
Dimas saat ini berada di cafe sederhana, ia berjanji untuk bertemu dengan anak buah Tedi.
"Sampaikan pada Bosmu lima hari lagi aku akan kembali dan menjemput istriku" ujar Dimas.
"Aku kemari sebenarnya ingin menyampaikan kabar buruk untukmu" ucap anak buah Tedi.
"Apa maksudmu? Apa terjadi sesuatu pada istriku?" tanya Dimas.
"Sekitar seminggu yang lalu, Vila diserang oleh sekelompok orang. Bahkan mereka meledakkan villa. Banyak korban jiwa dalam ledakkan itu. Kemungkinan istrimu salah satunya" ucapnya terlihat serius.
"Apa maksudmu, bukankah Bosmu berjanji untuk melindungi istriku apapun yang terjadi" Dimas mencekal kerah baju orang itu keatas dan melemparkannya ke lantai.
"Katakan padaku dengan jujur bagaimana kondisi istriku sekarang!!!" Dimas terlihat marah dengan mata yang memerah. Ia kembali mendekat dan mencengkram leher pria itu.
"Katakan dengan jujur atau aku akan membunuhmu sekarang." Dimas mencekik leher pria itu.
"Akhhh sa-kitt Tu-an ukhuk ukhuk..." pria itu terlihat kesakitan dengan wajah yang memucat, Dimas melepaskan cekikikan nya.
"Katakan denga jujur, kalau tidak kau akan berakhir di pemakaman hari ini"
Bukh!! Dimas menendang perut pria itu hingga membuat pria itu semakin tak berdaya.
"A-aku katakan Tuan" ucapnya sambil berusaha bangun dari lantai, dengan hati-hati ia duduk dan menyenderkan tubuhnya di dinding.
"Sebenarnya aku tidak tahu Tuan, istri anda selamat atau tidak dari reruntuhan itu, tapi informasi yang aku dapatkan Bos Tedi dan Bos David juga ikut menghilang. Sebaiknya anda mengecek sendiri Tuan apa ada jenazah mereka diantara puing reruntuhan itu, sebab saya sendiri tidak tahu kebenarannya. Saya hanya diminta untuk menginformasikan villa telah di ledakkan dan kemungkinan istri anda meninggal."
"Siapa yang memintamu mengirimkan informasi ini padaku?" tanya Dimas.
"Saya mendapatkan perintah melalui email tuan" pria itu memperlihatkan handphone miliknya pada Dimas. Dimas membaca email yang dimaksud pria itu.
"Baiklah kau boleh pergi sekarang."
Dimas mengambil handphone miliknya dan menghubungi Erick.
"Bagaimana kondisi perusahaan saat ini Rick" tanya Dimas.
"Kondisi perusahaan baik-baik saja Tuan. Untung ada Tuan Reno yang juga ikut membantu saya. Anda kemana saja Tuan, dan kapan anda kembali?" tanya Erick terlihat bersemangat.
"Aku masih belum bisa kembali, tolong kau urus perusahaan dulu. Dan kirim pesawat ke Jepang sekarang, besok pagi aku harus mengunjugi sebuah pulau."
__ADS_1
"Baik Tuan, saya harap urusan anda cepat selesai dan segera kembali ke perusahaan" ucap Erick, Dimas kemudian menutup telponnya dan menghubungi Farih.
"Kak Farih, apa kau masih ada di pulau?" tanya Dimas begitu Farih mengangkat telpon.
"Ya, aku masih ada di pulau. Aku sedang membantu pembangunan fasilitas kesehatan disini. ada apa? Tiara baik-baik saja bukan?" tanya Farih terlihat khawatir.
"Kau tahu Hutan yang aku masuki ?" tanya Dimas. tanpa menjawab pertanyaan Farih.
"Ya, aku tahu. Daerah itu di tutup sekarang, satu Minggu yang lalu terjadi sesuatu di hutan itu, terdengar ledakkan yang sangat keras bahkan membuat daerah sekitarnya ikut bergetar. Polisi kehutanan sedang menelusuri hutan itu untuk menyelidiki apa yang terjadi. Kau dan Tiara bukankah tidak berada di hutan itu lagi. Mengapa kau menanyakan hutan itu?" tanya Farih. Setelah sampai di Jepang Dimas Memang mengatakan jika ia dan Tiara telah baik-baik saja dan keluar dari hutan itu. Ia hanya tidak ingin Farih khawatir atau terlibat jauh dan mengacaukan rencananya.
"Sebenarnya, Tiara masih ada di hutan itu. Maaf aku tidak mengatakan kebenarannya karena menjaga keselamatan Tiara. Aku mendapat informasi jika Villa dalam hutan tempat Tiara meledak. Aku ingin kau ke reruntuhan Villa itu untuk mencari informasi lebih lanjut."
"A-apa maksudmu? bagaimana dengan Tiara? ia tidak menjadi korban ledakan itu kan?" tanya Farih semakin khawatir.
"Tenanglah, Aku yakin Tiara baik-baik saja. Perasaanku mengatakan seperti itu, aku hanya ingin kau memastikan kondisi Villa dan korban yang ada di dalam reruntuhan. Aku akan kirimkan peta lokasi padamu. Ajaklah polisi kehutanan untuk mengeceknya. Besok siang aku pastikan sudah sampai di pulau itu." ucap Dimas dengan tenang. Ia berusaha berbicara dengan tenang tak ingin membuat Farih semakin khawatir, karena ia yakin istrinya baik-baik saja walaupun sebagian dari perasaannya merasa tak karuan.
Selesai dengan telponnya Dimas segera menuju ke mobilnya, ia tancap gas untuk bisa sampai di rumah sakit. Ia harus memastikan kondisi adiknya sebelum besok pagi berangkat mencari kebenaran tentang kondisi Tiara.
********
Di rumah sakit, Mike mempermainkan rambut Nara yang panjangnya sebahu. Ia menggulung-gulung rambut itu dengan jarinya tak lupa ia juga mengajak bicara Nara sesuai dengan perintah dokter.
"Nara, jika kau tak bangun-bangun aku tidak ingin mengajakmu bersamaku. Aku kan mencampakkanmu disini. Kau mau tinggal sendiri?" ucap Mike ketika ia sudah merasa lelah menunggu respon Nara yang tak juga bangun.
Mike terus memperhatikan Nara, ia bahkan memainkan alis dan bulu mata Nara.
"Ternyata kau memiliki Alis dan bulu mata yang cukup lebat" ucap Mike masih mengelus alis Nara dengan jari telunjuknya.
Mike dapat melihat Mata Nara yang berkedip berusaha membuka matanya. Ia juga melihat Nara menggerakkan jari-jarinya dengan lemah.
"Nara, kau sudah sadar" Mike mengambil tangan Nara dan menggenggamnya.
"Kak..." ucap Nara lemah setelah berhasil membuka matanya.
"Ya, ada yang kau inginkan" ucap Mike lembut ia tahu kondisi Nara yang tertekan sekarang. Ia tak ingin membuat gadis itu semakin tertekan.
"Kita dimana Kak? Dan Kakak juga kenapa?" tanya Nara menatap bingung sekitarnya. Sepertinya ia belum mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Kau pingsan dimakam ayahmu dan anak buah Kak Dimas membawamu kemari. Kau tahu kau sudah pingsan selama tiga hari" ucap Mike sembari memperlihatkan 3 Jari tangannya pada Nara.
__ADS_1
"Maafkan Nara kak, maaf hiks hiks hiks..." tangis Nara begitu mengingat apa yang terjadi.
"Sudah jangan di ingat lagi ya" ucap Mike memeluk Nara yang ada di sebelahnya.
"A-aku tidak mengkhianatimu kak, aku berani sumpah aku sama sekali tidak mengkhianatimu" ucap Nara masih sesenggukan mencoba meyakinkan Mike
"Iya aku percaya, kita lupakan saja yang terjadi kemarin ya, A-aaaakkh..." tiba-tiba Mike berteriak kesakitan, ia lalu melepaskan pelukannya dan memegangi sebelah kakinya yang terluka.
"Kak-Kak ada apa? Suster...., suster!!!" teriak Nara ketika melihat sebelah kaki Mike yang di perban mengeluarkan darah. Ia kemudian berusaha duduk dari tidurnya, ia memencet bel untuk memanggil perawat.
Tak lama perawat datang setelah mendapat laporan dari Nara.
"Luka Tuan sepertinya terbuka lagi, tolong Tuan jangan terlalu banyak bergerak. Saya akan memanggilkan dokter" ucap perawat itu segera keluar memanggil dokter.
Dokter terpaksa kembali menjahit luka Mike yang terbuka.
"Ingat, jangan terlalu banyak bergerak Tuan Anda masih dalam pemulihan" ucap Dokter itu mengingatkan Mike. Ia kemudian beralih mendekat pada Nara.
"Gadis cantik kau sudah sadar, boleh aku memeriksa kondisimu sekarang?" tanya Dokter dengan lembut. Nara menganggukkan kepalanya sembari menghapus butiran air mata yang masih membasahi pipinya.
"Kondisimu baik secara fisik, jangan terlalu banyak beban pikiran agar kau bisa pulih seperti semula. Jika ada yang ingin kau tanyakan kau bisa datang padaku. Aku juga akan membantumu mencari konseling yang terbaik untuk menyelesaikan masalahmu. Jangan menolak karena saya tahu anda membutuhkannya. Terkadang kita juga membutuhkan orang lain untuk menyelesaikan masalah kita. Jadi jangan pernah ragu untuk meminta tolong" ucap dokter itu dengan lembut menasehati Nara. Nara tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Tolong kau jaga juga pasien disebelahmu ini, jangan biarkan ia terlalu banyak bergerak kalau tidak ia tidak akan sembuh-sembuh nanti" ucap dokter itu lagi dan kembali di angguki oleh Nara.
Seperginya Dokter dan perawat suasana kamar itu terlihat canggung. Nara yang bingung ingin berkata apa dan Mike yang merasa salah tingkah ketika Nara memperhatikannya.
"Eehhemmm" Dimas masuk sambil berdehem membuyarkan lamunan Mike dan Nara.
"Wah, kenapa kasur kalian tiba-tiba bisa menyatu seperti ini. Perasaan tadi pagi tidak seperti ini deh!" Dimas mencoba menggoda Mike dan Nara yang terlihat kikuk.
"Kasur ini memang sudah seperti ini sebelumnya kak! Kakak aja yang lupa" Ucap Mike beralasan.
"Iya sepertinya memang aku yang lupa. Ya, mudah-mudahan dengan bersatunya tempat tidur ini bisa menjadi awal yang baru dengan ikut bersatunya hati kalian" ucap Dimas asal, mendapatkan pelototan dari Mike. Sementara Nara yang bingung hanya bengong saja.
"Iyakan Nara?" tanya Dimas tiba-tiba sembari tertawa melihat reaksi Mike.
"Hah!" Nara terlihat bingung.
TBC.
__ADS_1