
"Dia nih adikku. Lagian ya, bisa-bisanya manggil adik aku Kakak tampan dan kau panggil aku om. Sejak kapan aku nikah sama Tantemu!!" Protes Dimas.
"He he... peace om, peace, kita damai aja ya om. Ini perutku laper om nunggu om dari pagi nggak datang-datang" keluh gadis itu sambil mengacungkan kedua jarinya ✌️
"Ada sayuran dan daging mentah di kulkas, kau masak sendiri sana."
"Kakak tampan" gadis itu menatap Michael lesu.
"Aku tidak bisa memasak" Michael menyerah mengangkat tangannya.
"Hah ternyata kita disini sekumpulan orang yang tak berguna karena tak bisa menyenangkan perut sendiri" Keluh gadis itu cuek sambil menuju ke dapur. Gadis itu mengambil beberapa potong roti yang ada di meja dan mengolesinya dengan selai.
Dimas mengabaikan gadis itu ia menuju kamarnya dan bersiap untuk mandi.
"Siapa namamu gadis kecil?" tanya Michael ikut duduk di meja makan.
"Namaku Nara, Aku bukan gadis kecil Kak."
"Masih lapar?" tanya Michael.
"Ya, menyesal aku tadi buru-buru kabur jadi nggak sarapan deh. Mana dompet juga ketinggalan dirumah" keluh gadis itu. Ya Nara terpaksa mendatangi rumah Dimas karena ia tidak membawa uang maupun kartu kredit yang dimilikinya. Ia bahkan memberikan cincin mahalnya pada supir taksi untuk sampai di rumah Dimas.
"Masih kecil suka kabur, bolos lagi! Sebaiknya jangan kau ulangi perbuatanmu ini, kasihan kedua orangtuamu yang sudah bersusah payah mencari nafkah."
"Mereka tidak akan perduli" ucap Nara acuh.
Michael mengambil handphone di saku celananya lalu memesan makanan melalui aplikasi.
Dimas, Nara dan Michael makan dengan tenang.
"Kak, aku pamit pulang dulu ya. Masih banyak yang harus aku persiapkan" ucap Michael.
"Kau bawa sekalian bocah pengganggu ini bersamamu, antar dia pulang ke rumahnya." ujar Dimas.
"Kok gitu sih om,.aku kan belum mau pulang" protes Nara.
"Aku nggak perduli kamu mau pulang atau kemanapun yang jelas bukan dirumahku. Aku ingin istirahat dan aku nggak mau terganggu dengan suara berisikmu itu."
"Ya sudah antar aku ke Mall aja Kak atau ikut ke rumah Kakak juga boleh" ucap Nara asal.
"Kamu ini perempuan nggak ada malunya sama sekali ya. Bisa-bisanya mau ikut ke rumah pria yang baru kamu kenal. Kalau di perkosa habis kau!" Dimas mentonyor jidat Nara.
__ADS_1
"Ya nggak Papa om, Kakaknya tampan kok. Yang penting habis itu Nara dinikahin. Kakak maukan nikah sama Nara. Nara ini cantik, anak orang kaya, baik hati dan tidak sombong. Pokoknya Kakak nggak bakalan rugi nikahin Nara" ucap Nara mempromosikan dirinya.
Michael hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya mendengar ocehan gadis itu.
"Anak orang kaya, nebeng makan dirumah orang" sindir Dimas.
"Om ini selalu menghilangkan mood ku."
"Ayo Kakak tampan kita pergi dari sini" Nara bangun dari duduknya dan menarik Michael tanpa aba-aba.
"Sebentar Nara, kau membuatku hampir terjatuh" Michael berpegangan pada meja makan. Tarikan Nara lumayan kuat untuk gadis seusianya.
Michael dan Nara keluar bersamaan. Michael menurunkan Nara di pusat perbelanjaan sesuai keinginan Nara.
"Apa?" tanya Michael ketika Nara tak juga turun dari mobilnya dan menatap Michael dengan Puppy eyes.
"Dompetku tertinggal dan aku tak membawa uang sama sekali. Boleh aku pinjam uang Kakak. Aku janji akan mengembalikannya nanti."
"Ini ambillah cukup untuk ongkos pulang dan belanjad" mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari dompetnya.
"Terimakasih Kakak tampan. Oh ya, tolong tulis nomor handphone Kakak disini aku akan menghubungi Kakak untuk mengembalikan uang Kakak nanti.
Nara menyodorkan kertas dan pulpen tetapi ditolak oleh Michael.
"Terimakasih Kak, tapi aku pasti akan mengembalikannya nanti saat bertemu denganmu" Nara turun dari mobil dan memasuki pusat perbelanjaan.
Sampai dirumah Michael mendapat telpon dari anak buahnya yang bernama Adam. Ia adalah salah satu orang kepercayaannya yang sudah lama bekerja dengannya.
"Bagaimana Dam?" tanya Michael.
"Ada pergerakan yang mencurigakan yang terjadi di gudang senjata Tuan"
"Maksudmu?"
"Banyak mobil keluar masuk dan mendapatkan pengawalan ketat."
"Kau awasi terus jangan sampai kecolongan kalau perlu ikuti juga kemana mobil itu pergi. Dan terus hubungi aku setiap ada hal yang mencurigakan" Michael meminta anak buahnya berbagi tugas. Sebagian standby mengawasi gudang dan sebagian lagi mengikuti kemana mobil-mobil itu pergi.
"Baik Bos" Adam menutup panggilan telponnya.
Satu jam sudah berlalu sejak laporan itu diterima tapi tak ada kabar lagi dari anak buahnya. Michael yang terlihat khawatir mencoba menghubungi anak buahnya tapi tak ada jawaban sama sekali. Hingga ia memutuskan pergi untuk mendatangi Dimas.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Dimas heranmelihat Michael sudah ada di apartemennya lagi.
"Anak buahku yang mengintai gudang senjata tidak bisa aku hubungi setelah mereka tadi melaporkan adanya kegiatan yang mencurigakan di gudang senjata itu" jelas Michael terlihat khawatir.
"Sepertinya situasi sudah tidak memungkinkan untuk kita menunda penggerebekan. Aku akan menghubungi Kepala kepolisian untuk melakukan penggerebekan sekarang juga."
"Aku juga berpikir begitu. Apa mungkin ada ank buah kita yang berkhianat dan membocorkan pengintaian kita ini?" tanya Michael.
"Kita bahas nanti saja, aku akan menghubungi kepala kepolisian terlebih dahulu."
Berdasarkan informasi dari Dimas akhirnya penggerebekkan dilakukan saat itu juga. Mereka melakukan penggerebekan di pabrik obat-obatan dan gudang senjata secara bersamaan. Mereka juga bersiap menggerebek kediaman Katsuro Dasuki untuk menangkapnya dan istrinya Aiko berdasarkan bukti-bukti yang sudah mereka kumpulkan.
Penggerebekan di pabrik obat-obatan berjalan sukses. Mereka berhasil menangkap semua yang terlibat dalam pembuatan obat palsu dan peredaran obat kadaluarsa.
Sedangkan untuk penggerebekkan di gudang senjata mereka mengalami kegagalan. Gudang senjata kosong bahkan tak ada satu orangpun yang ada di gudang itu. Dan tak jauh dari gudang polisi menemukan beberapa mayat yang tergeletak yang ternyata merupakan orang suruhan Michael.
"Adam!!! bangun Dam, bangun!!!" Michael teriak histeris mendapati anak buahnya yang merupakan orang kepercayaannya mati bersimbah darah tak jauh dari pabrik.
"Mike! hentikan, dua sudah meninggal" ucap Dimas menghentikan Michael yang histeris dan mengguncang tubuh anak buahnya.
"Bagaimana bisa ini terjadi Kak, kita bekerja hati-hati dan penuh perhitungan. Bagaimana mungkin bisa gagal dan mencelakai mereka?" teriak Michael tak terima.
"Tenangkan dirimu, kita pasti akan menemukan penyebab kegagalan ini" ujar Dimas mencoba menenangkan Michael.
"Roy!! Selidiki semua ini dan bawa pengkhianatnya padaku, aku tidak akan mengampuninya" Michael terlihat marah, dengan mata merah dan tangan mengepal ia berusaha untuk menenangkan diri.
"Mike, apa saat kau bersama Nara secara tak sengaja kau ada membahas masalah penggerebekan gudang senjata?" tanya Dimas tiba-tiba.
"Apa maksudmu kak?" tanya Mike bingung.
"Jawab saja pertanyaanku!" Dimas terlihat tak sabaran menunggu jawaban Michael.
"Aku ingat waktu aku di mobil bersama Nara, Adam ada menghubungiku dan aku memintanya untuk membantu pengawasan gudang senjata sebelum penggerebekan kita lakukan."
"Kalau begitu aku sudah tahu siapa pengkhianatnya!" Dimas terlihat menghela nafasnya kecewa. Tidak disangka ini semua terjadi juga akibat kecerobohannya.
"Apa maksud Kakak? Siapa pengkhianatnya? Apakah Nara? Bagaimana mungkin? Apa hubungannya dengan ini semua?" tanya Michael mencerca Dimas.
"Maaf, Ini salahku tidak memperingatkanmu sebelumnya, sebenarnya Nara adalah putri tunggal Katsuro Dasuki."
"Apa?!!! Mike terlihat terkejut mendengar kenyataan ini.
__ADS_1
"Tuan, penggerebekan di rumah Tuan Katsuro Dasuki gagal, mereka hanya mendapati pelayan saja. Sedangkan Tuan Katsuro dan istrinya sudah tidak ada di tempat." Anak buah Dimas melaporkan informasi yang ia dapat dari kepolisian.
TBC