UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Mengunjungi Kantor Reno.


__ADS_3

Dimas memasuki kamarnya dan menatap Tiara yang sudah terlelap tidur. Ia tersenyum melihat Tiara tertidur, ia melempar tas kerjanya ke sembarang tempat. Ia merangkak perlahan ke tempat tidur mendekati Tiara.


"Aku tidak perduli dengan perjanjian kita, aku akan pastikan kau akan menyerah dan menuruti permintaanku" ucap Dimas lirih menatap Tiara.


Cup, Dimas mengecup bibir Tiara sekilas. Ia membenarkan selimut Tiara. Menutupi tubuh Tiara hingga menutupi bagian dadanya.


"Semakin dekat denganmu, semakin sulit aku melepaskanmu. akan lebih baik bagimu menghentikan keras kepalamu itu. Karena berhasil atau tidak usahamu. Aku pastikan akan tetap menjadikanmu ibu dari anakku" ucap Dimas lirih mengelus rambut Tiara.


Karena takut tidak bisa menahan hasratnya, akhirnya Dimas turun dari tempat tidur, Ia memutuskan untuk mandi dan tidur di ruang kerjanya. Untuk saat ini ia memilih mengalah pada Tiara dengan memberikan sedikit ruang pada Tiara. Tapi ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah melepaskannya.


Hari sudah menjelang pagi, Tiara mengerjapkan matanya. Ia menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi.


"Astaga, Aku terlambat bangun. Apa Tuan tidak pulang semalam?" Tiara menatap sebelah tempat tidurnya yang kosong.


Tiara bergegas turun ke bawah untuk membuat sarapan, Ia hanya membuat roti isi dan juga susu. Setelah selesai dengan semua aktivitasnya di rumah itu, ia meninggalkan catatan di atas meja. Ia meminta maaf pada Dimas karena tidak bisa memasak makanan seperti biasanya, karena terlambat bangun.


Tiara bergegas pergi dengan tergesa-gesa, Ia hanya meminum susu dan membawa bekal roti isi di tasnya. Bahkan Tiara tidak mengetahui kalau Dimas berada di ruang kerjanya. Karena efek mabuk dan tidur melewati tengah malam, jadi Dimas belum terbangun. Tiara bergegas keluar apartemen, sebelumnya ia menghubungi goj*k untuk menjemputnya di depan apartemen.


"Tolong cepetan Pak, saya sudah terlambat"


"Ini udah cepet Neng. Neng tau sendiri jalan macet gini, mana bisa ngebut.


Tiara menatap was-was jam tangannya. Sepertinya aku benar-benar terlambat, batin Tiara.


Perjalanan yang biasanya di tempuh 30 menit memakan waktu hingga 50 menit perjalanan karena macet. Tiara sampai di depan gerbang besar rumah Reno. Satpam yang mengenali Tiara membuka pintu gerbang untuknya.


Dengan berlari terburu-buru ia masuk ke rumah besar itu.


"Pagi Bi..., huf-huf..." Sapa Tiara dengan nafas ngos-ngosan karena berlari tadi, kepada salah satu asisten rumah tangga yang ia jumpai. Tanpa menunggu jawaban dari orang yang di sapa ia berlalu pergi ingin menuju kamar Rendra.

__ADS_1


"Tunggu Non, Den Rendra sudah berangkat tadi di antar Tuan Reno. Non Tiara nanti diminta menjemput Den Rendra lima belas menit sebelum jam pulang sekolah. Nanti diantar sama supir yang sudah disiapkan Tuan.


"Yah terlambat deh, Terimakasih ya Bi"


Tiara berjalan menuju dapur, ia berniat untuk membantu, karena Tiara bingung harus berbuat apa. Selama ini Tiara kesibukannya hanyalah menemani Rendra main. Karena Reno tak mengijinkannya melakukan hal yang lain.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Tiara mengagetkan asisten rumah tangga yang sedang membuat kue.


"Eh Non, tidak perlu non ini sebentar lagi juga selesai."


"Jangan panggil Non panggil Tiara aja kelihatannya umur kita tidak berbeda jauh. Oh ya namamu siapa, sepertinya aku baru melihatmu."


"Anda bisa memanggil saya Mona, saya baru disini. Tadi malam baru sampai disini, saya ponakannya Bi Iyem dari kampung"


Akhirnya Tiara membantu Mona membuat camilan untuk Rendra. Mereka terlihat akrab dan sesekali terdengar suara tawa di sela-sela pembicaraan mereka. Tiara juga memperkenalkan dirinya sebagai pengasuh Rendra.


Tak lama terdengar suara langkah mendekati mereka berdua. sehingga membuat mereka mengalihkan pandangannya menatap pelayan yang tergesa-gesa menuju ke mereka.


Tiara sedikit heran dengan perkataan pelayan itu. jika map Reno tertinggal kenapa tidak di berikan langsung saja pada supir itu kenapa harus ia yang mengantarkannya ke kantor.


"Tiara, kok melamun sih cepetan sana." ucap Mona membuyarkan lamunan Tiara.


**********


Saat ini Tiara sudah turun dari mobil, Ia menatap takjub gedung besar yang terpampang di depannya.


Tiara melangkahkan kakinya ragu menuju ke meja resepsionis, Di meja itu terdapat dua gadis cantik dengan penampilan yang menarik. Tiara merasa kurang percaya diri dengan penampilannya sekarang. Ia menggunakan kaos hitam lengan pendek di padukan dengan celana kodok jeans dan sepatu sneaker putih dan Tas selempang yang terlihat memudar warnanya.


Walaupun baju Tiara terlihat sederhana tapi bajunya merupakan keluaran merek terkenal. Dimas membuang semua baju Tiara dan menggantinya dengan merek ternama. Ia hanya meninggalkan tas Tiara saja karena Tiara melarang Dimas membuangnya. Tas itu merupakan peninggalan dari Ibunya. Penampilan Tiara terlihat seperti gadis remaja yang ingin pergi bermain.

__ADS_1


"Selamat Pagi mbak, saya ingin bertemu dengan Pak Reno."


"Maaf ada perlu apa ya Dek" tanya wanita itu datar menatap Tiara.


"Mau mengantar berkas Pak Reno yang tertinggal."


"Maaf Dek, nama pak Reno disini ada dua. Reno Anggara dan Reno Mahesa Wira. Adek mau ketemu yang mana?"


"Aduh, Siapa ya nama lengkap Pak Reno." ucap Tiara lirih.


"Adek mau ketemu yang mana?" ucap Resepsionis itu yang mulai terdengar kesal.


"Kalau yang paling kaya dan jabatannya paling tinggi siapa ya mbak?"


" Dek tolong jangan main-main ya."


"Saya nggak main-main mbak, Pak Reno yang mau saya temui ini memang orang yang kaya. Rumahnya aja gede banget."


"Adek kalau mau ketemu sama yang jabatannya paling tinggi itu Pak Reno Mahesa Wira dia Direktur utama disini. Tapi kalau adek mau ketemu harus punya janji temu terlebih dahulu. Jadi sebaiknya kalau nggak punya janji temu adek keluar aja deh jangan ganggu orang yang lagi kerja" Resepsionis itu terlihat kesal dengan Tiara.


"Tapi mbak ini Pak Reno sendiri lho yang nyuruh saya kesini. Buat nganterin berkas ini"


"Adek punya kartu nama Pak Reno atau nomor teleponnya nggak"


"Nggak mbak"


"Ya udah kalau gitu keluar aja sana" resepsionis itu bertambah kesal dengan Tiara. Ia tidak mempercayai ucapan Tiara. Bagaimana mungkin gadis di depannya ini mempunyai janji temu, kalau nomor telepon bosnya saja tak tau.


"Tapi mbak..."

__ADS_1


TBC.


__ADS_2