
Tiara tidak menjawab pertanyaan Dimas, ia berusaha menahan tangisnya. Tapi ia benar-benar tidak sanggup. Akhirnya ia mengeluarkan tangisnya, bahkan air mata yang baru saja berhenti mengalir kembali.
"Apa salahku padamu, kenapa kau tega meminta hal itu padaku. hik hik hik...." tanya Tiara sambil menangis. Ia melepaskan tangannya dari leher Dimas. Ia juga berusaha pergi dari pangkuannya, tapi Dimas menahan Tiara, agar tidak pergi dari pangkuannya.
"Bukankah kau sudah setuju padaku untuk memberikan kesempatan menyicil hutangku padamu. Kau anggap apa diriku, dasar pria jahat, pembohong, egois, pria bodoh" Tiara meluapkan amarahnya di sela-sela Tangisannya. Ia memukul-mukul dada Dimas sambil memaki-maki Dimas.
"Cukup Tiara, jangan melewati batas kesabaranku." Dimas mencekal lengan Tiara yang memukulnya tadi. Tiara yang sudah terlanjur kesal pada Dimas, menggigit tangan Dimas.
"Aaaaaaaa..." Teriak Dimas, ia lalu melepaskan tangan Tiara. Tiara yang berhasil lolos dari cekalan Dimas, lari menjauh dari gapaian pria itu.
"Aku tidak perduli, dengan permintaan bodohmu itu. Dan perjanjian kita agar aku bisa mencicil hutangku padamu masih berlaku." teriak Tiara, tanpa menunggu jawaban dari Dimas ia berlari menjauh dari pria itu. Ia berlari masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintunya.
Sesampainya di kamar Tiara menelungkupkan tubuhnya di kasur, ia mengacak-acak rambutnya, memukul-mukul kasur dan menghentakkan kakinya. Ia kembali menangis sambil terus memaki-maki Dimas.
"Dasar pria jahat, bodoh, egois, huaaaaa..., Ayah ajak Tiara bersamamu" Tiara menangis, dan di sela-sela Tangisannya ia kembali memaki-maki Dimas. Ia sama sekali tidak mengerti dengan isi pikiran Dimas. Seharusnya jika ia memang mencintai kekasihnya, harusnya Dimas mencarinya, menikahinya dan memiliki anak dari wanita yang ia cintai. Tapi apa ini, mengapa Dimas malah mengorbankan Tiara untuk semua keinginannya.
Setelah 10 menit ia terdiam sendiri di ruang kerjanya, akhirnya Dimas memutuskan untuk menyusul Tiara. Ia mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok....
"Tiara..., buka pintunya. Buka pintunya Tiara..." teriak Dimas berulang kali sambil mengetuk pintu. Ketukan dan teriakan Dimas sama sekali tidak di pedulikan oleh Tiara. Tiara menutup telinganya. Ia mengabaikan ketukan Dimas.
Akhirnya Dimas kembali ke ruang kerjanya untuk mengambil kunci serep kamarnya yang ia simpan di laci meja kerjanya.
Setelah berhasil menemukan kuncinya, ia segera menuju ke kamarnya. Ia memutar kunci itu lalu membuka pintu kamarnya. Dimas melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, pandangan matanya saat ini tertuju pada tempat tidur. Ia melihat Tiara yang sedang menangis di pinggiran tempat tidur dalam posisi tertelungkup.
Dimas mendekati Tiara, ia duduk di sebelahnya. Ia berusaha membalikkan tubuh Tiara agar mau menghadap padanya, tapi Tiara menepis tangan Dimas.
"Jangan sentuh aku, pergi sana..., dasar egois" omel Tiara, masih pada posisi yang sama.
Dimas yang melihat tingkah kekanak-kanakan Tiara, merasa semakin gemas.
"Tiara kalau berbicara lihat ke arahku"
"Bodo" jawab Tiara kesal.
"Menghadap ke arahku atau aku akan memperkosamu Tiara" Dimas menatap Tiara tajam.
Tiara yang mendengar ucapan Dimas seketika membalikkan badannya menghadap Dimas.
__ADS_1
Dimas menggelengkan kepalanya, terkejut melihat penampilan Tiara, dengan rambut acak-acakan. mata sembab bahkan hidungnya terlihat berair.
"Ya ampun benarkah ini kamu Tiara" ejek Dimas.
Tiara yang kesal dengan Dimas menarik, kaos yang dikenakan Dimas. Ia mengelap hidungnya yang berair menggunakan kaos Dimas.
"Yeak!!! Tiara, apa yang kau lakukan kenapa kau mengelap ingusmu menggunakan bajuku. Dasar gadis jorok" Dimas menampilkan ekspresi jijik, ia segera melepas kaosnya dan melemparkan ke arah Tiara. Lemparan Dimas mengenai kepala Tiara hingga menutupi wajahnya.
"Kenapa? kaget ya, aslinya aku tuh emang gini. Jadi kalau nggak suka jangan deket-deket. Oh ya aku tadi juga menggunakan bantalmu untuk mengelap ingusku. Dan sepertinya tempat tidurmu juga terkena ingusku." ucap Tiara cuek, lalu kembali mengusap hidungnya menggunakan kaos Dimas yang saat ini berada di tangannya.
Tiara sengaja melakukan hal itu karena ia tau Dimas adalah penggila kebersihan. Mulai hari ini ia ingin bertingkah buruk di depan Dimas agar pria itu menjauh darinya.
Dimas kemudian berdiri menjauh dari tempat tidurnya. Ia menatap jijik ke arah tempat tidur itu, lalu menatap heran ke arah Tiara. Ia terus menatap tempat tidurnya dan Tiara secara bergantian. Seolah-olah Tiara dan tempat tidur itu merupakan kuman yang harus segera ia singkirkan.
Dimas benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana mungkin gadis yang awalnya terlihat manis dan selalu menjaga tutur kata dan tingkah lakunya, tiba-tiba berubah menjadi gadis bar-bar.
"Cepat kau ganti seprei nya dan juga bantal ini, ganti semua dengan yang baru. Dan juga kau cuci bersih mukamu itu, jangan sampai ada sisa ingus ataupun air liurmu yang menempel." perintah Dimas.
"Maaf Tuan, saya mengantuk. Dan tuan lihat ini, hidungku terus berair karena kebanyakan menangis. Dan tuan tau bukan malam ini cuaca juga sangat dingin jika aku mencuci wajahku. Itu akan memperparah kondisi hidungku. Apa tuan mau mendengarkanku mengeluarkan ingus semalaman. Dan juga bagaimana jika setelah aku mengganti seprei, kemudian ingusku jatuh menetes mengenai seprei lagi. Apa anda menginginkan hal itu."
Dimas menggelengkan kepalanya, menatap horor ke arah Tiara. Dimas kemudian mengambil handphone untuk menelpon seseorang.
Sementara orang yang menerima perintah Dimas saat ini sedang berteriak memaki-maki bosnya. Bagaimana ia tidak kesal, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. baru saja ia terlelap, tiba-tiba suara telpon mengganggunya.
Sementara Tiara yang saat ini berpura-pura tertidur tersenyum lebar, posisi tidur Tiara saat ini membelakangi Dimas.
Rasakan pembalasanku, perang baru saja di mulai Tuan jadi nikmatilah, batin Tiara terkekeh.
Setelah 1 jam lebih 10 menit akhirnya terdengar suara bel, Dimas dengan segera menuju ke pintu utama. Ia membuka pintu apartemennya dan terpampanglah wajah kusut Eric dengan membawa tas besar di tangannya.
"Kau terlambat 10 menit eric" ucap Dimas kesal.
"Maaf Tuan, tadi di kasir ngantri, oh ya ini barang pesanan Tuan" Eric menyerahkan tas besar yang ia bawanya kepada Dimas, dan setelah itu ia melangkahkan kakinya ingin cepat-cepat pergi dari sana. Sebelum perintah aneh datang menghampirinya.
"Siapa yang menyuruhmu pergi, ikuti saya sekarang juga" bentak Dimas ketika melihat Eric ingin Melangkahkan kakinya pergi menjauh.
Eric yang mendengar perintah Dimas langsung menghentikan langkahnya. Ia kemudian masuk mengikuti perintah Dimas.
Eric sedikit keheranan ketika Dimas mengajaknya memasuki kamarnya.
__ADS_1
"Ganti seprei, bantal dan juga gulingnya sekarang juga."
" Hah...," Eric bengong mendengar permintaan Dimas. Bagaimana mungkin ia bisa mengganti seprei jika ada seorang gadis tidur di atas kasur itu.
"Cepat kerjakan dan selesaikan sebelum aku kembali dari kamar mandi." Tanpa menunggu jawaban dari Eric, Ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang terdapat pada kamarnya.
"Enak bener jadi bos, perintah seenaknya berbuat semaunya. Bos mah bebas" kesel Eric.
Karena tidak ingin mengusik tidur wanita cantik yang sudah terlelap akhirnya Eric melipat seprei menjadi dua, dan menjerengnya di bagian tempat tidur Dimas. Tak lupa ia juga mengganti bantal dan guling dengan yang baru, sesuai instruksi bos.
********
Hari sudah menjelang pagi, Tiara sudah selesai dengan tugasnya. Ia menuju kamar ingin berpamitan pada Dimas.
"Tuan saya permisi dulu ingin berangkat kerja"
"Tolong pasangkan dasiku" Ucap Dimas tak menjawab pertanyaan Tiara.
"Apa tugasmu dirumah ini sudah selesai"
"Sudah Tuan, saya juga sudah menyiapkan sarapan untuk tuan. Bahkan aku juga sudah menyemir sepatu Tuan, Anda pasti suka" ucap Tiara tersenyum penuh arti.
Dimas mengernyitkan keningnya, ia menatap Tiara. Entah mengapa ia merasa senyum Tiara terasa janggal. Seolah-olah ada yang disembunyikan darinya.
"Selesai" Ucap Tiara begitu ia selesai memasangkan dasi Dimas dan juga membantu Dimas mengenakan jas kerjanya.
"Saya duluan Tuan, Assalamualaikum" ucap Tiara meraih tangan Dimas dan mengecup punggung tangannya. Ia juga mencium pipi Dimas sekilas dan berlalu pergi.
Dimas sempat mematung, ia cukup terkejut dengan perilaku Tiara hingga terlihat semburat rona merah pada pipinya. Ini adalah untuk pertama kalinya Tiara mencium punggung tangannya dan pipinya tanpa Dimas harus memaksanya.
Sementara pelaku penciuman itu sendiri tidak sadar dengan perbuatannya. Ia refleks dengan semua itu. Karena hal itu sudah merupakan kebiasaannya jika ingin berangkat sekolah. Ia selalu menghampiri Ayahnya, mencium punggung tangan ayahnya kemudian mengecup pipinya. Dan tanpa Tiara sadari ia melakukan hal itu pada Dimas.
Dimas saat ini tersenyum-senyum duduk di ruang makan, bayangan wajah Tiara yang mengecup pipinya menari-nari di pelupuk matanya. Ia dengan segera menghabiskan sarapan yang Tiara siapkan untuknya.
Selesai sarapan Dimas ingin mengenakan sepatunya yang telah Tiara siapkan untuknya. Tapi tiba-tiba pandangan matanya menatap horor pada sepatunya.
"Tiaarraaaa!!!!!!"
Sementara itu pelaku utamanya saat ini sedang tersenyum puas.
__ADS_1
TBC.