UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Kenekatan Anton.


__ADS_3

Liburan yang mereka lalui tak terasa usai sudah, Mereka kini tengah bersiap untuk kembali ke kota. Walaupun Anton sudah bisa dekat dengan Dewi, tapi tetap saja ia belum bisa menaklukkan hati wanita itu. Tapi setidaknya Dewi tidak segalak dulu, walaupun ia akan kembali ketus jika Anton menggodanya.


"Angga pasti akan merindukanmu? Apa yang harus aku lakukan jika ia terus menangis dan merindukanmu?" tanya Anton dengan wajah sedih. Ia kini sedang tidur di atas tempat tidur menghibur putranya. Sementara Dewi merapikan pakaian Angga dan juga semua perlengkapannya.


"Om bisa mengunjungiku bersama Angga jika om mau" ucap Dewi sambil memasukkan baju-baju Angga kedalam koper.


"Lalu kalau aku yang merindukanmu apa yang harus aku lakukan?" ucap Anton manja. Dewi bahkan sampai merinding mendengar ucapan pria dewasa itu.


"Om bisa nyemplung kelaut, disana pasti akan lebih banyak ikan kelaparan yang merindukan daging nikmat ditubuh om itu" sahut Dewi ketus.


"Tidak, tubuhku ini hanya boleh dinikmati oleh istriku dan itu pastinya kamu" ucap Anton mengedipkan matanya genit, membuat Dewi makin bergidik ngeri.


"Emang susah ngomong sama orang konslet, salah-salah malah bisa kesetrum" Dewi menggelengkan kepalanya.


"Apa setrum cintaku sudah sampai kehatimu, kapan?" ucap Anton bangun dari tidurnya.


"Astaga lama-lama sama om dikamar ini aku bisa gila" ucap Nara kesal.


"Alhamdulillah kalau kau ternyata sudah sampai tergila-gila padaku. Jangan khawatir aku pasti akan menerima cintamu itu" Anton masih saja suka menggoda Dewi dengan gaya somplaknya.


"Ya Tuhan bisakah kau turunkan petir dan hujan. Aku ingin mencuci otak pria yang ada di depanku" ucap Nara menengadah tangannya keatas, rupanya ia sudah ketularan sablengnya Anton.


"Ya Tuhan tolong kabulkan doa calon istriku, ia bahkan begitu tulus ingin membersihkan isi otakku yang penuh cinta untuknya" Anton mengikuti gerakan Dewi.


"Dasar sableng" Dewi melemparkan selimut yang sebelumnya ingin ia masukkan ke dalam koper. Anton tertawa senang telah berhasil menggoda Dewi.


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan akhirnya mereka sampai di kota. Dewi terpaksa ikut Anton pulang kerumah Anton terlebih dahulu untuk mengantar Angga yang rewel dan tak mau berpisah dengannya.


Dewi menatap rumah mewah di depannya, bahkan rumah Anton lebih mewah daripada rumah Mike walaupun rumah Kakek masih yang nomor satu. Dewi sedikit bertanya-tanya bagaimana istri Anton itu bisa begitu saja meninggalkan pria yang saat ini berjalan di depannya.

__ADS_1


Kalau dari sudut pandang Dewi, Anton adalah pria mapan dan cukup hangat dengan keluarga. Itu terbukti dengan bagaimana Anton memperlakukan putranya sendiri. Bahkan Anton cukup sabar menghadapi keketusan dan keras kepalanya Dewi.


"Ayo aku antar ke kamar Angga" ucap Anton, saat ini Angga sudah tertidur di pelukan Dewi. Dewi berjalan di belakang Anton dan mengikutinya.


Terlihat beberapa pelayan yang berpapasan dengan mereka dan memberi hormat pada Anton dan juga menyapanya ramah.


Sampai di kamar, dengan hati-hati Dewi menaruh Angga ke atas tempat tidurnya. Ia juga mengecup kening Angga dan menyelimuti tubuh bocah itu.


"Ini nomor telpon Dewi, kakak bisa menelponku jika Angga rewel" ucap Dewi sembari memberikan kartu namanya. Padahal sudah dari hari pertama di Villa Anton meminta nomor telpon Dewi, tapi Dewi selalu menolaknya dan tak ingin memberikannya pada Anton.


"Terimakasih" sahut Anton tersenyum sembari mengambil kartu nama itu dari tangan Dewi sebelum Dewi berubah pikiran.


"Dewi pamit pulang dulu ya Om, besok pagi Dewi sudah sekolah jadi Dewi harus menyiapkan beberapa tugas" ujar Dewi sembari pergi dari kamar Angga bahkan sebelum mendengar jawaban Anton.


"Tunggu, biar aku antar" Anton menghentikan langkah Kaki Dewi dengan menjadikan tubuhnya sebagai penghalang.


"Aduh" kepala Dewi menghantuk dada bidang Anton.


"Aku akan mengantarmu, ayo" tanpa permisi Anton menggandeng tangan Dewi.


"Om apa-apaan sih Dewi bisa jalan sendiri, nggak perlu di gandeng seperti anak kecil. Lagian kalau om ngantar Dewi Angga sama siapa? Kasihan dia sendirian om!" protes Dewi pada Anton.


"Dia tidak akan sendirian, kau pikir dirumahku ini tidak ada pelayan yang akan membantu mengasuhnya. Ayo, aku antar. Aku akan minta pelayan untuk menjaga Angga jadi kau tidak perlu khawatir" ucap Anton. Setelah memanggil pelayan akhirnya Anton mengantar Dewi ke tempat Mike.


"Hati-hatilah dan jaga hatimu untukku" Anton mengedipkan matanya.


Dewi tidak menanggapi perkataan Anton, ia ingin membuka pintu untuk keluar. Tiba-tiba Anton menarik pergelangan tangan Dewi.


"Ada apa?" tanya Dewi heran, karena Anton menahannya untuk turun.

__ADS_1


"Apa kau tak ingin memelukku sebagai tanda perpisahan kita hari ini?" ucap Anton berharap, ia membuka lebar dan merentangkan tangannya walaupun satu tangannya masih menahan Dewi agar tak keluar dari mobilnya.


"Jangan bercanda, aku lelah dan ingin segera istirahat" ucap Dewi menolak.


"Kau bisa mengistirahatkan tubuhmu di dalam pelukanku" ucap Anton mengedipkan matanya.


Dewi yang tak habis pikir dengan pria yang selalu saja bisa menjawabnya dengan gombalan, yang membuatnya makin kesal akhirnya memilih menggigit tangan Anton yang menahannya.


"Aaawww..." Anton menarik tangannya dan mengusap bekas gigitan Dewi.


"Itu hadiah perpisahan dariku" ucap Dewi kesal.


"Astaga sayang kenapa tak bilang jika ingin menghadiahiku dengan gigitan. Kau boleh menggigitku dimana saja, tubuh ini milikmu seutuhnya" ucap Anton tersenyum membuat Dewi makin kesal. Apalagi mendengar Anton yang memanggilnya sayang membuatnya merinding.


"Nih sayang!!" Dewi mengepalkan tangannya di depan Anton, Anton tertawa senang.


Anton akhirnya mengikuti Dewi turun dari mobilnya, ia ingin membawakan koper Dewi masuk kedalam tapi Dewi menghadangnya.


"Ngantarnya sampai disini saja om, Dewi bisa kok bawa masuk sendiri. Om sebaiknya pulang gih" usir Dewi, ia tidak ingin mendengar drama Anton yang membuatnya makin kesal.


"Nggak bisa gitu dong, sebagai calon suamimu aku harus memberikan pelayanan terbaik untuk calon istriku" tolak Anton, Dewi tak bergeming dari tempatnya. Ia masih saja menghalangi langkah Anton.


"Om pulang aja ya sekarang, kasihan Angga dirumah" ucap Dewi, itu merupakan alasan paling tepat untuk menyelesaikan drama Anton hari ini.


"Baiklah calon istriku, aku menurutimu kali ini" Anton tiba-tiba melangkah maju memeluk Dewi. Tindakan berani Anton ini membuatnya terkejut, ia bahkan sampai sempat terpaku hingga akhirnya ia tersadar dan segera melepaskan pelukan Anton.


Tak cukup sampai disitu keberanian duda itu, ia diam-diam mengecup kening Dewi lalu kabur dari situ. Ia tahu tindakannya itu pasti memancing kemarahan Dewi. Dewi melepaskan sandalnya dan melemparkannya ke arah duda itu.


"Duda mesuuumm!!" teriak Dewi kesal karena Anton berhasil menghindar dan kabur darinya. Anton memberikan kiss bay lalu melajukan mobilnya, sungguh tindakan kekanakan yang membuat Dewi makin gondok dengan duda satu itu.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2