
Erick dan dua orang yang berhasil menepi meneriaki Dimas yang sepertinya hampir kehilangan tenaganya.
"Tuan berjuanglah ingat Nona Tiara menunggu Tuan. Tuan..."
Aku harus kuat, Tiara menungguku, Batin Dimas. Mendengar nama Tiara membuat semangat Dimas kembali lagi, Dengan sekuat tenaga ia berjuang melawan arus. Setelah agak jauh dari Undercut seorang pelatih yang bersamanya menghampiri dan membantunya sampai ke tepi.
Sampai di tepi karena kelelahan Dimas akhirnya tumbang. Dengan bantuan beberapa warga, mereka di bawa ke rumah sakit milik Tuan Farih.
*************
Di sebuah Rumah yang terlihat mewah dengan pemandangan yang asri. Terlihat seorang pria tampan sedang duduk menikmati secangkir Kopi di temani dengan berkas pekerjaan yang menumpuk di hadapannya.
Tiba-tiba datang seorang pria paruh baya masuk ke ruangan itu.
"Bagaimana Paman, apakah semua sudah beres," Tanya Farih
"Sudah Tuan."
"Kenapa selalu memanggilku Tuan paman. panggilkan namaku saja. Anda sudah saya anggap seperti Ayahku."
"Maaf Tuan, terdengar tidak sopan. Biar saya memanggil Anda tetap dengan sebutan Tuan.
"Terserahlah Paman."
"Semua sudah siap Tuan, Apa Tuan ingin berangkat sekarang?"
"Tunggu sebentar lagi Paman, entah mengapa saya merasa berat meninggalkan tempat ini."
"Oh ya Tuan, ada pesan dari Ayah anda beberapa waktu yang lalu. Non Nita ingin kembali ke negara ini. Tapi Tuan Aziz dan Nyonya masih sibuk dengan urusan disana. Jadi Tuan ingin anda mengawasi Non Nita selama di negara ini."
"Kapan Nita kembali?"
"Kira-kira tiga hari lagi Tuan"
"Bagaimana dengan kelakuannya, apa masih sama?"
" Selama di luar negeri Non Nita sudah tidak pernah ke klub malam ataupun mabuk Tuan. Karena Tuan Aziz mengawasinya dengan ketat. Sepertinya itu yang menjadi alasan Non Nita tidak betah disana dan ingin segera pulang."
"Sulit sekali merubah sifat anak itu, sepertinya aku harus mencari seseorang yang bisa mendidiknya. Memikirkannya selalu membuat kepalaku mau pecah saja. Sudahlah..., Siapkan Helikopter sebentar lagi kita berangkat ke kota C.
"Baik Tuan."
Dengan di bantu pria paruh baya itu Farih merapikan berkas yang ada di mejanya. Ia memasukkan berkas itu ke dalam tas kerjanya. Ia ingin kembali ke kota C sekarang juga.
Farih melangkahkan kakinya menuju ke helikopter di ikuti pria paruh baya itu. Tiba-tiba ia memberhentikan langkahnya. Padahal Helikopter sudah berada tepat di depannya.
"Ada apa Tuan"
"Entahlah Paman perasaanku beberapa hari ini tidak tenang. Bahkan langkah kakiku terasa berat hari ini."
"Apa sebaiknya di tunda dulu kepergiannya Tuan. Tidak baik pergi dalam keadaan resah Tuan."
***********
Di rumah sakit yang baru saja di resmikan. Dimas dan Erick di letakkan di ruang UGD yang bersebelahan.
Dokter memeriksa Dimas yang belum juga sadarkan diri sementara Erick juga ditangani oleh Dokter dan perawat yang membersihkan lukanya. Luka robek akibat tergores batu lumayan dalam. Dokter terpaksa menjahit luka di kaki Erick.
__ADS_1
"Suster apa benar rumah sakit ini milik Tuan Farih" Tanya Erick kepada salah seorang suster.
"Benar, Tuan."
"Bos saya, ingin menemui Tuan Farih, kira-kira dimana kami bisa menemuinya ya Sus."
"Apakah pria di sebelah anda ini bos Anda Tuan."
"Ya, suster?"
"Tempat tinggal Tuan Farih dekat hanya 500 meter dari Rumah sakit ini di sebelah Utara. Tapi yang saya dengar sore ini Tuan Farih akan kembali ke kota. Mungkin beliau sudah berangkat sekarang."
"Apa...? Matilah aku, Tuan Dimas pasti bakalan ngamuk kalau sampai tidak bertemu Tuan Farih, gumam Erick lirih.
"Bisakah saya meminta bantuan anda suster."
"Bisa Tuan."
"Bisakah Suster mengirim seseorang ke rumah Tuan Farih. Tolong pastikan Tuan Farih sudah berangkat ke kota atau belum. Seandainya belum berangkat. Tolong katakan Bos saya ingin bertemu. Ini darurat suster, berhubungan dengan hidup dan mati. Tolonglah Suster" ucap Erick memohon.
"Baik Tuan, saya akan meminta bantuan pada salah satu warga untuk menyampaikan pesan Tuan" Suster itu pun melangkah ke luar ruangan.
"Tunggu..." Erick menghentikan langkah kaki suster itu. Suster itu pun kembali mendekat.
"Ada apa Tuan?"
"Ini, Tolong berikan kepada pengantar pesan" Erick Menyodorkan selembar uang merah.
"Tidak perlu Tuan, warga disini sudah terbiasa saling menolong. Jadi tidak perlu.
"Nggak apa suster, tolong di terima saya ikhlas."
Suster itupun melangkah keluar ruangan meninggalkan Erick dan Dimas di ruangan itu.
Dimas masih belum sadarkan diri, saat ini tangannya terdapat infus untuk memulihkan kondisinya.
"Tuan, cepatlah bangun Tuan. Non Tiara menunggumu. Anda juga harus mencari Tuan Farih. Tuan..." Erick terus memanggil-manggil Dimas ia berharap Dimas segera sadar. Saat ini Kaki Erick masih dalam pemulihan, ia tak bisa bergerak bebas. Ia berharap Dimas segera sadarkan diri.
Tak lama Dimas mengerjapkan matanya, dengan perlahan ia membuka matanya. Ia menatap bingung sekelilingnya sepertinya ia Balum ingat apa yang terjadi sebelumnya. Hingga tatapan matanya bertemu dengan asistennya.
"Syukurlah anda sadar Tuan."
"Kenapa kita disini Rick, terus kakimu kenapa bisa di perban gitu."
"Apa Tuan lupa, kita kemari mencari Tuan Farih dan kita hampir terseret arus. Un..."
"Oh ya aku ingat" Dimas langsung bangun begitu sadar tujuannya. Tapi rasa sakit di kepalanya menghentikan langkahnya.
"Tuan tenang dulu, saya sudah meminta tolong seseorang untuk mencari Tuan Farih."
Dimas akhirnya kembali duduk ia mencoba menenangkan diri, menghilangkan ras sakit di kepalanya.
Tak lama seorang suster datang menghampiri Dimas.
"Syukurlah Anda sudah sadar. Apa tubuh anda ada yang sakit Tuan." Tanya suster itu.
"Kapala saya masih sedikit pusing Sus"
__ADS_1
"Saya cek tekanan darah dan suhu tubuhnya dulu ya Tuan."
"Oh ya Tuan, tadi warga yang saya mintain tolong menyampaikan pesan ada. Sudah datang ke rumah tuan Farih. Tapi sayang tuan Farih tidak ada di rumah. La..."
"Apa suster, Bagaimana bisa. Memangnya kemana dia?" Dimas memotong pembicaraan suster itu.
"Tenang dulu Tuan, Tuan Farih memang tidak ada di rumah karena orang rumah mengatakan Tuan Farih baru saja berangkat ke landasan Helikopter karena ingin kembali ke kota. Jadi Ia menyusul Tuan Farih ke sana. Untung Helikopter Tuan Farih belum berangkat. Jadi orang itu menghentikan Tuan Farih yang sudah masuk kedalam Helikopter dan siap berangkat."
"Syukurlah" Dimas menghela nafasnya lega.
"Lalu dimana saya bisa menemui Tuan Farih."
"Tuan Farih mengirim seseorang kemari untuk menemui anda dan Ia ada diluar sekarang, tunggu sebentar biar saya panggilkan."
Tak lama masuklah seorang pria paruh baya yang biasa Farih panggil dengan sebutan Paman memasuki ruangan dimana Dimas dan Erick berada.
"Perkenalkan saya Bayu. Saya asisten dari Ayah Tuan Farih. Ada yang bisa saya bantu."
"Saya ingin bertemu Tuan Farih sekarang juga, ini sangat penting" ucap Dimas.
"Baiklah saya akan membawa Tuan Farih kemari."
"Tidak perlu Pak, cukup antar saya menemui Tuan Farih sekarang. Saya tak ingin membuang-buang waktu lagi. Suster tolong lepas infus saya."
"Tapi Tuan kata Dokter, Tuan harus menghabiskan infus ini dulu baru boleh di lepas."
Dimas yang tak sabaran mencabut jarum infus itu sendiri. Suster yang terkejut dengan kelakuan Dimas, akhirnya membantu Dimas ia menekan aliran darah yang keluar akibat jarum yang di lepas paksa kemudian memperban luka itu.
"Mari Pak kita berangkat sekarang."
Dimas tidak memperdulikan larangan suster untuk istirahat sejenak. Suster itupun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Apa anda yakin Tuan, wajah anda masih terlihat pucat. Sebaiknya anda istirahat dulu."
"Tidak saya baik-baik saja, mari." Dimas bangun dari tidurnya di bantu oleh Bayu. Dengan langkah sempoyongan ia keluar ruangan.
Sementara Erick hanya menggelengkan kepalanya menatap kepergian bosnya. Ia tau melarang bosnya adalah hal yang Sia-sia. Bosnya adalah orang yang keras kepala. Ia juga tidak bisa mengikuti kepergian bosnya karena luka di kakinya. Ia hanya bisa menghela nafasnya kasar.
Suster yang tak tega melihat kondisi Dimas yang terlihat masih pucat mengambil kursi roda dan meminta Dimas untuk duduk di kursi roda itu. Dibantu oleh Bayu yang mendorong kursi roda Dimas akhirnya mereka meninggalkan rumah sakit itu.
********
Sementara di lorong rumah sakit seseorang sedang menuju ke tempat dimana Tiara berada. Langkah kakinya yang pasti dengan tubuh tegap, Wajah Tampan dengan rahang yang tegas dan warna kulit sawo matang.
Ia melangkahkan kakinya, tanpa perduli pandangan orang disekitarnya.
Sesampainya di depan ruangan itu, Andini menghalangi langkahnya yang ingin memasuki ruang rawat Tiara.
"Berhenti, Siapa Anda?" tanya Andini melihat pria asing di hadapannya. Walaupun Jujur. saja ia sempat terpesona dengan tatapan dingin pria itu.
Pria itu membuka kaca matanya, dan menoleh kearah pengawal yang duduk di depan ruangan Tiara. Seketika para pengawal berdiri dan menunduk hormat pada pria itu.
"Biarkan Ia masuk" Ucap pengawal itu kepada Andini. Akhirnya Andini menggeser tubuhnya membiarkan pria itu masuk ke ruangan Tiara.
"Siapa dia?" tanya Andini pada salah satu pengawal.
"Dia....
__ADS_1
TBC