UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Pengakuan Tiara


__ADS_3

Di sebuah rumah mewah, tepatnya di taman halaman samping rumah itu. Tiara menatap Ayah mertuanya yang sedang duduk santai menikmati secangkir kopi. Di temani dengan laptop dan beberapa berkas yang ada di atas meja.


Tiara melangkah ragu ke arah mertuanya. Ia berniat menceritakan masa lalunya dengan Papa mertuanya, sebelum Papanya mendengar dari Nyonya Anggi atau orang lain.


"Selamat Pagi Pa"


"Pagi Tiara. Suami kamu mana? Apa dia sudah berangkat ke kantor?"


"Sudah Pa, baru saja."


"Pantas kamu sendirian, biasanya dia selalu nempel padamu."


"Tiara boleh ikut duduk sini Pa"


"Boleh, kenapa harus bertanya. Ini juga rumahmu."


"Apa Papa sudah bertemu Nyonya Anggi?"


"Belum, tapi Papa sudah bertemu dengan Ana. Suaminya sakit dan dirawat di rumah sakit kita. Dia titip salam untukmu."


"Apakah Tiara boleh mengunjunginya Pa?"


"Tentu saja boleh. Dia pasti senang bertemu denganmu."


"Apa Bi Ana tidak bercerita tentang Tiara dan Nyonya Anggi."


"Tidak, ada apa memangnya diantara kalian."


"Tiara ingin jujur tentang kisah Tiara dan Nyoya Anggi. Tapi maukah Papa berjanji sesuatu dengan Tiara?" ucap Tiara ragu.


"Jika ada sesuatu yang ingin Tiara katakan, maka katakanlah. Dan untuk Janji, selama itu tidak salah dan menyakiti orang lain Papa mau berjanji."


"Tolong setelah Tiara ceritakan semua. Tiara mohon Papa jangan membenci Tiara ataupun memisahkan Tiara dengan Mas Dimas. Tiara mau Papa hukum apa aja, tapi jangan pisahkan Tiara dengan Suami Tiara."


"Tiara..., Papa nggak mungkin memisahkanmu dengan suamimu. Apapun kesalahan Tiara Papa pasti maafkan, selama Tiara mau memperbaiki kesalahan itu dan menjadi lebih baik lagi."


Akhirnya Tiara menceritakan semua kisahnya kepada Papa Teo. Kisah yang diawali dari perjalanannya ke kota hingga terjerat dengan Anggi dan juga penebusan Dimas untuk mengeluarkannya dari sana.

__ADS_1


"Astaghfirullah Tiara, Papa nggak nyangka ternyata kisahmu seberat itu di usiamu yang masih muda. Papa juga terkejut kenapa Anggi bisa berubah drastis. Dari wanita sederhana dan lemah lembut menjadi wanita jahat seperti itu."


"Papa nggak marah sama Tiara?"


"Papa tidak memiliki alasan marah padamu. Tenang saja Papa menerimamu dan juga masa lalumu. Dan untuk Nyonya Anggi, Papa akan luangkan waktu bertemu dengannya. Papa tidak ingin lagi ada korban sepertimu. Anggi harus bertobat dan merubah sifatnya itu"


"Terimakasih Pa"


"Oh ya bukannya tadi kamu bilang, tujuanmu ke kota ini untuk mencari orangtuamu. Bagaimana? Apakah sudah ketemu?"


"Belum Pa. Tiara bingung harus mencari kemana? Tiara tidak tau nama lengkapnya. Hanya ada petunjuk berupa beberapa barang yang melekat di tubuh Tiara."


"Dimana barang-barang itu, apa Papa boleh melihatnya."


"Waktu Tiara pindah kemari, Mas Dimas meminta Tuan Aryo untuk mengambil di apartemen tempat tinggal Tiara Sebelumnya. Tapi sampai sekarang Tiara lupa untuk menanyakannya. Jadi Tiara tidak tau barang itu saat ini ada di Tuan Aryo atau Mas Dimas."


"Ya sudah, nanti biar Papa bicarakan semua dengan Dimas. Kau tidak perlu khawatir tentang apapun. Papa janji akan mencari tau siapa orangtua kandungmu. Jaga dirimu baik-baik, dan berikan Papa cucu yang banyak."


"Terimakasih Pa" ucap Tiara sambil tersipu malu. Papa Teo terkekeh geli.


**********


Key mondar-mandir mengelilingi rumah mencari keberadaan Pak Kupit. Pria paruh baya itu sudah tak terlihat semenjak ia bangun di pagi hari. Tapi di meja makan sudah di siapkan menu makanan untuk Key sarapan.


Setelah tak menjumpai Pak Kupit akhirnya Key berniat ke pasar. Ia ingin membelikan berbagai kebutuhan sehari-hari mengingat ia tinggal disana. Apalagi Pak Kupit menolak uang pemberiannya.


Key menghentikan langkahnya di sebuah toko besar. Ia memesan berbagai kebutuhan sehari-hari dengan jumlah banyak. Dan meminta pegawai toko untuk mengantarnya ke rumah Pak Kupit. Ia sudah membayar lebih untuk semua itu. Setelah itu ia memutuskan untuk pergi ke tempat juragan ikan kemarin, berharap bis menemukan Pak Kupit disana.


"Apa Pak Kupit tadi kemari?" tanya Key dingin tanpa basa-basi.


Juragan ikan menatap Key dengan heran. Pria angkuh di depannya ini terlihat dingin dan asing. Sebagai salah satu juragan ikan, ia mengenal semua pemuda di kampungnya.


"Maaf ada keperluan apa ya mencari Pak Kupit dan anda ini siapa?" tanya juragan ikan penuh selidik. Ia takut jika Key adalah salah satu anak buah rentenir Karjo yang akan berbuat ulah lagi.


"Saya Key, untuk sementara saya tinggal bersama Pak Kupit. Saya pikir Pak Kupit ada disini, karena sepertinya ia sering kemari."


"Oh..., jadi ini tamu istimewa nya Pak Kupit. Maaf ya Nak bapak jadi tanya macam-macam. Bapak pikir, kamu anak buah Pak Karjo. Bapak cuma takut kalau Pak Kupit ditindas lagi sama anak buah Karjo seperti kemarin."

__ADS_1


"Apa, Kemarin Pak Kupit ditindas? Siapa yang berani menindas Pak, dan dimana orangnya?. Biar saya patah-patahin tulangnya."


"Sudahlah Nak jangan cari masalah dengan mereka. Bukannya kamu mencari keberadaan Pak Kupit. Pak Kupit sudah dari Pagi-pagi sekali melaut mencari ikan."


"Yang bener Pak, bukannya Pak Kupit hari ini libur melaut, karena hasil tangkapan kami kemarin lumayan banyak."


"Ya ampun nak hasil kemarin, di rampas semua sama anak buah Pak Karjo. Karena Pak Kupit terlibat hutang dengan bos mereka. Entah kapan lunasnya, padahal Pak Kupit sudah mencicil lebih dari jumlah hutangnya. Tapi jangankan lunas, hutangnya saja sama sekali tidak berkurang. Karena jumlahnya bunga lebih besar daripada hutangnya."


"Kurang ajar, berani-beraninya mereka. Ya sudah Pak, Saya mau ke laut dulu."


"Tapi Nak, Pak Kupit sudah berangkat 3 jam yang lalu."


Key melangkah pergi dari sana dengan wajah marah. Ia bahkan tidak mendengarkan lagi perkataan juragan ikan. Saat ini yang ada di otaknya adalah bagaimana caranya menyusul Pak Kupit. Pria itu terlihat tidak sehat semalam karena batuk terus-menerus. Key sudah membujuk untuk pergi periksa ke rumah sakit, tapi di tolak. Pak Kupit hanya mengatakan kalau ia hanya masuk angin saja dan akan sembuh jika beristirahat.


Sampai di tepi pantai Key melihat, banyak perahu nelayan yang menepi di pinggir pantai. Tapi ia tidak melihat adanya perahu yang biasa di pakai melaut oleh Pak Kupit.


"Pak saya sewa perahunya sebentar" Key menyodorkan Beberapa lembar uang merah.


"Maaf Nak nggak bisa, dilautan sebentar lagi badai. itu lihat semua Nelayan pada menepi karena takut dihantam badai."


"Saya bayar Pak berapapun. Justru akan ada badai Saya harus menyusul Pak Kupit."


"Oh jadi kamu ini kenalan Pak Kupit, sebentar kita tanya nelayan lain siapa tau Pak Kupit sudah kembali.


Key dan Pria itu menemui nelayan yang baru saja menambatkan perahunya.


"Tong kamu ada lihat Pak Kupit nggak dilaut tadi."


"Tadi saya ketemu Pak Kupit dan sudah saya suruh balik karena badai. Tapi kata Pak Kupit sebentar lagi nanggung. Padahal saya sudah teriak-teriak nyuruh balik, tapi tetap saja dia bilang nanti."


"Ya sudah Pak, saya sewa perahunya. Ini uangnya kalau kurang nanti saya tambahin Pak. Sekarang saya cuma punya kas segini saja. Key mengeluarkan semua uang kas di dompetnya dan menyodorkan pada pria di hadapannya."


"Maaf Nak, nggak bisa ada badai"


Kesabaran Key seolah di uji saat ini, ia tidak pernah memohon pada orang lain. Baru kali ini ia memohon dan itupun ditolak mentah-mentah karena badai sudah mulai melanda di lautan tampak dari angin yang berhembus kencang. Ia menggeretakan giginya dan mengepalkan tangannya erat. Untung saja saat ini ia tidak membawa pistolnya. jika tidak sudah bisa dipastikan ia akan menembak semua kepala orang yang menghalanginya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2