UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Kekecewaan Tiara.


__ADS_3

Sesaat Tiara terpaku oleh ucapan suaminya, tapi ia kemudian tersadar kembali. Dengan memasang wajah tegas Tiara menolak permintaan Dimas.


"Kau tidak bisa menempatkannya disini, kantor ini sudah tidak ada lowongan" ucap Tiara acuh. Terlihat Manda menahan ekspresi kesalnya.


"Kau jangan khawatir, aku akan mengeluarkan dana pribadi untuk Manda karena ia akan menjadi asisten pribadiku. Saya rasa anda tidak memiliki alasan untuk keberatan, karena tindakan saya tidak merugikan perusahaan. Bukan begitu Ibu Presdir yang terhormat."


"Sebenarnya maumu itu apa sih Mas" kesal Tiara.


"Maaf Bu Presdir, maksudnya apa ya. Tolong Ibu bisa membedakan urusan pribadi dan pekerjaan."


"Nona Manda, bisa anda keluar dulu. Ada yang ingin saya sampaikan pada Tuan Dimas yang terhormat" Tiara menekan kalimat terakhirnya.


Dasar Tiara sialan, berani-beraninya ia mengusirku, umpat Manda dalam hati.


"Baik, saya permisi dulu."


"Kau tunggu di ruanganku. Kau bisa menanyakan letak ruanganku pada sekretaris yang ada di luar" ujar Dimas pada Manda. Manda tersenyum penuh arti pada Dimas. Sementara Tiara menampilkan ekspresi kesal yang luar biasa.


"Maumu sebenarnya apa sih Mas, apa kau mau rumah tangga kita hancur karena kehadiran orang ketiga" Tiara tidak bisa menahan kekesalannya lagi.


"Maaf Bu Presdir apa saya perlu tekankan sekali lagi. Ini adalah kantor tempat bekerja, bukan untuk mengurus masalah pribadi"


"Kau benar ini memang tempat untuk bekerja bukan tempat membahas masalah pribadi. Jadi Tuan Dimas alangkah baiknya jika anda memiliki masalah pribadi dengan istri anda tolong selesaikan. Bukan lari dan bersembunyi, hingga istri anda terpaksa membahas masalah ini di kantor. Anda tenang saja, Saya tidak akan mencampuri urusan anda lagi. Silahkan lakukan yang anda anggap benar, selama itu tidak merugikan perusahaan. Saya sudah selesai, jika anda tidak ada yang ingin disampaikan lagi, silahkan keluar dari ruangan saya" Ujar Tiara dengan nada kesal. Ia berharap Dimas segera pergi dari ruangannya, rasanya ia tak sanggup lagi menahan air matanya yang akan menetes.


Dimas terpaku mendengar ucapan Tiara, ia sama sekali tidak berniat untuk menyakiti perasaan istrinya. Awalnya ia melakukan ini hanya untuk menarik perhatian Tiara, tapi sepertinya ini akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


"Silahkan Tuan" Tiara kembali menunjukkan pintu keluar pada Dimas. Dimas menatap mata Tiara yang terlihat memerah dan wajah yang menahan kesal. Ia lalu melangkah keluar menuju ke ruangannya. Tiara menatap punggung suaminya yang telah menghilang dari hadapannya.


"Dasar suami bodoh, egois, tidak peka. Awas sampai kau berani macam-macam dengan wanita itu" umpat Tiara kesal.


Ruangan Dimas dan Tiara berada di lantai yang sama. Ruangan itu hanya di pisahkan oleh sebuah ruangan yang di khususkan untuk sekretaris mereka. Walaupun ruangan sekretaris Dimas dan Tiara berada di ruangan yang sama tapi terpisahkan oleh sekat dinding yang rendah hingga sekretaris mereka masih bisa melihat satu sama lain.


Sementara ruangan Erick dan asisten Tiara berada satu lantai dibawah mereka.

__ADS_1


"Mau apa kau keruanganku? tanya Dimas begitu melihat keberadaan Manda di ruangannya.


"Bukannya kau yang menyuruhku menunggumu disini."


"Keluar!!" teriak Dimas.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanku? Dan ruanganku dimana?" tanya Manda.


Dimas lalu meraih telpon di mejanya dan menghubungi seseorang.


"Cepat keruanganku sekarang," perintahnya lalu menutup telponnya dengan kasar. Manda yang tadinya tersenyum bahagia menyambut kedatangan Dimas jadi tersenyum kecut melihat perlakuan Dimas padanya.


Sialan, lihat bagaimana aku akan menaklukkanmu nanti. Walaupun dia bukan seorang Presdir lagi, setidaknya ia masih memiliki harta yang melimpah, batin Manda.


Tak lama terlihat Erick yang datang ke ruangan Dimas dengan setengah berlari.


"Ada apa Bos?" tanya Erick.


"Mulai hari ini ia bekerja disini, Kau atur ruangan untuknya" perintah Dimas kepada Erick.


"Kau tanya saja padanya, dan cepat bawa dia menyingkir dari ruanganku" ujar Dimas cuek.


"Baik Bos." Erick mengajak Manda keluar dari ruangan Dimas. Sementara Manda menatap Dimas kesal sebelum berpaling meninggalkan ruangan itu.


Sial, aku sudah membuat masalah untuk diriku sendiri, Dimas merutuki kebodohannya.


"Maaf Nona Manda, Bos Dimas menjanjikan anda posisi apa ya?" tanya Erick kikuk.


"Asisten" jawab Manda bangga.


"Kalau dia asisten bos Dimas, lalu aku Siapa?" gumam Erick lirih.


"Ada apa?" tanya Manda.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa Nona. Mari ikut saya."


"Selamat pagi Nona-nona cantik" sapa Erick pada sekretaris Tiara dan Dimas dengan ramah.


"Ini sudah siang kali Tuan" protes Mona diangguki oleh sekretaris Dimas.Tapi Erick mengabaikan ucapan Mona.


"Ini ada karyawan baru untuk sementara akan saya tempatkan di ruangan kalian. Mohon kerjasamanya" ujar Erick menjelaskan. Sementara Mona menatap tidak suka ke arah wanita itu. Firasatnya mengatakan wanita ini akan menimbulkan masalah besar untuk Tiara.


"Maaf Pak bukannya kami menolak, tapi Bapak lihat sendiri kan hanya ada dua meja kerja disini dan semua sudah kami tempati. Terus mau ditaruh dimana lagi karyawan baru bapak itu" lagi-lagi Mona mengeluarkan pendapatnya, di acungi jempol oleh sekretaris Dimas.


"Hei sekretaris centil kau pikir aku mau apa seruangan denganmu apa" kesal Manda.


"Baguslah, kalau situ tau diri" ucap Mona senang


"Sialan" umpat Manda. sementara Mona mengacuhkan ucapan Manda. Ia tidak ingin hari pertamanya bekerja terjadi perang.


Erick mengedarkan pandangannya ke ruangan itu, tanpa memperdulikan perdebatan keduanya. Hanya ada sofa kosong yang ada diruangan itu, yang biasa di tempati tamu jika ingin mengantri menemui Dimas dan Tiara.


"Maaf Nona, karena saya belum menyiapkan ruangan anda hari ini. Apa anda tidak keberatan sementara bekerja di sofa tamu?"


"Apa? Bekerja di sofa tamu, apa maksudmu menyuruhku bekerja disitu, kau tau apa posisiku. Aku ini asisten, yang jabatannya bahkan lebih tinggi dari seorang sekretaris. Apa kau ingin menghinaku dengan menyuruhku bekerja disitu!!" Manda meninggikan suaranya. Bahkan suara itu sampai terdengar ke ruangan Dimas dan Tiara. Tanpa mereka sadari, mereka berdua menghela nafas secara bersamaan.


Astaga Bos Dimas, mengapa kau menjadikan wanita gila ini sebagai asistenmu, batin Erick.


Sementara Mona dan sekretaris Dimas terkekeh geli.


"Begini saja Nona, bagaimana kalau anda mulai bekerja besok saja. Biar saya siapkan ruangan anda terlebih dahulu" Erick mencoba bersabar dengan sikap arogan Manda.


"Bilang daritadi kek, buang-buang waktuku saja. Dan kau, awas kau" ancam Manda menatap Mona yang menertawakan dirinya. Manda lalu berlalu pergi dari ruangan itu dengan kesal.


Sementara Erick mengelus dadanya.


"Astaga bertambah satu lagi monster betina, kapan kau akan menyadari kesalahanmu Bos. Sepertinya kantor ini sebentar lagi akan terdapat banyak drama. Baiklah Erick mulai hari ini kau harus siapkan mentalmu menghadapi kegilaan Bos Dimas dan asisten barunya, gumam Erick lirih, lalu berlalu pergi kembali ke ruangannya sambil terus mengelus dadanya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2