UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Permintaan Kakek.


__ADS_3

Mama Rina yang kini telah mengetahui kehadiran dua wanita cantik di ruangan itu, dengan segera menuju ke arah mereka berdua.


"Mona siapa wanita cantik di sampingmu ini?"


"Perkenalkan Nyonya, saya Tiara" Tiara menjawab pertanyaan Mama Rina sebelum Mona membuka suaranya.


Oh ini yang namanya Tiara, pantas Reno suka anaknya memang cantik batin mama Rina.


"Nyonya" ucap Mona dan Tiara bersamaan membuyarkan lamunannya.


"Eh iya, perkenalkan Saya Mamanya Reno. Jangan panggil Nyonya, kalian bisa memanggil Tante atau Oma juga boleh" Mama Rina tersenyum manis ke arah Tiara.


"Baik Nyo, eh Tante. Dan maafkan saya Tante karena tidak bisa menjaga Rendra hingga jadi celaka seperti ini. Saya benar-benar gagal menjaganya Tante, maaf..." Tiara kembali terisak mengingat penderitaan Rendra akibat keteledorannya.


"Ini bukan salahmu sayang, ini adalah kecelakaan. Sekarang yang terpenting kita semua harus kuat. Kita doakan untuk kesembuhan Rendra dan juga terus memberi semangat kepadanya. Mudah-mudahan dengan begitu akan membuat Rendra semangat untuk segera sembuh dan kembali ceria lagi."


Mama Rina tersenyum ke arah Tiara, ia mengelus punggung Tiara yang terus bergetar karena Isak tangisnya.


"Sekarang sudah malam, kalian pulanglah. Biar Reno yang mengantar kalian" perintah Mama Rina.


"Tidak Tante saya ingin berada disini, bagaimana jika nanti Rendra sadar dan mencari saya."


"Baiklah kau boleh berada disini, Dan kau Mona pulanglah bersama Reno. Besok pagi kau bisa kesini lagi, dan jangan lupa bawakan sarapan untuk Reno dan Tiara. Tante tidak mau anak Tante jajan sembarangan, makanan rumah lebih sehat dan terjamin."


"Baik Tante. Tiara saya pulang dulu ya, Tante saya permisi. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam" jawab Mama Rina dan Tiara bersamaan. Mona pun keluar dari ruangan itu di ikuti oleh Reno yang menyusul berjalan di belakangnya.


Saat ini Mona dan Reno berada di dalam mobil. Reno meminta Mona untuk duduk di depan. Cukup lama mereka terdiam di dalam mobil. Hingga akhirnya Reno berinisiatif berbicara memecah keheningan.


"Mona terimakasih ya."


"Untuk apa Tuan?"


"Terimakasih karena ketanggapan dan kelincahanmu jadi kita bisa sampai di rumah sakit dengan cepat. Dan Rendra bisa segera di selamatkan, Sekali lagi terimakasih."


"Tuan tidak perlu seperti itu, itu sudah jadi kewajiban kita Tuan untuk saling tolong menolong. Hari ini saya yang menolong Tuan, tapi bisa jadi besok saya yang membutuhkan pertolongan Tuan."


"Iya kamu benar, tapi saya cukup kagum lho Mona. Kamu tuh gesit dan lincah banget bawa mobilnya, cocok jadi pembalap. Belajar darimana? Saya aja belum tentu bisa seperti itu."


"Ah Tu-tuan, anda terlalu berlebihan."


"Aku nggak berlebihan Mona, aku beneran. Tau kamu bisa bawa mobil aja udah buat saya terkejut. Apalagi pas lihat sendiri kamu bawa mobil seperti pembalap profesional, Saya jadi semakin kagum."

__ADS_1


"Ah Tu-tuan kita jangan bahas ini lagi ya. Saya jadi malu."


Reno sedikit terkekeh melihat ekspresi malu-malu Mona.


Wanita ini terlalu misterius, Siapa kamu sebenarnya Mona, batin Reno melirik ke arah Mona


**************


Sementara itu Dimas Sekarang berada di mansion yang di tempati Kakeknya selama di Jepang. Ia duduk di sofa dengan tidak tenang menunggu kedatangan kakeknya.


Tak lama terdengar suara langkah kaki pria tua itu di ikuti dua orang anak buah dengan tubuh kekar berotot mengikuti langkah kaki pria tua itu dari belakang.


Ketika pria tua itu melihat kehadiran Dimas, ia meminta kedua bodyguard-nya untuk meninggalkannya sendiri dengan Dimas. Karena ia tau pasti cucunya satu itu pasti ingin berbicara empat mata dengannya.


"Dimana sopan santunmu pergi meninggalkan pesta begitu saja. Apa kau tidak berpikir perbuatanmu itu membuatku malu" Kakek memarahi Dimas begitu ia mendudukkan dirinya di sofa tepat di hadapan Dimas.


" Kenapa kakek memarahiku? ini semua bukan kesalahanku kakek tiba-tiba saja memaksaku bertunangan dengannya tanpa mengatakan apa-apa sebelumnya. Kakek pikir aku tak terkejut."


"Cih, alasan saja kau," ucap Kakek bersedih kesal.


"Saya tidak mau tau, pokoknya kakek harus membatalkan pertunanganku dengannya."


"Baik, tapi Kakek punya 3 syarat untukmu."


"Pertama, Kakek ingin kau memberikan kesempatan pada Aiko. Biarkan Aiko dekat denganmu selama 6 bulan. Jika selama 6 bulan itu Aiko tidak bisa membuatmu jatuh cinta maka Kakek setuju untuk membatalkan pertunangan kalian. Yang kedua Kakek ingin kau berada di Jepang seminggu lagi. Akan ada investor di bidang peralatan medis. Ia akan memasok rumah sakit kita. Kakek ingin kau menangani ini. Yang Ketiga..."


"Saya tidak setuju dengan semua persyaratan kakek. Karena besok saya ingin pulang," ucap Dimas menyela pembicaraan Kakeknya.


"Apa kau yakin, tapi Kakek rasa kau tidak punya pilihan lain cucuku, sebaiknya kau turuti permintaanku. Kau tidak ingin bukan jika Tiara tiba-tiba menghilang seperti wanita kesayanganmu dulu."


Dimas mengepalkan tangannya kuat, ia tau jika Kakeknya saat ini tidak main-main dengan perkataannya. Sepertinya kali ini pun ia harus mengalah.


"Baiklah saya akan memberi kesempatan untuk Aiko untuk dekat denganku, tapi 1 bulan saja."


"Apa kau ingin tawar menawar denganku"


"3 bulan atau tidak sama sekali. Saya tidak perduli Kakek ingin melakukan apa. Saya sudah lelah."


"Baiklah 3 bulan, setidaknya kau sudah mau memberikan kesempatan untuknya."


"Kek, tolong kembalikan handphone Erick dan juga amplop yang Kakek ambil darinya."


"Kau yakin?"

__ADS_1


"Apa maksud Kakek?"


"Kakek hanya tidak ingin kau menyesal saja, jika kau melihat isi amplop itu."


"Itu adalah urusanku, Saya sudah menuruti semua keinginan Kakek, jadi tolong kembalikan apa yang sudah Kakek ambil dari Erick.


"Kemarikan Handphonemu"


"Kakek mau apa?"


"Bukankah kau menginginkan amplop dan handphone Erick."


Dimas menyodorkan Handphone miliknya ke Kakek. Kakek lalu memanggil anak buahnya untuk mengambil handphone dan amplop di laci meja kerjanya. Kakek lalu memberikan sebuah Handphone dan juga amplop pada Dimas. Dimas mengamati handphone itu.


"Ini bukan milik Erick Kek"


"Itu memang bukan milik Erick, itu adalah handphone baru. Kakek sudah meminta anak buah Kakek memindahkan nomer nama-nama kolega kita disana. Tapi tidak untuk nomer yang tidak seharusnya."


"Apa sebenarnya mau Kakek." Dimas mengepalkan tangannya erat, menahan gejolak amarahnya.


"Kakek ingin selama seminggu ini, Kau fokus mengurusi investor kita dan juga Aiko. Kakek tidak ingin pemikiranmu di sibukkan oleh ulah bocah tengil itu."


"Kakek juga menyita handphone milikmu ini, juga visa dan pasport milikmu. Kakek akan kembalikan setelah satu Minggu. Tepatnya setelah kau selesai menangani investor kita.


"Ini Handphone pengganti milikmu, Kakek juga sudah meminta anak buah Kakek untuk menaruh beberapa nomer penting disitu."


"Setelah sekian lama Kakek masih saja memperlakukanku seperti bonekamu" Dimas menendang meja kaca yang ada di sampingnya sekuat tenaga. Hingga meja itu hancur berkeping-keping. Ia sepertinya butuh peluapan amarahnya, karena dadanya benar-benar sesak saat ini.


Kakek cukup terkejut dengan perbuatan Dimas, ini adalah pertama kalinya Dimas berlaku kasar di hadapannya.


Dimas mengambil handphone pengganti yang disodorkan Kakeknya. Ia lalu meninggalkan tempat itu dengan wajah marah.


Tunggu aku akan menjadi kuat dan kau tidak akan bisa mengontrolku lagi, batin Dimas.


Sesampainya di mobil, Dimas membuka amplop coklat yang diberikan Kakek untuknya.


Disitu terdapat beberapa Foto Tiara di taman bermain tersenyum bahagia, dan juga foto ketika ia duduk di taman bermain berdampingan dengan Reno. Dan Reno yang menyentuh punggung tangannya.


Dimas melihat kembali ke dalam amplop coklat itu ternyata ada amplop kecil putih di dalamnya. Iamengeluarkan kembali amplop putih itu dan ada beberapa foto di dalamnya. Itu adalah foto Reno yang memeluk Tiara di rumah sakit, ketika ia menangis. Dimas benar-benar marah kali ini, ia memukul-mukul setir mobilnya.


"Sial, ternyata kau tak mengindahkan ucapanku untuk menjauh dari pria itu. Lihat saja bagaimana aku akan menghukummu ketika aku pulang nanti, aku akan membuatmu benar-benar menjadi milikku."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2