UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Melarikan Diri.


__ADS_3

"Sayang..., Happy Birthday and will you marry me?" Dimas Menyodorkan kotak kalung yang ia beli untuk Tiara.


"A-apa kamu bilang" Tiara membuka matanya, ia terkejut Dimas memberikannya hadiah tapi yang lebih membuat Tiara terkejut adalah lamaran Dimas. Ia ingin memastikan pendengarannya.


"Happy birthday honey, Will you marry me?" Dimas mengulang kembali ucapannya.


"Hiks hiks hiks..., Ini benerankan, Masku nggak bohong kan. huaaaa...." Tiara menangis memeluk Dimas.


"Lho kok nangis sih, ini lamarannya gimana diterima nggak."


Tiara menganggukkan kepalanya di pelukan Dimas.


"Mas akan menyuruh Erick mengurus surat nikah kita segera. Mas udah nggak sabar sayang, Kamu nggak tau betapa tersiksanya aku jauh dari kamu."


"Memang mas yakin mau nikah sama Tiara. Terus wanita yang dulu mas sukai itu gimana?"


"Jangan membahas itu sayang, yang Mas tau sekarang adalah mas menginginkanmu. Ini hadiahnya di buka dulu dong sayang," Ujar Dimas masih di abaikan Tiara, Tiara semakin mengeratkan pelukannya.


"Sayang, Ayo bangun dulu. Di buka hadiahnya. Jangan seperti ini sayang. Tuh lihat, Si Joni jadi bangun lagi kan" Dimas menempelkan miliknya yang kembali on ke tubuh Tiara.


"Ah..., Mas mesum" Tiara langsung mendudukkan dirinya. Ia melupakan tubuhnya yang masih polos.


"Sayang, pingin lagi. Tapi buka dulu ya kadonya." Dimas menatap tubuh Tiara yang polos bagian atasnya. Sedangkan bagian bawahnya masih tertutupi selimut.


Tiara yang menyadari kemana arah pandangan Dimas, segera menutupi bagian atasnya dengan bantal. Tiara kemudian membuka kado dari Dimas. Ia tersenyum menatap kalung pemberian Dimas.


"Gimana suka nggak?"


"Suka, ini bagus banget. Terimakasih ya Masku"


"Iya, sayang. Sini aku pakaikan" Tiara membelakangi Dimas. Dimas memasangkan kalung itu ke leher Tiara. Kemudian merapikan rambut Tiara.


"Sayang pingin lagi boleh ya."


"Ya ampun Mas ini sudah pagi. Ayo bangun."


"Aku pingin lagi sayang, sekali aja boleh ya. Nanggung nih si Joni dah bangun dari tadi."


Dimas yang mendapatkan anggukan dari Tiara langsung menyingkirkan selimut yang menutupi bagian tubuh bawah mereka.


"Mas...." Tiara terkejut Dimas tiba-tiba membuang selimut yang menutupi tubuh polos mereka. Ia meraih bantal guling di sebelahnya, menutupi tubuh bagian atasnya.


"Jangan ditutup sayang, aku ingin melihatnya. Semalam aku kurang memperhatikannya."


"Mas..., iih" protes Tiara karena Dimas membuang gulingnya.


Dimas menatap tubuh Tiara lekat, Ia merengkuh Tiara lalu menciumi seluruh tubuhnya. Dimas kembali mengulang perbuatannya semalam. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali hingga Tiara kesal di buatnya.


Selesai dengan pergulatannya, Dimas tidur dengan memeluk Tiara.


"Mas lepas, Tiara mau bangun. Buat sarapan dulu ini sudah siang, Tiara menatap jam yang menunjukkan pukul 9 pagi.


"Aku ngantuk sayang, semalam nggak bisa tidur. Sekarang aku mau tidur dulu sambil meluk kamu, nggak lama kok 2 jam lagi baru kita bangun." Dimas memejamkan matanya sambil memeluk Tiara. Akhirnya Tiara pasrah mengikuti kemauan Dimas. Ia kembali tertidur di pelukan Dimas.


Dua jam sudah terlewati tapi Dimas belum juga bangun. Tiara yang sudah membuka matanya, perlahan melepas pelukan Dimas. Dengan jalan tertatih-tatih ia menuju ke kamar mandi, merasa sedikit sakit di bagian intinya.

__ADS_1


Tiara merendamkan tubuhnya di bathtub, ia menggunakan air hangat. Lumayan untuk menghilangkan efek nyeri dan pegal-pegal di tubuhnya.


Selesai bersiap ia tersenyum menatap Dimas yang tertidur, ia memegang kalung pemberian Dimas. Menatap dirinya di cermin, ini seolah mimpi baginya. Akhirnya doanya selama ini terjawab sudah. Pria yang sudah hampir 3 bulan bersamanya, akhirnya mau menikahinya.


Tiara memunguti baju mereka yang berserakan dilantai. Sebelum menaruh ke cucian Tiara memeriksa kantung pada baju dan celana Dimas. Siapa tau ada barang penting didalamnya.


Tiara keluar dari kamarnya, menuju dapur. Ia ingin membuat menu kesukaan Dimas kali ini.


Kalau kalian berpikir menu kesukaan Dimas adalah masakan khas luar negeri maka kalian salah. Semenjak Tiara sering memasak untuk Dimas, ia menjadi penggemar masakan kampung atau masakan rumahan sebagian orang menyebutnya. Sederhana tapi nikmat itu menurutnya.


Tiara memasak sayur asem, sambal terasi, ikan , ayam dan tempe goreng. Setelah satu jam lebih ia berkutat di dapur akhirnya masakannya selesai sudah ia sajikan. Ia membuat kopi dan mengambil beberapa roti kesukaan Dimas, lalu membawanya ke kamar. Ia berniat membangunkan Dimas saat ini.


Jam sudah menunjukkan jam 12 lebih, bahkan jam sarapan sudah terlewatkan tapi Pria itu belum juga bangun. Selain mengantuk sepertinya ia benar-benar kelelahan karena pertempurannya.


"Mas bangun mas, ini sudah siang. Ayo mandi terus makan, aku udah masak tadi"


"Emm.., bentar sayang, masih ngantuk."


"Mas sudah siang ini, ayo bangun. Nanti aku tinggal ya kalau mas nggak mau bangun."


"Iya sayang nih aku udah bangun. Tapi masih ngantuk sayang."


Cup, Dimas mengecup bibir Tiara.


"Emm... baunya enak banget. Kamu bikinin aku kopi ya sayang."


"Iya ini aku bikinin kopi biar nggak ngantuk, dan juga roti buat ganjel perut. Habis ini mas mandi terus kita makan siang. Tuh lihat udah jam berapa?" Tiara menunjuk jam yang ada di kamarnya.


"Santai aja yang, aku hari ini libur. Jadi kita bisa seharian di rumah." Dimas menyeruput kopinya lalu Tiara memberikannya Roti untuk Dimas. Dimas juga mengambil satu Roti dan di berikannya pada Tiara. Karena ia tau Tiara juga pasti belum makan.


"Ke rumah sakit, Kamu sakit yang."


"Bukan aku, tapi anak yang aku asuh. Rendra anak tuan Reno, mas mengenalnya bukan. Ia kecelakaan terjatuh dari tangga karena keteledoranku." Air mata Tiara kembali menetes mengingat kejadian itu.


"Aku akan mengantarmu kesana setelah aku mandi dan kita sarapan. Jangan salahkan dirimu karena hal yang terjadi sudah terjadi. Yang terpenting sekarang kamu harus jaga dirimu baik-baik. Aku menginginkan junior kecil Disini. Dan bicara tentang anak asuhmu itu. Kau punya hubungan apa dengan ayahnya."


"A-apa maksudmu Masku, Aku nggak punya hubungan apapun dengan orang itu."


"Lalu apa ini, Dimas mengeluarkan amplop dari tas kecil dimana ia juga sebelumnya menaruh perhiasan Tiara."


Tiara membukanya, ia terkejut dengan isi di dalamnya.


"Ya ampun mas, ini waktu di taman nggak sengaja tuan Reno menyentuh tanganku. Tapi aku langsung menjauhkan tanganku. Dan yang ini tuh waktu di rumah sakit sama Tuan Reno. Rendra terluka parah, aku nangis dan syok waktu itu. Jadi tuan Reno memelukku untuk menenangkanku."


"Jangan diulangi lagi ya sayang. Jangan deket-deket sama pria selain aku jaga jarak entar kena virus. Dan Besok-besok kalau mau nangis atau syok dan butuh pelukan ditunda dulu. Tunggu aku di depanmu, atau kau bisa menelponku. Aku pasti langsung memelukmu."


"Jangan konyol deh Mas, sudah sana mandi."


"Iya, aku mandi. Tapi ambilin Hape aku dulu sayang. Dari tadi bunyi terus, tapi aku malas mengangkatnya. Semalam Hp aku ada di kantong celanaku."


"Ini, tadi aku menaruhnya di meja rias. Dan celana sama baju Mas sudah aku taruh cucian.


Ada apa mengapa Erick menelponku sebanyak ini, batin Dimas ketika melihat 5 panggilan tak terjawab. Ia lalu menelpon Erick.


"Ada apa Rick?" tanya Dimas begitu telpon tersambung.

__ADS_1


"Nona Aiko kabur Tuan"


"Bagaimana mungkin? Apa dua orang bodyguard itu tak menjaganya?"


"Nona Aiko mengelabui mereka Tuan, ia menyuruh satu bodyguard pergi membeli makanan untuknya. Dan bodyguard satunya lagi ia menguncinya di kamar mandi. Pada saat itu Nona Aiko berteriak di kamar mandi dan begitu bodyguard itu masuk. Nona Aiko memukul kepalanya menggunakan gayung dan mendorongnya kemudian menguncinya dari luar."


"Dasar bodoh, dua orang bodyguard tidak bisa mengatasi satu wanita. Cepat cari wanita itu dan kembalikan ke negaranya. Aku tidak mau kalau ia disini sampai mencelakai Tiara.


"Ada apa sih mas kok kamu kelihatan marah gitu memangnya siapa wanita itu dan kenapa ingin mencelakaiku?"


"Bukan siapa-siapa sayang, aku mau mandi dulu. Ingat ya jangan keluar dari apartemen ini tanpa sepengetahuanku. Jika ingin keluar kau harus bersamaku, dan kalau aku sibuk aku akan beri pengawalan untukmu. kau mengerti?"


"Iya mas aku ngerti, udah mandi sana."


Dimas menyibakkan selimutnya, dan berjalan dalam keadaan polos.


"Astaga Masku...!!! teriak Tiara terkejut dengan kelakuan Dimas.


"Kenapa sayang, mau lagi."


"Jangan macem-macem deh Mas, udah sana cepetan. Entar aku tinggal lho."


"Jangan berani-berani pergi tanpa sepengetahuanku, kalau tidak aku akan menghukummu."


Dimas kemudian masuk ke kamar mandi, Dan Tiara menyiapkan baju ganti untuknya. Tak lama kemudian terdengar suara telpon di handphone Tiara.


"Nona Tiara, ya?


"Maaf ini siapa?"


"Ini saya Nona, suster rumah sakit. Saya mendapatkan nomer anda dari sahabat anda. Sekarang sahabat anda sedang menenangkan Rendra. Ia sedari tadi menangis dan memberontak mencari nona. Ia bahkan sempat pingsan tadi. Cepatlah kemari Nona. Ini tidak baik untuk kondisi pasien. Saya takut terjadi apa-apa padanya?"


"Baik, saya kesana sekarang." Tiara menutup telponnya.


Aduh bagaimana ini, jika aku menunggu Masku pasti akan lama. Tidak Tiara kau tidak boleh membuang waktu lagi. Kasihan Rendra, sudahlah lebih baik aku tinggalkan catatan saja di atas baju gantinya.


Tiara meninggalkan catatan untuk Dimas, Ia memberitahu kondisi Rendra saat ini. Dan juga suster yang meminta kehadirannya segera.


Tiara meraih tasnya yang tergantung di lemari, dengan segera ia berlari ke apartemen.


Tiara berlari ke arah jalan raya, ia ingin naik taksi saja agar cepat.


Sementara Dimas yang sudah keluar dari kamar mandi terkejut dengan pesan Tiara.


"Sial, selalu saja melawan perintahku. Lihat bagaimana aku menghukummu" dengan cepat ia mengenakan bajunya. Setelah itu ia meraih dompet dan handphone nya. Bahkan Dimas tidak sempat menyisir rambutnya atau menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Hal yang tak pernah ia lewati ketika keluar rumah.


Saat ini yang Dimas takutkan adalah Aiko. Wanita gila itu bisa melakukan apa saja pada Tiara. Dengan berlari ia keluar dari apartemen itu.


Sesampainya di luar apartemen ia sedikit lega melihat Tiara dari kejauhan yang saat ini berada di pinggir jalan mencoba menyetop taksi yang lewat.


Ada yang aneh dengan taksi itu. Taksi yang awalnya bergerak pelan. Tiba-tiba melajukan kendaraannya menuju Tiara. Dimas yang melihat dari kejauhan ada keanehan dengan taksi itu segera berlari ke arah Tiara. Tiara yang tak menyadari keanehan itu hanya berpikir taksi itu pasti nantinya akan berhenti di depannya. Tiara tak bergeming dari tempatnya.


"Tiara menjauh dari situ" Dimas berteriak ke arah Tiara bersamaan dengan itu Taksi yang terus melaju kencang ke arah Tiara. Tiara mengalihkan pandangannya pada Dimas, Ia tersenyum menatap Dimas. Ia tidak mengerti ucapan Dimas.


Brakkkkk!!!!! Taksi itu menabrak Tiara, menghempaskan tubuh mungilnya ke jalan raya. Dimas menangis berlari ke arahnya, dengan tubuh gemetar ia meraih tubuh Tiara yang bersimbah darah.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2