
Di sebuah ruangan dengan cat serba putih, Mike dengan di bantu oleh ahli terapi dan juga Nara yang mendampingi, sedang berlatih jalan.
Itu adalah ruang di lantai dua, dua buah kamar kosong yang dekat dengan kamar Nara di sulap oleh Kakek menjadi ruangan terapi khusus untuk Mike.
Kondisi kaki Mike sudah membaik ia sudah bisa jalan walaupun masih menggunakan satu tongkat untuk menopang kakinya yang masih terasa sakit.
Nara menghapus keringat yang membasahi kening dan juga wajah Mike. Ia dengan sabar terus memberi semangat agar Mike tak menyerah.
Mike menampilkan senyumannya di sela-sela rasa lelahnya. Ia senang Nara perhatian padanya.
"Untuk hari ini saya rasa cukup Tuan, besok kita bisa lanjutkan lagi." ucap ahli terapi yang menangani Kaki Mike.
"Apa aku sudah boleh berjalan menggunakan satu tongkat? Aku bosan jika harus berada di kursi roda terus-terusan" tanya Mike pada ahli terapinya.
"Boleh Tuan, tapi lakukan beberapa jam saja sehari. Jangan dipaksakan jika anda merasa lelah dan kesakitan pada kaki anda, anda harus menghentikannya. Dan lanjutkan beberapa jam lagi setelah kaki anda benar-benar siap."
"Baiklah, terimakasih bantuannya untuk hari ini" ucap Mike.
Nara membantu Mike untuk kembali ke kamarnya. Ketika Nara ingin pergi dari kamar itu Mike kembali memanggilnya.
"Nara!" panggil Mike.
"Ya kak, apa Kakak masih memerlukan bantuanku?" tanya Nara sambil membalikkan badannya menghadap Mike.
"Aku sudah mencarikan guru untukmu, kamu sudah bisa home schooling mulai besok" ucap Mike menjelaskan.
"Kenapa saya tidak di daftarkan di sekolah biasa saja Kak, kalau home schooling pasti biayanya lebih mahal" Nara merasa tidak enak hutang budi terlalu banyak pada Mike.
"Aku ingin kamu menyesuaikan diri dulu terhadap budaya dan bahasa disini. Aku akan menyekolahkanmu di sekolah biasa nanti bersamaan dengan Dewi." Mike memperhatikan ekspresi wajah Nara yang berubah ketika ia menyebutkan nama Dewi.
"Kita akan pindah dari sini kalau Dewi datang ke kota ini, dan saat itu aku akan memasukkanmu dan juga Dewi ke sekolah umum yang terbaik yang ada di kota ini. Saya harap kamu bisa akur dengannya."
"Baik Kak" jawab Nara singkat, entahlah mengingat nama Dewi menimbulkan kesan buruk di pikiran Nara.
__ADS_1
"Dewi pada dasarnya adalah gadis baik, hanya saja kehilangan keluarga satu-satunya membuat ia berubah menjadi seperti itu. Aku harap kau bisa sabar dan maklum atas pemberontakan atau kenakalan yang dilakukan oleh nya" ucap Mike lagi, Nara menganggukkan kepalanya.
"Apa aku boleh kembali ke kamarku?" ucap Nara. Ucapan Mike mengingatkannya akan kesalahan ayahnya yang membuat Dewi kehilangan keluarga satu-satunya. Nara ingin segera keluar dari kamar Mike, ia sudah tak sanggup menahan air matanya yang akan jatuh.
Tanpa menunggu jawaban dari Mike, akhirnya Nara memilih kembali ke kamar. Ia segera mengunci kamarnya dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
"Kenapa wajahnya terlihat sedih? astaga apa yang aku katakan, pasti ia berfikir aku menyalahkannya atas kematian Roy keluarga satu-satunya yang Dewi miliki. Astaga Mike, kau harus mulai mengontrol ucapanmu mulai sekarang" Mike memukul pelan mulutnya. Ia yang merasa tak tenang akhirnya dengan kursi rodanya ia mengetuk pintu Nara.
Tok tok tok tok
"Nara..., Nara..., Apa kau baik-baik saja?" tanya Mike masih mengetuk pintu kamar Nara.
"Nara baik-baik saja Kak" sahut Nara dari balik pintu
"Bisakah kau buka pintunya sebentar?" pinta Mike.
"Maaf Kak, Nara sedang tidak memakai baju. Nara ingin pergi mandi" sahut Nara masih dari balik pintu.
"Baiklah kalau begitu, kalau kau memerlukan apapun kau bisa minta padaku, jangan pernah merasa sungkan!" ucap Mike lalu pergi masuk ke dalam kamarnya.
Yang kehilangan bukan hanya Dewi, Yang tidak memiliki orang tua dan keluarga juga bukan Dewi. Kenapa Kakak memintaku untuk memaklumi perbuatannya.
Ya, mungkin Kakak benar aku harus sabar dan maklum karena disini posisiku sebagai anak dari seorang pembunuh, sedangkan Dewi adalah korban. Ya Tuhan, salahkah aku karena memiliki Ayah sepertinya. Seandainya aku bisa memilih, aku ingin memiliki Ayah yang baik sekalipun ia bukan orang yang kaya, Batin Nara.
Ia menutup wajahnya dengan bantal, menahan tangisannya yang sudah tak bisa lagi ia bendung. Harapannya cuma satu, ia ingin bisa diterima dan dimaafkan oleh orang disekitarnya, terutama Dewi. Di pandang sebagai gadis biasa, bukan putri seorang pembunuh. Ia ingin hidup damai sekalipun tidak bergelimangan harta.
**********
Sementara itu Tiara yang masih ngambek dengan Dimas memilih membawa Rendra untuk tidur di rumahnya.
"Kakek malam ini aku ingin tidur di sebelah kamar Kakek bersama Rendra" ucap Tiara di sela-sela aktifitas menontonnya.
Ya saat ini mereka sekeluarga sedang berada di ruang tengah. Menemani Rendra untuk menonton kartun kesukaan bocah kecil itu.
__ADS_1
"Terserah saja, tapi apa kau sudah ijin suamimu" jawab Kakek.
"Sudah, dan Mas Dimas mengijinkannya. Iya kan Mas" Tiara memelototkan matanya agar suaminya menyetujui ucapannya.
"Iya aku ijinkan, tapi aku juga ingin tidur bareng kalian. Jadi kita bisa tidur bertiga" sahut Dimas.
"Tidak!!!" teriak Tiara dan Rendra bersamaan.
"Kenapa tidak boleh?" protes Dimas.
"Masku aku lama tidak berjumpa Rendra, aku kangen berbincang dan bercanda hanya berdua dengannya. Ini juga keinginan anakmu Lho" Tiara memanfaatkan kehamilannya agar Dimas mengabulkan keinginannya. Bagaimana mungkin Tiara mau mengajak Dimas kalau dia sendiri sedang kesal dengan Dimas.
"Baiklah, terserah kau saja" ucap Dimas akhirnya mengalah.
Tiara menatap aneh dua orang yang duduk bersebelahan tanpa ada suara sedikitpun. Mike dan Nara terlihat sedang di sibukkan oleh pikirannya masing-masing. Mike sudah duduk di sofa, ia sudah jarang menggunakan kursi roda karena ingin melatih kekuatan kakinya.
"Nara..., Mike...," panggil Tiara, tapi kedua orang ini masih sibuk dengan lamunannya.
Nara..., Mike!!!" akhirnya Tiara memanggil sekali lagi dengan suara keras.
"Ya!!" ucap Mike dan Nara bersamaan.
"Ada apa dengan kalian berdua, dari tadi Tiara memanggil-manggil kalian" ucap Kakek terlihat heran.
Kakek memang sedari tadi tidak memperhatikan Nara maupun Mike. Ia sibuk bercengkrama dengan Rendra sembari menemaninya menonton kartun kesukaan bocah kecil itu.
"Kata Daddy jangan banyak melamun om, entar cepat tua" sahut Rendra tiba-tiba.
"Yang melamun kan bukan om sendiri, kenapa yang cepat tua hanya om saja" canda Mike.
"Ya karena Kak Nara masih muda dan cantiikk" Rendra menekan pengucapan kata cantik, hingga masih terngiang-ngiang di pikirannya Mike.
Ya dia memang cantik, batin Mike
__ADS_1
TBC