UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Pertemuan Dimas dan Tiara.


__ADS_3

Dimas menghubungi anak buahnya, ia ingin memberikan hadiah terbaik buat Raja yang sudah berani mempermainkannya.


Melajukan mobilnya dengan kencang, menuju ke tempat Tiara berada. Ia tak ingin istrinya berjuang sendirian, mereka akan menghadapinya bersama.


Menerobos barisan pengawal dan tak perduli dengan tatapan heran orang Dimas berlari maju. Pengawal tidak menghalangi Dimas karena Dimas diikuti oleh pengawal raja.


Penampilan Dimas yang sebagai pria tulen memudahkannya untuk melompati pembatas kapal. Ia ingin bertemu Tiara sebelum kapal di jalankan.


Dimas menatap Tiara dari jauh, 2 orang pengawal sedang mengenakan baju selam untuk Tiara, Dimas menatap geram dan miris.


"Sayang" Dimas memeluk Tiara tak perduli dengan tatapan pengawal disekitarnya. Ia mengecup kening istrinya itu.


"Mas kok ada disini?" tanya Tiara bingung. Bukankah raja berjanji akan menemukan Tiara kalau tugasnya yang diminta oleh raja selesai.


"Mas menjemputmu, kita pulang ya sayang" Dimas melepaskan baju selam Tiara, ia tak tega jika istrinya yang hamil harus mengenakan itu semua, belum lagi tabung oksigen yang berat. Tidak, Dimas tidak akan mengijinkannya.


Dimas mendapatkan perlawanan dari para pengawal, teriakan Dimas menghentikan mereka.


"Jika kalian menghalangiku, akan aku bongkar kebusukan pangeran kalian. Aku akan keluarkan istriku dari negara ini dengan caraku, tanpa satupun orang yang akan mencurigainya. Tapi kalau kau masih menghalangiku maka aku akan bisa berbuat nekat yang akan merugikan kerajaan kalian" ancam Dimas.


Pengawal kepercayaan raja yang berada disana meminta pengawal yang lain mundur. Ia membiarkan Dimas melakukan apapun asalkan itu tidak merugikan maupun menodai reputasi kerajaan.


Dimas meminta sebuah peti kemas dari bahan kayu, ia melapisi bagian bawah peti kemas itu dengan busa lembut. Ia meminta Tiara masuk ke dalamnya.


"Jangan khawatir sayang, semua akan baik-baik saja" Dimas kembali mengecup kening istrinya. Batinnya miris harus melakukan ini semua, dengan hati-hati Dimas menutup peti kemas yang ada Tiara di dalamnya.


Dimas meminta pengawal membawa Peti kemas itu ke bagian paling atas kapal. Tak lama sebuah helikopter datang dan terbang tepat di atas kapal. Itu adalah helikopter yang ia siapkan untuk membawanya dan juga Tiara.


"Sebaiknya kalian pergi dari sini karena kapal ini akan segera meledak. Oh ya aku juga menyiapkan hadiah terbaik buat Rajamu. Dia ingin meledakkan kapalnya bukan, aku sudah membantunya menaruh bom di 10 kapal milik kerajaan. Jadi sebaiknya kalian ungsikan orang-orang kalian sebelum ada timbul korban jiwa. Waktu kalian 15 menit dari sekarang" ucap Dimas langsung masuk ke dalam helikopter. Puas rasanya sudah memberikan Tua bangka itu pelajaran.


"Kau!!" teriak pengawal itu tak bisa berbuat apa-apa. Ia harus segera mengamankan orang-orang agar tidak timbul korban jiwa.


Benar saja setelah kurang lebih lima belas menit terdengar suara ledakan keras. Ledakkan pertama terjadi pada kapal yang di naikki Tiara, lalu terdengar ledakan kembali saling bersautan.

__ADS_1


Asap tebal dan hitam membumbung di langit di atas pelabuhan negara itu. Pelabuhan hancur rata dengan tanah karena rata-rata Kapal yang di ledakkan anak buah Dimas adalah Kapal yang sedang bersandar di pelabuhan.


Kerugian tak terkira di alami oleh kerajaan karena kapal itu adalah kapal muatan barang komoditi ekspor impor milik kerajaan. Tapi raja tidak bisa berbuat apa-apa mengingat ia lebih mementingkan nama baik penerusnya.


Ini adalah pelajaran buatnya karena bermain-main dengan Dimas.


Anak buah Dimas segera membuka peti kemas, Dimas mengeluarkan Tiara dengan hati-hati. Ia kembali memeluk istrinya lega karena sebentar lagi mereka akan keluar dari negara terkutuk ini.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku" Dimas bersimpuh di depan Tiara. Ia merasa bersalah karena merasa gagal menjaga Tiara.


"Mas, apa yang kau lakukan!" Tiara ingin ikut bersimpuh tapi Dimas menahannya ia memeluk perut Tiara dan mengecupnya.


"Aku janji akan menjagamu dan Ibumu dengan benar kali ini" janji Dimas pada calon bayinya.


Tiara yang melihat Dimas menangis menghapus air matanya.


"Kau adalah suami terbaik dan ayah terbaik di dunia. Aku bangga memilikimu" ucap Tiara meminta Dimas untuk berdiri.


Dimas meminta Tiara untuk duduk ia memasang sabuk pengaman untuk Tiara. Pemandangan romantis itu membawa rasa haru tersendiri buat anak buah Dimas yang menyaksikannya.


Setelah kepergian Mike, Dewi tidak lagi bersikap baik pada Nara. Ia memerintah Nara layaknya seorang Babu.


"Bersihkan kamarku sampai tak ada satupun debu yang menempel. Awas kalau sampai kau melakukannya dengan tidak benar!!" Dewi berkacak pinggang di depan Nara untuk terus bersih-bersih.


Ia tidak mengijinkan Nara sedikitpun beristirahat, selalu saja ada pekerjaan yang harus ia lakukan. Ini adalah bentuk balas dendam Dewi. Bagaimana mungkin ia membiarkan anak pembunuh kakaknya hidup nyaman bersamanya.


"Ingat habis ini kau harus membersihkan rumput di halaman belakang, awas saja sampai kau mengadu dan menjelek-jelekkan aku di depan Kak Mike" ancam Dewi.


Nara hanya mengangguk saja setiap Dewi memerintahnya, sebab jika ia menolak Dewi tidak akan segan-segan menarik rambutnya hingga rontok.


Kuat Nara kau pasti kuat, batin Nara menjerit.


Cuaca begitu terik padahal sudah hampir sore, Dewi terus mengawasi Nara dan tak mengijinkannya untuk makan maupun minum. Ia hanya sarapan roti di pagi hari tadi dan segelas susu saat Mike masih ada di rumah.

__ADS_1


Nara memegangi perutnya yang terasa perih, ia menatap Dewi yang mengawasinya sambil memakan buah dan segelas es jeruk segar. Nara memegang tenggorokannya yang terasa kering.


"Ngapain lihat-lihat selesaikan tugasmu, awas saja kalau sampai kau mengadu!" Dewi tak bosan-bosannya mengingatkan Nara.


"Kau dengar tidak perkataanku!!" teriak Dewi nyaring ketika melihat Nara sibuk mencabuti rumput dan mengabaikannya.


"Bukankah kau sendiri yang bilang aku harus cepat" jawab Nara sudah merasa jengah dengan sikap Dewi yang semena-mena padanya.


"Baguslah kalau kau mengerti" ucap Dewi kembali menikmati es jeruknya.


"Ah segarnya" ucap Dewi membuat Nara menelan salivanya.


Nara menghapus keringat yang menetes di sekitaran wajahnya menggunakan lengannya. Jari-jari mungilnya penuh dengan tanah karena ia gunakan untuk mencabut rumput.


Seorang pelayan datang tergopoh-gopoh ke belakang, membuat Dewi terkejut.


"Ada apa?" tanya Dewi.


"Tuan Mike, datang Nona."


"Apa!!" Dewi terkejut, ia langsung menghampiri Nara dan menyuruhnya untuk cuci tangan dan mukanya. Ia juga meminta Nara untuk duduk di tempat yang sebelumnya Dewi duduki.


"Apa yang kau lakukan panas-panas begini Dewi" Tanya Mike. Ia ingin melihat kondisi Dewi dan Nara, apakah mereka rukun atau bertengkar kembali pada saat ia tidak ada dirumah.


Pelayan yang mendorong kursi roda Mike bungkam pura-pura tidak tahu. Dewi telah mengancam seluruh pelayan dan penjaga rumah tentang kelakuannya.


"Ini Kak, Nara bilang rumput di belakang ini mengganggu pemandangannya jadi ia memintaku untuk membersihkannya" ucap Dewi dengan Nada sedih sambil menunjukkan tangannya yang kotor. Padahal ia sengaja mengotori tangannya ketika tahu Mike menuju ke taman belakang rumah.


"Nara, membersihkan rumput bukan tugas Dewi. Kau bisa menyuruh tukang kebun jika tidak menyukai pengaturan taman disini" ucap Mike, ia tidak menyangka kalau Nara berani memerintah Dewi.


"Tapi Kak..." Belum juga Nara selesai bicara Dewi menatapnya tajam.


"Maaf Kak, Nara salah" ucapnya tertunduk. Ia takut melihat tatapan Dewi yang seolah ingin mencabik-cabiknya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2