
Baiklah, kali ini aku kabulkan keinginan Kakek. Aku akan melepaskannya. Kakek jangan menyesal."
Dorrr...
"Key!!!"
"Wah jatuh Kek."
"Cepat tolong dia, tembak mati buayanya.". teriak Kakek panik.
Secara serempak Anak buah Kakek menuju ke kolam, mereka menembaki buaya itu. Mereka berhasil mengeluarkan Aiko, tapi sayangnya lengan kanan Aiko hancur terkoyak oleh kebuasan buaya.
Kondisi Aiko sangat nengenaskan saat ini, Ia kehilangan banyak darah. Dengan sigap Kakek memerintahkan anak buahnya untuk mengirim Aiko ke Rumah Sakit.
Kakek juga memerintahkan melepaskan supir taksi itu dan membawanya ke rumah sakit. Kakek ingin menjadikan orang itu tersangka satu-satunya. Dan membebaskan Aiko dari jerat hukum.
"Kau memang sakit."
"Aku belajar dari guru terbaik, Benarkan Kakek Guru."
"Sial, apa yang harus kukatakan pada orangtuanya nanti," Kakek memijat keningnya.
"Apa Kakek memerlukan bantuanku untuk menyingkirkan orangtuanya. Setidaknya Kakek tak perlu susah payah menjelaskan pada mereka."
"Lama di dekatmu bisa membuatku gila" Kakek pergi dari ruangan itu dengan terburu-buru, ia ingin menyusul Aiko.
"Bye bye Kakek. Hati-hati jalannya Kek, nanti tulangnya rontok semua." Key tertawa kecil melihat kepergian Kakek. Sementara Kakek mendengus kesal.
"Ah saatnya aku istirahat sekarang, awas saja kalau sampai bos jelek itu tak bisa menjaganya. Maka aku akan dengan senang hati muncul kembali dan merampasnya. Si Aryo bodoh itu benar-benar tidak bisa diandalkan." Key berjalan keluar dari ruangan itu
*************
Tak terasa hari telah berganti. Di rumah sakit, Yessi sekretaris Dimas datang ke ruangan Tiara dengan setumpuk berkas. Kali ini Dimas tidak bisa mengabaikan pekerjaannya karena Erick sendiri masih terdampar di desa C. Entah bagaimana nasib pria itu disana.
Tiara kali ini sudah berada di ruang rawat VVIP karena kondisinya sudah stabil. Sebelumnya Tiara berada di ruangan khusus.
"Ini berkas yang perlu tanda tangan anda Tuan, dan berkas yang ini adalah proposal untuk pengajuan kerjasama dan proyek baru." Yessi memisahkan setiap dokumen agar mudah untuk Dimas pelajari.
Sementara itu Tiara tersenyum mengamati interaksi mereka berdua. Yessi adalah sekretaris yang ramah, ia juga berpakaian dengan sopan. Soal kecerdasan, tak perlu di ragukan lagi. Yessi merupakan lulusan dari Fakultas terbaik dengan nilai IPK tertinggi. Jadi Tiara tak perlu khawatir Yessi akan menggoda Dimas.
"Berkas di Map biru ini, akan saya ambil kembali siang nanti Tuan. Jadi tolong segera anda pelajari dan tanda tangani."
"Dan untuk rapat pemegang saham, saya undur sampai 10 hari ke depan. Jadi anda memiliki waktu lebih untuk mempelajari berkas yang akan kita bahas nanti pada saat rapat. Dan untuk rapat yang lain saya juga sudah menundanya sampai Minggu depan. Sesuai instruksi anda."
Setelah selesai menjelaskan tentang semua pekerjaan yang harus Dimas selesaikan. Yessi pamit kepada Tiara dan juga Dimas.
"Saya permisi dulu Tuan dan Nona Tiara, semoga anda cepat sembuh. Permisi, saya pamit duluan"
"Aamiin, terimakasih ya mbak." ucap Tiara lemah. Yessi pun pergi meninggalkan ruangan itu.
Setelah kepergian sekretarisnya, Dimas menghampiri Tiara.
__ADS_1
"Istirahatlah dulu sayang, aku akan menyelesaikan pekerjaanku sebentar. Kalau perlu apapun, jangan sungkan untuk meminta padaku," Dimas tersenyum menatap Tiara, ia mengecup bibir Tiara sekilas.
" Pekerjaan mas sepertinya cukup banyak. Masku, apa tidak sebaiknya mas ke kantor saja. Aku tidak apa disini sama suster" ucap Tiara lemah.
"Jangan khawatirkan pekerjaanku sayang. Kesehatanmu lebih penting. sekarang minum obatmu dulu." Dimas mengambil obat yang sudah di siapkan suster tadi. Ia memberikan obat itu pada Tiara. Lalu mengambil segelas air putih dan di berikan pada Tiara.
"Sekarang tidurlah lagi, kau memerlukan istirahat lebih agar cepat pulih."
Dimas kembali menggeluti pekerjaannya sementara Tiara kembali tertidur karena pengaruh obat. Setelah satu jam bergelut dengan pekerjaannya. terdengar ketukan pintu dari arah luar.
Tok tok tok....
Dimas belum mempersilahkan masuk, tiba-tiba pintu sudah terbuka duluan.
"Kakek..."
"Masih ingat kau sama Kakekmu, dasar cucu durhaka."
"Mau apa Kakek kemari." Dimas mencegat Kakeknya membuat Kakek menghentikan langkahnya untuk mendekat ke tempat tidur Tiara.
"Minggir, aku hanya ingin melihatnya." Kakek menyingkirkan tubuh Dimas dari hadapannya.
"Dilihat langsung dia lebih cantik, daripada di foto. Pantas kau tergila-gila padanya." Kakek menatap Tiara yang tertidur.
"Kakek ada perlu apa kemari?"
"Kakek habis mengunjungi Aiko. Kasihan gadis malang itu harus kehilangan tangan kanannya."
"Apa bocah kurang ajar itu tak mengatakan padamu?"
"Apa maksud Kakek, bocah kurang ajar siapa, Apakah Key membuat Kakek kesal lagi?"
"Baguslah kalau ia tak mengatakannya padamu. Tadinya Kakek kemari karena ingin memintamu melepaskan Aiko. Ternyata bocah itu bertindak tanpa sepengetahuanmu."
"Aku akan menelponnya."
"Kakek hanya meminta satu hal padamu. Aiko telah mendapatkan hukumannya. Jadi sudahi ini sampai disini. Kakek akan segera mengirimnya ke negaranya."
Setelah mengatakan apa yang ingin di katakan nya, Kakek pergi dari ruangan itu. Meninggalkan sejuta tanya di pikiran Dimas.
Dimas berjalan menuju sofa, ia mengambil handphone yang ia letakkan di atas sofa. Ia melakukan panggilan telepon.
"Hallo, Tuan."
"Key, apa yang kau lakukan..."
"Saya Aryo Tuan"
"Apa yang terjadi Aryo kenapa kau tidak bisa mengendalikan Key."
"Maaf, Tuan saya kecolongan kali ini."
__ADS_1
"Cari tau apa yang dilakukannya sampai ia membuat Kakek marah."
"Sebenarnya ini berkaitan dengan kecelakaan Nona Tiara Tuan."
"Maksudmu?"
"Sebenarnya dalang tabrak lari dibalik kecelakaan Tiara adalah Nona Aiko, Tuan."
"Apa? Aiko pelakunya. Kurang ajar berani sekali wanita itu. Terus apa kau sudah menghukumnya."
"Key melakukannya Tuan, ia menggantung Aiko secara terbalik cukup lama. Setelah itu ia menjatuhkan Nona Aiko ke kolam buaya. Anak buah Kakek menyelamatkannya, jadi ia hanya kehilangan sebelah tangannya saja."
"Wanita itu memang pantas di perlukan seperti itu."
"Tapi Aryo, Key terlalu berbahaya. Kendalikan dirimu, jangan sampai ia muncul lagi. Cari pemicunya, aku juga akan mencarikanmu Dokter terbaik untuk membantu mengatasi masalahmu."
"Baik, Tuan"
Dimas mengakhiri panggilannya.
Aryo menjatuhkan tubuhnya di kasur. Ia menatap langit-langit kamarnya.
"Apa yang harus aku katakan pada Bos Dimas.
Apakah aku harus bilang pemicu kemunculannya adalah Tiara. Ah sial" Aryo mengacak rambutnya kesal.
"Kenapa aku harus tertarik pada gadis kecil itu. Seandainya saja Tuan Dimas menjaganya dengan benar, maka Key tidak akan muncul.
Sial, sial, sial..." Aryo terus mengomel tak jelas.
Key merupakan kepribadian lain dari Aryo. Ia tercipta dari masa lalu Aryo yang begitu kelam. Kehidupan Aryo sebelum di temukan oleh Kakek sangatlah berat untuk anak seusianya saat itu.
Bocah kecil yang setiap harinya berjuang keras di jalanan demi bisa menghidupi Ibu dan Adiknya. Tapi karena kepribadiannya yang lain dan juga peristiwa berdarah dimalam itu membuatnya kehilangan jejak Ibu dan juga adiknya. Bahkan hingga kini ia tak tau kemana Ibunya membawa adik kecil kesayangannya.
Kakek menemukan Key pertama kali, bocah kecil dengan sorot mata yang tajam. Tak ada ketakutan di dalamnya, seolah-olah ia adalah penakluk dunia. Kakek yang tertarik dengan Key membawanya pulang, Ia ingin melatih Key menjadi pelindung cucunya sekaligus orang yang bisa membantu cucunya mengelola perusahaan.
Semua keluarga Dimas, dan para bodyguard mengetahui tentang Aryo yang berkepribadian ganda. Lama dekat dengan Aryo membuat mereka bisa membedakannya dengan mudah.
Aryo cenderung dingin dan tenang. Sedangkan Key ia Dingin, brutal dan sedikit nakal.
Tapi sosok Key sudah lama sekali tidak muncul, terakhir kemunculan Key adalah beberapa tahun yang lalu. Tepatnya bersamaan dengan hilangnya kekasih Dimas sebelumnya.
******************
Di rumah sakit dimana Aiko di rawat saat ini terjadi keributan. Gadis itu baru saja sadar pasca operasi amputasi salah satu lengannya.
"Aaaaaa......, tanganku mana. Aaaaa...., kembalikan tanganku. Aku akan hancurkan rumah sakit ini berani-beraninya kalian memotong tanganku. Aaaaaaa...." Aiko berteriak-teriak seperti orang gila. Ia bahkan memaki-maki tak karuan mengetahui hilangnya salah satu tangannya.
"Semua ini gara-gara Tiara, brengsek kamu Tiara. Aku akan menghancurkanmu, tunggu pembalasanku.Aku akan membun...."
"Aiko..., Hentikan"
__ADS_1
TBC.