
"Hentikan suara tangisan bayi itu!! Kepalaku rasanya mau pecah mendengar tangisannya dari tadi" Manda berteriak marah pada seorang wanita yang menggendong seorang Balita.
Manda yang tadinya baru saja tertidur terpaksa terbangun karena suara tangisan Angga, Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul empat pagi.
"Maaa....maaa.... huaaaaaa" tangisan bayi itu semakin menjadi, wanita paruh baya itu terus berusaha menenangkan balita dalam gendongannya.
Tiba-tiba sebuah ide gila terbersit dipikiran Manda. Ia segera mengambil handphone miliknya dan merekam putranya yang masih saja menangis dalam gendongan wanita paruh baya yang tak lain adalah pembantunya.
Sambil tersenyum licik ia mengirim rekaman itu, ia mengirimkannya ke nomor yang ia dapatkan dari kedua wanita yang ia sewa untuk menculik Angga.
"Berikan saja dia obat tidur, jika ia tidak mau diam" ucapnya sembari kembali ke kamarnya sambil menutup telinganya. Acuh tak acuh terhadap kondisi putranya yang masih saja menangis histeris.
"Kalau saja aku tak membutuhkan uang pria itu, aku malas berhubungan dengan anak cengeng sepertinya" ucap Manda lirih. Ia kembali ke tempat tidurnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Suara tangisan Angga samar-samar masih terdengar dan mengganggu pendengarannya.
********
Perlahan Dewi membuka matanya, kepalanya terasa pening dan berat. Ia juga kesulitan menggerakkan tubuhnya karena tangan seseorang yang membelit tubuhnya.
Dewi melirik sesosok pria yang tidur di sebelahnya, ia tersentak kaget karena terkejut hingga akhirnya ia tenang kembali ketika menyadari pria itu adalah suaminya.
Ingatannya kembali pada momen terakhir sebelum ia tak sadarkan diri. Baru saja ia ingin membangunkan suaminya tiba-tiba terdengar dering handphone miliknya.
Ia mengambil handphone yang tergeletak disebelah meja tepat di sebelah tempat tidurnya. Membuka sebuah notifikasi Video yang baru saja ia terima.
Tangannya bergetar dan air matanya menetes begitu saja. Melihat putra sambungnya menangis tiada henti memanggilnya. Jemarinya mengusap sayang layar handphone yang menayangkan video putranya yang masih saja terus menangis.
Dewi membaca sebuah pesan dibawah video itu dengan berlinangan air mata.
"Tunggu mama sayang, mama pasti akan menjemputmu" Ia menyingkirkan tangan suaminya yang berada di atas perutnya, dan tanpa berpikir panjang ia berlari keluar dengan handphone ditangannya. Ia pergi begitu saja tanpa membawa uang sepeserpun, yang ada dipikirannya saat ini hanya ingin bertemu putranya.
Tak ada satupun orang yang menyadari kepergiannya, acara pernikahan yang berlanjut dengan ketegangan yang sebelumnya terjadi dirumah itu membuat mereka kelelahan dan menjadi lengah. Apalagi sebagian anak buah yang biasa menjaga rumah itu mereka kerahkan untuk mencari keberadaan Manda.
Dewi dengan pikiran kacaunya berjalan keluar kompleks perumahan elit itu. Hari masih sedikit gelap, tak ada satupun taksi yang lewat. Ia berlari kecil dengan penampilannya yang sedikit berantakan karena baru bangun tidur.
__ADS_1
Terus berlari kecil tanpa henti ataupun merasakan lelah, ia hanya ingin menuju kesuatu tempat sesuai petunjuk yang diberikan oleh pengirim video itu.
*********
Teriakan kepanikan Anton terdengar ke setiap ruangan dirumah besar itu.
"Dewi..... Dewi!!" berteriak kembali sembari berlari mengitari setiap ruangan dan memeriksanya.
"Anton, apa yang terjadi" Papa Teo yang baru saja keluar kamar menghampirinya. Terlihat pula Tiara dan beberapa asisten rumah tangga menatapnya heran.
"Dewi Om, Dewi hilang" ucap Anton membuat seisi rumah terkejut.
"Hilang.... bagaimana bisa hilang?"
"Dewi nggak ada di kamarnya Om, aku juga udah cari keliling rumah tapi belum ketemu juga" ucap Anton dengan nada panik. Pikirannya benar-benar kacau saat ini, Putranya belum ditemukan dan sekarang istrinya ikut menghilang.
"Kalian menyebar, cari Dewi disekitaran rumah sini" perintah Papa Teo pada asisten rumah tangganya.
"Ayo kita periksa CCTV" Papa Teo menggandeng tangan Anton menuju ruangan CCTV.
"Dia pergi satu setengah jam yang lalu" Papa Teo melihat jam yang tertera pada layar.
"Kemana kamu!" teriak Papa Teo tiba-tiba ketika melihat Anton berlari pergi.
"Menyusul Dewi Om" teriaknya sembari pergi.
"Tunggu, saya ikut" Papa Teo berlari menyusul Anton. Tujuan mereka saat ini adalah melihat CCTV jalan untuk mengetahui kemana Dewi pergi.
Dengan bantuan CCTV akhirnya mereka berhasil mendapatkan rekaman Dewi yang menaiki sebuah Taksi. Berbekal plat nomor taksi dan sebuah nama PT yang tertera pada taksi itu akhirnya Anton berhasil menghubungi supir taksi.
"Apa benar wanita ini menaiki taksi milikmu tadi" Anton menyodorkan foto Dewi di handphone miliknya.
"Sepertinya iya Pak, tapi wanita ini terlihat lebih cantik" supir itu mengernyitkan keningnya menatap foto Dewi. Penampilannya jelas terlihat berbeda karena kondisi Dewi yang terlihat acak-acakan berbeda dengan fotonya yang terlihat cantik dan elegan.
__ADS_1
"Kemana kau mengantarnya" tanya Anton menggebu-gebu, bahkan tanpa sadar ia mencengkram kedua bahu supir itu.
"Sakit tuan" berusaha menyingkirkan tangan Anton yang mencengkram kedua bahunya.
"Maaf" ucap Anton melepaskan cengkeramannya.
"Nona ini minta diantar ke taman Tuan, dan ia juga membayar saya dengan ini karena ia tak membawa uang sepeserpun" supir itu dengan sedikit takut mengeluarkan sebuah cincin dari saku bajunya.
Anton menatap terkejut cincin yang berada ditangan supir itu. Itu adalah cincin pernikahannya, cincin yang ia sematkan dijari istrinya pada saat pernikahannya. Ia lalu mengambil cincin itu dan menukarnya dengan sejumlah uang.
"Dewi...." gumamnya sembari mengepalkan kuku jemari tangannya yang berisi cincin pernikahan itu, Ia tak habis pikir dengan istrinya. Dari sekian perhiasan yang dikenakan istrinya, kenapa harus cincin pernikahannya yang diberikan ke supir itu. Bukankah ia juga mengenakan anting dan kalung, kenapa tidak salah satu barang itu yang diberikan.
"Antarkan kami ke taman itu Pak" Papa Teo menepuk pundak Anton untuk bergegas, mengabaikan pikiran Anton yang semakin berkecamuk.
Papa Teo memanfaatkan waktunya di dalam taksi untuk menghubungi Dimas, menanyakan perkembangan pencarian Angga. Anton menoleh ke Papa Teo, mendengarkan pembicaraan mereka walaupun tak begitu terdengar jelas ditelinga ya.
"Bagaimana Om? Angga sudah ketemu?" bertanya dengan penuh harap, tapi Papa Teo menggelengkan kepalanya.
"Ya Tuhan..." Anton menutup kedua wajahnya frustasi. Papa Teo hanya bisa menenangkannya dengan mengusap lembut punggung Anton, tanpa bisa berkata-kata.
"Kita sudah sampai Pak" ucap supir itu menyadarkan Anton dari pikiran kacaunya.
"Nona itu masuk kearah sana" menunjuk arah dimana supir itu melihat kepergian Dewi. Supir itu sebelumnya sempat memperhatikan Dewi lama karena merasa heran mendapatkan bayaran dengan sebuah cincin yang terlihat mahal.
Anton dan Papa Teo bergegas keluar dan menuju ketempat yang ditunjuk oleh supir itu.
Mereka berlari kecil memasuki taman, pandangan mereka mengitari sekeliling taman. Hingga akhirnya mereka melihat serombongan anak kecil yang mengitari seseorang sembari bersorak.
"Orang gila... orang gila, orang gila" terdengar suara sorakan anak kecil itu, mereka bersorak sembari menepuk tangannya mengelilingi seseorang yang tak terlihat begitu jelas.
"Apa yang kalian lakukan!" teriakan Papa Teo membuat anak-anak itu berlari pergi dari situ.
Papa Teo berlari menghampiri orang yang sebelumnya di kerumuni oleh anak-anak itu.
__ADS_1
"Dewi!!"
TBC