
"Cin, ambilin dong mangganya. Aku pingin banget nih, yang muda ya," pinta Tiara pada salah satu pelayan yang bernama Cintia.
Cintia cukup terkejut dengan permintaan Tiara, ia bahkan sudah berpikir yang bukan-bukan.
"Jangan salah paham, aku tidak hamil. Aku memang menyukai rujak mangga muda. Biasanya di kediaman Tuan Reno, aku dan Mona hampir setiap hari membuat rujak mangga. Jadi tolong ambilin yang banyak ya. Aku mau kasih buat Mona juga."
"Maaf Nona karena sudah berpikir yang bukan-bukan"
"Tidak apa-apa, cepat tolong kau ambilkan mangga muda itu"
Cintia mengambil galah untuk memudahkannya menyenggrek mangga. Mona yang melihat Cintia mengambil mangga terlihat antusias.
"Rendra, mainnya udahan dulu yuk. Kita lihat tuh pelayan Kak Tiara, ambil mangga muda. Kak Mona mau minta mangganya, duh jadi pingin ngerujak lagi kan."
"Kak Mona sama Kak Tiara emang satu server nggak bisa lihat mangga muda. Nggak takut tuh Kak asam lambungnya kumat."
"Tenang Rendra lambung Kak Mona kuat, cap badak jadi nggak bakalan sakit cuman gara-gara rujak."
"Terserah Kakak deh."
Mona dan Rendra berjalan mendekat kearah Tiara.
"Wah bisa ngerujak ini kita" ucap Mona senang.
"Mbak Wati, bisa tolong ambilkan wadah dan juga bumbu buat kita rujak ya" pinta Tiara.
"Baik Non" ucap pelayan Tiara. Dua orang pelayan Tiara itu bernama Cintia dan Wati. Usia Cintia sebaya dengan Tiara, sedangkan Wati lebih tua dua tahun.
Setelah Wati mengambil bumbu dan juga wadah, mereka segera memulai membuat rujak.
"Rendra mau" tawar Mona dan Tiara. mereka berdua memakan dengan lahap, sedangkan dua pelayan Tiara juga mereka ajak makan rujak bersama. Kedua pelayan itu tidak begitu menikmati, sesekali mereka bergidik karena rasa kecut.
"Kak Tiara, Rendra mau buah belimbing itu boleh."
__ADS_1
"Boleh sayang. Mbak Wati bisa tolong ambilkan."
"Baik Non."
***************
Sementara itu Roy saat ini menemui sahabatnya yang juga orang kepolisian. Mereka janji temu di sebuah restoran sekalian acara makan siang.
"Kasus penculikan yang terjadi 12-13 tahun yang lalu cukup banyak. Beberapa terselesaikan dan beberapa lagi menghilang tanpa jejak. Tapi tidak ada satupun laporan tentang kehilangan anak perempuan berusia 5 tahun dari keluarga Wijaya seperti yang kau laporkan itu" ujar Dado sahabat Aryo.
"Apa kamu yakin?"
"Aku sudah mengecek ini berkali-kali, tapi memang kasus ini tidak ada. Aku bahkan tidak hanya memeriksa kasus ini di kota ini saja. Tapi di beberapa kota terdekat."
"Bagaimana dengan penyelidikanmu sendiri?" tanya Dado kepada Aryo.
"Aku menyelidiki semua keluarga yang bermarga Wijaya tapi juga tidak ada satupun yang pernah kehilangan putrinya."
"Apa kamu tidak memiliki petunjuk lain" tanya Dado.
"Sepertinya aku harus menyelidiki kasus kecelakaan ini. Siapa tau kita bisa dapat petunjuk dari sini" ucap Dado setelah membaca surat Ayah Tiara.
"Kau benar, aku bahkan sampai melewatkan ini. Jika kita bisa mendapatkan petunjuk dari sini, kita bisa mendapatkan dua keuntungan. Selain bisa menemukan keluarga Tiara, kita juga bisa mengungkap otak dibalik penculikan itu."
"Sebaiknya kau juga jangan terpaku pada keluarga Wijaya saja. Tapi cari juga marga yang terdengar mirip, bisa jadi supir itu salah mendengar."
"Kau benar, Tapi marga apa yang terdengar mirip dengan Wijaya" Aryo dan Dado tampak berpikir keras.
"Atwijaya" ucap mereka bersamaan.
"Dan kau tau Tiara baru saja kecelakaan dan dia di tolong oleh putra Atwijaya langsung karena darah mereka langka, tidakkah kau berpikir ini suatu kebetulan yang aneh" ucap Aryo.
"Kalau begitu sekarang akan lebih mudah, Kamu tinggal meminta tes DNA untuk sampel darah mereka berdua di rumah sakit Tiara dirawat. Mudah-mudahan sampel itu masih ada, Kalau tidak kita harus menggunakan tipu daya kita untuk mendapatkan salah satu dari darah, rambut, air liur atau kuku Keluarga Atwijaya."
__ADS_1
"Baiklah, Kita bertemu lagi dua hari kedepan untuk melaporkan penyelidikan kita" ucap Aryo pada sahabatnya.
Tak lama kemudian pesanan mereka berdua pun datang. Mereka menikmati makanan itu sebelum pergi meninggalkan tempat itu, menyelesaikan tugas mereka masing-masing.
************
Sementara itu di kantor Dimas dan Reno telah mencapai kesepakatan untuk bekerja sama. Setelah mereka sebelumnya mengunjungi proyek yang akan mereka garap bersama.
Proyek bernilai fantastis dengan angka menembus trilyunan. Hingga Reno memutuskan untuk menggandeng Dimas mengerjakan proyek ini bersama.
Setelah selesai dengan kerjasamanya, Reno meminta bantuan Yessi untuk memesankan makan siang untuk mereka berdua. Kedua orang itu telah lelah mondar-mandir mengamati lahan proyek mereka. Sehingga mereka memutuskan untuk makan siang di kantor.
Selesai makan siang Reno membahas hal pribadi. Ia menanyakan keseriusan Dimas tentang hubungannya dengan Tiara.
Setelah Dimas berhasil meyakinkan Reno bahwa ia berjanji untuk membahagiakan Tiara dan tidak akan sedikitpun menyakiti Tiara. Akhirnya Reno mengiklaskan untuk melepaskan perasaannya pada Tiara. Puas dengan obrolan mereka berdua, Reno undur diri dari kantor Dimas.
Dimas kembali ke rutinitasnya, ia bergelut dengan setumpuk dokumen yang sedang menantinya di meja kerja Dimas.
Dengan langkah gontai Dimas menuju meja kerjanya, menyelesaikan tumpukan berkas di hadapannya.
Tepat pukul 4 sore handphone Dimas berbunyi. itu adalah telpon dari Farih untuk mengajaknya bertemu. Farih ingin menagih janji Dimas sebagai bayarannya menolong Tiara. Kali ini Farih akan menebalkan mukanya untuk meminta sesuatu yang tak seharusnya.
Dimas melajukan mobilnya menuju kantor Farih. Kira-kira membutuhkan waktu sekitar 40 menit ia sudah sampai di gedung kantor milik Farih. Gedung kantor yang terlihat megah, bahkan tidak kalah dari gedung kantor milik keluarga Dimas.
Sekretaris Farih mengantar langsung Dimas ke ruangan Farih. Dimas dipersilahkan duduk di sofa, di susul oleh Farih yang juga ikut duduk di sofa berhadapan dengan Dimas.
"Hallo Tuan Dimas, bagaimana kabar anda" tanya Farih basa-basi.
"Maaf Tuan Farih, saya benar-benar tidak ada waktu untuk berbasa-basi. Tolong katakan apa keinginan Tuan Farih. Terus terang saya tidak punya banyak waktu. Calon istri saya menunggu di rumah."
"Anda tidak lupa bukan Tuan Dimas akan menyetujui apapun permintaan saya."
"Iya, saya berjanji akan menyetujui nya."
__ADS_1
"Nikahi adikku Anita."
TBC