UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Farih Menikah


__ADS_3

"Dim, aku pinjam istrimu sebentar ya. Ada hal penting yang harus aku bicarakan."


"Tapi..."


"Sudah biarkan saja mereka nak Dimas. Ayo kamu ikut Papa saja, Papa ingin tahu bagaimana kinerja Tiara di perusahaan."


Papa Aziz membawa Dimas ke ruang keluarga sementara Farih mengajak Tiara ke ruangan kerjanya.


"Apa? Kak Farih sudah menikah, siapa calonnya kak?"


"Warga desa tempat Kakak praktek. Dia gadis belia, bahkan lebih muda darimu."


"Apa? Wah, ternyata Kakakku benar-benar hebat, Baru beberapa bulan kakak berada di sana sudah bisa menaklukkan seorang gadis, masih muda lagi. Lalu dimana istri Kakak sekarang?"


"Ada di hotel."


"Gimana ceritanya kakak bisa menikah, tega sekali kakak tidak mengundangku ke pernikahan Kakak."


"Papa dan mama juga belum tahu tentang pernikahan kakak. Kakak tidak berani mengatakan pada mereka. Papa sudah merencanakan pertunangan kakak dengan anak kolega bisnisnya dua Minggu lagi atas persetujuan Kakak sebelumya. Kakak bermaksud membatalkan pertunangan kakak, tapi Kakak bingung bagaimana cara mengatakannya agar mereka tak kecewa."


"Kenapa Kakak menyetujui rencana pertunangan itu, kalau Kakak akhirnya malah menikah dengan yang lain?" tanya Tiara.


"Kamu tau kan betapa kecewanya Papa dan Mama terhadap Kakak sebelumnya. Jadi kakak berpikir dengan menyetujui pertunangan ini bisa mengobati rasa kecewa mereka. Dan pernikahan ini, Kakak juga tidak menginginkannya. Kakak terjebak dalam situasi yang rumit."


"Bisa Kakak ceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan pernikahan Kakak?"


Flashback on.


Tok tok tok


"Dokter, Dokter...."


"Ada apa?" tanya Farih ketika melihat seorang gadis mungil berada di depan pintu rumahnya.


"To-tolong saya Dokter nenek saya di rumah sakit parah."


"Tunggu sebentar, saya ambil perlengkapan saya dulu." Dengan terburu-buru Farih mengambil tas kerjanya, lalu kembali mendatangi gadis itu.


"Ayo," Farih mengajak gadis itu untuk menaiki mobilnya.

__ADS_1


"Maaf Pak Dokter, sebaiknya kita jalan kaki saja. Karena mobil dokter sepertinya tidak bisa di gunakan, karena jalan menuju rumah saya kecil dan melewati pematang sawah."


"Baiklah kalau begitu, ayo cepat kau tunjukkan jalannya."


Mereka pun berjalan secara beriringan. Gadis itu berada di depan sedangkan Farih mengikutinya di belakang.


"Hati-hati Dokter jalannya licin."


"Hmm"


"Aaaa.... tolong" tiba-tiba gadis itu akan jatuh terpeleset, sementara Farih yang mencoba menolongnya dengan berusaha meraih wanita itu. Farih berhasil menarik baju yang dikenakan wanita itu, tapi sayang karena kondisi jalan yang licin ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh menimpa gadis mungil itu"


"Aaaduuuh" teriak mereka bersamaan.


"Dok-dokter sakiiittt" ucap gadis itu karena kakinya tertimpa badan Farih. Sementara wajah Farih berada tepat di dada wanita itu. Wajah Farih bersemu merah mendapati kondisinya saat ini, untung saja mereka berada di tempat yang lumayan gelap hingga tak ada yang mengetahui kondisi mereka saat ini.


"Jangan kau gerakkan jika sakit, diamlah dulu" Farih mencoba bangun dari posisinya.


"ini licin sekali, astaga kenapa sulit sekali" Farih mencoba bangun dengan menopang tubuhnya menggunakan tangannya. Tapi terlihat kesulitan karena kondisi tanah yang licin.


Tiba-tiba segerombolan pemuda yang baru saja pulang dari mesjid mendatangi mereka. Mereka menyorotkan senter mereka ke sumber suara yang dari tadi mengusik pendengaran mereka. Betapa terkejutnya mereka melihat tubuh seorang pria dan wanita yang bertumpuk, seketika pikiran kotor menyelimuti pikiran mereka.


"Ini tidak seperti yang kalian pikirkan" ucap Farih membela diri.


"Dokter!!! Lia!!!" ucap pria paruh baya yang merupakan ketua RT di lingkungan itu.


"Pak RT!!" Farih dan gadis itu cukup terkejut mengenali siapa yang ada di depan mereka sekarang.


"Tolong bantu saya bangun terlebih dahulu." Farih mengulurkan tangannya meminta bantuan. Dengan sigap Farih bangun setelah mereka menariknya.


"Apa kau bisa bangun?" tanya Farih.


"Sakit..." gadis itu menangis merasakan kakinya yang sakit.


"Sepertinya Kakimu terkilir. Jangan di gerakkan kalau kau terus memaksa menggerakkannya seperti itu akan menambah cidera pada kakimu. Saya akan membantumu bangun." Farih menggendongnya dan mendudukkannya diatas sebuah batu.


"Bisa jelaskan pada kami, apa yang kalian lakukan di tempat gelap seperti ini?" tanya mereka.


"Kami terpeleset dan terjatuh, kami tidak melakukan apapun. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan" ucap Farih mencoba meyakinkan mereka.

__ADS_1


"Kami tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada kalian. Terlepas dari benar atau tidaknya, tapi jika ini sampai terdengar warga lainnya, maka reputasi gadis ini taruhannya. Maaf Dokter sepertinya Dokter harus menikahi gadis ini. Kami tidak bertindak kasar pada Dokter saat ini karena Dokter banyak berjasa untuk kampung kami" ujar Pak RT


"Tapi kami benar-benar tidak melakukan apapun" Farih membela diri.


"Siapa yang akan percaya dengan yang dokter katakan. Kami menemukan Dokter sedang menindih tubuh wanita ini dan juga lihat baju wanita ini robek sampai seperti itu."


"Iya, jangan percaya Pak RT mereka pasti mau buat mesum. Lihat aja kondisi bajunya" lagi-lagi salah satu dari mereka mulai memanas-manasi.


"Kalau mereka tidak mau di nikahkan kita arak aja keliling kampung, biar jadi pelajaran. Mentang-mentang Dokter kaya terus bisa bertindak seenaknya di kampung kami begitu!!"


Farih melihat baju gadis mungil yang sobek karena tarikannya tadi. Sementara gadis itu menundukkan kepalanya, dan berusaha menutupi bagian yang sobek dengan tangannya. Tubuh gadis mungil itu terlihat bergetar, entah ia ketakutan atau sedang menahan tangisannya. Dokter melepaskan jasnya, dan mengenakannya pada gadis yang terlihat ketakutan itu.


"Bi-bisakah kalian hentikan perdebatan kalian dulu. Nenek saya sedang sakit dan membutuhkan perawatan segera dari dokter ini. Itu sebabnya saya ada di sini dengan Dokter ini dan tidak ada yang terjadi diantara kami. Kami tadi terpeleset ketika melalui jalan itu. Kalau kalian tidak percaya ayo ikut aku ke rumahku" ucap gadis itu


"Ayo" mereka pun berjalan beriringan bersama, gadis itu berjalan dengan tertatih-tatih memimpin jalan menuju ke rumahnya.


"Ya Allah Lia kamu kemana aja, Nenekmu Lia, Nenekmu..." Dengan suara parau menahan tangis tetangga yang Lia titipi untuk menjaga neneknya berteriak histeris.


Dengan langkah tertatih-tatih ia mencoba berlari masuk ke dalam kamar Nenek di ikuti Farih di belakangnya.


"Hiks hiks hiks..., Nenek bangun, bangun Nek. Lia datang bawa dokter buat nenek. Bangun Nek..."


"Biar saya periksa." Farih memeriksa denyut nadi, pernafasan dan detak jantung nenek itu.


"Maaf saya tidak bisa membantu, beliau sudah tidak ada."


"Hiks hiks hiks, Nenek..., jangan tinggalkan Lia Nek. Lia sudah tidak punya orang tua dan Nenek adalah keluarga Lia satu-satunya. Jangan tinggalkan Lia, Nek. Lia mohon hiks hiks hiks..."


Semua orang yang berada di sana menatap gadis itu iba, Farih melirik orang yang ikut datang bersamanya juga mencoba menenangkan gadis mungil itu.


"Jangan ditangisi, ikhlaskan Nenekmu. Doakan ia agar mendapatkan kebahagiaan disana."


"Iya Lia sabar ya, kami turut berduka."


"Maaf Pak Dokter, bisa kita bicara?" tanya Pak RT.


"Begini Dok, saya tau mungkin memang tidak terjadi apa-apa di antara kalian. Tapi jika kejadian ini sampai tersebar, ini akan menjadi aib buat gadis itu. Apalagi sekarang ini ia tidak memiliki siapapun. Sebagai ketua RT disini saya mau bertanya, maukah Pak Dokter menikahi gadis itu. Jangan khawatir di gadis baik dan polos. Dokter tidak akan menyesal menikahinya."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2