UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Kemarahan Tiara.


__ADS_3

Amanda dan Dimas saat ini berada di ruang makan. Manda meminta Dimas untuk menemaninya menikmati salad yang baru saja Dimas belikan


"Dim, ingat ya dua hari lagi aku periksa kandunganku." Manda selesai dengan makannya dan memulai pembicaraan dengan Dimas.


"Hemm" jawab Dimas terlihat acuh. Sebenarnya ia ingin menghubungi Tiara tapi ia teringat handphone miliknya yang tertinggal.


"Dim, tolong sempatkan waktumu menengokku tiap hari. Anakmu juga butuh perhatianmu, walaupun kau berkunjung hanya sebentar juga tak masalah bagiku. Aku tau Tiara yang terpenting buatmu saat ini, tapi aku hanya ingin anak ini merasakan kehadiran ayahnya. Aku janji tidak akan menuntutmu untuk menikahiku selama kau mau mengunjungiku dan anak kita setiap hari" ucap Manda memelas sambil meneteskan air matanya.


"Akan aku pikirkan nanti. Sekarang istirahatlah aku ingin pulang, Tiara pasti menungguku dirumah" ujar Dimas, ia terlihat mulai gusar dengan pikirannya sendiri.


Dimas menggeser kursinya dan ingin berlalu pergi. Baru saja ia melangkahkan kakinya tiba-tiba Amanda berteriak kesakitan.


"Aduh-duh Dim, tolong perutku sakit. Dimas tolong aku, tolong Dim ini sakit banget" rintih Manda terlihat kesakitan. Dimas yang ingin berlalu pergi kembali berbalik dan mendekati Manda.


"Ada apa? Kenapa?" tanya Dimas terlihat khawatir dan terkejut, pasalnya sebelumnya Manda tidak memiliki keluhan apapun.


"Perutku sakit banget, rasanya seperti keram Dim, tolong bawa aku ketempat tidur," pinta Manda, sambil mengacungkan tangannya. Karena Iba, Dimas menyambut tangan Manda dan menggendong Manda ke kamarnya, Manda tersenyum licik diam-diam.


"Aku akan menghubungi dokter" ujar Dimas setelah menaruh Manda di atas tempat tidur.


"Ini Mas nomor dokter kandungan yang biasa memeriksaku" ujar Manda memberikan selembar kartu nama yang ia taruh di laci meja kecil dekat dengan tempat tidurnya.


Setelah Dimas berhasil menghubungi Dokter, Manda meminta Dimas mendekat padanya.


"Dim, kemarilah" Manda menepuk kasur di sebelahnya, meminta Dimas untuk duduk disitu.


"Ada apa? katakan saja, aku bisa mendengarnya dari sini" tolak Dimas.


"Tapi anakmu menginginkanmu disini, tolonglah Dim perutku beneran sakit ini" pinta Manda dengan mode manjanya. Manda yang mengatasnamakan anaknya membuat Dimas iba, sepertinya ia mulai tahu kelemahan Dimas dan memanfaatkannya.

__ADS_1


Dimas mendekat kearah Manda, ia duduk di samping tempat tidur.


"Kata Dokter yang merawatku, jika perut Ibu keram maka Ayahnya harus mengelusnya seperti ini" Manda mengambil tangan Dimas dan menggerakkannya berputar mengelus perutnya.


"Lihat, ini benar-benar efektif. Perutku sudah agak mendingan dan tidak terlalu keram lagi."


"Tolong, lakukan lagi sampai bayinya tenang di dalam. Anak kita memang pintar ya Mas, dia tahu ayahnya menyentuhnya jadi hilang deh rewelnya. Sebelah sini juga Mas tolong di elus" pinta Manda ketika Dimas ingin menarik kembali tangannya.


Tak lama seorang dokter wanita datang, dokter itu ternyata merupakan pegawai rumah sakit milik keluarganya.


"Tuan Dimas" ucap Dokter itu terkejut. Dokter Marta merupakan teman dari dokter Leo. Ia mengenal Dimas cukup lama, karena ia sudah lumayan lama mengabdi di rumah sakit milik keluarga Dimas.


Dokter Marta menatap Manda dan Dimas bergantian heran, Ia tahu jika Dimas adalah suami Tiara. Tapi apa ini, mengapa Dimas berada disini dengan seorang wanita hamil?


"Tolong periksa dia" perintah Dimas mengabaikan keterkejutan Dokter Marta."


Dokter Marta memeriksa Manda, dan menekan lembut beberapa tempat perut wanita hamil itu.


"Tidak Dokter, tadi hanya keram saja. Tapi sudah agak mendingan setelah Ayahnya mengelusnya" ujar Manda memperhatikan Dimas dan tersenyum, sementara Dimas memalingkan wajahnya acuh. Dokter Marta cukup terkejut dan tidak menyangka jika anak bosnya berani berselingkuh bahkan sampai wanita itu mengandung anaknya.


"Bayi dan Ibunya sehat, tapi tolong usahakan agar si Ibu terus bahagia karena stress akan mempengaruhi kondisi bayinya. Jika ingin mengetahui lebih perkembangan bayinya, Ibu bisa melakukan USG" ucap Dokter Marta. Manda diam-diam tersenyum senang. Dimas tidak menjawab ia hanya menaikkan kedua alisnya malas.


"Ini resep Vitamin untuk ibu dan bayinya" Dokter itu menyerahkan pada Dimas kertas resepnya kemudian berpamitan.


Akibat kondisi Manda, Dimas tertahan disana sampai malam hari. Tiara yang kesal menunggu Dimas tak juga pulang mengurung dirinya di kamar. Jika tidak mengingat kata-kata Kakaknya ingin sekali ia menjauh dari kehidupan Dimas.


Dimas sampai dirumahnya sekitar jam 11 malam. Ia membuka kamarnya yang ternyata dalam kondisi terkunci. Ia mencoba mengetuk pintu kamar itu berkali-kali memanggil nama Tiara namun tak ada jawaban juga.


Ia menyadari istrinya pasti sedang marah padanya. Dimas mengambil kunci serep yang ada di laci meja kerjanya dan memasuki kamar itu pelan-pelan. Ia langsung menuju ke atas tempat tidurnya.

__ADS_1


"Yang," sapa Dimas pada Tiara yang terlihat sedang tertidur dengan posisi miring membelakangi Dimas.


"Sayang, maafkan Mas ya karena pulang telat" Dimas mengecup pipi Tiara, ikut masuk ke dalam selimut dan memeluknya. Tiara yang menyadari pelukan suaminya dengan cepat terbangun dan pindah ke sofa dengan perasaan kesal.


"Yang, kok pindah sih. Kamu marah ya Yang, maaf ya, mas tadi sibuk banget" Dimas masih saja belum mau berterus terang kepada Tiara.


"Yang" Dimas kembali mendekat menuju sofa dan mencoba memeluk istrinya kembali.


"Jangan sentuh aku Mas" kesal Tiara.


"Maaf Yang, mas tadi juga pinginnya pulang cepet. Tapi nggak taunya malah kerjaan Mas numpuk" ucap Dimas masih saja berbohong.


"Aku heran banget Mas sama kamu, pinter banget kalau bohongin istri. Lain kali kalau mau bohongin istri pinter dikit Mas. Nemuin selingkuhan aja pakai alasan lembur sibuk kerja. Kalau kamu memang lebih milih sana, lebih ngeberatin sana, Tiara nggak masalah kok Mas. Karena nggak ada gunanya mempertahankan orang yang sama sekali nggak pernah menghargai dan mikirin perasaan istrinya" kesal Tiara, membuat Dimas terkejut dan terdiam sesaat.


"Bukan begitu Sayang, maaf mas nggak maksud khianati kamu sayang. Kamu salah paham, Manda itu tadi ngancam mau bunuh diri, Mas nggak mungkin diem aja dong sayang. Apalagi dia lagi hamil..."


"Hamil, anak Mas maksudnya. Mas yakin!! Segitu sayangnya kamu sama dia Mas, di bandingkan mikirin perasaan aku. Aku juga lagi hamil Mas yang jelas-jelas anak kamu, tapi kamu tega ngabaikan aku Mas. Sebenarnya mau Mas apa? bilang sama Tiara. Kalau Mas memang ngeberatin sana, ya udah Tiara mundur Mas. Tiara nggak mau makan hati karena punya suami yang nggak bisa tegas ama perasaannya sendiri."


"Bukan gitu Yang, sumpah Mas sayang banget sama kamu, juga calon anak kita. Tapi Manda tadi itu benar-benar butuh Mas sayang, maafin Mas ya." Dimas kembali mendekati Tiara dan mencoba memeluknya kembali tapi di tepis oleh Tiara.


"Mas pikir cuma dia aja yang butuh Mas, Tiara sama anak Tiara nggak gitu!! Ya udah kalau memang pikiran Mas gitu, nggak usah pulang sekalian. Mas tinggal aja sama tuh buaya betina!!"


"Sayang, maafin Mas. Yang, tolong dong jangan ngambek. Maksud Mas nggak gitu sayang. Mas minta maaf Yang, seriusan mas sayang banget sama kamu. Sekarang sayang maunya Mas harus gimana? biar bisa maafin Mas" ucap Dimas berkali-kali mencoba meminta maaf tapi diabaikan oleh Tiara.


"Telat Mas, nanya gitu sekarang sama Tiara. Tiara dah kadung illfeel sama Mas. Sekarang mendingan Mas keluar deh dari kamar ini. Tiara alergi deket-deket sama Mas, apalagi bau parfum tuh buaya betina nempel di baju kamu."


"Yang tolong jangan gitu dong, Mas janji nggak deket-deket dia lagi deh. Tolong dong maafin Mas."


"Mas yang keluar dari kamar ini atau Tiara yang keluar dari rumah ini. Mas tinggal pilih aja, jangan seperti anak kecil yang habis berbuat salah terus ngerengek minta maaf"

__ADS_1


TBC.


__ADS_2