UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Emosi.


__ADS_3

Ruangan mendadak sepi, mereka terdiam.menatap satu sama lain. Bukti yang saat ini terpampang di depan mereka tidak lagi bisa membuat mereka berkelit.


"Tu-tuan maafkan anak kami, tolong jangan bawa masalah ini ke rana hukum. Masa depan mereka masih panjang kami tidak ingin meraka menghabiskan masa depan mereka di balik jeruji besi. Kami bersedia untuk menanggung semua biaya perawatan korban sampai ia pulih dan kembali normal juga memberikan kompensasi buat korban. Tolong anak-anak kami Tuan" ketiga pria itu tiba-tiba duduk bersimpuh di hadapan Dimas memohon dengan wajah iba.


"Kalian pikir siapa kalian? Ingin melepas tanggung jawab dan memberikan kompensasi! Apa kalian pikir korban adalah orang miskin yang menginginkan uang kalian. Yang kalian lukai dan juga kalian tuduh sebagai pelaku itu adalah keluargaku. Dan aku tidak kekurangan uang sedikitpun, sampai kalian harus menggadaikan keadilan dengan sebuah kompensasi. Masalah ini akan tetap saya bawa ke jalur hukum, sebagai efek jerandari tindakan kurang ajar anak kalian!" Dimas terlihat marah, ia sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan maupun wajah iba yang mereka tampilkan di depan Dimas.


"Tuan kami mohon ampuni anak kami, kami janji akan menghukum mereka tolong jangan hancurkan masa depan mereka" mereka terus saja mengiba, mengemis permohonan maaf demi masa depan putri mereka.


"Sebaiknya kalian berdoa saja semoga korban segera sadar, karena hanya keputusannya yang bisa menyelamatkan masa depan putri kalian. Dan untuk kalian bertiga, kalian saya pecat dari perusahaan saya. Silahkan ambil gaji dan pesangon kalian setelah kembali dari sini."


"Tuan tolong jangan pecat kami tuan, kami bersedia melakukan apa saja untuk menebus kesalahan putri kami" ucap mereka lagi terus mengiba.


"Untuk putri-putri kalian, sebaiknya kalian sendiri yang menyerahkan mereka ke kantor polisi atau kalau tidak aku akan meminta polisi menjemput paksa mereka disekolah. Dan kalian pasti tau itu artinya apa. Kalau kalian masih menginginkan nama baik putri kalian terjaga maka kalian harus bisa bekerjasama dengan baik" ucap Dimas mengabaikan permintaan ketiga orang pria yang masih dalam posisi bersujud di depan Dimas.


Mike yang puas dengan tindakan Dimas akhirnya memilih diam dan menjadi penonton. Ia suka dengan cara kakaknya menyelesaikan permasalahan kali ini. Bahkan sang kepala sekolahpun ikut terdiam, ia tidak ingin salah bicara dan berakibat pemecatan dirinya. Ia tidak ingin bernasib sama dengan ketiga orang pria yang sebelumnya arogan itu.


Dimas sebenarnya juga tidak bermaksud menghancurkan masa depan gadis remaja itu. Tapi kelakuan mereka sudah di luar batas dan Dimas tidak mungkin memaafkan begitu saja sebelum membuat efek jera untuk mereka.


Setelah puas membuat ketiga orang itu tak berdaya Dimas dan Mike memilih keluar dari ruangan Kepala sekolah. Dimas dan Mike yang tidak puas dengan cara sekolah menyelesaikan permasalahan Nara dan Dewi memilih pergi dari tempat itu tanpa pamit. Kepala sekolah mengikuti mereka dari belakang, Ia tertunduk ketika Dimas tiba-tiba berhenti lalu menoleh padanya dengan tatapan mata tajamnya.


"Sebaiknya kalian perbaiki kinerja kalian, kalau tidak kalian akan bernasib sama dengan mereka!!" Dimas memperingatkan sang kepala sekolah.


Sampai di parkiran handphone Dimas berdering. Rupanya anak buahnya menelponnya untuk melaporkan keberadaan Dewi. Mike yang tak jauh dari Dimas mencuri dengar percakapan mereka, kini ia bisa tersenyum lega mengetahui keberadaan Dewi.


"Kak tolong antar aku sekarang menemui Dewi, aku ingin meminta maaf padanya" ucap Mike terdengar antusias.

__ADS_1


Dimas menganggukkan kepalanya, ia langsung tancap gas menuju tempat Dewi berada.


***************


Terlihat seorang pria sedang asyik di depan layar laptop miliknya. Ia terlihat serius mendengarkan laporan anak buahnya dari tiap departemen.


Ya, Anton akhirnya memilih melakukan Zoom meeting online karena ia tidak ingin meninggalkan Dewi yang dalam kondisi labil. Dan untuk pertemuan investor, ia memilih asistennya mewakilinya walaupun sebenarnya meeting kali ini investor menginginkan kehadirannya. Ia tidak begitu memperdulikan jika nanti perusahaannya akan mengalami kerugian karena tidak menghadiri pertemuan investor yang sudah di agendakan sebulan yang lalu. Yang paling penting baginya kali ini adalah memantau kondisi Dewi dan juga Putranya. Dua orang yang paling ia pedulikan saat ini.


Anton menutup laptopnya dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Ia menutup kedua matanya dan mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu membuat Anton membuka kelopak matanya.


"Masuukk!!" ucap Anton.


"Suruh mereka tunggu sebentar dan jangan biarkan mereka menemui Dewi" perintah Anton. Ia kesal ketika mendapatkan laporan dari anak buahnya tentang masalah yang dihadapi oleh Dewi dan apa penyebabnya. Ia merasa marah dan tak terima orang yang ia cintai bisa berada di kondisi seperti sekarang ini.


Anton memilih menelpon anak buahnya daripada harus menemui Dimas. Ia ingin mengorek lebih dalam tentang apa yang sebenarnya sudah terjadi dan sampai mana perkembangannya saat ini.


Sementara itu diruang tamu Dimas dan Mike yang tak sabar menunggu kedatangan Anton, berusaha menerobos barisan pelayan yang menghadang mereka untuk mencari keberadaan Dewi dirumah itu.


"Sebaiknya kalian menyingkir atau aku tidak akan segan menyakiti kalian!" teriak Mike marah karena pelayan masih saja menghalangi Mike yang memaksa ingin menemui Dewi segera.


"Tenangkan dirimu Mike" Dimas berusaha menenangkan Mike, ia juga menangkap tangan Mike yang ingin memukul seorang pelayan yang selalu saja menghalanginya. Walaupun sebenarnya Dimas juga menahan kesal dengan sepupunya yang belum juga menampakkan diri. Andai saja ini bukan rumah sepupunya ia pasti tidak akan segan untuk membuat keributan.

__ADS_1


"Sebaiknya kalian pergi dan selesaikan pekerjaan kalian. Biar mereka berdua jadi urusanku" ucap Anton yang tiba-tiba muncul dan menghampiri asisten rumah tangganya.


"Baik Tuan" mereka serentak membubarkan diri dan kembali pada pekerjaan masing-masing.


"Akhirnya kau muncul juga" ucap Mike sedikit sinis. Ia merasa kesal karena pelayan dirumah Anton menghalanginya.


"Kami kemari ingin bertemu Dewi, bisakah kau antar kami padanya" ucap Dimas tanpa basa-basi.


"Sebelum kalian bertemu Dewi ada hal yang harus aku bicarakan pada kalian" Anton membawa Dimas dan Mike ke ruang tamu. Ia mempersilakan mereka duduk di sofa ruang tamu.


Mike yang sebelumnya menolak dan ingin memaksa langsung bertemu Dewi akhirnya pasrah dan mengikuti permainan Anton. Ia sadar betul jika ia tidak bisa bertindak sesukanya.


"Jika ada hal yang ingin kau sampaikan sebaiknya langsung saja. Kami ingin segera bertemu dengan Dewi" ucap Dimas mewakili Mike, ia bisa merasakan wajah Mike yang tidak tenang.


"Kalian tidak bisa menemuinya sekarang!" ucap Anton terdengar tegas.


"Apa maksudmu!!" teriak Mike berdiri dari duduknya, ia rupanya sudah tidak bisa lagi menahan kesabarannya.


"Bukannya aku melarang kalian menemuinya, tapi kondisi Dewi saat ini sedang tidak baik. Ia mengalami trauma setelah menerima penolakan dan ketidak percayaan orang sekitarnya. Ia sekarang lebih memilih menutup diri dan hanya ingin berdekatan dengan Angga. Ia beranggapan hanya Angga yang bisa menerimanya tanpa syarat" ucap Anton menjelaskan.


"Kau bohong, pasti itu hanya alasanmu saja karena ingin menahan Dewi disini. Aku tahu kau menyukainya, tapi bukan berarti kau bisa bertindak sesukamu dan menjauhkan Dewi dari keluarganya" ucap Mike tak suka. Dimas yang mencoba menelaah ucapan Anton juga merasa tak percaya. Bagaimana mungkin Dewi yang ia kenal tangguh dan terkadang galak itu ternyata memiliki mental yang lemah.


"Anton, aku tidak ingin ribut denganmu. Kalau kau tidak ingin membawa kami pada Dewi setidaknya kau bisa meminta pelayanmu membawa Dewi kemari. Kami hanya ingin mastikan kondisi Dewi yang sebenarnya" ucap Dimas terdengar tegas.


"Aku tidak bermaksud menyembunyikan Dewi dari kalian. Tapi ia benar-benar belum bisa bertemu kalian, terutama denganmu" tatapan Anton tertuju pada Mike. Mike yang tak terima ingin menghampiri Anton dan bersiap untuk memukulnya tapi lagi-lagi Dimas menghalanginya. Sepertinya rasa bersalahnya pada Dewi membuatnya tidak bisa mengontrol emosinya.

__ADS_1


Anton merasa jika usahanya untuk menjelaskan kondisi Dewi sia- saja. Akhirnya ia memilih menghidupkan layar monitor yang tak jauh darinya. Ia menampilkan CCTV yang terjadi pada Dewi semalam. Mike dan Dimas cukup terkejut melihat kondisi kejiwaan Dewi.


TBC


__ADS_2