
Mona yang merasa senang dengan kehadiran Tiara langsung memeluknya, sementara Reno menemani Rendra untuk mengambil baju di mobil.
"Kabarku baik, aku hanya sedang berlibur saja mencari suasana baru" ucap Tiara menanggapi kehebohan Mona.
"Kapan jadwalmu melahirkan Tiara?" tanya Mona sembari mengelus perut Tiara, Mona mengajak Dimas dan Tiara untuk masuk kedalam rumah.
"Perkiraan dokter sih 2 bulan Lewat 2 Minggu, Kamu kapan nikah? Jangan lama-lama kalau punya niat baik harus di segerakan" ucap Tiara.
"Aku ingin menikah kalau kamu mau jadi pendampingku. Kau tau kan kau adalah sahabat terdekatku, bagaimana mungkin aku menikah tanpa kehadiranmu?" ucap Mona dengan bibir manyun.
"Iya-iya aku akan mendampingimu, tapi cepetan nikahnya jangan lama-lama entar aku keburu lahiran lagi" Tiara duduk di sofa dan meluruskan kakinya ke bawah sambil memijat kakinya.
"Capek Yang" Dimas duduk di sebelah Tiara dan menggantikan memijat kaki Tiara.
"Iya Mas, kelamaan berdiri di rumah sakit tadi" ucap Tiara membiarkan Dimas memijat kakinya yang terlihat sedikit bengkak.
"Luruskan aja diatas sofa Tiara, nggak apa kok. Anggap aja seperti rumah sendiri.
"Terimakasih Mona, udah agak mendingan kok."
"Dimas menghiraukan ucapan Tiara ia meraih kaki istrinya dan menaruhnya hati-hati di pangkuannya. Dimas memijat telapak kaki Tiara yang terlihat agak bengkak.
"Kalian ini sweet banget sih, bikin iri aja" protes Mona melihat begitu perhatiannya Dimas pada Tiara.
"Mangkannya cepetan nikah biar ada yang perhatiin" ucap Tiara.
"Aku udah ajak Mona nikah berapa kali selalu di tolak, katanya sih nunggu kamu Tiara" ucap Reno memasuki ruangan itu dan menyambung pembicaraan Tiara dan Mona.
"Rendra mana Mas?" tanya Mona menengok ke belakang Reno.
"Di ajak Andre mandi, badannya basah kuyup bau amis lagi. Katanya sih habis nangkap ikan di kolam" jawab Reno mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah Mona.
"Jadi gimana nih, kapan nikahnya? keburu aku lahiran nanti!" tanya Tiara lagi, sementara Dimas masih di sibukkan memanjakan kaki istrinya.
"Dua Minggu lagi gimana Yang" tanya Reno.
__ADS_1
"Kecepatan Mas, aku belum siap" tolak Mona.
"Apanya yang belum siap Mona, Baju pengantin kita udah jadi, Cincin kita juga sudah ada, gedung juga udah siap, katering tema pernikahan juga udah kita pilih termasuk WO nya juga udah siap. Kamu mau apa lagi! bukannya kemarin katamu asal Tiara datang kita bisa langsung nikah" ucap Reno mengingatkan, ia kesal karena Mona terlihat ragu untuk menikah dengannya.
"Atau kamu sengaja cari-cari alasan ya. Biar nggak nikah sama aku" akhirnya Reno mengeluarkan kekesalannya juga.
"Bukan seperti itu, aku hanya takut aja" ucap Mona dengan suara mengecil.
"Takut apa?" tanya Reno penasaran, sementara Dimas dan Tiara hanya mperhatikan saja pembicaraan calon kedua mempelai.
"Mona takut gagal Mas, Mona maunya nikah sekali seumur hidup" Mona terlihat menunduk sedih.
"Mas juga maunya gitu Mona, tapi ternyata takdir Mas berkata lain. Mas mungkin nggak bisa menjanjikan yang terbaik buat kamu, tapi mas akan berusaha menjadi suami dan ayah yang terbaik untuk kamu dan anak-anak kita kelak. Mas juga ingin kamu jadi yang terakhir buat Mas" jelas Reno sembari meraih tangan Mona dan menggenggamnya.
"Jadi gimana nih, kapan tanggal jadinya" ucap Tiara menimpali.
"Tinggal nikah aja kok repot, nikah itu enak lho Mon" ucap Dimas asal.
Mona menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu, akhirnya ia menatap Reno yang ada di sampingnya.
"Terimakasih" Reno menarik Mona ke dalam pelukannya.
"Ehhemmmm" Dimas berdehem membuat Mona melepaskan pelukan Reno.
"Belum sah, jangan peluk-peluk" ucap Dimas.
"Sok alim lho!! padahal mesumnya nggak ketulungan" Reno melempar bantal kursi ke arah Dimas. Mona dan Tiara tertawa kecil, akhirnya kebahagian untuk Reno dan Mona akan segera tiba.
"Kak Tiaraaaa!!" Rendra yang baru datang tiba-tiba lari mendekat ke arah Tiara, kali ini dia sudah wangi dengan penampilan yang terlihat rapi.
"Jangan lari-lari, nanti jatuh!" seru Mona.
Rendra menghentikan larinya mendekat ke arah Tiara dan memeluknya dari samping.
"Rendra kangen banget sama Kak Tiara" ucap Rendra.
__ADS_1
"Kakak juga" Tiara membalas pelukan Rendra.
"Hallo adik kecil, kapan kamu keluar. Nanti main sama Kak Rendra ya" Rendra mengelus perut Tiara mengajaknya bicara
"Wah bayinya bergerak Kak, ia menendangku, ia pasti senang karena Rendra menyentuhnya" ucap Rendra terlihat antusias.
"Bayinya tidak senang kau menyentuhnya, mangkannya ia menendangmu" ucap Dimas asal. Entahlah Dimas selalu saja sewot terhadap orang-orang yang mencoba dekat dengan istri dan calon putrinya.
"Yeeee om salah! bayi ini sangat menyukaiku" ucap Rendra tak mau kalah.
"Kau memanggil istriku Kakak dan memanggilku Om, apa-apaan kau ini" protes Dimas.
"Aku akan memanggil Kak Tiara dengan Mommy Tiara jika bayi ini lahir nanti" ucap Rendra kembali mengelus perut Tiara.
"Terserah kau saja" ucap Dimas, sebenarnya bukan kata-kata itu yang ingin ia katakan. Tapi tatapan tajam Tiara membuatnya mengalah pada Rendra.
**************
Mike sudah sampai di rumah Kakek Dimas, ia memutuskan tinggal disana untuk sementara waktu. Mungkin sampai beberapa Minggu ke depan, ia tidak enak untuk menolak permintaan Kakek yang menginginkan Mike tinggal dengannya.
"Kakek sudah memilihkan kamar ini untukmu, kamar ini baru di renovasi dan barang-barangnya juga baru Kakek ganti" ucap pria tua itu terlihat antusias. Ia memilihkan Kamar lantai dua dengan ruangan terluas. Rumah Kakek juga di lengkapi dengan lift jadi tidak akan mempersulit Mike jika ingin naik dan turun.
"Dan untukmu gadis manis kau boleh memilih ingin di kamar lantai berapapun. Banyak kamar kosong disini.
Rumah Kakek ada 4 lantai, lantai satu ruang tamu, ruang tengah, dapur dan kamar pembantu. Lantai dua kamar tidur, dan ruang kerja, mini bar. Lantai 3 ruang tidur, ruang kerja, dan mini bar. Lantai 3 adalah lantai khusus yang di gunakan Dimas jika menginap. Lantai empat khusus tempat olah raga, ruang bioskop, dan mini bar terdapat juga taman bunga di roof top bagian teratas.
Rumah Kakek jauh lebih luas di bandingkan rumah Ayah Dimas yang terdiri dari 3 lantai. Tapi sayang penghuni di rumah Kakek hanya Kakek sendiri, pembantu dan para bodyguard.
"Nara tinggal di sebelah Kak Mike saja Kek, jadi kalau Kak Mike butuh bantuan Nara, akan memudahkan Kak Mike" ucap Nara, ia terlihat santai tinggal dirumah ini karena keramahan Kakek, di bandingkan tinggal bersama Dewi yang membuatnya kehilangan senyumannya.
"Baiklah, Kakek harap kalian betah tinggal di rumah Kakek. Kakek juga akan menghubungi Dimas dan Tiara untuk menginap disini. Anak nakal itu bahkan belum mengunjungi semenjak kepulangannya" protes Kakek terlihat kesal.
"Kalian istirahatlah dulu, dua jam lagi kita akan makan bersama. Biar para pelayan menyiapkan menu istimewa untuk kalian" ucap Kakek lagi di angguki oleh Nara dan Mike.
Kakek meninggalkan mereka berdua, dengan di temani oleh masing-masing satu pelayan Mike dan Nara masuk ke kamar mereka. Pelayan langsung membantu mereka menata pakaian di lemari dan menyiapkan air hangat untuk mereka mandi.
__ADS_1
TBC