UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Pelayan VVIP.


__ADS_3

"Maaf saya pelayan baru disini, tapi penjaga bertender tadi sudah memberitahuku siapa anda . Itu sebabnya saya mengikuti anda tadi. Saya memang membutuhkan pekerjaan, bahkan saat ini aku sedang memutar otakku bagaimana agar aku bisa mendapatkan penghasilan lebih disini tanpa aku harus menjual diriku. Apa anda bisa membantuku."


"Cih, dasar kau ini! Ternyata kau membantuku karena ada maunya. Aku pikir kau tulus menolongku" cibir Mayumi.


"Aku beneran tulus membantumu, hanya saja aku memang membutuhkan pekerjaan. Aku dengar dari Akito si penjaga bartender kalau malam ini ada bos besar yang menyewa ruangan VVIP. Bolehkah aku membantu melayani mereka, aku membutuhkan dana lebih saat ini."


"Ya memang akan ada tamu VVIP malam ini. Dan jika kau membutuhkan uang lebih, aku bisa menempatkanmu diruangan lain tapi tidak di VVIP karena pelayan yang akan melayani disana dipilh langsung oleh Bos Besar. Aku tidak bisa mengganti mereka semauku, kecuali ada salah satu dari mereka yang tidak bisa datang karena sakit ataupun berhalangan hadir."


"Padahal aku berharap bisa ikut melayani Bos Besar itu, pasti tips yang di terima sangat besar." ucap Dimas penuh harap.


"Tenang saja lain kali aku akan merekomendasikanmu pada bos besar langsung." menepuk pundak Dimas dan memberikan sangat.


"Aku harus pergi dulu, untuk melihat anak buahku dan melihat kesiapan acara bos besar untuk nanti malam.


"Apa aku boleh ikut" pinta Dimas dengan gaya sok centil membuat wanita itu yang tadinya kesal menjadi tersenyum kecil.


"Untuk apa?"


"Ya aku hanya ingin melihat seperti apa pelayan senior bekerja. Aku juga ingin suatu saat menjadi bagian dari orang-orang itu." mencoba meyakinkan berharap wanit di depannya mengikuti kemauannya.


"Baiklah, kau bisa ikut denganku. Tapi ingat jangan mencoba melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan padamu. Dan jangan ceritakan kejadian tadi pada siapapun!"

__ADS_1


"Sip" ucap Dimas lalu mengikuti langkah wanita itu. Dimas diajaknya menuju ke sebuah kamar khusus pelayan VVIP. Rupanya pelayan yang diperkerjakan di ruangan VVIP mendapatkan perlakuan khusus. Mereka diberikan fasilitas tempat tinggal di gedung itu yang bisa mereka tinggali.


Dimas menatap mereka satu-persatu. Dari segi body penampilan dan wajah mereka memang diatas rata-rata. Mayumi memperkenalkan Dimas pada mereka dengan nama samaran Dimas yaitu Gina. Dimas yang memang pandai beradaptasi dengan siapa saja memudahkannya dalam bergaul. Tidak perlu waktu lama Dimas sudah bisa akrab dengan mereka.


Dimas meminta ijin untuk bisa menggunakan kamar mandi. Ketika ke kamar mandi ia melewati sebuah meja dimana mereka menaruh botol minumnya.


Dimas mengambil salah satu botol minum itu secara diam-diam dan membawanya ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, ia mengambil obat pencahar yang memang selalu ada di tasnya. Ia mencampurkan bubuk pencahar ke dalam botol dan mengocoknya pelan agar mau larut dalam air.


Keluar dari kamar mandi ia mengembalikan botol itu pada tempatnya. Berharap rencananya akan berhasil, dan ia bisa memiliki kesempatan berada di ruangan VVIP.


Setelah selesai memberikan intruksi pada anak buahnya, Mayumi mengajak Dimas untuk keluar dari tempat itu. Mayumi ingin memperkenalkan Dimas pada seseorang, tapi tiba-tiba handphone Dimas berbunyi hingga membuat Dimas harus segera pergi dari ruangan itu.


"Maaf, ada hal penting yang harus saya kerjakan. Sepertinya saya harus pergi sekarang. Oh ya Nona Mayumi, ini kartu namaku. Jika anda kekurangan orang untuk menjadi pelayan VVIP, saya bersedia mengisi kekosongan" ucap Dimas.


Dimas pergi dari ruangan itu dengan tergesa-gesa. Dan tampak dari jauh seorang Pria memperhatikan Dimas dengan perasaan tak menentu. Pria itu sebenarnya datang ke tempat itu untuk mengecek apa tempat itu aman atau tidak. Tapi siapa sangka ternyata ia mendapatkan kejutan ketika sampai di tempat itu


"Kau menghilang begitu lama seperti ditelan bumi. Dan sekarang ternyata kau berada disini, ditempat seperti ini! Siapa kamu sebenarnya Suster Dina?"


Pria itu mencoba mengikuti Dimas setelah meyakinkan penglihatannya yang tak salah, hingga seorang pria yang menemaninya berkeliling ruangan itu memperhatikannya dengan seksama.


"Tunggu! Apa kau menyukai dia?" menghentikan langkah pria itu dan menunjuk Dimas yang tak lama menghilang dari balik pintu.

__ADS_1


"Jangan halangi aku karena aku sedang terburu-buru." Mencoba kembali mengikuti Dimas tapi sayangnya lagi-lagi langkahnya dihalangi hingga akhirnya ia kehilangan jejak Dimas


"Apa maumu!!!" teriaknya marah karena pria itu terus menghalangi langkahnya, hingga ia kehilangan jejak Dimas.


"Sebaiknya kau jangan mengejarnya apalagi sampai menyukainya, karena kau akan kecewa nanti." ucapnya lagi terlihat serius.


"Apa maksudmu? dan apa kau mengenalnya?" mencengkram kerah baju lawan bicaranya.


"Aku lupa siapa namanya, tapi aku tahu satu hal yang pasti. Dia itu wanita jadi-jadian, seorang inters*ks (gender biner). Yakin masih mau dengannya." ucapnya setengah mengejek, mencoba melepaskan cengkraman pria itu dari kerah bajunya.


Bugh, pria itu menghantam keras rahang pria yang seolah mengejeknya. Membuat pria itu terkejut karena tak bisa menghindar sama sekali.


"Jaga ucapanmu!!!" Bugh, kembali menghantam di bagian wajah pria itu yang hanya bisa melindungi wajahnya dengan tangannya. Pukulannya cukup keras kali ini, hingga tidak saja membuat luka berdarah diujung bibir pria itu tapi juga membuatnya jatuh terduduk dilantai.


Pria yang mendapati pukulan itu hanya bisa berekspresi kesal. Karena ia tidak mungkin balas memukul, Bosnya mempercayakan dirinya untuk menemani pria ini keliling gedung tempat hiburan malam yang mereka miliki. Tapi siapa sangka pria yang ia ajak ini memiliki emosi yang cukup membuatnya kerepotan.


"Kali ini aku tidak membalas pukulanmu karena kau tamu bosku, tapi bukan berarti aku takut denganmu!" ucap pria yang menerima pukulan itu. Ia mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah.


"Maaf, aku tersulut emosi tadi, apa orang itu akan kembali kemari?" mengulirkan tangannya dan membantu pria itu untuk bangun. Mencoba meredakan emosinya mengingat pentingnya tujuan ia kemari.


"Tentu saja ia akan kemari, ia adalah pelayan disini. Tapi aku tidak tau persis jam kerjanya. Aku hanya bertemu dia sekali saja kemarin malam. Dan dia sendiri yang mengaku pada temanku kalau ia adalah seorang gender biner."

__ADS_1


"Tidak mungkin, itu tidak mungkin" menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia terlihat syok mendapati kenyataan di depan matanya. Sebuah kenyataan yang bahkan tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.


TBC.


__ADS_2