
Tubuh ketiga orang itu terpaku menatap nanar pada tubuh bocah kecil yang tergeletak di lantai dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya.
Hanya dalam hitungan detik akhirnya Reno tersadar dan berlari ke arah jatuhnya Rendra. Ia meraih anaknya dan menekan lukanya untuk mengurangi pendarahan. Dan segera berlari membawanya ke Rumah Sakit di ikuti oleh Tiara dan Mona.
Ketiga orang itu benar-benar syok dengan kondisi Rendra saat ini. Rendra benar-benar tak sadarkan diri. Mona berlari melewati Reno dengan segera ia ke garasi mengendarai mobil dan membawanya ke depan pintu utama.
"Cepat masuk Tuan," Mona membuka pintu untuk Reno.
"Tiara, cepatlah" teriak Mona ketika melihat Tiara berlari ke arah mereka.
Mona dengan kecepatan penuh mengendari mobil itu, ia terlihat seperti pembalap profesional. Reno cukup terkejut melihat aksi Mona yang begitu lihai menghindari dan menyalip mobil dengan kecepatan tinggi.
Reno menatap Nanar pada tubuh anaknya yang berada di pangkuannya, air matanya menetes melihat tubuh anaknya yang sudah berlumuran darah. Begitu juga Tiara, ia menangis sejak tadi. Menggenggam tangan bocah mungil itu.
"Bertahan ya sayang, kamu harus kuat" Ucap Tiara sambil menangis Pilu. Tangannya mengusap-usap kaki bocah itu yang berada di pangkuannya. sementara tubuh bocah itu berada di pelukan Reno.
Tak lama mereka sampai di rumah sakit terdekat. Reno langsung membawa anaknya ke UGD di sambut oleh para perawat dan Dokter.
Dengan cepat para Dokter menangani kondisi Rendra. Reno, Tiara dan Mona menunggu di luar ruangan.
Cukup lama dokter menangani Rendra, karena selain menjahit lukanya. Dokter juga melakukan Rontgen dan tindakan medis lainnya.
Salah satu Dokter yang menangani Rendra ke luar ruangan untuk menemui keluarga pasien.
"Bagaimana kondisi anak saya Dok" tanya Reno. Ia, Tiara dan Mona menghampiri Dokter itu. Saat ini penampilan mereka bertiga terlihat kacau dengan baju yang berlumuran darah bahkan mata mereka terlihat memerah karena habis menangis.
"Untung saja kalian cepat membawanya kemari. Kondisinya saat ini cukup serius dan pasien juga belum sadarkan diri, terdapat pendarahan pada otak, kami akan melakukan operasi sekarang juga. Dan kami mohon persetujuan anda untuk melakukan operasi. Semakin cepat ditangani maka Kondisinya akan lebih baik. Jadi kami mohon kerjasamanya."
Tiara, Mona dan Reno terkejut mendengar penjelasan Dokter. Air mata mereka yang belum mengering menetes kembali, mereka benar-benar syok. Bahkan Tiara cukup histeris mendengar penjelasan Dokter. Ia benar-benar merasa bersalah dengan apa yang menimpa Rendra saat ini.
"Saya akan mengikuti apapun saran anda Dok, jadi saya mohon tolong selamatkan anak saya Dok, berapapun biayanya tidak masalah." Ucap Rendra dengan suara terisak.
__ADS_1
"Anda tidak perlu memohon begitu Tuan, ini sudah merupakan tugas kami untuk menyelamatkan pasien." Dokter kemudian memanggil suster untuk menemani Reno mengurus administrasi dan menandatangani persetujuan operasi.
"Mari ikut saya Pak, untuk persetujuan dan administrasinya." ucap salah satu suster.
Sebelum mengikuti suster itu Reno sempat melirik ke dalam ruangan anaknya.
"Yang kuat boy, Daddy sayang kamu." Gumam Reno lirih.
Sementara Tiara dan Mona yang berada di luar ruangan meminta ijin untuk bisa menemui Rendra, tapi ditolak oleh Dokter. Tapi karena Tiara yang terus memohon akhirnya dokter mengijinkan satu orang saja untuk masuk. Mona yang melihat Tiara begitu tersiksa dengan kondisi Rendra akhirnya mengalah dan membiarkan Tiara yang menemui Reno.
"Tiara hapus dulu air matamu dan saya mohon apapun yang kamu lihat disana kamu harus kuat. Tolong jangan menangis di depannya. Kalau kamu kuat, Rendra juga akan kuat. Kamu mengertikan maksudku" ucap Mona menasehati Tiara.
Mona tidak ingin Rendra mendengar suara tangisan orang yang disayanginya. Ia takut itu akan mempengaruhi kondisi Rendra. Sekalipun saat ini kondisi Rendra masih belum sadarkan diri.
Tiara menganggukkan kepalanya, Ia menghapus air matanya yang terus menetes. Ia menarik nafas dalam, dan berusaha menahan Isak tangis dan air matanya yang tak mau berhenti mengalir.
Tiara mengenakan jubah rumah sakit, lalu memasuki ruangan Rendra. Ia melihat Rendra yang terbaring disana, dengan perban di kepala juga bantuan selang oksigen dan beberapa alat medis lainnya yang menempel ditubuhnya.
Ia mendekat ke tempat tidur Rendra, ia duduk di kursi yang ada tepat di sebelah Rendra. Ia menggenggam salah satu tangan bocah kecil itu. Ia menarik nafasnya dalam, mencoba menahan tangisnya.
"Sayang..., yang kuat ya, Kamu harus sembuh. Nanti kalau sudah sembuh, Kakak janji kita akan jalan kemana aja yang Rendra suka, oke. Oh ya diluar ada Daddy dan Kak Mona, kak Mona titip salam buat Rendra. Cepat sembuh ya sayang, kami semua menyayangimu." ucap Tiara lembut sambil menggenggam tangan Rendra, lalu mengecupnya. Dan tangan satunya lagi ia gunakan untuk mengelus pipi bocah mungil itu.
Tak lama kemudian seorang suster datang menghampiri Tiara.
"Maaf Nona, kami harus menyiapkan pasien untuk menuju meja operasi. Anda bisa menunggu pasien di luar, silahkan Nona." Ucap suster itu ramah mendekat ke arah Tiara.
"Kakak tunggu diluar ya sayang, Kamu harus kuat dan cepat sembuh ya. Kami semua sayang Rendra." Tiara kembali mengecup punggung tangan Rendra, lalu keluar dari ruangan itu. Dengan mata yang terus menatap lekat ke arah Rendra.
Sesampainya diluar ruangan Tiara tidak bisa menahan tangisnya. Ia tidak melihat keberadaan Mona. Reno meminta Mona untuk kembali ke rumah karena ia meninggalkan dompetnya. Karena ia membutuhkan KTP untuk perlengkapan data pasien. Ia juga meminta Mona membawakan baju ganti untuknya dan Tiara. Karena baju mereka terdapat noda darah yang bahkan telah mengering. Untuk pembayaran Reno telah melunasinya melalui Telepon Mobile.
Tiara menghampiri Reno dan berdiri tepat di hadapannya dengan Isak tangisnya yang semakin lama terdengar keras.
__ADS_1
"Ma-maafkan aku Tuan, hiks hiks hiks...." Tangis Tiara pecah.
"Tenanglah Tiara, ini bukan kesalahanmu. Ini adalah musibah. Kita harus kuat, dan jangan lupa terus doakan Rendra untuk kesembuhannya" Reno merengkuh tubuh Tiara dan memeluknya. Air matanya pun menetes. Tiara tidak menolak pelukan Reno, ia menangis di pelukannya.
Tak lama Brankar pasien ke luar dari ruangan, dan terdapat Rendra di atasnya. Brankar itu menuju ke ruang operasi. Reno memapah Tiara dan mengikuti Brankar itu menuju ke ruang operasi.
Di depan ruang operasi Rendra dan Tiara duduk berdampingan. Tiara menyenderkan tubuhnya di kursi ruang tunggu operasi. Reno melihat wajah Tiara yang terlihat pucat. Dan sesekali Tiara memijat-minat keningnya.
"Tiara wajahmu pucat, aku panggilkan dokter ya. Kamu periksa sekalian."
"Ti-tidak tuan, kepala saya hanya sedikit sakit saja. Sebentar lagi juga sembuh." Tolak Tiara.
"Sebaiknya kamu istirahat di ruangan Rendra saja Tiara, tadi saya sudah memboking ruang rawat untuk Rendra. Kamu bisa istirahat disana, ayo aku antar."
"Tidak Tuan, saya ingin menunggu sampai operasi Rendra selesai."
"Tapi operasi ini baru akan selesai 3-4 jam Tiara. Kamu bisa istirahat disana dulu 1-2 jam."
"Tidak Tuan, Saya ingin disini."
"Baiklah kemarilah, Rendra menepuk bahunya. Ia meminta Tiara tidur bersenderkan dirinya."
"Ta-tapi Tuan...."
"Kau boleh memilih istirahat dan tidur disini bersender padaku atau pergi ke kamar rawat inap yang sudah aku pesan." Reno meminta Tiara untuk istirahat dan tidur, karena tidak tega melihat kondisi Tiara. Apalagi hari saat ini sudah malam, dan mereka bahkan belum makan malam.
Reno sudah menawarkan Tiara untuk makan di kantin rumah sakit, tapi Tiara menolak. Mereka berdua saat ini benar-benar kehilangan nafsu makan. Mereka terus berdoa dalam hati untuk kesembuhan Rendra.
Tiara yang tidak ingin berdebat dengan Reno akhirnya ia mengistirahatkan tubuhnya dengan menaruh kepalanya di bahu Reno. Tangan Reno merengkuh pinggang Tiara menariknya untuk lebih dekat dengannya, menahannya agar tidak terjatuh. Tiara yang memang benar-benar lelah, akhirnya tanpa ia sadari, ia tertidur lelap.
Sementara itu tampak dari kejauhan seseorang yang mengabadikan momen mereka berdua.
__ADS_1
TBC