
Tiara menatap pias ke arah Pria itu, wajahnya benar-benar pucat sekarang. Seolah aliran darah berhenti mengalir dalam tubuhnya.
Tubuh Tiara bergetar hebat bahkan gelas yang berada di genggaman tangannya pun terjatuh. Tiara merasakan lemas pada tubuhnya seolah tak bertulang. Ia benar-benar tak bisa menopang Tubuhnya, saat ini ia rasakan lemah dan tak berdaya. Ia merasa tubuhnya oleng sekarang.
Dimas dan Reno yang melihat Tiara akan terjatuh segera menghampiri Tiara, berusaha meraih tubuh Tiara. Tapi Reno kalah cepat dari Dimas. Dimas yang posisinya saat ini memang lebih dekat dari Tiara segera meraih Tiara ke dalam pelukannya.
"Pulang sekarang, terima hukumanmu" bisik Dimas mendekat ke telinga Tiara, ketika Dimas berhasil meraih Tiara dan berada dalam pelukannya. Tiara menegang mendengar bisikan Dimas. Wajahnya benar-benar pucat seperti mayat hidup. Reno menatap prihatin ke arah Tiara.
"Kau tidak apa-apa Nona" tanya Dimas pura-pura menampakkan wajah khawatir. Tiara tidak menjawab pertanyaan Dimas, Ia bahkan tidak berani untuk sekedar menatap mata Dimas. Ia menundukkan kepalanya.
"Ada apa denganmu Tiara" tanya Reno khawatir, lalu mengambil alih Tiara dari pelukan Dimas. Ia merengkuh pinggang Tiara dan menyenderkan Tiara pada dada bidangnya. Sementara Dimas mengepalkan tangannya erat, menggeretakan rahangnya, bahkan genggaman kuku-kuku jarinya melukai telapak tangannya.
Tiara benar-benar lemas sekarang, bahkan ia tidak mempunyai kekuatan untuk menolak perlakuan Reno yang terlihat mesra padanya.
Reno dan Tiara saat ini menjadi pusat perhatian, banyak yang kagum dengan melihat keintiman mereka berdua. Tapi banyak juga yang menatap Iri ke arah mereka.
Tiara benar-benar ketakutan, bahkan ia tidak sanggup menatap tatapan tajam Dimas. Yang seolah-olah bagai belati yang siap menusuk jantungnya sewaktu-waktu. Tiara menyembunyikan wajahnya pada dada Reno menghindari tatapan Dimas yang begitu mengintimidasi.
"Ma-mas, Bisakah kita pulang sekarang. A-aku benar-benar lelah" ucap Tiara gugup dengan suara lirih tapi masih terdengar oleh Dimas. Bahkan Dimas semakin mengeratkan kepalan tangannya, mendengar panggilan Tiara untuk Reno yang terdengar mesra di telinga Dimas.
"Dim, aku pulang duluan ya, Sepertinya pasanganku malam ini tidak enak badan. Lain kali kita ngobrol lagi."
"Jangan lupa Kirim alamatmu padaku, aku ingin mengunjungi Rendra. Sudah lama aku tidak melihatnya" ujar Dimas.
"Baiklah, aku duluan Dim" Reno berjalan dengan Tiara yang masih berada dalam rengkuhannya.
*********
Reno dan Tiara saat ini berada di dalam mobil. Reno mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara Tiara memejamkan matanya, menyenderkan kepalanya pada kursi mobil. Semenjak memasuki mobil Tiara tak mengucapkan sepatah kata pun.
__ADS_1
"Tiara..., ada apa denganmu sebenarnya?" Reno meraih tangan Tiara dan menggenggamnya. Sementara tangan satunya lagi berada pada setir mobilnya.
"Aku tau kau sedang tidak tidur, bisakah kau berbagi masalahmu denganku. Aku berjanji akan membantumu apapun yang terjadi." Tiara sama sekali tidak merespon ucapan Reno.
"Tiara, apa kau mengenal Dimas. Apa dia pernah menyakitimu kenapa kau terlihat begitu takut dengannya. Tiara..., aku mohon bicaralah padaku."
"Baiklah kalau kau tidak ingin menceritakan masalahmu padaku sekarang. Tapi aku kan tetap menunggumu sampai kau benar-benar siap berbagi masalahmu padaku." Reno terus mengajak Tiara berbicara. Tapi Tiara tetap tidak mau membuka matanya. Saat ini Tiara hanya bisa berpura-pura tertidur untuk menghindari pertanyaan Reno.
"Tiara..., Kemana aku harus mengantarmu? Kau ingin pulang atau ikut kembali ke rumahku denganku."
"Apartemen Golden Eagle" Saut Tiara singkat masih dengan mata terpejamnya.
Bukankah Dimas juga memiliki beberapa apartemen di wilayah itu, batin Reno.
Reno menambah kecepatan mobilnya, sesekali ia melirik Tiara. Tapi Tiara sama sekali tidak mau membuka matanya. Reno menghentikan mobilnya di depan apartemen yang dimaksud oleh Tiara.
"Tiara kita sudah sampai" Reno keluar dari mobilnya, ia membuka pintu mobil untuk Tiara.
"Mas, sampai sini aja ya. Aku ingin sendiri saat ini" Tolak Tiara melepaskan rangkulan Reno.
"Kau yakin" tanya Reno
Tiara menganggukkan kepalanya, dan segera berlalu meninggalkan Reno.
"Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku Tiara?" Reno kembali masuk ke dalam mobilnya.
"Sudah susah-susah mengungsikan Rendra ke rumah Ibu, tetap saja belum berhasil dekat denganmu." ucap Rendra lirih lalu menjalankan mobilnya.
**********
__ADS_1
Tiara saat ini berada di dalam kamarnya, ia bahkan belum berganti baju. pikirannya saat ini benar-benar tidak tenang. Wajah murka Dimas terus bermain-main di pikirannya.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan dia benar-benar marah" Saat ini pikiran Tiara benar-benar kalut. Ia berusaha mencari cara untuk menghindar dari kemarahan Dimas.
Sementara saat ini Dimas sudah berada di depan gedung apartemen. Ia melangkahkan kakinya masuk dengan tergesa-gesa. Sesampainya di dalam apartemen, ia mengedarkan pandangannya. Tak mendapati Tiara di Ruang tamu, dapur dan ruang santai. Akhirnya Dimas melangkahkan kakinya menuju kamar.
Tok tok tok....
"Tiara buku pintunya, Tiara...." Dimas mengetuk pintu berkali-kali tapi tak juga mendapatkan jawaban dari dalam.
"Tiara buka pintunya sekarang!!!! atau aku akan menghukummu dan membuatmu menyesal. Tiara....."
Karena tidak juga mendapatkan jawaban, Akhirnya Dimas melangkahkan kakinya menuju ruang kerja. Ia mengambil kunci serep kamarnya yang ia letakkan di laci meja kerjanya.
Dengan terburu-buru ia membuka kamar itu. Setelah pintu kamar terbuka ia mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan itu. Tapi ia juga tak mendapati Tiara.
Dimas kini benar-benar murka merasa di permainkan oleh Tiara. Ia menuju kamar mandi yang ada di kamar itu. Tapi sialnya lagi-lagi kamar mandi di kunci dari dalam oleh Tiara.
"Tiara!!! jangan bermain-main denganku, cepat buka pintunya Tiara...!!!!" Dimas berteriak seperti orang kesetanan.
"Aku hitung sampai tiga jika kau tidak juga membukanya maka aku akan mendobraknya. Dan kau tidak akan merasakan kemarahanku"
"Satu...dua.... Tiga..."
Braaakkk, Dimas mendobrak pintu kamar mandi dengan menendangnya sekuat tenaga.
Pandangannya kini tertuju pada sosok mungil yang menyenderkan tubuhnya pada dinding kamar mandi dalam posisi meringkuk.
"Tiaarraaaa...!!!
__ADS_1
Tbc.