
Sampai di depan tempat pemeriksaan polisi Tiara memulai aktingnya. Ia memegangi perutnya mengeluhkan sakit. Kondisi Tiara yang terlihat pucat dan berkeringat dingin mempermudah aktingnya.
"Pak tolong beri jalan buat mobil kami. Istri saya sedang hamil dan perutnya kram saat ini. Kami harus segera sampai ke rumah sakit saat ini" ujar pria itu meyakinkan polisi. Polisi meminta pria itu membuka pintu samping lalu memeriksa mobilnya. Dan ada juga polisi yang mengamati kondisi Tiara.
Setelah polisi itu yakin Tiara memang butuh pertolongan dan tidak ada orang yang mereka cari di dalam mobil itu. Maka segera polisi itu memerintahkan temannya untuk membuka akses jalan.
"Tiara kok lama banget ya Yang, coba kamu susul" ucap Farih terlihat khawatir. Ia tidak tenang karena Tiara sudah cukup lama belum kembali.
Lia langsung bangun dari duduknya menyusul Tiara ke toilet. Farih yang terlihat tidak tenang akhirnya mengikuti istrinya dari belakang.
Sesampainya di depan toilet wanita, Farih menunggu di depan sementara Lia memasuki toilet itu. Lia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Tiara. Ia juga mengetuk satu persatu toilet yang terlihat tertutup.
Hingga akhirnya tangannya sengaja mendorong pintu yang tertutup karena tak ada jawaban dari dalam. Betapa terkejutnya Lia melihat pria yang pingsan dengan beberapa lebam di wajahnya terduduk diatas toilet dan tak mengenakan pakaian.
Lia segera berlari keluar memberitahu Farih bahwa ada seseorang yang pingsan di dalam. Farih meminta Lia untuk mengabari pegawai kafe dan juga polisi segera. Farih memeriksa denyut nadi pria itu dan juga detak jantungnya dan juga pernapasannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya salah seorang polisi begitu sampai di tempat itu.
"Saya seorang dokter, saya hanya memeriksa keadaannya" jelas Farih. Ia lalu keluar dari bilik toilet setelah menjelaskan kondisi pria itu pada polisi. Ia juga memberitahu polisi perihal hilangnya adiknya yang berpamitan ke toilet sebelumnya.
Polisi dan Farih memeriksa CCTV untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Itu adik saya" tunjuk Farih ketika melihat Tiara di tarik paksa masuk ke dalam bilik toilet. Mereka terus menyaksikan video itu sampai akhirnya mereka melihat Tiara dibawa oleh pria itu keluar dari kafe.
__ADS_1
Polisi itu menggelengkan kepalanya melihat anak buahnya yang berhasil di kelabui pria itu.
"Catat plat mobil ini dan periksa setiap CCTV jalan sekitar sini. Tutup semua akses menuju perbatasan. Jaga ketat bandara, stasiun dan juga pelabuhan" perintah salah satu polisi pada anak buahnya.
"Bagaimana nasib Tiara Mas, apalagi ia sedang mengandung saat ini" tanya Lia pada Farih terlihat khawatir. Farih memijat pelipisnya, ia tidak menyangka hal seperti ini terjadi pada adiknya.
"Aku akan menghubungi suaminya dan juga mengerahkan orang-orang kita untuk mencarinya" ujar Farih mencoba menenangkan kekhawatiran istrinya.
"Jangan khawatir, kami akan berusaha menemukan keberadaan mereka" ujar pimpinan polisi mencoba yang mendengar pembicaraan mereka.
Farih menghubungi Dimas, ingin memberitahu apa yang terjadi pada Tiara. Tapi handphone Dimas tidak aktif. Saat ini Dimas sedang menempuh perjalanan menuju ke Jepang dengan pesawat pribadinya.
Sementara itu di dalam mobil Tiara memohon agar pria itu melepaskannya.
"Diamlah!! Pria itu lalu menepikan kendaraannya. Ia masih belum mau melepaskan Tiara, ia meminta Tiara untuk tetap bekerja sama dengannya jika tidak ingin celaka.
Ia turun dari mobilnya dan menghentikan mobil yang lewat. Ia tidak ingin keberadaannya terlacak jika masih menggunakan mobil itu.
"Pak bisa antar saya sampai jalan raya besar di depan. Mobil kami mogok, dan istri saya juga sedang hamil!" pinta pria itu dengan tetap menggandeng tangan Tiara.
Sampai di depan jalan besar sudah ada mobil yang menjemput mereka. Pria itu membawa Tiara ke markasnya.
Tiara yang kelelahan dan merasa tertekan dengan kondisinya saat ini merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya.
__ADS_1
"Tuan, tolong kepala saya sa..." belum sempat menyelesaikan ucapannya Tiara sudah jatuh pingsan. Untung pria yang berjalan di sebelahnya sigap menangkap tubuh Tiara.
"Panggil Dokter ke ruanganku" ujar pria itu, menggotong Tiara menuju ruangannya.
Pria itu membaringkan Tiara diatas tempat tidurnya dengan hati-hati. Ia meminta salah satu anak buahnya menjaga Tiara hingga dokter datang. Sementara itu ia mengajak salah satu anak buah kepercayaannya untuk berbicara di ruang kerjanya.
"Apa yang terjadi Bos, bagaimana anda bisa tertangkap" tanya anak buahnya yang juga merupakan asisten pribadinya.
"Tadinya aku sedang menyelidiki pabrik itu dengan melamar sebagai karyawan, dan ternyata pabrik itu hanyalah sebuah kedok. Yang terjadi sesungguhnya mereka tidak hanya memproduksi barang tapi juga menimbun senjata yang mereka dapatkan secara ilegal."
"Mereka memfitnahku membunuh teman kerjaku untuk bisa menyingkirkanku." ucap pria itu lagi.
"Lalu apa yang akan anda lakukan Tuan, mereka menuduh anda membunuh teman kerja anda dan juga beberapa polisi. Berita anda sudah tersebar melalui internet Tuan."
"Saya tidak membunuh mereka. Teman kerjaku di bunuh oleh mandor pabrik itu, karena kami tidak sengaja mengetahui tempat rahasia mereka menimbun senjata. Dan petugas polisi itu juga mereka yang membunuhnya. Tadinya mereka juga ingin menghabisiku tapi aku berhasil kabur."
"Musuh kita kali ini tidaklah mudah. Mereka mafia kelas atas, aku tidak yakin bisa menjatuhkan mereka. Aku hanya bisa sembunyi saat ini sambil memikirkan langkah kita selanjutnya."
"Lalu apa yang akan kita lakukan Tuan. Dan wanita itu bagaimana? mengapa anda harus membawanya kemari?"
"Entahlah, pikiranku kacau saat ini. Biar Dokter memeriksanya dan kita putuskan nasibnya setelah itu nanti."
"Jika wanita itu pada akhirnya menyulitkan posisi kita nantinya, ijinkan aku menyingkirkannya Tuan" ujar anak buah pria itu.
__ADS_1
TBC