UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Tiara melahirkan


__ADS_3

Suara rintihan Tiara terus terdengar, rasa sakit makin lama semakin intens terasa. Nara mendatangi Mike saat mendengar Dimas berteriak, Mike langsung turun ke garasi menyiapkan mobil untuk di bawa ke rumah sakit.


Dimas membopong Tiara menuju mobil. Mobil melaju ke rumah sakit dengan cepat. Dimas posisinya saat ini sedang memangku Tiara sembari mengelus perut Tiara.


"Saaakkiiiiitttt Maaas" Tiara terus merintih kesakitan bahkan keringat dingin membasahi wajah dan tubuhnya.


"Sabar ya sayang sebentar lagi kita sampai" Dimas mengelus perut Tiara dan sesekali menghapus keringatnya.


"Nara tolong kau hubungi dokter Leo, dan katakan jika Tiara mengalami kontraksi dan kita akan segera sampai disana" Dimas


menyerahkan handphone miliknya kepada Nara.


"Anak Daddy jangan nakal ya, jangan buat Mommy mu sakit" Dimas terus mengelus perut Tiara. Bahkan ia juga mengalami kegugupan dan buliran keringat juga ikut membasahi wajah dan tubuhnya. Rupanya AC di dalam mobil tak mampu untuk meredam buliran keringat yang membasahi wajahnya.


"Sabar ya Kak Tiara sebentar lagi kita sampai" ucap Mike.


Mobil berhenti tepat di depan pintu rumah sakit. Dokter Leo yang menunggu kedatangan Dimas dan Tiara telah bersiap-siap dengan sebuah brankar pasien. Ada dokter spesialis kandungan dan dua orang suster juga disana.


Dimas membopong Tiara keluar dalam mobil, ia menaruhnya diatas brankar pasien. Tiara tidak mau melepaskan pegangan tangannya pada Dimas. Ia terus menggenggam erat tangan suaminya.


Dokter memeriksa Tiara di dampingi oleh Dimas. dokter mengetakan jika Tiara baru bukaan 5 masih harus menunggu waktu lagi untuk mencapai bukaan sempurna.


Tiara tidak mau tiduran atau duduk diam menunggu bukaan sempurna. Ia memilih jalan-jalan di ruangan perawatan yang sudah Dimas siapkan khusus untuk Tiara. Kebetulan rumah sakit yang mereka datangi saat ini adalah rumah sakit milik keluarga Dimas.


"Hati-hati sayang" Dimas tak tega melihat Tiara yang menahan sakit. Wajah putihnya bahkan memerah, bulir-bulir keringat di wajahnya terus bermunculan padahal Dimas sesekali menghapusnya.


Tarik napas keluarkan, tarik napas keluarkan, Tiara mengatur ritme pernapasannya dan berusaha menenangkan pikirannya. Ternyata cara ini cukup efektif untuk menghilangkan rasa sakit akibat kontraksi.


Setiap beberapa jam sekali dokter memeriksa kandungannya hingga akhirnya bukaan telah sempurna. Bahkan Tiara mengalami pecah air ketuban. Tindakan persalinan segera di lakukan.


"Bersiap Bu ya, kalau saya suruh ngeden ibu ngeden. Tapi kalau belum saya suruh jangan dulu takutnya ibu kehabisan tenaga nanti" saran Dokter itu pada Tiara, Dimas memilihkan dokter wanita khusus untuk Tiara.


"Yak ngeden Bu" ucap Dokter itu.


"Eeeeee......."

__ADS_1


"Stop" ucap dokter itu dan meminta Tiara untuk berhenti dan mengambil nafas lagi.


"Saaakkiiiiitttt Maaas" Tiara mencengkram lengan Dimas.


"Iya sayang sebentar lagi bayi kita lahir, sabar ya" Wajah Dimas memucat melihat proses persalinan istrinya. Tapi demi anak dan istrinya ia tetap harus kuat.


"Sekali lagi ya Bu" pinta dokter itu.


Setelah beberapa kali ngeden akhirnya terdengar juga suara tangisan bayi.


"Oeee, oeee, oeee ....." Suara tangisannya terdengar hingga keluar ruangan. Nara dan Mike yang sejak tadi duduk berdampingan tanpa sadar saling memeluk ketika mendengar suara tangisan bayi.


"Alhamdulillah akhirnya," ucap Mike masih di dalam pelukan Nara. Nara yang tiba-tiba tersadar langsung melepaskan pelukannya. Semburat warna merah tampak jelas di wajah putihnya.


Tak lama Kakek datang menghampiri mereka, Kakek sedang mandi ketika mereka berangkat ke rumah sakit, ia mendapatkan kabar Tiara mengalami kontraksi dari asisten rumah tangganya.


"Bagaiman cucu dan cicitku? apakah cicitku sudah lahir?" tanya Kakek


Baru saja Mike ingin menjawab tiba-tiba pintu ruang persalinan terbuka, dan Dokter muncul dengan wajah tersenyum senang.


"Apakah saya bisa melihat cicit saya dokter?"


"Tunggu sebentar, bayinya sedang di bersihkan sebentar lagi Kakek bisa masuk kalau bayinya siap" ucap Dokter itu kembali masuk kedalam.


Kekek, Mike dan Nara tersenyum lega. Hingga akhirnya mereka di ijinkan untuk melihat bayinya di ruang khusus bayi.


Dimas duduk di sebelah Tiara, menatap wajah lelah istrinya yang sedang tertidur. Tiara sudah di pindahkan di ruang rawat inap dengan fasilitas mewah dan lengkap.


Tak lama seorang suster masuk membawa bayi mereka di dalam box bayi. Dimas mendekat dan melihat bayi imut mereka.


Nara, Mike dan Kakek ikut masuk melihat bayi cantik yang dilahirkan Tiara. Setelah puas melihat, mereka permisi keluar karena Tiara harus menyusui bayinya.


Suster membangunkan Tiara untuk menyusui bayinya. Dengan di bantu Dimas akhirnya bayi mungil itu menyusu dengan nyaman. Terdapat senyuman bahagia di wajah Tiara dan Dimas. Bahkan Dimas berkali-kali mencium pipi bayi cantiknya itu.


"Udah Daddy, jangan dicium terus" protes Tiara.

__ADS_1


"Habis gemes banget Daddy" ucap Dimas.


"Daddy sudah siapkan nama buat anak kita belum?" tanya Tiara.


"Sudah. Aqilla Faranisa Nugraha artinya wanita cerdas yang selalu berbahagia. Seperti arti nama itu, aku juga mengharapkan kebahagian untuk putriku" ucap Dimas kembali mencium pipi gembul putrinya yang sedang menyusu.


"Terimakasih Daddy namanya cantik, Aqilla suka" ucap Tiara meniru suara anak kecil.


"Daddy bajunya kebalik dari tadi nggak nyadar ya" ucap Tiara lagi, ia tertawa kecil setelah memperhatikan Dimas. Ya baju Dimas terbalik karena memakainya asal pada saat keburu-buru mengantar Tiara ke rumah sakit.


"Biarin aja yang penting orangnya tetap terlihat tampan" ucap Dimas cuek.


"Buruan gih Daddy bajunya di balik di kamar mandi sana, masa tampan-tampan bajunya kebalik" ucap Tiara, akhirnya Dimas menuruti ucapan Tiara. Tapi Dimas tak melakukannya di kamar mandi. Ia melepaskannya begitu saja di depan Tiara, membuat Tiara menggelengkan kepalanya.


Sementara Nara dan Mike masih duduk di depan ruangan Dimas. Sedangkan Kakek ia sudah pulang ke rumah, usia tua membuatnya mudah lelah.


Terdengar dering handphone Mike dengan segera ia mengeluarkan handphone dari tas kecil yang menggantung di pinggangnya.


Ia menatap nomor yang menghubunginya dan mengerutkan keningnya.


"Siapa Kak" tanya Nara heran, karena Mike tak mengangkatnya sedari tadi dan malah mengerutkan keningnya.


Mike tak menjawab pertanyaan Nara dengan segera ia mengangkat nomor dari pengawal yang dipercaya untuk menjaga Dewi.


"Ada apa?" tanya Mike begitu mengaangkat handphone miliknya.


"Non Dewi tuan, dia meminta ijin untuk bisa segera menyusul Tuan."


"Katakan padanya, untuk kemari dua Minggu lagi" ucap Mike, ia ingin mempersiapkan sebuah rumah dulu untuk mereka tinggali. Ia merasa tidak enak jika harus membawa Dewi tinggal di rumah Kakek.


"Tapi Tuan, Non Dewi mengancam jika ia tak boleh menyusul Tuan besok, maka ia kan membuat ulah. Ini sudah ke lima kalinya saya dipanggil oleh kepala sekolah karena non Dewi terus membuat ulah."


Mike menghela nafasnya, ia bingung apa yang harus ia lakukan mengingat perlakuan Dewi terhadap Nara.


TBC

__ADS_1


__ADS_2