masku geser dikit ya, aku juga kangen sama Rendra pingin ngobrol banyak," ucap Tiara memohon.
__ADS_1
Dimas menghela nafasnya menatap Tiara. Ia lalu menggeser posisi duduknya, sambil menatap sebal kearah Rendra. Sementara Rendra menampilkan senyum kemenangan. Baru saja Rendra ingin menduduki tempat bekas Dimas duduki, sudah kembali dihalangi Dimas.
"Eits, siapa yang suruh kamu duduk sini. Geser Yang biar anak jin duduk di pojokan. Biasanya jin kan paling suka diem di pojokan."
"Om ini ya dari tadi Rendra di katain anak jin. Kalau Rendra anak jin berarti om kolor ijo dong" ucap Rendra terkikik geli. Sementara Reno memijat keningnya. Ia pusing mendengarkan pertengkaran Dimas dan juga Rendra sedari tadi.
"Rendra nggak boleh gitu sayang, ayo minta maaf" Mona menegur Rendra. Rendra yang sudah duduk di pojokan dengan Tiara yang berada di tengah. Rendra menatap Tiara berharap ada yang membelanya. Sementara Dimas sudah tersenyum mengejek bocah itu. Berharap bocah itu memohon maaf padanya.
"Rendra yang dibilang kak Mona itu benar. Rendra harus hormat dan sopan sama yang lebih tua...."
"Dengerin tuh" Dimas mencibir ke arah Rendra.
"Ngalah ya sayang, sekalipun yang lebih tua kelakuannya sangat-sangat menyebalkan" Dimas yang tadinya bangga jadi menciut karena sindiran Tiara. Sementara Rendra tergelak dengan tawanya.
"Maaf ya om" ucap Rendra tertawa penuh kemenangan.
"Kok belain dia sih Yang" protes Dimas tapi diabaikan Tiara.
"Gimana kondisi kamu sekarang Tiara" Tanya Reno kemudian.
"Alhamdulillah baik Tuan. Tuan dan Mona juga gimana kabarnya, Rendra nggak nakalkan?"
"Dan Rendra nggak nakal, dia anak yang baik dan cukup patuh" ujar Mona lagi.
"Dengerin tuh om, Rendra anak baik bukan anak jin" ucap Rendra membanggakan diri.
"Cih. Gitu aja bangga" ujar Dimas meremehkan.
"Udah deh Mas jangan mulai lagi. Mas bukannya tadi mau berangkat ke kantor ya. Kok nggak siap-siap sih" tanya Tiara menatap Dimas heran.
"Gimana mau berangkat kalau masih ada dua jin disini" Dimas menatap horor ke Reno dan juga Rendra.
"Ya ampun Dim, cemburu pada tempatnya dong. Masa sih kamu nggak percaya sama Tiara" Ucap Reno gemas.
"Mas nggak usah mikir yang aneh-aneh deh, udahan berangkat sana" usir Tiara.
"Oh ya Dim, kita berangkat bareng ya. Aku mau mampir ke kantormu. Ada proyek baru yang ingin kutawarkan padamu" ujar Reno.
"Bilang dari tadi Kek, jadikan aku nggak perlu khawatir ninggalin Tiara sama kamu disini."
Dimas berlalu pergi, ia menuju kamarnya di lantai atas. Menyiapkan beberapa berkas yang akan di bawanya.
__ADS_1
"Kayaknya calon suami kamu itu cemburunya tingkat akut deh Tiara, sampai-sampai anak kecil juga di ladenin" ucap Reno pada Tiara.
"Maklumin aja Tuan, biasanya juga nggak gitu. Tapi semenjak Tiara kecelakaan Mas Dimas jadi protective banget."
"Jangan panggil aku Tuan Tiara, aku jadi merasa seperti orang asing."
"Jadi saya harus panggil apa Tuan, Tiara jadi bingung" tanya Tiara kikuk.
"Kamu bisa panggil aku Mas seperti du..."
"Nggak boleh itu panggilan spesial buatku" Protes Dimas tiba-tiba datang menyela pembicaraan Reno. Sementara Reno terdiam menghela nafasnya.
Sabar-sabar, batin Reno menatap Dimas.
"Aku berangkat dulu ya yang" Dimas menutup mata Rendra lalu mengecup bibir Tiara sekilas. Rendra berteriak protes terhadap perlakuan Dimas. Sementara Tiara yang terkejut dengan perbuatan Dimas, melirik Mona dan Reno malu.
"Ayo" Dimas menarik tangan Reno begitu saja. bahkan Reno yang belum siap pun hampir terjungkal karenanya.
"Sebentar dong Dim, aku kan belum pamitan sama anakku juga Tiara" protes Reno di abaikan Dimas. Ia tetap menarik Reno keluar bersamanya.
"Rendra, Daddy berangkat kerja dulu ya. Mona, Tiara titip Rendra ya" Rendra berpamitan dengan berteriak karena Dimas terus menariknya keluar.
"Emang nggak ada akhlak Lo ya, kalau tarik orang kira-kira dong" Protes Reno diabaikan Dimas.
"Rendra nggak sekolah sayang" tanya Tiara pada Rendra.
"Nggak Kak, Rendra libur karena gurunya rapat persiapan buat ulangan."
"Sekolah yang pintar ya sayang, biar nanti bisa sukses seperti Om Dimas atau Daddy nya Rendra."
Rendra mengangguki pertanyaan Tiara. Tiara mengajak Rendra dan Mona ke taman belakang rumah. Sesuai info yang ia dapat dari pelayan bahwa di belakang rumah Dimas terdapat banyak tempat bermain anak. Mulai dari permainan jungkat-jungkit, Ayunan, perosotan bahkan ada juga panjat tebing versi mini. Yang bisa digunakan untuk anak kecil.
Rendra langsung menuju tempat permainan perosotan dengan riang. Mona mengikuti langkah Rendra. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada anak majikannya yang baru saja sembuh.
Sementara Tiara ditemani dua pelayannya, Tiara menggunakan kursi roda. Kedua pelayan itu memohon pada Tiara agar mau menggunakan kursi roda. Karena letak taman yang cukup luas, mereka tidak ingin Tiara sakit lagi karena kelelahan.
Dibelakang rumah itu juga terdapat banyak tanaman buah-buahan yang saat ini berbuah lebat. Seperti aneka macam jambu, belimbing, lengkeng dan juga buah mangga. Tiara menatap buah mangga dengan penuh minat.
"Cin, ambilin dong mangganya. Aku pingin banget nih, yang muda ya," pinta Tiara pada salah satu pelayan yang bernama Cintia.
TBC.
__ADS_1