UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Konslet.


__ADS_3

Dimas menatap nanar pria yang berdiri tepat di hadapannya.


"Aku akan jelaskan padamu, tapi tidak disini. Bisa kita keluar sebentar, aku akan menceritakan alasan kenapa aku menyamar seperti ini."


Pria itu menyetujui permintaan Dimas. Dimas memilih sebuah kafe dengan ruangan privat. Sehingga mereka bisa berbicara lebih leluasa.


"Katakan apa maksud dan tujuanmu berbuat seperti ini, apa motifmu sebenarnya?"


"Kau terlihat terburu-buru bertanya padaku, ada apa?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan, kau adalah tersangkanya disini." Pria itu terlihat kesal dengan suster Dina (Dimas) yang berbicara berbelit-belit.


"Aku tidak suka kau dekat dengan Tiara, jadi menjauhlah darinya."


"Kau lucu sekali, siapa kau ingin melarangku dekat dengan Tiara?"


"Aku suaminya."


"Jangan bercanda" ucapnya tak yakin.


Dimas melepaskan wig nya dan menghapus make up nya. Pria itu mematung di hadapan Dimas menyadari jika orang yang ia rindukan ada di depannya. Begitu ia memastikan pandangannya, bahwa benar orang yang ada di hadapannya adalah Dimas.


Michael selama ini mengenal Dimas hanya dari selembar fotonya saja. Ia belum pernah bertemu dengannya sekalipun.


"Kak, aku adikmu anak dari Mama Tina, Ibu kandung kita" Michael mendekat ke arah Dimas dan memeluknya.


Dimas yang ingin mendorong tubuh Michael, menarik tangannya. Ia mencengkram lengan pria itu kuat melepaskan pelukannya dan menatap wajahnya intens.


"A-apa yang kau katakan? Kau anak Mama Tina? Kau adikku, kau tidak berbohong?" tanya Dimas dengan menggebu. Mata pria itu berkaca-kaca menatap wajah pria yang ada di hadapannya.


"Benar Kak, aku Michael adik Kakak, anak dari Mama Tina."


"Dimana Mama? Dia baik-baik saja kan. Katakan dimana dia? Aku sangat merindukannya."

__ADS_1


"Mama dia..., Iya dia baik-baik saja. Mama masih ada diluar negeri. Tapi Kakak, mengapa berdandan seperti ini. Apa ini semua demi Kak Tiara" Michael kbali duduk di kursinya.


Melihat Kakaknya yang begitu antusias. Michael tidak sanggup untuk mengatakan jika Ibunya sudah meninggal dunia. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan, membahas masalah Dimas dan Tiara.


"Begitulah, ia saat ini sedang marah padaku" Dimas mengambil secangkir kopi yang ada di meja dan meneguknya.


"Kakak harus pandai-pandai meluluhkan hatinya."


"Kau Sepertinya tau banyak tentangku?" tanya Dimas. Ia heran Michael yang mengetahui banyak tentangnya dan Tiara.


"Sebelum datang kemari, aku sudah menyelidiki seperti apa kehidupan Kakak."


"Apa Tiara juga pernah bercerita tentangku?"


"Tidak, ia tidak suka membahas masalah pribadinya denganku. Walaupun ia suka sedih jika aku bertanya tentang suaminya. Aku lebih banyak mengetahui kehidupan Kakak dari Kakek."


"Kakek? Pria tua itu selalu hobi merahasiakan sesuatu dariku" gumam Dimas heran.


"Iya Kakek, Dia sering mengunjungiku dan bercerita tentangmu. Ia mengatakan Tiara istrimu karena ia takut kedekatanku dengan Tiara akan menimbulkan rasa dihatiku. Aku bersyukur Kakek memberitahu identitas Tiara lebih awal, kalau tidak mungkin aku benar-benar akan jatuh cinta dengannya."


"Mama, ceritakan tentangnya. Dan bisa aku minta nomor handphonenya, aku ingin bercerita banyak hal dengannya."


"Mama menitipkan sesuatu untuk Kakak, tapi sayang aku tidak membawanya. Ehmm Kakak bisa katakan alamat Kakak, Aku akan kesana dan mengantarnya malam ini."


"Bagaimana jika sekarang saja ke apartemen Kakak. Apa kau ada waktu?"


"Baiklah, aku juga ingin mengetahui tempat Kakak tinggal."


"Hanya apartemen saja, selama tidak ada Tiara Kakak malas untuk pulang kerumah. Kakak lebih suka tinggal di apartemen yang pernah Kakak tempati bersama Tiara." ujar Dimas.


Mereka berdua pun meluncur kembali menuju apartemen Dimas. Michael memutuskan untuk meminta Roy menyusul ke tempat Dimas dengan membawa sebuah koper hitam yang ia simpan di sebuah lemari.


Sesampainya di apartemen Dimas mempersilahkan Michael untuk masuk. Ia menyiapkan minuman kaleng dan makanan kecil yang ia beli di kafe tempat mereka ngobrol sebelumnya. Tidak lupa ia mengganti baju Suster nya dengan pakaian biasa. Seragam suster itu ia geletakkan begitu saja dekat dengan keranjang cucian.

__ADS_1


Michael menceritakan banyak hal tentang masa kecilnya yang menyenangkan bersama dengan Ibunya. Dimas selalu tersenyum menanggapinya dan banyak bertanya hal tentang kehidupan mereka.


Melihat tawa lepas dan kebahagiaan di wajah Dimas, Michael jadi tidak tega untuk mengatakan kebenaran tentang kematian Ibunya.


Hingga tak lama terdengar suara bel pintu, berbunyi. Dimas membuka pintu itu dan tampaklah wajah menyebalkan yang selalu mengusik ketenangannya dengan Tiara.


"Kemarikan tas itu, dan tunggu aku di parkiran" Michael mengusir Roy pergi karena ia ingin berbicara sesuatu yang penting dengan Kakaknya.


"Tapi Bos boleh, saya bertanya sesuatu sebelum saya pergi" Roy menatap bergantian dua orang yang menatapnya dengan datar.


"Begini, bukankah bos tadi keluar bersama dengan suster Dina? Boleh saya tau dimana suster Dina sekarang. Karena sampai saat ini ia belum kembali juga. Biasanya ia tidak pernah pergi meninggalkan nyonya Tiara begitu lama tanpa pesan. Saya hanya khawatir saja terjadi sesuatu dengannya" Tampak wajah kecemasan terpancar dari raut wajah pria itu. Michael yang mengerti apa arti pertanyaan itu melirik Dimas.


Dimas menarik nafasnya, ia bukanlah pria yang bodoh. Ia tahu Roy tertarik dengan suster Dina dan hal itulah yang membuat pria itu sama sekali tak nyaman dengan keberadaan Roy disekitarnya.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan suster Dina, tadi calon suaminya menjemputnya. Mereka akan segera menikah, sebaiknya kau jaga jarak dengannya saat ini, karena calon suaminya sangat pencemburu."


Roy tampak terkejut dengan jawaban Dimas, tubuhnya terasa lemas seketika. Ini adalah pertama kalinya ia tertarik dengan seorang wanita dan ternyata wanita itu sudah memiliki calon suami.


"Apa betul kata-kata anda Tuan. Tapi darimana anda mengenal suster Dina?" tanyanya menyelidik.


"Suster Dina itu adalah salah satu orang kepercayaan Kakekku, tentu saja aku mengenal baik dia" jawab Dimas dengan sedikit acuh.


"Sudahlah jangan terlihat menyedihkan seperti itu. Lagipula masih banyak wanita cantik di dunia ini jadi jangan kau bersedih hanya karena satu wanita. Semangatlah dan terus berjuang agar kau secepatnya mendapatkan wanita yang kau cintai" ujar Michael menatap wajah menyedihkan asisten yang juga merupakan Sahabatnya.


"Tuan benar, ini bukan waktunya bersedih. Ini adalah waktunya berjuang. Selama janur kuning belum melengkung saya wajib berjuang untuk mendapatkan Suster Dina. Terimakasih bos semangatnya." Pria itu pergi dengan wajah yang tidak terlihat mendung lagi. Dimas melotot menatap Michael sebagai bentuk protesnya.


"Sumpah Kak, bukan itu maksudku. Aku menyuruhnya untuk mencari wanita lain tapi otak konsletnya berpikir hal yang lain."


"Aku tidak mau tahu, pikirkan cara agar pria gila itu tidak terus menggangguku" kesal Dimas.


Sementara Michael menepok jidatnya kesal.


"Astaga, cobaan apalagi ini"

__ADS_1


TBC


__ADS_2