UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Manda Vs Tiara.


__ADS_3

"Apakah kita jadi menengok kawan lama Mas?" tanya Tiara.


"Jadi sayang. Kau bersiaplah, Mas akan mandi terlebih dahulu."


Mudah-mudahan Manda tidak mengatakan sesuatu yang akan membuat Tiara terluka, batin Dimas.


Dimas segera merampungkan Mandinya. Keluar dari kamar mandi menatap istrinya yang sudah tampil cantik dengan makeup sederhana.


Dimas memeluk Tiara dari belakang dan mencium ceruk leher Tiara.


"Masku, lepasin geli."


"Sebentar lagi sayang, biarkan seperti ini dulu. Ada hal penting yang ingin mas katakan"


"Ada apa Mas? Apa ada masalah penting apa, mas kelihatan tegang sekali" Tiara menolehkan kepalanya menatap Dimas yang masih enggan melepaskan pelukannya.


"Ayo duduk sini" Dimas menarik lembut tangan Tiara dan menyuruhnya duduk di pinggiran tempat tidur.


"Mas sebaiknya ganti baju dulu. Baru setelah itu kita bicara Mas."


"Tidak sayang, Mas mau bicara sekarang. Kalau di tunda lagi mas takut akan lupa mengatakannya."


"Begini sayang, sebenarnya kawan lama yang akan kita kunjungi adalah Mantan kekasih Mas. Mas kenal dengannya dari kami kecil dan Mas mulai berpacaran ketika mas duduk di bangku SMA. Tapi pada saat Mas kuliah di luar negri, ia tiba-tiba menghilang. Dan kemarin mas tiba-tiba mendapat kabar dari sahabatnya bahwa dia bersembunyi selama ini karena mengobati penyakitnya."


"Kemarin sebelum operasi ia ingin berjumpa dengan mas. Sebenarnya Mas malas menemuinya dan meladeninya. Tapi karena Sahabatnya mengatakan kemungkinan keberhasilan operasi kecil. Jadi mas menyetujuinya. Apalagi dia dulu adalah orang yang selalu berada di sisi Mas disaat Mas terpuruk."


"Jadi Mas mengunjunginya hanya sebagai balas Budi Mas. Terhadap apa yang pernah ia lakukan dulu. Tidak ada maksud yang lain. Kamu tidak marahkan kalau mas peduli padanya hanya sebatas kenalan lama saja."


"Kenapa Masku menceritakan semua ini padaku" tanya Tiara.


"Mas hanya tidak ingin kau mendengar hal yang tidak-tidak dari orang lain. Apapun yang terjadi percayalah sama Mas. Mas hanya mencintaimu sayang, kamu adalah masa depan Mas. Jadi apapun yang terjadi tetaplah bertahan di samping Mas. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan Mas."


"Tiara percaya sama Mas, tapi Tiara tidak percaya dengan wanita itu. Jadi Mas jangan pernah menemuinya tanpa Tiara."


"Iya sayang, mas akan turuti apapun maumu. Yang terpenting jangan pernah berpikir untuk meninggalkan Mas."


"Mas nggak perlu khawatir, Tiara tidak akan meninggalkan Mas. Ayo mas kita berangkat."


Dimas dan Tiara pergi ke rumah sakit menggunakan mobil pribadi. Di sepanjang perjalanan Tiara dan Dimas menceritakan masa lalu mereka masing-masing. Dimas merasa lega setelah menceritakan semua masa lalunya dengan istrinya. Ia tidak ingin istrinya salah paham padanya.

__ADS_1


"Sudah sampai sayang, ayo turun."


Dimas membukakan pintu mobil dan menggandeng tangan istrinya. Di sepanjang perjalanan ia sesekali tersenyum dan mencuri pandang pada wajah Istrinya.


Sesampainya di ruangan Manda Dimas sedikit terkejut karena kamar itu kosong tak berpenghuni. Bahkan tempat tidurnya rapi seperti tidak ada jejak orang yang oernah tidur disana.


"Maaf Suster, pasien dikamar ini kemana ya?"


"Pasien, dikamar ini. Maksud bapak."


"Begini suster saya kemarin mendapatkan informasi dari teman saya. Katanya pasien yang bernama Manda setelah operasi ia dirawat di ruangan ini."


"Pasien bernama Manda, tapi sepertinya tidak..."


"Maaf Pak pasien yang bernama Manda sedang melakukan Rontgen di ruangan lain. Dan akan ada beberapa pemeriksaan lainnya yang akan dilakukan oleh Dokter. Jadi kemungkinan setengah jam lagi pasien Manda baru bisa kembali ke ruangannya. Tuan bisa menunggu di dalam" Tiba-tiba datang seorang perawat laki-laki yang menyela ucapan suster itu.


"Bagaimana sayang? ingin menunggunya atau kita pergi ke tempat lain terlebih dahulu."


"Kita tunggu di dalam saja ya Mas."


Dimas menganggukkan kepalanya, ia lalu menggandeng tangan Tiara memasuki ruang rawat inap.


"Ssuutt kau diamlah, tidak perlu ikut campur. Kau awasi saja kedua orang itu. Kalau mereka sampai meninggalkan ruangan itu. Tolong kau hubungi aku."


"Memangnya kau mau kemana?"


"Ada hal penting yang harus aku lakukan, kau laksanakan saja perintahku. Akan ada bonus untukmu, jika kau mendengarkan kata-kataku."


Perawat itu kemudian segera pergi. Ia merogoh handphone yang ada di kantong celananya dan menghubungi seseorang.


"Nona, pria yang kemarin mengunjungi anda datang lagi Nona. Ia saat ini menunggu Anda di ruangan rawat inap."


"Baiklah, aku akan segera kesana. Lima belas menit lagi aku sampai. Ingat jangan katakan apapun yang akan membuatnya curiga."


"Jangan khawatir Nona, semua aman dan terkendali."


Manda tersenyum penuh arti menatap ponselnya.


"Yes, dia datang. Itu berarti ia masih peduli padaku. Lihat bagaimana aku akan menaklukkanmu kembali" gumam Manda lirih. Dengan wajah penuh senyuman Manda segera menuju ke mobil. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berharap ia cepat sampai dan bisa bermanja-manja dengan pujaan hatinya.

__ADS_1


Tepat lima belas menit Manda sampai di rumah sakit. Ia menggunakan kacamata, masker dan menutupi kepalanya dengan selendang. Ia tidak ingin kalau Dimas mengetahui rahasianya.


Manda memasuki rumah sakit itu melalui jalan belakang. Dengan bantuan beberapa suster wanita dan seorang Dokter yang telah ia bayar sebelumnya ia mengganti seluruh pakaiannya dan mengubah riasan Wajahnya agar terlihat pucat. Kemudian ia duduk diatas kursi roda.


"Dimas" sapa Manda begitu ia sampai di ruangannya. Ia sampai di ruangannya dengan bantuan seorang suster yang mendorong kursi rodanya. Dan disebelah Manda juga berdiri seorang dokter wanita.


Wajah Manda yang sebelumnya tersenyum senang tiba-tiba mendadak muram. Begitu melihat sosok wanita muda yang sangat cantik duduk di samping Dimas.


Kenapa dia menatapku seperti itu, batin Tiara. Ia lalu bergelayut manja pada suaminya itu, menatap seorang wanita yang memandangnya dengan pandangan tidak suka.


"Oh ya Manda, ini Tiara istriku."


"Dimas bisakah kau membantuku? Tolong angkat aku untuk naik ke atas tempat tidur" ucap Manda manja mengabaikan ucapan Dimas.


Dimas menatap bingung ke arah Manda ia kemudian berbisik di telinga istrinya yang sejak kedatangan Manda selalu menempel padanya.


"Bagaimana ini sayang. ia meminta suamimu untuk menggendongnya" bisik Dimas.


"Maaf Tante, sepertinya suamiku tidak bisa mengangkat tubuh anda. Semalam tangannya terkilir saat di tempat tidur. Tante ngertikan maksud aku. Apalagi sepertinya tubuh Tante lebih besar dariku" ucap Tiara manja sambil menyenderkan tubuhnya pada suaminya.


"Tante..., Kau memanggilku Tante. Dan apa maksudmu dengan bentuk tubuhku" Manda menatap kesal kearah Tiara. Dimas tersenyum menatap ke arah istrinya.


"Suamiku sayang apa tanganmu masih sakit karena semalam?" tanya Tiara manja pada Dimas mengabaikan ucapan Manda.


"Ya sayang ini masih sangat sakit, sepertinya semalam aku terlalu bersemangat hingga aku tak menyadari. Bahkan tubuhku juga masih terasa pegal" ucap Dimas tak kalah manja, membuat Manda melongo menatapnya. Pasalnya selama bersama dengannya Dimas tidak pernah bersikap manja.


"Sepertinya malam ini kita tidak bisa melakukannya. Kau harus beristirahat sayang, sampai tanganmu sembuh kembali" Tiara menatap tangan suaminya dengan wajah khawatir.


"Tidak, kau tidak boleh melarangku kita akan tetap melakukannya. Dan malam ini, kau yang harus banyak bekerja keras sayang."


"Eheeemmm" Manda berdehem untuk menghentikan Dimas dan Tiara yang sedang memamerkan kemesraannya.


"Biar saya panggil teman saya untuk mengangkat Nona." ujar suster yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka.


Sial, ternyata wanita ini tangguh juga. Lihat saja permainanku selanjutnya. Aku akan benar-benar memisahkan kalian berdua, gumam Manda menatap kesal ke arah Tiara.


TBC.


Mohon maaf beberapa hari ini tidak bisa up, karena kondisi yang tidak memungkinkan. Terimakasih buat dukungannya. 🙏 Jangan lupa like vote dan komentarnya terimakasih. 🙏😘

__ADS_1


__ADS_2