
"Jangan katakan kau masih saja menunggu wanita itu" ucap Leo lagi menatap Dimas lekat mencari jawaban dari mata Dimas.
"Aku ...."
"Lupakanlah wanita itu, kau bisa membuka hatimu untuk gadis kecilmu itu" Leo memotong pembicaraan Dimas.
"Diamlah" ucap Dimas.
"Kelihatannya dia gadis baik. Jangan mempermainkannya Dim, takutnya nanti kau menyesal" ujar Leo terkekeh, sementara Dimas memasang wajah datarnya.
************
Sementara itu di sebuah rumah yang mewah, datang seorang dengan sebuah amplop ditangannya. Orang itu adalah utusan dari Rumah Sakit yang memeriksa DNA Tuan Aziz dan juga Nona Nita.
"Maaf ada yang bisa saya bantu" ucap salah satu pengawal yang ada di rumah Tuan Aziz.
"Saya dari pihak Rumah sakit Arwijaya Husada ingin memberikan hasil lab Tuan Aziz."
"Anda bisa memberikan surat itu pada saya, saya akan menyampaikan pada Tuan" ucap pengawal itu.
"Maaf Pak, saya di perintahkan pihak rumah sakit untuk memberikan langsung pada Tuan Aziz."
"Tunggu sebentar" Pengawal itu menghampiri pos jaga yang ada didekatnya kemudian meraih telpon yang ada disana menghubungi seseorang.
"Mari, saya antar" ucap pria itu setelah menutup teleponnya.
Pengawal itupun mengajak pria itu memasuki rumah mewah itu. mereka menuju ke salah satu ruang tamu yang terlihat mewah dan elegan dengan model klasik.
"Silahkan duduk, Tuan muda sebentar lagi akan turun" ucap pria itu kemudian berlalu pergi
Tak lama kemudian terlihat Tuan Aziz dan juga Farih menuruni anak tangga. Untuk menemui Pria itu.
Pria itupun berdiri dan menunduk hormat melihat Tuan Aziz dan juga Farih yang mendekat padanya.
"Duduklah" Ucap Tuan Aziz.
"Ini hasilnya Tuan" ucap pria itu to the points.
Tuan Bagas menerima amplop yang disodorkan oleh pria itu.
"Bismillahirrahmanirrahim" ucap Tuan Aziz lalu membuka hati-hati amplop tersebut.
Tuan Aziz tersenyum setelah membaca hasilnya dan tak terasa air matanya menetes begitu saja. Farih yang melihat reaksi Ayahnya, meminta kertas itu dari ayahnya. Lalu membaca hasil itu dengan reaksi yang cukup terkejut.
__ADS_1
"Alhamdulilah akhirnya, Kita menemukan Adikmu" Tuan Aziz melakukan sujud syukur dengan air mata bahagia.
Sementara Farih entah mengapa ia merasa biasa saja. Seperti hal ini bukanlah sesuatu yang istimewa. Padahal menemukan adiknya adalah keinginan terbesarnya.
Ya Allah, mengapa aku tak merasakan bahagia seperti Ayah. Apa ada yang salah kali ini, tapi bagaimana mungkin, gumam Farih dalam hati.
"Sekarang telpon Tuan Bagas, minta dia untuk membawa adikmu. Jangan lupa untuk memberikan sejumlah uang yang Ia minta" Ucap Tuan Aziz dengan menggebu-gebu.
"Baik Ayah" ucap Farih tersenyum menatap Ayahnya.
"Maaf Tuan, saya permisi dulu ucap pria utusan Rumah sakit.
"Oh ya, siapa nama anda" tanya Tuan Aziz.
"Agus, Tuan"
"Baiklah Anda boleh pergi sekarang. Dan sebagai rasa terimakasih saya, karena telah membawa kabar bahagia. Saya akan meminta pihak Rumah Sakit untuk menggandakan gaji anda bulan ini" ucap Tuan Aziz.
"Terimakasih banyak Tuan," ucap pria itu menunduk hormat, kemudian berlalu pergi dari sana.
************
Sementara itu di kediaman Tuan Bagas tertawa bahagia, setelah menerima telpon dari Farih.
"Kau memang benar-benar keturunanku. Ayo, ceritakan padaku bagaimana bisa kau mengelabui dokter itu" Bagas tersenyum bangga pada anaknya Nita.
Dokter mengajak Nita memasuki ruang periksa.
"Silahkan duduk Nona"
Setelah Nita duduk, Dokter kemudian mengambil darah Nita dan memasukkan ke dalam tabung kecil.
"Aaaa aduh Dokter kenapa Kakiku sakit sekali, tolong dokter"
Dokter kemudian menunduk memeriksa kondisi kaki Nita, sementara kesempatan itu di gunakan Nita untuk menukar tabung darah yang di letakkan dokter itu di atas meja.
"Bagian sebelah mana yang sakit Nona" tanya Dokter itu.
"Sakitnya sudah hilang Dok, tadi kakiku hanya keram saja. Sekarang sudah baikan"
flashback off
"Keponakanku memang yang terbaik" ucap Susi.
__ADS_1
"Anak siapa dulu dong Tante, dan Ayah jangan lupakan janjimu" ucap Nita.
"Jangan khawatir, jika kau sudah memasuki keluarga itu. Jangankan mobil mewah, apapun yang kau inginkan pasti mereka akan memberikannya padamu."
"Benarkah Yah" Nita tersenyum senang menatap Bagas.
"Tentu, Keruklah harta mereka sebanyak yang kau inginkan. Dan jangan lupakan bagian ayahmu ini" Bagas tertawa bahagia.
"Tapi ingat jangan pernah beritahu Ibumu tentang ini. Kalau dia sampai tau ia pasti akan membunuhku." ucap Bagas lagi.
"Ayah tenang saja, Ibu sama sekali tidak mengetahui kepulanganku ke Indonesia"
" Dan kamu Susi jangan pernah lepaskan pengawasanmu dari Nita. Jika mereka meminta Nita tinggal dengan mereka, kau harus mengikutinya."
"Tenang Ayah, aku akan memohon pada mereka agar aku bisa membawa Tante Susi bersamaku."
"Ingat Susi jangan lakukan hal yang membuat mereka curiga. Kalau sampai ini ketahuan karena kebodohanmu. Aku tak akan segan menghukummu sekalipun kau adik kandungku."
**************
Tak terasa hari sudah menjelang pagi. Tiara bangun dari tidurnya dan menatap tempat tidur yang masih terlihat rapi.
Apa Tuan marah dengan keputusanku, sampai ia tidak pulang atau mengabariku, gumam Tiara.
"Sabar Tiara sekarang bukan saatnya memikirkannya, sekarang adalah saatnya berjuang. Semangattttt."
Tiara langsung bangun dari tidurnya, ia lalu menuju dapur menyiapkan sarapan untuknya dan juga Dimas. Sekalipun Dimas saat ini tidak ada di rumah tapi Tiara tetap menyiapkan makanan untuk Dimas. karena itu sudah bagian dari tugasnya.
Setelah selesai dengan semua tugasnya dan juga sarapan. Tiara melangkahkan kakinya menuju keluar apartemen.
Tiara telah menghubungi ojek online untuk mengantarnya. Tujuan Tiara adalah pusat kota. Ia akan mencoba memasuki satu-satu bangunan yang berjejer disana. Ia yakin pasti salah satu ruko yang berjejer itu ada yang membutuhkan tenaganya.
Setelah memasuki beberapa Ruko dan mengalami penolakan. Tiara tak menyerah, ia melangkahkan kakinya menuju Taman dekat pusat kota. untuk mengistirahatkan Kakinya sejenak.
Tiara duduk di bangku Taman sambil memijat kakinya yang terasa lelah. Ia kemudian menatap Anak kecil usia 5 tahun yang sedang asyik bermain sepak bola di taman. Anak itu bermain sendirian menendang bola kesana kemari tak tentu arah.
Sementara tak jauh dari anak itu bermain terlihat sosok pria yang sibuk dengan HP nya.
Tiara tersenyum menatap anak itu, ia gemas melihat wajah anak kecil itu yang tertawa riang mengejar bola kesana kemari.
Setelah Tiara merasa cukup istirahatnya ia melangkahkan kakinya menuju jalan raya. Tapi betapa terkejutnya Tiara, melihat bocah kecil itu berlari ke tengah jalan raya. Bocah kecil itu tengah berusaha mengambil bola yang menggelinding ke tengah jalan.
"Sementara itu ada sebuah mobil yang tengah melaju menuju bocah kecil itu. Dengan sekuat tenaga Tiara berlari menuju bocah kecil itu.
__ADS_1
TBC.
Terimakasih sudah membaca🙏