
Dimas dan Tiara saat ini berada dalam satu mobil, kebisuan terjadi pada mereka berdua semenjak Dimas menolak untuk memindahkan Manda ke kantor cabang.
Tiara turun dari mobil tanpa menyapa ataupun menunggu suaminya. Ia langsung memencet lift untuk menuju ke lantai 10 tempat kantornya berada. Sementara Dimas memarkirkan kendaraannya di arena parkir yang disediakan perusahaan.
Pintu lift terbuka lebar, baru saja Tia ingin melangkahkan kakinya ke ruangannya ia sudah di suguhi perdebatan Mona, Manda dan juga Erick
"Kamu menyuruh saya menunggu sehari untuk menyiapkan ruangan saya. Tapi apa ini, bagaimana bisa kamu menyuruhku satu ruangan dengan mereka" protes Manda pada Erick.
"Pak Erick sebaiknya Nona yang terhormat ini jangan taruh disini deh, taruh tempat lain aja brisik," ucap Mona.
"Diam Lu, ikut campur aja!!" gertak Manda yang ditanggapi Mona dengan cibiran.
"Maaf Nona, tapi tidak ada ruangan yang kosong. Hanya tempat ini yang memungkinkan untuk anda tempati."
"Kamu Taukan jabatan saya apa, saya ini asisten, bukan sekretaris. Harusnya saya mempunyai ruangan pribadi sendiri. Bukan ruangan sempit, bersama mereka."
"Dia benar Pak Erick, seharusnya asisten itu punya tempat sendiri. Cepet gih bawa dia pergi dari sini. Sepertinya Pulau Komodo atau Taman ujung kulon cocok buat dia" ejek Mona.
"Eh bacot lu ya, nggak pernah di sekolahin lu ya ngomong sembarangan. Lu pikir gue satwa liar apa."
"Ye situ sendiri yang ngaku-ngaku satwa liar, kenapa saya yang disalahkan, waras lu Bu."
Manda semakin terpancing dengan omongan Mona, ia mendatangi tempat Mona berada dan dengan sigap menarik rambut wanita itu.
"Dasar brengsek, lu ya!!" Manda menarik rambut Mona
"Aahhhh...., aduuuhh.... sakiiittt!!!" teriak Mona.
"Aaahhh...., sakiiittt!!! teriak Manda.
Mona yang tak terima reflek membalas, ia tidak hanya menjambak tapi juga mencakar tangan Manda yang tak juga melepaskan rambutnya. Akhirnya Jambak-menjambak dan saling mencakar pun terjadi. Erick yang terkejut pun berusaha melerai mereka. Namun naas bagi Erick ketika ingin melerai mereka, Erick malah mendapatkan serangan dari keduanya.
"Aaaahhh..., ampun Nona, ampuuunnn!!!! teriak Erick mendapat serangan dari dua wanita yang sudah gelap mata. Rambut Erick sudah tak terbentuk lagi karena mendapatkan penganiayaan. Bahkan kedua kancing baju bagian atas pun ikut raib. Dengan susah payah ia melepaskan diri dari amukan kedua wanita itu. Setelah Erick berhasil keluar dari arena pertarungan kedua wanita itu, segera ia menelpon satpam untuk menyuruh mereka naik ke lantai atas.
Mona dan Manda kembali melanjutkan aksi Jambak menjebaknya, bahkan mereka sampai berguling-guling di lantai. Erick yang tak berani melerai mereka lagi menjauhkan dirinya dari pertarungan itu.
"Hentikan!!!" teriak Tiara. Tiara sedari tadi memperhatikan perdebatan mereka. Tapi ia sama sekali tak menyangka perdebatan itu akan jadi ajang pertarungan.
__ADS_1
Teriakan Tiara tak mampu menghentikan perkelahian mereka, hingga dua orang satpam yang datang tergesa-gesa melerai pertengkaran mereka.
Setelah berhasil dipisahkan Tiara mendekati mereka. Mona dan Manda yang tersadar telah jadi tontonan pun tertunduk malu sembari merapikan rambut dan baju mereka yang berantakan. Tiara mempersilahkan satpam untuk kembali ke ruangan mereka setelah mengucapkan terimakasih.
"Kalian sadar dengan apa yang kalian lakukan? Apa kalian pikir kantor saya ini arena pertarungan" ujar Tiara kesal.
"Maaf Bu" ucap mereka berbarengan.
"Katakan, apa yang menjadi masalah kalian, hingga kalian berkelahi seperti orang gila."
"Ini semua gara-gara Pak Erick Bu," ucap mereka spontan.
"Kok gue sih" protes Erick.
"Iya, ini semua gara-gara Bapak, coba aja bapak nggak nyuruh saya satu ruangan sama Mona, pasti kita nggak akan bertengkar" ucap Manda membela diri.
"Betul Bu apa yang dikatakan Manda, semua gara-gara Pak Erick" Mona menyetujui ucapan Manda.
"Giliran nyalahin gue aja ya kalian pada kompak, apa kabar pertarungan kalian tadi" ejek Erick.
"Astaga..., salah lagi gue" ucap Erick pasrah.
"Ada apa ini?" tanya Dimas. Ia masuk bersama sekretarisnya dengan wajah terheran-heran melihat ruangan yang berantakan di tambah lagi kondisi Mona dan Manda yang acak-acakan.
"Tuan Dimas, tolong anda urus asisten pribadi anda. Dan oh ya untukmu Manda, Statusmu disini adalah asisten pribadi Tuan Dimas yang dia biayai sendiri. Jadi anda bukan pegawai resmi dari perusahaan ini. Sama sekali tidak ada kewajiban buat pegawai saya Erick mengurus dimana tempat anda harus bekerja. Sebaiknya anda minta tempat itu langsung ke Bos anda Dimas. Jadi tolong jaga sikap anda, atau saya bisa melempar anda keluar dari kantor ini kapan saja" Jelas Tiara tegas. Sementara Dimas yang mulai memahami apa yang terjadi tersenyum kecut.
Dasar Tiara kurang ajar, beraninya ia mempermalukanku. Lihat saja nanti, apa yang bisa seorang Manda lakukan, batin Manda dalam hati.
"Anda tidak perlu khawatir Bu, saya akan lebih memperhatikan asisten saya ini" ujar Dimas tak kalah kesal.
Setelah mendengar jawaban dari Dimas, Tiara kembali ke ruangannya.
Braaakkkk!!! terdengar suara Tiara membanting berkas-berkas ke atas meja dengan keras hingga membuat Dimas, sekretaris Dimas, Erick, Manda dan Mona berjingkat terkejut.
Astaga genderang perang sudah berbunyi, akankah kantor ini berubah jadi arena perang, batin Erick.
"Dimas, bagaimana dengan ruangan saya" tanya Manda dengan suara manja.
__ADS_1
"Cih, menjijikan" ujar Mona lirih dan berhasil mendapatkan pelototan dari Manda.
Erick yang melihat situasi tak menguntungkan untuknya, ingin cepat-cepat kabur sebelum bosnya memerintahkan hal yang menyulitkan dirinya lagi.
"Dimas..." panggil Manda lagi karena diabaikan oleh Dimas.
"Ini kantor Manda, Panggil Pak atau Tuan" perintah Dimas.
"Erick!!" teriak Dimas ketika Erick hampir kabur mencapai lift.
"Ya, tuan" jawab Erick tak bersemangat, ia berbalik dan kembali ke tempat Dimas dengan wajah lesu.
"Bawa Manda keruanganmu, biarkan dia bekerja disana."
"Tapi Tuan.."
Belum juga Erick menyelesaikan kata-katanya, Dimas sudah pergi dari sana dan masuk ke dalam ruangannya.
"Astaga, kenapa harus gue yang selalu ketiban sial" gumam Erick lirih tapi terdengar Manda
"Lu bilang apa tadi" Manda menaikkan intonasi suaranya.
"Saya nggak bilang apa-apa Nona Manda. Ya sudahlah, sudah begini mau apa lagi. Ayo Nona ikut ke ruangan saya."
Sementara di ruangan Erick, Manda kembali membuat ulah. Ia tidak mau ditempatkan di meja yang baru saja di bawa oleh seorang OB dengan alasan mejanya tidak Nyaman dan penempatannya yang kurang tepat. Hingga terpaksa mereka memindahkan meja itu berkali-kali ke posisi sesuai permintaan Manda.
Tapi rupanya kesabaran Erick kembali di uji karena Manda sudah tidak menginginkan Mejanya itu. Ia menginginkan Meja kerja Erick dengan alasan Meja Erick lebih high quality dan posisi penempatannya juga oke.
Berhasil memonopoli ruangan Erick membuat Manda tersenyum puas. Ia juga menempatkan aroma terapi khusus pada ruangannya.
Sementara Erick tersenyum kecut memikirkan nasib kedepannya karena harus seruangan dengan seorang Manda. Bahkan dengan seenaknya Manda menempatkan meja kerja Erick yang baru, di pojokan dekat dengan rak lemari buku sehingga tak begitu terlihat. Karena menurut Manda melihat Erick merusak mood kerjanya.
Erick menghantupkan keningnya ke meja kerjanya berkali-kali, melampiaskan rasa kesalnya karena ulah Manda.
"Aaaaaaahhhhhhh...." teriak Erick tiba-tiba.
TBC.
__ADS_1