UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Amarah Katsuro.


__ADS_3

Hari sudah menjelang pagi, Tampak sekumpulan orang menghadiri sebuah pamakaman. Isak tangis keluarga yang ditinggalkan terdengar begitu pilu. Mengelilingi empat pemakaman korban pembunuhan yang tak lain adalah anak buah Michael dan Dimas.


"Tolong berikan santunan ini untuk keluarga korban." Michael menyerahkan amplop pada seorang pria yang merupakan anak buahnya.


"Juga katakan pada mereka tidak perlu khawatir untuk biaya anak sekolah mereka. Perusahaan akan menanggung biaya sekolah anak korban hingga mereka lulus kuliah" Sambung Dimas pada pria itu.


"Terimakasih Tuan" ucap pria itu mewakili rasa terimakasih keluarga korban.


Pulang dari pemakaman anak buahnya Michael dan Dimas terlihat lesu. Seharusnya tugas mereka selesai andai saja tak ada Nara yang membocorkan penggrebekan itu.


"Apa rencanamu selanjutnya" tanya Michael duduk bersandar pada sofa. Wajahnya terlihat lelah karena semalaman ia tidak tidur.


"Apapun caranya aku harus dapatkan Katsuro dan juga Istrinya Aiko. Aku tidak akan bisa kembali pada Tiara jika pria itu belum tertangkap. Harusnya Aku ikat aja gadis itu di penginapan agar ia tidak membuat ulah" Dimas terlihat menyesali keteledorannya.


"Jangan khawatir, gadis kecil itu biar jadi urusanku. Aku akan beri ia pelajaran yang akan ia sesali seumur hidup" Michael terlihat mendendam pada sosok Nara.


"Apa kau sudah tau keberadaannya?" Dimas menatap Michael penasaran. Michael tak menjawab pertanyaan Dimas, ia hanya tersenyum penuh misteri.


*******


Sementara itu di sebuah Rumah mewah yang merupakan persembunyian Katsuro dan juga Aiko terjadi kegaduhan. Pria itu sedang marah besar dan menggila, ia bahkan menembak anak buahnya yang membawa berita buruk padanya.


Ya, anak buahnya melapor tentang penggerebekan pabrik obat-obatan miliknya yang berakibat ditangkapnya beberapa staf dan karyawan. Tidak hanya itu, pabrik dan rumah miliknya juga disita oleh negara. Berkurang sudah aset dan pemasukannya.


Katsuro makin resah ketika anak buahnya kembali membawa berita buruk. Pemerintah sedang menelusuri aset miliknya dan berniat untuk menyitanya. Mengingat harta yang ia dapatkan sebagian besar adalah dari hasil curang atau ilegal.


"Dasar brengs*k, siapa dalang di balik ini semua aku akan membunuhnya" Katsuro terlihat marah. Ia menghancurkan seluruh isi ruangannya, setelah ia kembali menembak anak buahnya yang membawa berita buruk padanya.


"Tolong tenangkan diri anda Tuan. Kita pasti akan membalas orang yang telah berani mengusik anda nanti" ucap Sasori yang merupakan orang kepercayaannya.

__ADS_1


"Apa kau tahu siapa orangnya, Sasori" Katsuro terlihat berantakan dengan rambut dan pakaian acak-acakan. Ia merasa ank buahnya ini menyembunyikan sesuatu darinya.


"Pelaku dibalik ini semua adalah orang yang sama, yang berniat menghancurkan gudang senjata anda Tuan."


"Kenapa mereka ingin menghancurkanku? Apa aku pernah menyinggung mereka?" Katsuro terlihat penasaran. Ia memang bukan orang baik tapi ia selalu berhati-hati jika berhubungan dengan orang-orang yang berpengaruh. Ia tidak ingin menambah musuh yang pada akhirnya akan menghancurkannya.


"Pelaku di balik kehancuran anda adalah Cucu pemilik rumah sakit yang telah Nyonya hancurkan Tuan. Rumah sakit itu terpaksa tutup dan ijin prakteknya di cabut, bahkan pemilik juga terancam di pidana. Semua itu adalah hasil fitnah yang dilakukan oleh Nyonya."


"Dasar kurang ajar gara-gara wanita sialan itu aku jadi sial. Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu" Dengan ekspresi marah, pria itu berniat untuk keluar dari ruangannya.


"Tunggu dulu Tuan, masih ada satu informasi lagi yang harus anda ketahui" Ucapan Sasori menghentikan langkah pria tua itu.


"Ada apalagi cepat katakan, tanganku sudah gatal ingin mengajar wanita sialan itu."


"Tuan Mike investor baru kita, ia juga terlibat dalam penggerebekan ini Tuan. Ia bekerjasama dengan cucu pemilik rumah sakit itu. Dan informasi yang di dapatkan Nona Nara itu juga berasal dari pria itu."


"Anak nakal itu, aku tidak menyangka ia berguna juga. Selidiki ada hubungan apa Nara dengan pria itu. Dan satu lagi, susun strategi dan siapkan perangkap agar kita bisa menjebak lalat-lalat pengganggu itu."


Tuan Katsuro menuju kamarnya dengan marah. Terlihat Aiko sedang merapikan perhiasan miliknya. Perhiasan yang berhasil ia bawa kabur sebelum polisi menggerebek rumahnya.


Tuan Katsuro melemparkan semua perhiasan yang ada di depan Aiko. Aiko menatap kesal wajah pria yang sedang menatapnya penuh dengan permusuhan.


"Apa yang kau lakukan!!! Aku seharian ini merapikannya dan kau seenaknya membuangnya!!" Memunguti barang yang sudah berantakan dengan satu tangannya. Sedangkan tangan yang satunya terbuat dari Teknologi buatan.


Aiko belum menyadari kemarahan yang terpancar dari pria tua itu. Mendengar Aiko berani berteriak padanya membuat lelaki itu bertambah marah. Dengan wajah merah padam ia menginjak tangan Aiko yang sedang memunguti perhiasannya.


"Aaawww sakiiittt Katsurooo!!! Tolong lepaskan, ampuunn lepaskan tanganku sakiiit!!" berusaha menarik tangannya yang berada tepat dibawah sepatu Tuan Katsuro. Tapi usahanya sia-sia. Bahkan Pijakan Kaki pria itu bertambah keras hingga rasanya jari-jari mungil milik Aiko terasa remuk.


Tak puas melihat istrinya menangis kesakitan. Pria tua itu menarik rambut Aiko kasar. Aiko yang tengah jongkok di lantai berusaha membebaskan jari-jari tangannya dari injakan

__ADS_1


"Aaaaa!!!! lepas Katsuro, apa yang kau lakukan. Lepaskan aku mohon. Aaawww sakiiitttt!!!" Aiko berteriak menangis dan memohon, ia juga memegangi tangan pria itu yang menarik keras rambutnya.


Teriakan Aiko sampai ke telinga Nara, yang saat ini juga berada di tempat persembunyian Ayahnya. Kamar Aiko dan Nara hanya terpisah jarak 1 kamar saja.


Nara bergegas menghampiri suara teriakan ibu tirinya. Ia cukup terkejut melihat Ayahnya yang menarik keras rambut Ibu sambungnya itu.


"Papa, apa yang Papa lakukan?" Nara yang terkejut berusaha melepaskan genggaman tangan papanya dari rambut Aiko.


"Papa lepaskan dia, Dia bisa mati nanti" Nara terlihat ketakutan karena tatapan sanga Papanya.


"Menyingkir, ini bukan urusanmu!!" Katsuro mendorong Nara anaknya hingga jatuh terjengkang.


"Sebaiknya kau pergi dari sini kalau tidak ingin terluka" Katsuro memberi peringatan pada putri semata wayangnya. Nara terlihat ketakutan melihat wajah marah Ayahnya.


Ini adalah pertama kalinya Nara melihat Ayahnya marah pada ibu tirinya. walaupun ia tak suka dengan Ibu tirinya itu, tapi ia juga tak ingin Ayahnya menyiksa seorang wanita seperti itu.


"Papa tolong lepaskan, ia bisa mati nanti" kembali menghampiri Papanya, ia kembali memohon agar Papanya melepaskan Aiko.


"Kenapa kau bela wanita brengsek ini. bukankah kau tidak menyukai wanita ****** ini" Katsuro bertambah bringas, menyeret keluar Aiko dengan menarik rambutnya. Aiko yang merasa kesakitan menangis histeris.


Mengabaikan tangisan Aiko dan teriakan Nara pria tua yang kesetanan itu tak menghentikan aksinya. Ia semakin menjadi-jadi, ia membenturkan kepala wanita itu pada pinggiran tempat tidur dengan kerasnya.


Nara terlihat panik, akibat perbuatan Ayahnya kepala Aiko terluka mengeluarkan banyak darah. Nara menatap iba Aiko, wanita itu sudah tak sanggup lagi berteriak dan menangis. Ia terkulai lemah, sepertinya ia pingsan


"Papa lepaskan dia sekarang juga, atau aku akan telpon polisi!!" merasa menghadapi jalan buntu Nara mencoba untuk mengancam Ayahnya.


Pria tua itu tersentak kaget mendengar teriakkan anaknya. Ia melepaskan tangannya dari rambut Aiko. Malang sekali nasib wanita itu, akibat kemarahan suaminya ia mengalami siksaan hebat.


Pria tua itu berjalan menghampiri putrinya yang mencoba untuk mengancamnya. Ia tersenyum menyeringai, membuat tubuh Nara bergetar ketakutan. Ia tak menyangka akan melihat sisi lain ayahnya, yang terlihat begitu menakutkan.

__ADS_1


"Ampun Pa, Nara minta ampun" wajahnya memucat, Nara terus melangkah mundur hingga punggungnya menatap tembok. Gadis itu jongkok meringkuk di sudut ruangan itu.


TBC


__ADS_2