
Michael membawa Nara masuk kedalam mobilnya. Ia mendorong kasar Nara untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Berani kau kabur dariku, aku tidak akan segan-segan menembak kakimu" Ancam Michael pada Nara.
Nara terdiam ia tak berani berkutik, ekspresi Michael terlihat berbeda dari awal mereka bertemu. Tatapan pria tampan itu terlihat dingin dan menyeramkan. Berbeda saat pertemuan pertama mereka, Michael terlihat ramah dan murah senyum terhadapnya.
"Ma-maaf" ucap Nara lirih, terdengar samar-samar di telinga Michael.
Michael tertawa dengan nada mengejek, ia terlihat sangat membenci wanita yang ada di sebelahnya saat ini. Michael bisa memaafkan kesalahan orang lain kecuali satu hal PENGKHIANATAN, ia paling benci dengan pengkhianat. Ia tak segan-segan menghabisi anak buahnya yang telah berkhianat padanya. Pengalamannya mengajarkan uuntuk tidak bertoleransi pada para pengkhianat.
Entah apa yang direncanakan Michael untuk memberi pelajaran pada Nara.
"Keluar!" Michael membuka pintu mobil dan menarik Nara keluar.
"Pelan-pelan Kak sakiiitttt!" keluh Nara.
"Kau baru merasakan sakit belum merasakan mati!!" kesal Michael.
Michael membawa Nara ke apartemennya setelah melalui banyak pertimbangan. Karena tidak mungkin jika membawa Nara ke penginapan Dimas yang berisik belum lagi para tetangganya yang suka kepo dengan urusan orang lain.
"Kakak tolong jalannya pelan-pelan, Nara nggak akan kabur kok" Nara terlihat terseok-seok mengikuti langkah Michael karena Michael berjalan cepat sambil menarik tangan Nara.
"Diam!! berisik" Michael tak mengindahkan permintaan Nara. Ia berjalan semakin cepat, Nara terpaksa setengah berlari untuk mengimbangi kecepatan jalan Michael.
Sampai di dalam apartemen Michael menyuruh Nara untuk duduk di sofa panjang miliknya.
"Kau tahu apa kesalahanmu!!" Tanya Michael mengintrogasi.
Nara menganggukkan kepalanya.
"Maaf" ucap Nara.
"Kau tahu akibat perbuatanmu ada berapa nyawa yang melayang. Aku mempercayaimu dan menganggapmu layaknya seorang teman walaupun kita baru pertama kali bertemu. Tapi inikah balasanmu!"
"Ma-maaf, maaf, maaf, maaf, maaaaffffff huwaaaa.....aaaaa...." tangis Nara tak tertahankan. Ia baru saja kabur dari persembunyian Ayahnya karena di marahi habis-habisan oleh ayahnya Katsuro. Niat hati ingin jalan-jalan ke Mall untuk menghilangkan penat. Eh, malah tertangkap.
"Kenapa menangis? aku bahkan belum mulai menyiksamu. Haruskah aku memukulmu agar tangismu itu lebih keras lagi!!" Michael terlihat kesal. Nara yang di marahi oleh Michael bukannya menghentikan tangisannya tapi ia malah menangis kencang layaknya anak kecil.
"A-aku tidak bermaksud mengkhianatimu hiks hiks hiks..., tapi aku hanya punya Ayahku jika Ayahku tertangkap lalu-lalu A-aku akan hidup dengan siapa huwaaaa...aaaaaa Ibuuuuuu Nara harus bagaimana Ibuuuuuu...hiks hiks hiks...."
__ADS_1
"Apa kamu tidak punya saudara atau keluarga lainnya" tanya Michael. Nara menggelengkan kepalanya.
"I-ibu aku meninggal di saat usiaku 2 tahun. Ibu anak yatim piatu dan ti-tidak memiliki keluarga, hiks hiks. Ke-keluargaku satu-satunya adalah Ayahku. Walaupun A-aku membencinya karena ia jahat ta-tapi hanya dia yang aku punya Huwaaaa....aaaaa Ibuuuuuuu bawa aku bersamamu nggak ada yang sayang sama Nara Ibuuuuuu hiks hiks hiks..." Nara menjelaskan alasan pengkhianatannya sambil terisak.
Michael yang merasa kasihan pada gadis itu duduk di sebelahnya.
"Kemarilah!" Michael merentangkan tangannya. Nara menyambutnya dengan memeluk Michael. Ia terus menangis dalam pelukan Michael.
"Sudahlah jangan menangis lagi. Mata sipitmu itu akan semakin tak terlihat jika kau terus menangis" ucap Michael sembari menepuk lembut punggung Nara.
"Kakak jahat bukannya menghibur malah ngejek Nara huwaaaaa...."
"Cup cup sudah ya adek manis, jangan menangis nanti di datangi sama Mbah kumis."
"Kakak!!" Nara kesal memukul dada bidang Mike. Tak lupa ia juga menggunakan kemeja Mike untuk mengelap ingusnya.
"Naraaa!!! Yek, kamu perempuan jorok" Mike mentonyor jidat Nara menjauhkan Nara dari badannya.
"Cuma ingus doang kok Kak, di cuci juga entar bersih."
Mike mendesah, entah harus dengan cara apa berbicara dengan wanita ajaib satu ini. Ada saja jawabannya.
"Kakak yang akan menikahiku nanti" Nara menunjuk ke arah Mike.
"Sembarangan aja kalau bicara, aku mana mau sama gadis cengeng dan pembuat masalah sepertimu ini" ucap Mike mencibir. Sementara Nara menunduk mengerucutkan bibirnya.
Kamu sudah makan?" tanya Mike lagi.
"Belum?" Aku tadi kabur dari pengawasan tanpa makan terlebih dahulu."
"Ya sudah ayo ikut aku ke dapur, di rumahku tidak ada makanan jadi kita harus memasak terlebih dahulu. Setelah makan aku ingin kau bicara jujur tentang keberadaan Ayahmu itu" ucap Mike, Nara mengangguk pasrah.
Mike dan Nara menuju ke dapur, Mike mengambil sayuran dan ikan yang akan mereka masak.
"Kita masak sayur sup dan ayam goreng. Kamu potong-potong sayurnya dulu, aku ingin ganti baju sebentar" Mike meninggalkan Nara di dapur bersama sayur, ayam dan bumbu-bumbu yang sudah ia siapkan.
Nara terdiam menatap semua bahan makanan yang ada di depannya. Jangankan memotong sayur, menghidupkan kompor saja ia belum pernah.
"Apa yang harus aku lakukan dengan semua ini" gumam Nara lirih menatap horor semua bahan makanan yang ada di depannya.
__ADS_1
"Bagaimana cara memotong ini" Nara mengambil sebutir tomat yang ada di hadapannya.
"Oh ya bukankah bibi suka menggeprek bahan makanannya sebelum dimasak" Nara ingat Bibi asisten rumah tangga yang menggeprek bawang putih sebelum memotongnya.
Nara menggeprek tomat hingga airnya muncrat kemana-mana, mengotori meja dan lantai dapur. Bahkan air tomat itu juga mengenai bajunya. Ia kemudian memotong-motong tomat tersebut.
Selesai dengan tomat ia mengambil satu ikat sayur hijau menggepreknya sekaligus lalu memotong-motongnya tanpa melepas ikatannya. Nara terlihat melakukannya dengan penuh semangat, ia tidak ingin Mike kecewa lagi padanya.
"Kenapa ini keras sekali. Hah, ternyata makan lebih mudah daripada memasak" Keluh Nara. Ia mencoba menggeprek kentang dan wortel tapi ia terlihat kesulitan karena tekstur kentang dan wortel yang cukup keras.
"Kita coba sekali lagi pasti bisa" Nara mengambil ancang-ancang ingin menggeprek kentang yang ada di depannya.
Mike yang mendengar keributan dari arah dapur berteriak dari kamarnya.
"Nara!!! Apa yang kau lakukan, mengapa berisik sekali!!" teriak Mike sambil memakai baju kaos pilihannya.
"Aku sedang memotong sayur Kak, tenang saja ini hampir selesai tinggal sayur yang keras ini saja!" sahut Nara dengan suara keras.
"Tidak, ini tidak bisa di geprek. Mungkin ini harusnya ditumbuk baru bisa" gumam Nara berbicara pada dirinya sendiri. Nara clingak-clinguk mencari alat untuk menumbuk kentang dan wortel.
"Ah akhirnya ketemu juga. Kenapa kamu harus ngumpet disini." gumam Nara menemukan ulekan. Dengan hati-hati ia menumbuk kentang dan wortelnya. Nara berusaha tidak membuat keributan tapi kentang yang bandel selalu mencelat kesana kemari membuat suara gaduh dan juga dapur menjadi berantakan.
Michael yang merasakan firasat buruk ingin segera berlari menuju dapur, tapi bunyi telpon menghentikannya. Itu adalah telpon dari Dimas, tak ingin kecolongan lagi Mike menuju balkon kamarnya untuk mengangkat telpon.
"Ah, akhirnya tugasku selesai juga" Nara memperhatikan hasil karyanya yang telah berhasil memotong sayuran. Ia terlihat bangga bisa melakukannya tanpa memperdulikan dapur yang terlihat berantakan. Ini adalah pertama kalinya ia melakukan tugas di dapur.
Menunggu Mike yang tak kunjung datang, Nara membersihkan baju dan mukanya yang terkena cipratan tomat. Nara yang tak sabaran, berniat menghampiri Mike. Baru saja melangkah keluar dapur ia melihat Mike menuju kearahnya.
"Ayo Kak kita masak, aku sudah menyelesaikan potongan sayurnya" ucap Nara bangga.
"Anak pintar" puji Mike mengelus rambut Nara.
Sampai di dapur Mike benar-benar syok. Ia merasa tersesat, ini sepertinya bukan dapurnya. Ya dapur Mike sekarang lebih terlihat seperti kapal pecah yang baru saja di sapu badai, berbeda sekali pada saat ia meninggalkan dapur tadi.
"Naraaaaaa!!!!!!!" teriak Mike, Nara yang ada disebelah Mike spontan menjauh dan menutup telinganya.
"Kenapa?" tanya Nara heran merasa tak berbuat kesalahan.
TBC
__ADS_1