
Dokter itu melepaskan masker dan tutup kepalanya. Dengan wajah lesu menghampiri Reno yang juga menghampirinya.
" Bagaimana Dok, dengan kondisi anak saya saat ini."
Huft...., Dokter itu menghela nafasnya kasar.
wajahnya terlihat lesu menatap ke arah mereka bertiga. Sepertinya Dokter itu cukup lelah setelah menangani operasi Rendra.
"Operasinya berhasil, tapi kami tetap akan memantau perkembangannya mudah-mudahan tidak ada dampak di kemudian hari."
"Terimakasih, Dokter. Kira-kira kapan anak saya bisa sadar dan bisakah saya menemuinya Dok."
"Untuk kesadaran pasien kita tunggu selambat-lambatnya 2x24 jam. Kalian bisa melihatnya nanti setelah pasien di pindahkan ke ruang rawat inap. Tapi tolong jangan membuat pasien tertekan. Saat ini pasien masih berada di bawah pemantauan kami."
"Baik Dokter, terimakasih banyak."
Reno, Tiara dan Mona sedikit lega dengan penjelasan dokter. Mereka sangat berharap untuk kesembuhan Rendra.
********
Sementara itu di negeri sakura Jepang, Dimas sedang bersiap-siap untuk perayaan peresmian pembukaan Rumah Sakit milik keluarganya di Jepang.
Kakek Dimas memintanya untuk menjemput Aiko. Karena Kakeknya menginginkan Aiko menjadi pasangan Dimas di pesta malam ini.
Dimas yang malas berdebat dengan Kakeknya menyetujui permintaan Kakeknya. Ia berharap ini adalah terakhir kalinya ia berurusan dengan wanita ini.
Dengan langkah malas ia mengendarai mobilnya menuju rumah gadis itu, sesuai petunjuk Kakeknya.
Sesampainya di gerbang rumah mewah ia enggan keluar dari mobilnya. Ia menelpon Aiko dari dalam mobilnya.
"Aku sudah di depan rumahmu, keluar dalam waktu lima menit, atau aku akan meninggalkanmu"
"Tung.....," Belum selesai Aiko berbicara Dimas Sudah menutup telponnya.
"Sialan untung tampan kalau tidak aku pasti sudah melenyapkanmu," gerutu Aiko kesal karena Dimas menutup telponnya sepihak.
Aiko yang sudah cantik dengan gaun merah maron panjang dengan belahan depan hingga ke paha terlihat glamor dan menantang dengan model Backless (punggung terbuka), Busty look (dada terbuka), dan decolette look (leher terbuka). Benar-benar penampilan yang berani yang akan membuat para pria berfantasi liar.
__ADS_1
Aiko melangkah anggun menuju ke mobil Dimas walaupun langkah kakinya sedikit tergesa-gesa. Ia memanyunkan bibirnya sebagai pertanda protes terhadap Dimas. Bagaimana mungkin wanita seanggun dan secantik dia harus berjalan tergesa-gesa menghampiri mobil seorang pria.
Bukankah seharusnya Dimas menghampirinya dan membukakan pintu mobil untuknya. Ia benar-benar kesal sekarang. Andai saja ia tidak tertarik dengan pria satu ini, ia pasti dengan senang hati akan melenyapkan pria yang sudah menjatuhkan harga dirinya.
Aiko sampai di depan pintu mobil Dimas, ia mengetuk kaca mobil Dimas. Ia berharap pria itu turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuknya. Tapi pria itu hanya memberikan kode pada Aiko agar secepatnya masuk ke mobil.
Sial, lihat saja begitu kau takluk padaku. Aku akan membuatmu mencium kakiku setiap hari, batin Aiko kesal.
Selama ini tidak ada pria yang berani menolaknya. Terus terang saja ia merasa tertantang dengan perilaku Dimas yang acap kali mengabaikannya. Ia tidak terbiasa dengan penolakan. Hal inilah yang memicu Aiko untuk menaklukkan Dimas.
Dimas sebenarnya sempat terpana melihat penampilan wanita yang saat ini duduk di sampingnya. Walau bagaimanapun ia adalah laki-laki normal.
Aiko tampil begitu berani dengan dada terbuka sehingga memperlihatkan bukit kembarnya yang menyembul sebagian. Belum lagi sebagian paha putih mulus yang ikut terekspos dengan warna gaun yang mencolok hingga terlihat kontras dengan kulit putih mulus milik Aiko. Sekalipun birahinya sedikit bergejolak tapi ia tetap menampilkan wajah datarnya.
Terbiasa dengan gadis mungilnya, membuat Dimas tidak lagi begitu minat dengan wanita di sekitarnya. Wanita-wanita di sekitarnya mudah ia dapatkan. Tanpa ia harus bersusah payah, mereka dengan senang hati untuk memanjat kasur pria tampan itu. Perilaku mereka tidak membuatnya tertantang seperti gadis mungilnya.
Berbeda dengan Tiara, sekalipun mereka selalu tidur seranjang. Tapi tak sekalipun gadis itu mengijinkannya untuk berbuat macam-macam dengannya. Gadis itu selalu waspada terhadap Dimas. Padahal Dimas sudah mengeluarkan semua jurus rayuannya. Belum lagi materi yang ia tawarkan dengan jumlah yang tak sedikit. Gadis itu selalu menuntut status hingga membuat nyali Dimas menciut untuk bertindak lebih.
Akhirnya mereka sampai di gedung tempat dimana pesta perayaan di adakan. Dimas melangkah masuk ke dalam dengan Aiko yang menggamit lengannya. Mereka terlihat seperti pasangan yang sangat ideal. Pasangan yang terlihat sangat serasi, dengan pria yang terlihat sangat tampan dan wanitanya yang juga cantik dan seksi.
Mereka menjadi pusat perhatian saat ini, apalagi selain kolega bisnis. Kakek Dimas juga mengundang wartawan lokal maupun internasional. Banyak blitz kamera yang mengabadikan kebersamaan mereka membuat Dimas menjadi risih. Dimas melepaskan tautan tangan Aiko di lengannya. Ia hanya khawatir beritanya akan sampai pada gadis mungilnya.
"Tenang saja Kek, Aiko pasti bisa menaklukkan cucu Kakek yang tampan ini."
"Jangan berharap terlalu tinggi, aku sama sekali tidak tertarik dengan yang namanya perjodohan ataupun pernikahan politik."
"Jangan dengarkan dia, Kakek akan bantu kamu menaklukkan pria keras kepala ini"
"Terimakasih Kakek. Kakek memang yang terbaik" ucap Aiko memeluk Kakek Dimas. Mengabaikan ucapan Dimas yang terdengar menyebalkan di telinganya.
Dimas yang malas meladeni mereka berdua memilih meninggalkan mereka. Ia bergabung dengan rekan bisnisnya yang lain. Membicarakan kelanjutan proyek mereka ke depannya.
Ketika sedang berbicara dengan rekan bisnisnya, tak sengaja Dimas melihat keberadaan Eric di tengah-tengah pesta.
Pria itu sedang asik berbicara dengan seorang gadis berwajah Asia. Ia terlihat sedang tertawa bahagia bercengkrama dengan gadis di depannya.
Dimas segera meraih ponselnya, ia ingin menghubungi Eric dan memintanya untuk menghampirinya. Tapi ponsel yang di hubungi sama sekali tidak aktif, membuat ia mendengus kesal.
__ADS_1
Dengan langkah gontai Dimas menghampiri Eric, yang keberadaannya cukup jauh darinya. Sekalipun mereka berada di satu ruangan yang sama.
"Ric..." sapa Dimas begitu sampai di dekatnya.
Eric yang sedang bercengkrama sedikit terkejut dengan kehadiran Dimas. Apalagi ketika bersitatap dengan wajah bosnya yang terlihat masam. Ia kemudian menoleh ke wanita disampingnya, memintanya untuk meninggalkan mereka berdua.
"Ya bos, ada yang bisa Saya bantu."
"Kenapa handphone mu tidak bisa dihubungi, Apa kau sengaja ingin bersenang-senang dan melupakan tanggung jawabmu. Haruskah aku mengirimmu ke tempat Aryo. Kau bisa menikmati waktumu sepuasnya disana."
Eric menelan saliva nya kasar. Ia tidak mau kalau sampai Dimas mengirimnya kesana. Disana adalah tempat yang dipenuhi oleh konflik. Ia tidak sekuat dan setangguh Aryo, ia tidak akan kuat berada di tengah-tengah konflik internal perusahaan belum lagi konflik antar warga disana.
"Bu-bukan begitu Bos, Tapi tadi handphone milikku di sita oleh Kakek Anda."
"Kenapa bisa begitu?" tanya Dimas heran.
"Tadi mata-mata yang saya suruh mengikuti Nona Tiara menelpon Bos. Ia ingin memberitahu berita penting terkait Nona Tiara. Belum selesai saya berbicara dengannya tiba-tiba Kakek anda muncul dan menyita handphone saya. Dan juga untuk foto-foto kegiatan Non Tiara juga ikut diambil kakek bos."
"Bagaimana bisa kau..." Dimas memarahi Eric dengan suara yang cukup keras. Hingga perhatian tamu pesta mengarah padanya. Dimas yang menyadari tatapan mereka menghentikan ucapannya. Belum sempat Dimas melanjutkan protesnya terhadap Eric, Tiba-tiba terdengar suara dari arah panggung memanggilnya.
Ya saat ini di panggung sudah terdapat MC dan Kakeknya. Dimas yang mendengar MC memanggilnya kembali akhirnya melangkahkan kakinya menuju panggung. Tapi sebelumnya ia memberikan tatapan penuh intimidasi pada Eric.
Sesampainya Dimas di panggung, Kakek meminta MC untuk memanggil Aiko dan keluarganya. Dimas cukup heran dengan permintaan Kakeknya ini. Ia berharap Kakeknya tidak akan membuat drama yang akan merugikannya. MC mberikan mic kepada Kakek Dimas setelah selesai dengan sapaan dan basa-basinya.
"Selamat malam dan salam sejahtera untuk para tamu yang telah hadir malam ini. Selain acara Peresmian pembukaan Rumah Sakit kami yang baru. Kami juga memiliki berita bahagia lainnya yang akan kami bagi dengan para hadirin semua."
"Dengan ini saya mengumumkan bahwa hari ini dan saat ini juga cucu saya Dimas akan bertunangan dengan Aiko."
"Saya mohon untuk cincin tunangannya tolong di bawa ke atas panggung," perintah Kakek pada salah satu anak buahnya.
Dimas benar-benar terkejut dengan pengumuman tiba-tiba yang di buat Kakeknya. Ia merasa di jebak oleh permainan Kakeknya kali ini. Ia tidak mungkin bisa menolak permintaan Kakeknya di hadapan orang banyak. Itu pasti akan merusak reputasi Kakek dan juga dirinya. Dan yang pasti akan mempengaruhi pergerakan saham keluarga mereka.
Dimas mengepalkan tangannya, menahan amarahnya dengan wajah Dinginnya. Bahkan Eric yang melihat reaksi bosnya itu merinding. Merasakan hawa dingin yang keluar dari bosnya itu.
"Matilah kau bos, gadis kecilmu itu pasti menyaksikan ini semua," gumam Eric lirih.
TBC.
__ADS_1
Mohon maaf kalau up terkadang tidak bisa setiap hari. Karena terbentur pekerjaan yang lain.
Terimakasih banyak buat yang sudah mampir dan membaca. jangan lupa like vote dan komentarnya terimakasih 🤗😘