UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Sadar.


__ADS_3

Anton yang menyadari Dewi terlihat tegang segera menyeret Mike dan membawanya ke sofa menjauhi Dewi.


"Anton, lepaskan!" ucap Mike terdengar kesal.


"Diamlah, kau tidak lihat apa Dewi belum siap untuk bicara padamu. Biarkan dia terbiasa dengan kehadiranmu sebelum kau memulai pembicaraan dengannya" Anton tidak ingin situasi Mike dan Dewi semakin kacau dan tentunya akan berimbas padanya. Terjadilah sikut mengikut antara Anton dan Mike sampai mereka duduk di sofa.


"Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Kakek terlihat penasaran, selama ini Dimas memang tidak pernah menceritakan kondisi Dewi selain dengan Tiara.


"Tidak ada apa-apa Kek, kami hanya bercanda kok" jawab Anton merangkul Mike yang duduk di sebelahnya. Ia berusaha menutupi hal yang sebenarnya terjadi karena Ia tidak ingin menambah kekacauan. Apalagi jika Kakek sampai tahu Dewi tinggal dirumahnya tanpa adanya ikatan bisa habis Anton di kuliahi oleh Kakek.


Kakek menoleh pada Dimas seperti berusaha mencari jawaban tapi Dimas mengalihkan pandangannya pura-pura tidak tahu.


"Baiklah kalau kalian tidak ada yang mau memberitahu Kakek, Kakek bisa mencari tahu sendiri" Pria tua itu lantas berdiri dan berpamitan berjalan keluar ruangan.


"Kakek tunggu!" panggil Mike terlihat khawatir, ia takut jika Kakek tahu dari orang lain maka situasinya malah semakin kacau.


"Biarkan saja, kalau sudah begini percuma menjelaskannya. Biarkan Kakek mencaritahu sendiri" ucap Dimas, ketika Kakeknya mengabaikan panggilan Mike karena kesal.


Mike mengalihkan pandangannya pada Dewi, jangankan menyapanya bahkan menoleh padanya pun Dewi enggan. Mike hanya bisa menatap Dewi pasrah. Mungkin ini hukuman yang Dewi berikan untuk Mike.


"Apa dia belum terbangun sama sekali sejak kecelakaan itu?" tanya Dewi pada Tiara. Tiara menganggukkan kepalanya menatap sedih Nara.


"Dokter baru saja memeriksanya tadi dan mengatakan tidak ada masalah yang terjadi padanya. Operasinya sukses dan bahkan cideranya sebentar lagi mengering, tapi Nara masih saja memilih tertidur" jelas Tiara terlihat sedih.

__ADS_1


Dewi yang sebelumnya berdiri dipinggir ranjang akhirnya memilih duduk dikursi yang memang sudah ada di sebelah tempat tidur Nara. Ia menggenggam tangan Nara dan membawanya pada wajahnya.


"Kapan kau akan terbangun, kau tidak kasihan padaku. Aku kesepian tanpamu, maaf kalau selama ini aku menyakitimu. Bangunlah jika kau memaafkanku, jika tidak aku akan merasa sangat bersalah padamu" ucap Dewi masih menggenggam tangan Nara dan menaruhnya diwajahnya. Dewi yang merasa iba dengan kondisi Nara menangis, hingga tetesan air matanya mengenai tangan Nara.


Tiara memilih mengelus punggung Dewi dan membiarkan Dewi meluapkan perasaannya. Hal yang paling penting disaat orang menangis dan bersedih adalah jangan pernah melarang mereka meluapkan tangisan dan kekecewaannya. Biarkan mereka meluapkan semua itu agar mereka bisa lega dan tidak lagi memendam kesedihan dan kekecewaannya.


"Nara pasti juga sangat menyayangimu dan bisa merasakan perasanmu saat ini. Kita doakan saja semoga ia cepat sadar dan bisa berkumpul bersama kita lagi" ucap Tiara. Ketiga orang pria yang duduk disofa tepat di belakang Dewi hanya bisa diam dan memandang mereka berdua. Sesekali mereka bertiga saling pandang seperti saling memberi kode.


"Tiara, tangan Nara bergerak" Dewi merasakan jari tangan Nara yang ia genggam mulai bergerak perlahan. Ia menaruh tangan Nara yang masih berada di genggamannya di atas tempat tidur.


"Lihat, ia bergerak lagi" Dewi melepaskan genggaman tangannya dan melihat lagi-lagi tangan Nara bergerak.


"Mas panggil dokter, tangan Nara bergerak!" teriak Tiara pada Dimas. Seketika ketiga pria itu mendekat ke ranjang pasien. Dimas segera memencet bel untuk memberitahu perawat agar mengirim dokter ke ruangan Nara.


"Nara kau sudah sadar" Mike menghampiri Nara dan berdiri tepat disebelah Dewi. Dewi menggeser langkahnya agar sedikit menjauh dari Mike.


"De-wii" panggil Nara pelan terdengar lemah dan tak berdaya. Ia berhasil membuka matanya dan menatap orang sekitarnya hingga pandangannya terpaku pada Dewi.


"Ya, aku disini. Terimakasih karena sudah mau bangun" Dewi kembali mendekat meraih tangan Nara dan menciumnya. ia menangis sambil tersenyum menatap Nara.


Nara tersenyum sebelum akhirnya ia menutup matanya lagi. Dokter datang saat itu juga dan segera memeriksa Nara. Mereka yang ada diruangan itu terlihat lega sekaligus khawatir karena baru saja terbangun kenapa Nara tertidur lagi.


"Jangan khawatir kondisi pasien baik-baik saja. Pasien kembali tertidur sepertinya pengaruh dari obat yang sebelumnya dokter berikan. Pasien akan segera tersadar satu atau dua jam kedepan setelah efek obat menghilang" jelas sang Dokter membuat mereka semua lega. akhirnya Dokter meninggalkan ruangan setelah selesai memeriksa Nara dan memastikan kondisinya baik-baik saja.

__ADS_1


"Dewi terimakasih, dan tolong maafkan aku" Mike meraih tangan Dewi dan menggenggamnya. Dewi berusaha menarik tangannya dari genggaman Mike tapi tak bisa. Mike kemudian berlutut di depan Dewi agar Dewi memafkannya.


"Tolong maafkan kebodohanku, aku mohon jangan hukum aku dengan mendiamkanku seperti ini" ucap Mike memohon. Terlihat Dewi menahan air matanya yang ingin keluar.


"Dewi memaafkan Kak Mike" ucap Dewi pelan dan menarik tangannya dari genggaman Mike.


"Benarkah, terimakasih" Mike ingin memeluk Dewi, tapi Dewi mendorong tubuh Mike dan menjauh darinya.


"Baiklah kalau kau menolak pelukanku, tapi segeralah pulang ke rumah. Rumah terasa sepi tanpamu" ucap Mike tersenyum.


"Dewi memang memaafkan Kak Mike, tapi maaf Dewi tidak bisa kembali ke rumah itu dan bersikap seperti dulu. Tolong beri Dewi waktu, karena Dewi belum bisa melupakan apa yang pernah Kak Mike katakan" ucap Dewi menahan tangisannya. Wajah Mike yang tadinya tersenyum mendadak kaku terdiam terpaku.


"Tenanglah Mike beri dia waktu, setidaknya ia sudah mau bicara dan memaafkanmu" Dimas merangkul Mike dan mencoba menghilangkan kesedihan dari wajah Mike.


"Kak, kita pulang ya" ucap Dewi pada Anton terdengar manja. Anton mengangguk dan segera mendekat padanya.


"Tiara, Dim, Mike, kita duluan ya" pamit Anton lalu meraih tangan Dewi dan menggandengnya keluar. Mike hanya bisa diam menatapnya, berharap hubungannya dengan Dewi bisa kembali seperti dulu lagi.


"Tenanglah, Anton akan menjaganya dengan baik" ucap Dimas lalu di angguki oleh Mike.


Anton berjalan sembari tersenyum menatap jari jemari tangan Dewi yang berada di dalam genggamannya tangannya. Ia tidak menyangka jika Dewi tidak menolak gandengan tangannya sama sekali.


"Kenapa Kakak tersenyum terus dari tadi" tanya Dewi heran.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Aku hanya senang saja. Sepertinya hari ini aku menang tender besar" ucap Anton ambigu membuat Dewi menggelengkan kepalanya heran. Anton menatap Dewi dan kembali tersenyum, sepertinya duda itu semakin kepincut daun muda yang ada tepat di sebelahnya.


TBC.


__ADS_2